Halaman

Sabtu, 18 Maret 2017

Kehangatan di Meja Makan

(Oleh Effi S Hidayat)

Salah satu kenangan masa kecil yang paling melekat di benak saya adalah... meja makan. Ya, sebuah meja makan persegi terbuat dari kayu jati berkaki empat dengan kursi berjumlah sama. Empat. Sesuai dengan jumlah anggota keluarga inti saya. Ayah, Ibu, saya, dan adik laki-laki saya.

Meja makan ini bagi saya sangat istimewa, bukan saja karena 'keajaibannya' (sang meja bisa dibuka-tutup, memanjang dan memendek karena memiliki garis tengah yang bisa ditarik sedemikian rupa), terlebih pula karena di meja inilah selalu terhidang buah cinta karya ibu saya.

Beragam masakan enak dengan aroma yang mengundang selera selalu hadir, mengumpulkan semua anggota keluarga. Secara teratur, tiga kali sehari kami bercengkrama di ruang makan yang desainnya lumayan unik.

Diprakarsai sendiri oleh Ayah, ruang makan itu letaknya berhadapan dengan ruang dapur, namun dipisahkan oleh ceruk dinding, mirip di restoran itu, lho. Sehingga begitu masakan Ibu siap, saya pun sigap menerimanya lewat meja keramik di antara ceruk itu, lalu menghidangkannya di meja makan. Praktis sekali, bukan?

Pagi hari, saya ingat betul, selalu terhidang sarapan: telur setengah matang, dua cangkir susu untuk saya dan adik, segelas teh hangat minuman kesukaan Ibu, dan kopi Lampung kental wangi kegemaran Ayah. Ada juga nasi uduk, bubur ayam, atau kue-kue kecil tradisional -- berganti-ganti menunya sesuai dengan order kami, yang puji Tuhan selalu digenapi Ibu.

Lalu, siang hari sepulang sekolah, dan tentu saja malam hari, kami berempat pun bertemu lagi di meja makan untuk menyantap beragam menu yang disediakan ibu tercinta. Rasanya 'hangat', mengobrol bersama sembari makan. Apalagi kami semua tahu, makanan yang terhidang di atas meja itu sarat dengan bumbu cinta kasih. Wow, tak berlebihan bukan, jika saya selalu kangen suasana seperti itu.

Terlebih ketika saya harus melanjutkan sekolah ke Jakarta. Menjadi anak rantau dan harus kos di rumah orang. Walau ibu kos saya berasal dari Sumatera Barat alias 'Orang Padang' (sehingga kami, anak-anak kos memanggilnya "Bunda") tergolong jago masak, tapi tetap saja, masakan yang dihidangkan Ibu di meja makan rumah kami, tak pernah tertandingi, dan tak tergantikan.

Maka dari itu, setiap setahun sekali atau saat kampus liburan, saya selalu 'bela-belain' pulang ke rumah orangtua saya di Lampung. Walau harus naik bus menyeberang lautan, penat segera hilang begitu tiba di rumah. Magic of the dining room , yaaah, tentu  juga kerinduan saya kepada orang-orang tercinta terobati.

Entahlah, bagi saya, ruang makan keluarga merupakan ruang terpenting dibandingkan ruang-ruang lainnya. Mungkin bagi sementara orang, ruang tidur merupakan ruang paling nyaman karena privacy terjamin di dalamnya, atau ada pula yang memilih living room alias ruang duduk keluarga, atau malah... kamar mandi? Hahaha tergatung selera dan pilihan masing-masing, ya?

Yang jelas, saya sih, lebih memilih dining room, karena , ya, itu tadi... selain ibu saya yang pintar masak selalu sukses mengumpulkan kami semua di sana, di ruang makan keluarga. Orangtua saya memberikan kebersamaan keluarga yang tak terlupakan.

Begitu menyimpan banyak kenangan masa kecil hingga masa remaja saya, walaupun sudah lama sekali kenangan itu berlalu. Ya, bahkan setelah kedua orangtua saya meninggal dunia. Dan, sudah lama sekali, terhitung setelah Ayah dan Ibu tiada, saya tak pulang kampung.

Meja makan memiliki arti lebih bagi saya, karena di sanalah kami biasa ngobrol bareng tentang apa saja. Cerita-cerita saya tentang teman-teman sekolah, pelajaran, bahkan kegundahan hati kerap tertuang di sana. Saya juga menjadi tahu tentang permasalahan bisnis keluarga, atau bagaimana kabar berita sanak keluarga yang lain, ya... lewat meja makan itu!

Usia saya bertambah, dan terus bertambah, tapi saya tak pernah bosan duduk di sana. Kehangatan yang saya rasakan tak pernah menguar hilang. Aroma cinta kasihnya pun masih terasakan hingga saat ini. Karena itu saya kerap nelangsa jika melihat kebersamaan keluarga di meja makan tampaknya sudah beralih fungsi ; tak sehebat dulu pesonanya.

Entahlah, mungkin ini hanya praduga saya saja. Mudah-mudahan saya salah. Tapi menurut saya, keluarga di masa kini tak menganggap penting-penting amat duduk bareng mengitari meja makan. Fungsional meja makan, ya, cuma sekadar duduk-duduk makan thok. Lima menit makanan di piring tandas, buru-buru angkat bokong, dan berlalu. Tak ada komunikasi berarti , apalagi yang namanya 'kehangatan kebersamaan'. Karena para anggota keluarga lebih memantau aktivitasnya masing-masing.

Hanya raganya yang hadir di sana, tapi 'nyawa' sang individu asyik dengan dirinya sendiri. Bukan satu-dua kali saya memergoki keluarga yang sedang makan di ruang publik ; food court atau restoran, saling diam-diaman seolah bermusuhan.

Sang ayah yang lihat sibuk baca koran dengan kedua tangan bertumpu di tengah meja, di antara hamparan lembaran surat-kabar yang mendominasi area meja makan. Tak ada yang protes karena Sang ibu pun asyik ber-BBM-ria, dan kedua anak mereka asyik memainkan games di IPad mereka. Ya, makan sembari menulis di laptop pun sah-sah saja. Hmm, begitu sibuk-kah kita sehingga tak punya waktu lagi untuk mencicipi kehangatan keluarga di meja makan?

Harus saya akui, aktivitas kesibukan yang berjibun kini telah menjerat antaranggota keluarga untuk tak lagi saling lengkap berkumpul di meja makan, seperti dahulu. Apalagi keluarga urban di perkotaan, wah, jangan ditanya. Begitu deh, kira-kira. Dalam keluarga inti saya sendiri pun, rasanya memang sulit sekali menghadirkan kebersamaan yang saya rasakan di meja makan masa kecil saya dulu. Hahaha apa boleh buat.

Namun paling tidak, saya akan marah sekali kepada kedua anak saya jika mereka tidak makan bersama  pada tempatnya. Waktunya makan, ya, makan sembari ngobrol, gitu lho. Itu harapan saya, walau terkadang Si kecil selonong boy duduk makan di depan televisi (sehingga harus berulangkali saya tegur dan akhirnya ngeh bahwa makan duduk bersama di meja makan itu memang perlu).

Meja makan yang saya rindukan, tak hanya sekadar makan mengisi perut belaka, tapi di sanalah justru terjadi interaksi antaranggota keluarga untuk saling bertukar cerita dan ... cinta. Ya, dalam sebuah kebersamaan keluarga, tentu selalu terbungkus kehangatan cinta kasih.

Jadi, bagaimana mungkin itu bakalan terwujud jika semua anggota keluarga justru sibuk dengan dirinya masing-masing. Lebih memilih bertukar sapa dengan teman di dunia maya ketimbang ayah, ibu, adik atau kakak di rumah?

Ya, mungkin agak sulit bagi ibu-ibu zaman sekarang, yang sibuk tak punya waktu seperti ibu saya dulu untuk menyiapkan masakan istimewa bagi anggota keluarga tiga kali sehari perfecto.Tapi, palin tidak selalu saja ada waktu tertentu untuk kumpul bersama keluarga di meja makan, bukan?

Saat berkumpul inilah masing-masing anggota keluarga bisa saling curhat, sehingga masalah keluarga yang timbul pun sebenarnya mampu terselesaikan dengan mudah di meja makan. Sembari menyantap makanan enak, biasanya hati pun jadi lebih ringan dalam mengelola persoalan.

Walau tentu saja Si Ibu pelindung hati suami dan anak, kudu harus pintar-pintar cerdas mengorek problem yang ada dengan bahasa kasih yang tidak menggurui, atau malah tak acuh. Karena jika kita bersikap demikian, boleh jadi anak dan suami malah jadi...malas makan bersama. Hahaha berabe,'kan?

Tetapi, secara pribadi sih, saya memang lebih suka 'berkicau' ketika makan bersama. Dan, tak habis pikir jika ada keluarga yang malah menerapkan harus tutup mulut, berdiam diri dalam meditasi hening saat menyantap makanannya.

Apapun itu, saya memiliki aspirasi berlebih dalam melihat sosok Si Meja Makan. Bentuknya sih,mungkin begitu-begitu saja ; sekadar persegi empat, bulat lingkaran, atau lonjong? Tapi yang jelas, kehadiran pra penghuni kursi di meja makan itu tak hanya sekadar sosok raga tak berjiwa.

Kehadiran seseorang sebagai anggota keluarga untuk saling berbagi kasih dan kebersamaan, seharusnya mampu membuat cerita yang lebih bermakna. Sukacita di meja makan, itu yang kepingin sekali saya tebarkan di dalam keluarga saya. Dan, keluarga Anda juga tentunya.

Seperti yang pernah dikatakan seorang koki Prancis, Jean Anthelme Brilliant bahwa, "Kenikmatan di meja makan adalah milik semua usia, semua kondisi, semua negeri, setiap hari. Kenikmatan ini dapat dihubungkan dengan semua kenikmatan lain dan kenikmatan ini yang paling lama bertahan untuk menghibur kita ketika semua kenikmatan lain sudah menghilang."

Yup, saya setuju sekali. Mungkin, itu sebabnya saya terkesan kepada jawaban seorang nara sumber yang pernah saya wawancarai. Konsepnya tentang makna kebahagiaan sangat sederhana. Bahagia baginya adalah pada saat ia makan. Terlebih, saat makan bersama orang-orang tercinta. So simple and sweet!

Mungkin itu juga sebabnya, mengapa kenangan di meja makan saat masa kecil saya dulu masih mengendap dengan anteng dan nyaman di benak saya. Dan, menghadirkannya kembali setiapkali saya makan adalah suatu pemenuhan cinta kasih yang tertinggal setia dan menetap.

Walaupun Si pemberi kenangan indah, yaitu kedua orangtua saya sudah lama tiada. Sebagai puteri mereka, saya sungguh berterima kasih, karena telah mewarisi sebuah cerita cinta kasih keluarga di... meja makan! (Komunika 01/XIII, Januari - Februari 2013). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar