Halaman

Senin, 20 Maret 2017

Hadiah Terindah

(Oleh Effi S Hidayat)

Saya perempuan. Tapi, saya tidak suka bunga (hahaha masalah buat loe?). Tapi, mungkin itu dahulu. Ketika saya remaja. Ya, seumuran cewek imut yang baru kelas 1- 2 SMP kala itu, mungkin akan termehek-mehek saat menerima bunga atau cokelat sebagai 'tanda cinta' teman laki-laki yang ngebet. 

Tapi, tidak bagi saya. Beneran. Saya lebih exited jika diberi hadiah buku, atau kaset/ CD musik berisi lagu-lagu favorit saya. Mungkin karena kedua benda tersebut adalah dua hal yang tak terpisahkan bagi saya , sampai detik ini.

Seperti remaja pada umumnya, dunia baru yang terbentuk adalah dunia yang berfokus pada diri sendiri. Ego lebih nomor satu ketimbang yang lain. Cuek pada lingkungan sekeliling, rasanya tak peduli kalau ada bulan atau matahari yang tiba-tiba tersungkur sekalipun. Jika sedang mendengarkan musik sembari baca buku, setan pun tak akan berani mengganggu. Ha, tak ada bedanya dengan remaja masa kini -- apalagi di zaman serba canggih, gadget bertebaran di mana-mana.

Dunia maya jelas lebih memukau tinimbang dunia nyata. Pesona internet yang mewabah, entah lewat games maupun berjuta informasi dunia yang bisa diakses semudah membalikkan telapak tangan, telah membuat remaja sekarang disebut 'generasi gadget' yang super cuek bahkan kehilangan minat pada etika unggah-ungguh kesopanan dunia timur.

Boro-boro menyahut dengan santun ketika dipanggil, menengok pun tidak. Maklumlah, telinga disumpel headset, mana bisa mendengar? Ekstrem-nya demikian. Halah, saya siap digugat remaja sedunia, deh. Tapi, saya yakin, tidak semua remaja sekarang notabene seperti itu. Masih tersisa cukup banyak remaja peduli yang memiliki kepatuhan dan sopan santun yang dirindukan para orangtua.

Ya, intinya selalu masih ada pejuang-pejuang langka di sekitar kita. Nah, masalahnya  fokus pada diri sendiri yang mendominasi ini secara jujur memang sempat melekat erat pada diri saya walaupun zaman remaja dulu, internet belum hadir (wah, terbayang bukan, fokus pada diri sendiri yang terbentuk setelah zaman teknologi canggih!)

Konon, urutan terlahir sebagai anak sulung pun semakin mendominir rasa superior yang terbentuk. Lingkungan ayah, ibu, kakek dan nenek yang biasa melimpahi sang anak pertama dengan fasilitas dan kemanjaan berlebih, ikut ambil bagian. Belum lagi seabrek prestasi dan kebiasaan yang dimiliki... yey, dunia serasa milik sendiri, yang lain cuma ngontrak. Begitu kira-kira.

Sempat jealous ketika Si adik lahir, untungnya beda usia yang hampir 8 tahun mengikis rasa itu pelan-pelan, dan berubah menjadi kemandirian. Namun jujur, perasaan tak butuh siapa-siapa, tak hengkang pergi. Hingga, sang cinta itu pun datang menghampiri. Menyelinap diam-diam tanpa permisi, barulah saya menyadari... wow, betapa indahnya kebersamaan!

Akhirnya lebih baik berdua, daripada satu. Lebih enak makan bareng ketimbang sendirian. Lebih asyik jalan rame-rame daripada sorangan wae. Dan, tentu saja dunia terasa lebih 'hidup' jika sebagai manusia kita mampu bersosialisasi, tidak solitaire. Hadew.  

Mungkin sejak itulah, kepekaan saya menjadi lebih terbentuk. Mau bersimpati dan berempati kepada dunia sekitar. Intinya, ada hasrat untuk berbagi, termasuk sharing suka dan duka yang saya rasakan. Tidak cuma dipendam diam-diam di hati, tapi dicurahkan sedemikian rupa. Dan, melalui media tulisan-lah, saya akhirnya punya kesempatan untuk lebih luas berbagi. Syukur-syukur jika tulisan itu mampu menginspirasi seseorang.

Terus terang ngaku, setelah menekuni profesi wartawan, dunia saya menjadi lebih berimbang. Warna-warni di sekitar, saya nikmati betul, tak terkecuali hitam dan putih yang saya jumpai di mana pun saya berada. Jika kemarin saya bisa makan enak bahkan menginap di hotel mewah berbintang lima, bertemu dengan para petinggi dan selebritis. Maka hari ini, saya ngobrol akrab bareng dengan pemulung dan keluarganya di rumah kardus yang terletak di pinggir rel kereta api. Suasana hingar bingar yang kontras!

Yang satu, harmonisasi band terkenal, satunya lagi jas-jis-jus mesin kereta api. Aha! Dualisme berbeda, sungguh ragam kisah-kasih insani yang kaya. Dan, kalau dipelajari, merupakan materi ilmu praktisi yang tiada habis-habisnya. Semua itu memberikan perasaan lebih nyaman sehingga bisa menikmati hidup. Tak perlu berkelimpahan atau segala urusan duniawi kasatmata yang pada akhirnya cuma sekadar berlabel tertentu.

Tokh, semua ini hanyalah sampiran. Rasa syukur dan terima kasih, saya pikir adalah hal yang terpenting di dalam hidup kita yang sebentar ini. Mungkin itu sebabnya, kado terindah yang saya dapatkan ketika akhirnya saya memutuskan untuk membina hidup baru, tidak lagi ego sendiri adalah... vas bunga terbuat dari kayu. Lho, kok?

He-eh, coraknya abstrak, berwarna kuning terang dengan totol hitam dalmatian. Sangat sederhana, tidak istimewa, ini kalau mau jujur. Namun pemberinya yang adalah seorang sopir kantor saya, Pak Muji Sutrisno (saya ingat betul nama lengkapnya), ia setia mengawal saya saat ke lokasi peristiwa atau mewawancarai nara sumber.

Bersamanya, saya bisa ngobrol banyak hal. Dan, surprised! Saat saya menikah itulah, ia menghadiahkan saya sebuah vas bunga yang masih saya simpan baik sampai sekarang. Spontanitas ketulusan Pak Muji mengundang keharuan yang tak bisa saya lupakan.

Begitupula hadiah yang saya terima dari ibu kos : satu set serbet makan rajutan berwarna putih polos. Indahnya...saya paham betul, bagaimana hari-hari almarhumah ibu kos saya ketika menisikkan benang wol satu demi satu dengan telaten (hingga kacamatanya melorot ke ujung hidung!).

Ya, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk merajutnya menjadi buah tangan yang luar biasa. Sungguh merupakan kenangan semanis gulali. Tak pernah saya duga, ia merajutnya khusus untuk hari pernikahan saya. Duh!

Itu kalau bicara soal hadiah dari hati. Namun saya pun meyakini, atensi terhadap sesama tak harus berupa benda semata. Juga tak selalu diberikan kepada mereka yang kita kenal baik. Saya punya kisah unik tentang hal ini.... Berawal ketika saya menemani ibu saya yang opname di rumah sakit. Saya berjumpa dengan seorang bapak yang setia, tak pernah jauh dari ranjang di mana isterinya terbaring.

Mengidap kanker stadium akhir adalah vonis tak tertanggungkan bagi suami yang tampak begitu mencintai isterinya itu. Saya terpana mendapatinya suatu kali, menghadiahkan buket serumpun bunga mawar segar untuk sang pendamping hati yang berulang tahun.

Sangat kontras warna merah tua mawar itu dengan sprei putih ranjang rumah sakit yang dingin, terlebih wajah pias lesi perempuan yang berbaring lemah di dalamnya, menggenggam bunga mawar tanpa kata. Ah, diam-diam, saya menghapus bening di sudut mata saya.

Cinta seorang suami yang begitu dalam, menyentuh saya. Sehingga walau baru mengenalnya dalam sehari saja, saya tergugah untuk menyempatkan diri pergi ke toko buku, keesokan harinya. Dan,syukurlah saya menemukan buku yang saya cari. Isinya indah sekali, tentang hari-hari penguatan dan harapan. Lalu, begitu saja tanpa berpikir panjang, saya menghadiahkannya kepada Si bapak yang terperangah ketika menerimanya.

Singkat cerita, setelah akhirnya dia kehilangan isterinya untuk selamanya, sang bapak memutuskan untuk melalang daerah ke berbagai pelosok Indonesia. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. Tetapi, ia mengaku telah mendapatkan kekuatan itu dari buku yang saya berikan kepadanya tanpa banyak tendensi.

Dan, saya bahagia sekali ketika tanpa terduga, suatu kali menerima kabarnya. Ia menelepon dari Kalimantan, menceritakan tentang keberadaan diri dan kegembiraannya.'Saya kini mampu berbagi lebih banyak lagi', demikian penuturannya membuat saya terharu. Spontanitas saya, sampai hari ini, telah menghadiahkan seorang teman  spesial yang akhirnya menjadi seorang relawan, dan selalu rindu ingin berbagi membantu sesama.

Karena itu mungkin saya sangat suka 'gaya' Romo Felix, OSC yang senantiasa setia menelepon umatnya di kala sedang berulang-tahun ; bahkan di hari raya ulang tahun pernikahan yang terkadang kita sendiri malah melupakannya. 'Kejutan kecil' begini amat sangat menyenangkan. Belum lagi kado spesial darinya ; didoakan secara khusus.Wah, saya 'angkat topi' untuk perhatiannya yang menurut saya ruarrr biasa!

Saya perempuan. Dan, saya suka bunga. Mungkin sejak saya melihat serumpun bunga mawar di rumah sakit, tanda cinta seorang suami terhadap isterinya itulah, persepsi saya tentang bunga pun berubah. Sosoknya yang warna-warni, menguar harum, ternyata mampu membuat suasana murung sekali pun berubah ceria.

Ya, mungkin karena saya telah melihat bunga dari sudut pandang yang berbeda. Bunga-bunga, tanaman hijau royo-royo, hewan-hewan lucu, dan tentu saja kita sesama umat manusia ; ke semuanya itu merupakan hadiah terindah dari-Nya.

Kini saya tak lagi alergi pada bunga (dan sesama) di sekitar saya. Mereka semua mengingatkan agar saya mau selalu berbagi, dan menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik lagi. Hmm, apakah persepsi saya saat ini merupakan masalah?

Yang jelas, Jika Anda mau menghadiahkan saya bunga atau cokelat, kini saya tidak akan sampai hati menolak. Apalagi jika ditambahkan buku dan CD musik kegemaran saya. Hahaha! (Komunika 02/ XIII, Maret - April 2013).        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar