(Oleh Effi S Hidayat)
Matanya memukau, berwarna kehijauan dan mengundang rasa sayang. Bulunya yang putih kombinasi cokelat muda sangat halus dan lembut. "Si Manis", begitu nama panggilan pus meong hewan peliharaan pertama saya. Kala itu, saya masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar.Ya, Si Manis, anak kucing yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam rumah itu tumbuh semakin besar menemani hari-hari saya dengan setia.
Saya duduk di bangku kelas dua SMP saat Si Manis jatuh sakit. Rupanya ia sakit parah, sehingga akhirnya saya harus merelakan kepergiannya. Sejak itu saya 'patah hati', emoh punya hewan peliharaan lagi. Hingga ayah saya memelihara seekor monyet yang diberi nama : Micky.
Saya sebal betul pada hewan yang satu ini! Habis, Micky centil sekali! Pernah, suatu kali, Micky lepas dari kandang hingga membuat heboh seisi rumah. Setandan pisang digasaknya habis, dan piring mangkuk dilempar bak pemain akrobatik! Karuan saja ibu saya menyarankan pada Ayah agar lebih baik melepaskan Micky. Herannya, walau Micky sudah dilepas, dia selalu kembali, dan kembali lagi. Hingga akhirnya pada suatu hari dia benar-benar raib. Dan, ajaibnya saya merasa kehilangan.
Kehadiran Blacky, anak anjing hitam pekat mengawali salak anjing yang jadi paduan koor harmonis di seantero rumah. Berturut-turut kemudian, saya dan Ayah memelihara Browny (anjing berbulu cokelat muda), Greydi (chow-chow, Si beruang abu-abu), Einstein (dahinya berkerut-kerut mirip penemu teori relativitas, Albert Einstein). Dan, rekan-rekannya yang lain, hingga kesemuanya genap total berjumlah...tujuh ekor!
Jelas saja, ibu saya yang berbeda aliran dengan saya dan Ayah jadi sering ngomel. Entah karena tiba-tiba dia menemukan segumpal bulu Greydi menempel di sofa, atau urin Blacky yang tergenang di ruang tamu. Uff, apa boleh buat! Yang pasti, saya dan Ayah kerap membentengi diri dengan 'ilmu budeg' alias pura-pura tak mendengar amarah sang ibu suri! Hihihi.
Ketika kuliah di Jakarta, saya tak pernah lupa menanyakan kabar anjing peliharaan kami lewat telepon atau surat (maklum saja, zaman itu belum ada internet!). Pasalnya, tentu saja karena saya kangen! Hingga suatu hari, saya sedih sekali mendengar Greydi hilang, dan Blacky meninggal dunia karena sepuh.
Mungkin itu sebabnya saya nekat menyelundupkan seekor anak anjing penerus generasi, ketika saya pulang kampung ke Lampung. Ketimbang ribet mengurus izin membawa hewan peliharaan di bandara, anak anjing yang baru berusia empat bulanan itu saya beri sedikit valium (obat tidur). Aduh, kalau dipikir-pikir lagi sekarang, perbuatan saya itu mboten-mboten , ya?
Buntut-buntutnya sepanjang perjalanan (saya naik mobil travel), hati saya ketar-ketir. Habis, Si kecil sempat menguik-nguik lirih sebelum akhirnya bobo pulas, dan ulahnya itu sempat lho, membuat supir dan penumpang yang duduk di samping saya curiga. Aih!
Sayangnya setelah ayah saya tiada, Ibu yang tidak tahan merawat seabrek hewan peliharaan menghadiahkannya kepada seorang teman, dan kabar terakhir yang saya dengar begitu menyedihkan, anjing itu tewas tertabrak mobil!
Kisah tragis itu yang mungkin membuat saya mengambil keputusan tidak mau memelihara hewan lagi bahkan hingga berumah-tangga. Hingga pada suatu hari, tanpa seizin saya, suami tiba-tiba saja membawa pulang dua ekor ayam kate. Mereka wara-wiri setiap hari di depan rumah, ribut pletak-pletok, dan membabat tanaman hias. Belum lagi 'tanda mata'-nya yang berserakan di mana-mana. Betul-betul bikin saya senewen (akhirnya,oh, saya mengerti bagaimana perasaan Ibu terhadap anjing-anjing peliharaan saya dan Ayah dulu).
Saya pun mengikuti jejak ibunda (bahkan mungkin lebih galak lagi!), memberi ultimatum kepada suami. Pilih ayam, atau saya, isterinya? Hahaha... ekstrem sekali, ya? Suami saya dengan berat hati lalu memberikan 'hak asuh' dua ekor ayam kate itu kepada seorang tetangga. Hingga kemudian, dia jatuh cinta pada... ikan hias!
Kali ini saya membiarkan, karena menurut buku ilmu psikologi yang saya baca, memelihara ikan hias adalah obat stres yang paling majarab (eh, sebenarnya hewan-hewan lainnya juga, lho!). Sayangnya, Zoe, anak sulung kami yang baru berusia tiga tahun saat itu, menuangkan susu (katanya sih, supaya ikan-ikan milik papanya sehat karena minum susu). Dia juga menuangkan rinso ke air kolam untuk 'memandikan' sang ikan.
Lha, ya, bisa ditebak. Lagi-lagi, suami saya 'patah hati'. Ikan-ikan hias peliharaannya mengambang satu per satu tak tersisa seekor pun! Setelah itu kami lalu sepakat memelihara Octa, seekor anjing pudel putih yang cantik sekali. Saya jatuh hati ketika kali pertama melihatnya, dan tak mampu menolak kehadirannya di rumah kami.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun hati saya luka karena kehilangan hewan-hewan kesayangan, Octa menjadi obat pemulih yang manjur. Sayangnya, ia tidak lama tinggal bersama kami. Suatu sore, sehabis berjalan-jalan, Octa tidak pulang ke rumah. Ah, sampai detik ini, saya yakin sekali kalau Octa diculik. Siapa yang tidak jatuh hati pada pudel secantik dia? Kalau diingat-ingat, luka hati saya berdarah kembali.
Meski ogah punya hewan peliharaan lagi, saya tak bisa menolak kado dari seorang paman pada saat ulang tahun anak-anak saya. Cuma empat bulan sepasang tikus kecil yang diberi nama Moro dan Mere itu bertahan di kandangnya.Yang betina, Mere, wafat karena sakit. Dan mungkin karena tidak tahan kesepian ditinggal sendiri, Moro hamster jantan pun menyusul 'pergi'. Menyisakan kesedihan bagi kedua putera saya. Bayangkan saja, mereka sudah rajin memberi makan dan merawat, bahkan berdoa di kandang hamster yang sedang sekarat.
Ya, mereka semua datang dan pergi. Datang pergi. Namun saya bersyukur, melalui hewan-hewan yang pernah mampir dalam kehidupan kami itu, terselip beragam pelajaran berharga : persahabatan, penguatan, bahkan cinta tanpa syarat. Mereka telah mendekatkan hubungan saya dengan orangtua, dan kini dengan anak-anak, dan suami.
Kenangan manis terlintas saat membuka album foto Si Manis, Greydi, Octa, Moro, Mere, dan teman-temannya. Mereka semua adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga kami. Sungguh! (Parenting, November 2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar