(Effi S Hidayat)
"Kebaikan moral seseorang tidak diukur oleh agama apa yang ia peluk namun lebih dari dorongan-dorongan emosional apa yang telah ia terima dari "hati nurani" semasa hidupnya" (Albert Einstein, ilmuwan fisika).Refleksi:
Apa sebenarnya yang diharapkan dari agama? Apa yang diinginkan agama itu sendiri dari pemeluknya? Bagaimana kehidupan beragama seharusnya diyakini oleh warga dunia? Apa sih, dampak dari kehidupan beragama? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan berderet panjang jika digali-gali sedemikian rupa menyoali agama, padahal jawabannya sebenarnya cuma satu, yakni : kebaikan.
Jadi, sungguh tidak habis pikir, jika agama yang selaiknya ujung-ujungnya bermuara kepada "kebaikan" itu, justru malah dijadikan sebagai alasan perpecahan antarumat beragama itu sendiri. Alangkah naif dan menyedihkan! Tuhan Yang Maha Esa dipecah-pecah menjadi begitu banyak rupa -- dalam bentuk imajinasi manusia itu sendiri, mulai dari "rumah-Nya", tata cara bertemu dengan-Nya, dan seabrek perayaan 'wah' lainnya seturut versi ...lagi-lagi, manusia itu sendiri.
Belum lagi, jika kemudian diiringi dengan pemikiran "agamaku-lah yang paling benar dan paling hebat". Di luar itu..., sila pergi ke neraka sana! Duh! Tercenung habis-habisan pun, saya tak akan pernah ketemu nalar yang mengiringi "perasaan-perasaan" yang bertumpu pada egoisme semata itu. Ya, apalagi jika larinya tidak kepada kesombongan yang mengabaikan kasih sayang dan kebaikan kepada sesama?
Makanya ketika bertemu quotes ahli fisikawan terbesar yang pernah ada, Albert Einstein ini, saya merasa senang sekali dan merasa mendapat dukungan besar. Agama, tandas Einstein, bukan untuk mengukur kebaikan moral seseorang. Tepatnya dengan meyakini agama tertentu, tidak bisa dijadikan seseorang itu pasti akan menjadi baik atau alih-alih lebih unggul dari yang lainnya, yang memiliki agama berbeda.
Kelahiran Ulm, Jerman, 14 Maret 1879 dan wafat di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, dalam usia 76 tahun -- Albert Einstein memang dikenal dunia hingga abad ini sebagai seorang genius yang luar biasa, dan seperti kebanyakan ilmuwan lainnya kerapkali diklaim bukan sebagai orang yang ber-Tuhan. Tetapi, itu,kan lagi-lagi pendapat orang! Sedangkan, seturut pendapat saya sendiri, sih, keimanan Einstein justru tampak kepada antusiasmenya yang besar kepada segala sesuatu ciptaan di dunia ini. Buktinya, dia masih percaya sekali kepada hati nurani.
Kebaikan moral seseorang yang berdasarkan hati nurani ini, pernah ia cetuskan melalui pemikirannya tentang sanksi emosional mendalam mengenai kehadiran sebuah kekuatan penalaran superior yang diungkapkan di dunia, yang menurutnya sama sekali tidak bisa dipahami, dan membentuk pemikirannya tentang...Tuhan! (Catatan pagi, 06.50, 5062017).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar