Halaman

Rabu, 15 Maret 2017

Hati-hati Berdoa

(Oleh Effi S Hidayat)

Judul di atas bukan bermaksud menakut-nakuti atau mengancam. Sama sekali tidak! Kebetulan saya membaca status di facebook milik seorang teman. Begini ceritanya... Alkisah, ada dua orang anak bernama Si Buyung dan Si Anto. Setiap hari mereka berdoa.

Dengarkan permintaan Buyung,"Tuhan, berilah aku kemudahan dalam mencari rezeki, semisal hanya dengan goyang-goyang kaki, uang langsung datang!" Begitu pula Anto,"Aku pun mohon, ya, Tuhan. Tolonglah berikan aku kemudahan dalam mencari rezeki kelak, semisal hanya dengan berkipas-kipas, uang pun datang!"

Eh, ternyata benar. Setelah dewasa, doa mereka terkabulkan. Mau tahu? Si Buyung menjadi... penjahit di pasar. Dan, Anto? Ia menjadi seorang...tukang sate! Aha, lumayan inspiratif, bukan? Namun bukan berarti cerita ini berakhir sampai di sini. Karena akhirnya menjadi buntut perenungan panjang saya. Kebetulan saja selama ini saya banyak sekali menulis kisah-kisah sejati personal manusia. Macam-macam peristiwanya, 'gado-gado' aneka suka dan duka.

Bisa jadi itu sebuah kisah sukses yang begitu bombastis, atau boleh jadi seputar masalah kesehatan, penyakit, atawa bencana yang menimpa dan sangat menggugah hati. Sehingga dari ragam kejadian yang terjadi, bagaikan sisi koin yang bertolak-belakang, saya menjadi lebih banyak menyerap pembelajaran kehidupan manusia.

Alih-alih bersedih, kerap bahkan saya menjadi begitu terpacu bersemangat bahkan boleh dikatakan adrenalin melonjak terinspirasi teladan sejatinya seorang manusia yang saya tulis kisahnya. Dan, dari seratus persen keseluruhan cerita hidup itu, pada akhirnya selalu tak terlepas dari hubungan manusia dan Sang Pencipta.

Ada rasa syukur tak berkesudahan, terima kasih dan puja-puji kepada kebesaran-Nya, maupun sebaliknya ada pula yang sempat menyesali bahkan menghujat, walaupun akhirnya kembali lagi istigfar... puji Tuhan, alhamdulillah, amin...Ya, doa menjadi tumpuan harapan manusia untuk kembali fitri.

Berbicara tentang doa, saya jadi teringat banyak sekali nara sumber yang kala kekecewaan dan penderitaan besar melandanya menjadi berbalik menyalahkan Sang Khalik. "Mengapa harus aku, Tuhan? Mengapa harus aku yang Kau pilih untuk menderita seperti ini? Engkau sungguh tidak adil! Aku membenci-Mu! Percuma aku setia berdoa kepada Engkau, jika aku harus menderita begini...," begitu kira-kira segudang keluh-kesah yang kerap saya dengar terlontar heboh dari mulut mereka.

Malah, pernah suatu kali saya terkesan sekali dengan pernyataan seorang nara sumber yang telah kehilangan seluruh harta benda termasuk keluarganya tercinta akibat banjir bandang melanda kawasan Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu, Tangerang (27 Maret 2009).

Bayangkan, 300-an rumah luluh-lantak bersama tanah akibat runtuhnya waduk Situ Gintung. Mirip hajaran ombak Tsunami, dalam sekejap ratusan orang meninggal dunia, hilang, dan luka-luka. Kerugian materi menjadi tak berarti jika dibandingkan nyawa yang melayang. Apalagi bagi seorang Oscar Anwar, karyawan TVRI yang menjadi korban garangnya banjir bandang itu.

Rumah dan seluruh isinya ; isteri dan keempat anak tercinta hilang lenyap seketika. Luar biasa tragis dan dramatis, sehingga saat wawancara berlangsung pun, saya berulangkali tergugu menatap suami dan bapak yang kerapkali hanya terdiam lesu menitikkan air mata sembari memeluk dan mencium foto keluarga, satu-satunya yang tersisa.

Kisah yang bergulir satu-satu tertatih akhirnya ditutup dengan pertanyaan , "Mengapa harus terjadi kepada diriku, ya, Allah?" Namun kali ini, lebih kepada intinya,"Bukankah selama ini aku rajin berdoa bahkan bersedekah berbagi rezeki yang kupunya? Mengapa harus aku yang mengalami penderitaan sebesar ini?"

Saya terpana ketika mendengar kalimat selanjutnya,"Aku bahkan berdoa selalu memohon keselamatan bagi keluargaku; 'Ya, Allah, tolong jauhkan kami dari segala bencana. Lindungi kami, anak-anak kami... Tetapi, mengapa yang terjadi adalah sebaliknya? Justru, bencana-lah yang merenggut seluruh keluargaku!" Hingga akhirnya ia menegaskan untuk berhenti berdoa saja karena sudah lelah, dan merasa telah kehilangan kepercayaan kepada-Nya. "Tak ada tempat aman bagiku untuk bersandar...," ucapnya pesimistis.

Entah mengapa bulu kuduk saya berdiri, merinding. Kontradiksi sekali doa harapan dan realita yang terjadi! Hukum kebalikan-kah? Saya pernah membaca sebuah buku, mencoba mereka-reka menganalisa. Ah, yang namanya manusia memang sungguh kompleks. Ketika doa terjawab, Yang Maha Esa dipuja-puja. Tetapi, saat Dia dianggap tak menjawab, kita menjadi kecewa dan berpaling dari-Nya. Doa menjadi kehilangan maknanya.  

Seperti apakah sesungguhnya doa? Tanpa ribet berbelit-belit, inti-nya,'kan adalah "dialog", alias bagaimana cara kita berkomunikasi dengan Allah Sang Pencipta. Berbagai ragam cara penyampaian doa melalui ritual sesuai agama yang kita anut masing-masing, termasuk Perayaan Ekaristi di gereja maupun di dalam keluarga Katolik bagi kita yang mencintai Allah Bapa di Surga.

Nah! Saya tidak akan mengulas Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan sebagainya. Yang menjadi pokok  pemikiran saya adalah tentang doa 'orang awam' dari kita sebagai manusia. Alangkah indahnya jika doa selalu dipanjatkan dari hati yang tulus ikhlas, tanpa pamrih meminta rezeki, kesehatan, atau dijauhkan dari marabahaya, dan sebagainya, dan sebagainya (bahkan, meminta derajat kita ditinggikan, banyak pahala, etc).

Iya, sih, sah-sah saja meminta semua itu dari-Nya, tokh Allah kita adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang? (Masih ingat cerita Si Buyung dan Si Anto di awal tulisan ini? Aha!) tetapi, mbok, ya, tulung jangan hanya di saat duka nestapa memohon segenap pertolongan dan seabrek bala bantuan saja, kita baru datang mengetuk pintu-Nya (lalu bahkan ketika merasa doa tak terjawab, tanpa rikuh kita mengumpat dan bilang bahwa, "Tuhan tidak adil!" Duh!

Tanpa bermaksud khotbah, hanya mengejawantahkan perasaan Bapak Oscar akan kehilangan berat yang dirasakannya, melalui sebuah doa yang tulus ikhlas. Mencoba menciptakan ruang untuk mengisi kegembiraan, kebahagiaan, dan cinta. Mengosongkan benak dari kecemasan dan pikiran-pikiran negatif.

Doa adalah mengakui keberadaan-Nya, bahwa ada kekuatan lebih tinggi yang bekerja di dalam kehidupan kita. Seperti yang pernah dituturkan seorang penulis sekaligus psikolog,William McGill," Nilai dari doa yang konsisten bukanlah Dia akan mendengar kita, tetapi sebaliknya kita yang akan mendengar Dia."  

Mungkin, karena itu acap banyak kali ending doa saya (setelah selalu berterima kasih dan bersyukur kepada-Nya, selalu dan senantiasa seperti ini," Semoga semua makhluk di dunia dan seisinya berbahagia. Amin...."

Entah mengapa, saya percaya dan bahkan sangat meyakini, Tuhan tidak pernah 'tidur'. Ia akan memenuhi janji, membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Jadi, ya, jangan pernah kehilangan harapan kepada-Nya. Dan, karena itu di saat bahagia -- tatkala mendaki puncak tertinggi sekali pun, sudah sepatutnya justru kita kembali bersujud kepada-Nya untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan.

Jika doa-doa kita belum terjawab? Usap lelah peluh dan putus asa, tanpa sekali pun pernah memertanyakan kuasa dan ketulusan-Nya. Anggap saja, justru dalam keterpurukan dan nestapa, kita malah diberikan kekuatan untuk menjadi lebih sabar dan bijak, menjadi lebih yakin dan percaya akan cinta-Nya yang tak berkesudahan....

Ya, jika sudah demikian, mengapa harus bersusah-payah merangkai kata dalam doa, memohon begitu banyak segudang permintaan. Tokh, sebenarnya Dia sudah tahu kok, apa yang kita inginkan, sebelum kita ucapkan? Bukankah kita semua 'telanjang' di hadapan Sang Maha?

Dan, masih ada satu hal lagi : tak perlu merasa was-was jika berdoa. Jadi, abaikan saja, ya, judul tulisan ini? (Komunika 01/XII, Januari-Februari 2012).  

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar