Tips Parenting
(Oleh Effi S Hidayat)
Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap pemahaman anak yang benar terhadap seks?
Dua belas orang anak di bawah umur menjadi korban sodomi. Pelakunya pun masih anak-anak usia yang sama.Wah, ngilu rasanya hati membaca berita itu. Motivasi seks mereka terpacu gara-gara menonton film porno. Alamak, demikian dahsyatkah pengaruh arus informasi teknologi bagi Si kecil?
Budaya Malu
"Mama, adik datangnya darimana?" Sani, ibu tiga anak lelaki, kontan kebingungan ketika diburu pertanyaan putera sulungnya yang saat itu baru kelas satu SD. Karena merasa rikuh menyebutkan kata vagina, iapun menjawab sekenanya," Ya, dari...(maaf) bokong," dan ia pun tersipu-sipu sendiri.
Tiga tahun kemudian, jawaban itu di-koreksi sang putera yang sudah duduk di kelas IV SD. "Mama ini bagaimana, sih. Adik,'kan keluarnya dari vagina, bukan dari bokong. Ayo, tunjukkin dong, di mana sebetulnya letak vagina itu?" Sani bercerita sambil tergelak.
Rupanya, puteranya mendapat jawaban yang benar dari buku IPA yang dibacanya di toko buku. Lagi-lagi, ia merasa rikuh untuk menjelaskan pertanyaan itu lebih mendetail."Akhirnya, ya, apa adanya sajalah. Saya menjelaskan sebisanya...."
Bukan main memang pertanyaan yang memborbardir dari Si kecil. Sofi, ibu dua anak balita, Zoe (5) dan Zach (3), mengaku takjub dengan 'todongan' Si buyung. Tak cuma sekadar menanyakan darimana muncul dirinya dan Si Adik, Zoe memburu dengan deep interview.
"Daging gemuk yang ada dua di bawah penis ini apa sih, Ma?" (setelah Mama menjelaskan bahwa anak perempuan memiliki vagina dan anak lelaki punya penis). Atau ada lagi,"Payudara ada isinya, ya, Ma? Apa rasanya manis?" Dan masih ada pertanyaan tentang interaksi antarpria dan wanita. "Apa boleh lelaki dan perempuan berciuman?"
Sofi hanya bisa geleng-geleng kepala. Walau mengaku sudah membiasakan puteranya dengan berbagai istilah keilmuan yang menurutnya perlu, seperti antara lain : penis, vagina, atau payudara, untuk menjelaskan nama organ kelamin pria dan wanita, toh ia masih kelimpungan membuka ensiklopedia demi menjelaskan masalah seksualitas yang sesuai porsinya bagi Si kecil.
Apalagi setelah Si sulung menuturkan rencananya, setelah naik ke TK B, katanya ia mau...pacaran. "Wah, kecemasan saya berlipat ganda!" Itu baru usia dini, bagaimana ketika memasuki usia pubertas? Sapto, bapak tiga anak , mengaku tak dapat berbuat apa pun ketika suatu hari sedang menonton televisi bersama puteranya, kebetulan ada 'adegan syur'. "Suasana 'ajaib' terasa mencekam. Saya dan anak sama-sama rikuh!"
Kesungkanan berbicara tentang seks kepada anak remaja juga dirasakan Anna. "Apalagi saya ini keras sekali mendidik anak. Pergaulan mereka saya batasi, begitu pula informasi soal seks. Tabu membicarakan hal seperti itu di dalam keluarga," ujar ibu paruh baya yang punya empat anak dan mengaku sudah tradisi dari keluarganya untuk melarang berbicara yang tidak sopan.
Rupa-rupanya bukan orangtua saja yang segan untuk berbincang soal seks. Ray, siswa kelas 3 SMU mengaku lebih sreg membahas soal yang lain ketimbang masalah seks dengan orangtuanya. "Nggak ada topik untuk membuka pembicaraan seperti itu di meja makan," begitu alasannya.
Ditambah lagi, orangtua biasanya akan menjelaskan a la kadarnya, hanya 'sebatas ini' atau 'sebatas itu'. Secara naluriah, anak dianggap akan tahu dengan sendiri, nantinya. Karena itu Ray lebih banyak menggali informasi dari teman-temannya. Kelas dua SMP ia sudah mendengar cerita yang menurutnya "wow!" (kalau tidak mau dibilang 'vulgar') dari teman di sekitar rumah.
"Mereka yang nonton blue film (BF), saya yang planga-plongo dengerin ceritanya," kisahnya geli sendiri. "Dan, rasanya memang lebih asyik ngobrolin masalah seks dengan teman sebaya. Kalau dengan orang yang lebih tua,'kan ada batasannya. Kurang seru!" tawanya meledak.
Perasaan nyaman untuk membicarakan masalah seks dengan teman juga diakui Agus, siswa kelas 3 SMU Negeri, dan adiknya yang baru di bangku SMP. "Bete kalo ngomongin seks dengan orangtua. Nggak lucu aja!"
Keduanya mengaku sudah mendapatkan informasi tentang seks sejak SD. "Sekadar tahu dari pelajaran IPA dan Biologi gitu, deh," cerita mereka, ringan. Untuk urusan lebih mendetail, Agus mendapatkannya secara tidak sengaja dari situs-situs ajaib di internet yang katanya sih, datang sendiri tidak diundangnya.
Tak berbeda dengan Elen, siswi kelas 6 SD. Katanya, dia dan teman-temannya tidak asing lagi melihat 'yang aneh-aneh' dari internet . Sebelumnya, mereka mendengar cerita dari para kakak. "Kakakku juga pernah 'ngintip' langsung di internet, kalau aku sih, belum beraniiii," lebih lanjut ia bercerita, jika sudah banyak temannya yang punya pacar, bahkan berkencan.
"Aku sendiri sudah ada yang 'nembak', cuma belum ada yang pas. Kalau ada yang sreg, mau aja...," tutur Elen yang mengaku sudah beberapa kali membaca majalah orang dewasa.
Dari jajak pendapat yang dilakukan Komunika, hanya satu dari sepuluh anak yang menerima informasi tentang seks dari orangtuanya langsung, sebelum mereka mendapatkan dari teman-temannya. Itupun, Elen yang aktif bertanya duluan. Anak perempuan usia 11 tahun ini memang lebih dekat dengan Sang mami ketimbang papinya yang jarang ngomong.
"Tetapi, masih banyaaaak yang aku tahan-tahan. Sebetulnya aku kepingin tahu lebih rinci mengenai asal muasal adik di perut Mami, menstruasi, dan berbagai perubahan tubuh yang kualami," tandas Elen yang rasa ingin tahunya tumbuh ketika ia kelas 4 SD.
Cukupkah informasi yang didapatkan dari Sang mami? "Wah, ya...nggak-lah! Aku lebih bebas ngomong dengan teman dan mendapatkan informasi dari televisi dan majalah yang kubaca." Media merupakan wadah paling mudah untuk mendapatkan informasi yang diinginkan remaja. Itu diakui Ray dan Radit, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta semester pertama di Jakarta.
Mereka mengaku beruntung mendapatkan info tentang seks dari sekolah. "Saya mendapatkan penyuluhan seks yang mendetail mengenai masalah yang memang ingin saya ketahui, misalnya bagaimana cara berinteraksi dengan lawan jenis, perubahan yang terjadi seperti 'mimpi basah', dan lain sebagainya," Ray menjelaskan keinginan tahunya timbul ketika suaranya mulai berubah dan tumbuh bulu yang lumayan lebat di tubuhnya.
Tidak semua remaja seberuntung Ray dan Radit, karena harus diakui tidak semua sekolah di negeri ini yang memberikan penyuluhan khusus secara gamblang dan mendetail kepada para murid. Padahal, menurut Sani, sebagai orangtua yang merasa was-was dengan pergaulan anak zaman sekarang, sekolah seharusnya lebih memiliki prioritas khusus terhadap masalah remaja, antara lain, ya..., masalah seks dan narkoba.
"Waktu mereka,'kan lebih banyak di sekolah dan bersama teman-teman. Apalagi orangtua sekarang memiliki kesibukan sendiri. Pulang bekerja, larut malam baru tiba di rumah," imbaunya.
Benarkah mengenai pendidikan seks ini, peran orangtua dapat digantikan oleh sekolah dan lingkungan di sekeliling ? Menolong anak-anak untuk memiliki pandangan seimbang dan alkitabiah tentang seks merupakan tugas sulit, sehingga orangtua cenderung menyerahkan saja masalah ini kepada orang-orang 'yang ahli'?
Pembelajaran tentang Seks
Subianto, orangtua tiga anak lelaki usia remaja, mengaku belum pernah mencoba berkomunikasi secara detail tentang seks kepada anak-anaknya. Tapi, sejak mereka kecil, ia sudah mengupayakan tindakan preventif seperti menyediakan televisi dan komputer di ruang publik saja di rumahnya. Alih-alih di ruang privat, seperti kamar tidur. Alasannya, lebih mudah mengontrol anak dalam mengakses informasi.
Dia menceritakan, lingkup pergaulan tempat tinggal mereka dulu, di kawasan kota, Jakarta Barat sangat berbeda dengan domisili sekarang. Aktivitas anak di lingkungan yang lebih ramai dan 'gemerlap' dengan segudang sarana fasilitas, menurutnya lebih sulit dipantau, dibandingkan dengan kawasan Tangerang yang lebih interaktif dan sehat pertumbuhan rohaninya. Sehingga anak-anaknya dimungkinkan aktif dalam lingkungan Muda-Mudi Katolik (Mudika) gereja.
"Kondisi ini melegakan saya," ia menegaskan, teladan orangtua juga sangat penting. "Saya selalu menekankan kepada mereka agar jangan pernah menyusahkan orang lain, sehingga harus berusaha menjaga prilaku demi nama baik orangtua, dan terutama diri sendiri," Subianto juga menandaskan, fondasi iman yang kokoh adalah tiang keluarga paling utama.
Putera Subianto, Radit, membenarkan pendapat ayahnya.Lingkungan rumah dan tempat gaulnya sangat kondigtif. Walau lingkungan teman di kampusnya, di Jakarta lumayan 'heboh', ia mengaku emoh terbawa arus. "Saya enjoy dengan teman-teman saya di Mudika," katanya mengaku beruntung diajak seorang seniornya untuk mendalami aktivitas menggereja.
Biarpun begitu, ia tidak menyangkal, untuk berdialog soal seks dengan orangtua, ada perasaan "tabu". "Sejak kelas satu SMP, saya tahu hal-hal yang nyeleneh dari teman-teman," senyumnya samar. Biasanya kalau diumpetin, rasa ingin tahu anak malah jadi lebih besar bahkan coba-coba.
Maka orangtua diharapkan lebih aktif membuka forum dialog tentang seks. Yang namanya orangtua,'kan pernah muda, sedangkan anak belum pernah jadi orangtua. "Apalagi anak itu selain malu, juga takut diomelin, sehingga ia lebih memilih untuk diam saja, tidak bertanya."
Pengalaman coba-coba dialami puteri sulung Anna yang akhirnya terlanjur menikah dini. Merasa terlalu dikekang orangtua yang 'kaku' dalam pendidikan seks, Karin -- panggil saja demikian, memilih melakukan pemeberontakan dengan berpacaran di luar batas. Walau ujungnya, baik Karin maupun ibunya, Anna, mengaku sangat menyesal.
"Kami mohon ampun kepada-Nya. Puji Tuhan, peristiwa yang terjadi dalam keluarga kami memberikan hikmah luar biasa. Komunikasi jadi lebih lancar, terutama dalam membicarakan hal-hal yang dulunya kami anggap tabu."
Demikian pula Sani, setelah informasi tentang seks yang diberikannya kena protes sang anak, ibu muda ini mencoba lebih terbuka."Sehari-hari saya sering ngobrol bertanya, misalnya, apa sudah naksir cewek dan punya pacar? Sembari mijitin, ngorekin kuping, atau dalam perjalanan di mobil bersama anak-anak, itu saat yang paling tepat untuk jadi 'teman curhat' mereka," ungkapnya.
Ia memilih iman sebagai dasar untuk percaya kepada anak-anaknya."Jika mereka takut akan Tuhan, saya percaya mereka tidak bakalan berbuat yang macam-macam." Ya, landasan keimanan yang kuat merupakan barometer utama bagi orangtua.
Psikolog Henny E. Wirawan menegaskan,"Orangtua harus memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap seks bahwa seks itu indah. Seks adalah karunia dan rencana-Nya bagi sepasang manusia yang bersatu dalam pernikahan kudus sehingga seks patut dinikmati dan disyukuri, bukan sekadar nafsu seksual semata."
Pola pikir orangtua berkaitan tradisi, seks tidak sepantasnya dibicarakan atau malah disembunyikan harus dihapus dari kamus mereka.Jika tidak, orangtua akan merasa rikuh sendiri. Henny menyebutkan contoh, orangtua yang menyebutkan organ kelamin anak saja, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
"Jika sudah kena budaya malu begitu, orangtua dengan mudahnya menganggap, 'Ah, anak saya kalau sudah gede nanti tau sendiri' bisa jadi syok apabila Si anak malah salah jalan kena arus pergaulan bebas. Daripada menyesal, lebih baik orangtua berlatih di depan cermin, misalnya, agar tidak salah tingkah jika ngobrolin seks dengan anak," psikolog sekaligus dosen fakultas psikologi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu tertawa.
Berusaha menjawab pertanyaan anak soal seks di usia dini dan remaja tanpa bersikap malu atau canggung, ditulis pula oleh Margareth Bailey Jacobsen dalam bukunya What Happens when Children Grow. Sikap yang benar terhadap seks, akan tampak melalui sikap orangtua tatkala membagikan informasi tentang seks.
Berdiskusi tentang seks bukanlah sesuatu yang memalukan, jikalau Anda percaya bahwa "anak-anak adalah pemberian Allah" (Mazmur 127:3), beritahukanlah itu kepadanya. Ya, sudah kewajiban orangtua untuk mendidik anak agar memiliki sikap yang benar terhadap seks. Usahakan menjawab pertanyaan anak dengan jawaban yang membuatnya sadar bahwa tubuhnya adalah ciptaan Allah yang sakral.
Upayakan komunikasi jujur terbuka, sederhana tidak bertele-tele, dan memuaskan rasa ingin tahu, sejak usia dini. Henny mengatakan, bahwa lebih mudah sebetulnya ngobrolin seks dengan anak usia balita daripada anak remaja. Mulai dari hal simpel, perbedaan jenis kelamin anak perempuan dan lelaki, atau bagaimana cara mereka merawat tubuh. Ketika mandi,buang air kecil atau besar harus bersih, ini,'kan juga termasuk pendidikan seks yang perdana.
Bagaimana anak lelaki menghargai anak perempuan dan tubuh mereka masing-masing yang berkaitan dengan gender bahwa mereka adalah setara, itu juga merupakan landasan seks yang benar. Sehingga perempuan tidak dilecehkan dan menjadi obyek seksual. Dan bagaimana cara anak menghadapi orang asing, mengingat maraknya kasus pemerkosaan, termasuk wacana seks yang penting untuk bersegera diupayakan.
Ketika anak memasuki usia praremaja dan pubertas, orangtua wajib mulai memberikan batasan-batasan yang jelas bahwa ada yang boleh dan sebaliknya, dilarang untuk dilakukan. Pendidikan moral hati nurani yang tertanam di dalam hati mereka, membuat mereka memiliki kesadaran diri. Selain tentu saja, anak pun patut dilimpahkan kepercayaan untuk menyeleksi sendiri dalam bergaul.
Membagikan pengalaman pacaran bisa jadi bikin orangtua yang gaul di mata anak. Obyek pembicaraan menarik dan kedekatan akan membuka jalan ke hati mereka sehingga tak segan bercerita tentang apa yang dirasakan.
Pekerjaan rumah bagi orangtua di segala zaman, untuk belajar lebih terbuka dan peka terhadap trend. Soal berpacaran, 'gaya main' lingkup pergaulan dengan teman-temannya, buku, musik, atau film yang mereka gandrungi -- semua menjadi jembatan komunikasi yang perlu diupayakan (termasuk jangan 'gagap teknologi' (gaptek), mau belajar browsing internet, misalnya.
Di kalangan remaja, menurut Paul Lewis dalam bukunya 40 Ways to teach your child Values, jika dorongan seks dan dan pengaruh media serta tekanan teman-teman sebaya sangat kuat, pertahanan diri yang terbaik terhadap kelakuan-kelakuan seks yang seenaknya saja, adalah rasa harga diri yang kuat.
Anak yang masih kecil sekalipun, perlu diberdayakan oleh orangtua untuk menyediakan waktu berdiskusi bersama mereka tentang "eksistensi diri", siapa kita yang sebenarnya dan untuk apa kita ini ada. Jika anak Tk dan SD dapat diajak bercerita yang istilahnya tidak masuk di akal dan dianggapnya sebagai suatu realita, maka anak SMP sudah mulai mencari fakta, memertanyakan segala macam yang mengarah ke proses pendewasaan dirinya.
Hanya soal kedewasaan itu mampu ditanggapi secara arif atau tidak. Dewasa itu,'kan tidak cuma kecerdasan otak (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ) yang mencakup motivasi diri, mengendalikan dorongan hati, dan segala emosi yang ada di dalam diri, termasuk dewasa soal spiritualitas, sosial kemasyarakatan, dan moralitas seksualitas.
Peran guru, sekolah, rumah ibadah, bahkan negara yang menyediakan wahana dan wacana sehat tentang pendidikan seks idealnya harus saling bekerja sama. Walau porsi terbesar tetap berada di tangan orangtua. Kendali keluarga sangat jelas, sebagai 'sekolah' yang pertama dan utama, tidak bisa diwakilkan oleh instansi lain.
Bagaimana orangtua ngobrolin seks (tanpa malu, rikuh, atau tabu), merupakan proses pembelajaran yang bukannya tidak bisa dipelajari. Ada triks-triks khusus :
- Mencari momen tepat untuk bicara dengan menciptakan amtmosfer nyaman. Sembari guyon, atau main, sembari ngemil kacang dan nonton televisi bareng (yang kebetulan ada adegan syur-nya) bisa jadi bincang-bincang seks yang aman.
- Bedah buku bersama? Mengapa tidak? Pilihlah judul yang menarik dari kacamata Si anak, tak perlu yang serius-serius membosankan. Tentu, orangtua harus selektif memilih bacaan/film yang dibahas. Referensi akurat dapat diketahui dari mana-mana, selain harus membacanya terlebih dulu.
- Jangan hanya sekadar mendapatkan informasi dari teman, masalahnya pornografi itu individual sifatnya. Hindari sikap memberi kuliah atau malah berkhotbah, lebih baik orangtua mendengarkan dulu secara aktif dan simpati, bila anak melontarkan pertanyaan gamblang.
- Agar tidak vulgar memberi jawaban, sebaiknya orangtua meneliti pengetahuan dan pandangan Si anak tentang seks, baru membenahi konsep yang dimilikinya secara keliru, yang mungkin saja diperolehnya dari teman atau imajinasinya sendiri. Jangan karena tradisi, merasa canggung atau kurang pengetahuan, pertanyaan mereka diabaikan bahkan dianggap tabu.
- Bersikaplah jujur . Jelaskan bahwa pokok pembicaraan tentang seks sebenarnya perlu dibicarakan, walau pendidikan keluarga Anda dahulu membuat rikuh. Mempelajari dan berlatih mengucapkan nama organ-organ seks, selain memiliki pengetahuan lengkap tentang fungsinya akan banyak menolong.
- Suasana hangat penuh kasih sayang bersama pasangan hidup, sebagai orangtua yang saling mengasihi dapat menjadi teladan paling pas bagi anak untuk menanamkan sikap yang sehat terhadap masalah seks.
- Apa yang harus dilakukan jika anak gagal mengendalikan nafsu seksualnya? Ya, berusahalah dengan besar hati untuk mengampuninya. Tunjukkan pengampunan tulus yang dapat diperolehnya di dalam kasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar