Halaman

Jumat, 24 Maret 2017

Kehadiran

(Oleh Effi S Hidayat)

Makhluk berbulu cokelat, bermata bening itu setia duduk anteng di depan sebuah rumah berlantai dua di mana aku selalu berlari pagi melewatinya. Ketika melihatku, biasanya ia akan menelengkan kepalanya sejenak, menyeringai lebar, memamerkan giginya seolah tersenyum sembari mengibas-ibaskan ekornya yang mungil.

Suatu kali, aku tidak melihatnya seperti biasa, dan ajaib, rasanya aku merasakan kehilangan sesuatu. Ya, walaupun Si makhluk cokelat itu jelas-jelas bukan kepunyaanku (seperti Snowy, pudel maltise-ku di rumah), namun kami memiliki kedekatan tertentu yang tak kasatmata.

Barulah ketika keesokan paginya, ia kembali nongol, dan seperti biasa menatapku dengan senyumannya yang manis serta kibasan ekornya yang lucu, entah mengapa, hatiku pun berbunga-bunga..., legaaa! Begitulah, kehadiran akan sedemikian terasa jika kita melihat sosoknya secara jelas.

Namun tak hanya sekadar fisik sebetulnya. Ada kelekatan istimewa di antara kita semua secara personal, yang terkadang tak bisa dijabarkan hanya dengan untaian kalimat semata. Seperti misalnya, hubungan antara teman bahkan sahabat dekat, dan tentu saja ... anggota keluarga!

Ya, boleh-boleh saja banyak orangtua sekarang berkilah, dengan didukung teori para pakar psikologi. Bahwa yang namanya "kehadiran" orangtua di rumah, berhubung kesibukan mereka yang luar biasa di kantor, bisa ditebus dengan segudang fasilitas yang diberikan kepada anak-anak. Sekolah yang mahal, liburan ke luar negeri, pakaian dan mainan berlabel desainer terkenal made in Paris, gadget yang super lengkap, dan sebagainya, dan sebagainya.

"Tak apa, kami cuma sempat bertemu seminggu sekali (biasanya hari Minggu, ini pun jika tak ada kesibukan lain!). Yang penting, toh, adalah waktu yang berkualitas. Satu jam-dua jam itu cukup , kok. Sekadar menyapa,"sudah belajar?" anak akan mengerti bahwa kesibukan orangtuanya di luar rumah itu demi masa depan mereka juga. Papa dan Mama cari uang yang banyaaaak  agar anak-anak bisa makan enak dan sekolah tinggi."

Duh, benarkah demikian? Sekolah di tempat bergengsi dan seabrek fasilitas gadget (BBM, skype,etc) , namun yakinkah Papa dan Mama bahwa Si kecil bisa tidur nyenyak tanpa pelukan dan ciuman yang hangat (boro-boro ibunda punya waktu untuk mendongeng?). Menyiapkan bekal untuk sarapan dan berbincang-bincang seru bersama di meja makan sembari menyantap makanan yang disiapkan sendiri dengan penuh cinta?


Aha! Tiba-tiba aku tersedak. Begitu banyak protes yang mampir di telinga, bilang bahwa penulis "catatan hati" ini nyinyir benget, sih? Jadul, kuno, ndak mau tahu perkembangan zaman, entah, ah, apa lagi? Wajar saya,'kan, orangtua zaman sekarang super sibuk. Wong, tuntutan zamannya demikian.

Teknologi demikian canggih, ada HP, internet bahkan kalau perlu CCTV yang bisa memantau perkembangan anak-anak di rumah, di mana saja. Waktu yang berkualitas itu lebih penting ketimbang... kehadiran! Hmm, aku jadi teringat Si kecil mungil berbulu cokelat yang senantiasa 'menyapa'-ku setiap pagi dengan kehadirannya.

Ia tidak berbuat apa-apa, cuma duduk-duduk, sesekali berbaring anteng di depan rumah tuannya. Namun terasa ada kedekatan yang kurasakan setiapkali melihatnya. Ya, rasanya hati ini sudah legaaa jika mataku telah menangkap kehadirannya, walau tanpa kata.

Demikian pula dengan kehadiran murid-murid di kelas. Akan terasa sekali jika Si Kevin yang ceria itu tidak masuk sekolah karena sakit, atau Si Dinda yang pemalu namun baik hati, tidak didapati sedang duduk menyimak di tempatnya seperti biasa. Ya, absensi kehadiran, bukankah demikian diperlukan?

Bukti konkret lainnya saja adalah perasaanku sebagai seorang ibu. Putera sulungku, Zoe, bersekolah di Jakarta mulai tahun ajaran 2014-2015. Waktu tempuh yang cukup jauh ke sekolah dan jadwal pelajaran yang padat, tidak memungkinnya untuk berangkat dari rumah kami di Serpong setiap harinya. Situasi dan kondisi menyebabkan Zoe pulang ke rumah tatkala weekend (itu pun jika ia tidak sedang sibuk!).

Nah, apa yang kurasakan, selain kehilangan dari kehadirannya di rumah? Jika setiap hari dengan mudah kutemui sosoknya, walau cuma duduk anteng di depan komputer, toh, aku sudah merasa nyaman. Aku bahagia jika ia rajin meludeskan makanan yang kumasak....

Kehadiran dari kata "hadir" yang berarti "ada", jika direnungkan maknanya akan sangat dalam. Kita diminta hadir secara seutuhnya, penuh sebagai seorang manusia. Bagaimana nilai suatu kehadiran akan sedemikian terasa, ya, tentu saja karena sebagai manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain, kita terkategorikan : istimewa.

Mampu untuk berpikir, berkata-kata, berbuat dan bertindak bahkan merasa. Untuk yang terakhir ; "merasa" diterkaitkan dengan perasaan kehilangan, kesepian, bukankah begitu unik korelasinya dengan yang namanya "kehadiran" ?

Tidak-lah heran, tanpa kehadiran orangtua di rumah secara utuh penuh, begitu banyak anak-anak yang merasa kesepian sehingga 'melarikan diri' kepada lingkungan di luar sana. Mereka asyik bermain games, keluyuran sana-sini dengan teman yang tidak jelas, sehingga buntut-buntutnya jatuh kepada benda terlarang seperti narkoba.

Jika sudah terlanjur begitu, siapakah yang patut dipersalahkan? Anak-anak yang nekat berani mati mencoba-coba itu, tanpa pikir panjang masa depan mereka akan hancur? Ataukah, orangtua yang kerap hanya memikirkan materi sebagai sarana satu-satunya 'mantra pembahagia' Si anak?

Pada akhirnya seturut pemikiran saya,  semua akan berpulang kepada "pilihan" pribadi masing-masing orang. Bukankah kita semua bisa memilih apa yang terbaik untuk keluarga, lingkungan, dan bahkan masyarakat luas?

Ya, sebagai manusia yang berakal budi paling tinggi, berakhlak moral luhung, kita punya hati nurani untuk melakukan suatu pilihan. Misalnya, seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) yang baru lalu, mengapa akhirnya rakyat Indonesia memilih Jokowi sebagai presiden, padahal toh, ia hanya anak seorang sopir, tukang meubel biasa, manusia dari akar rumput kebanyakan. Bukan seorang anak menteri, berpendidikan luar negeri, dan seorang taruna gagah yang piawai berkuda?

Jawabannya hanya satu, karena sang pemimpin yang paling diinginkan adalah seseorang yang dekat di hati rakyat. Seseorang yang rela hadir menyediakan waktunya sepenuhnya hanya untuk rakyat -- bukan untuk embel-embel kekuasaan, atau materi duniawi lainnya. Blusukan ke sana ke mari, tak sekadar omong besar, namun langsung bertindak nyata untuk kepentingan orang banyak.

Nah! Apalagi kesalahan yang dicari-cari hingga sampai ditenteng-tenteng ke Mahkamah Konstitusi (MK), jika kehadirannya toh, tidak perlu dipertanyakan lagi?(Komunika 04/ XIV, Juli-Agustus 2014). 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar