(Oleh Effi S Hidayat)
Di sebuah pusat perbelanjaan, suatu siang, saya bertemu dengan seorang teman SMU. Dia seorang yang cerdas dan berasal dari keluarga berada. Rasanya tak ada yang tak mungkin bagi dirinya. Dia bisa menjadi apa saja yang dia inginkan, kalau saja dia mau...Itu yang kami pikirkan tentang dirinya, dulu.
"Ya, kalau saja saya punya keinginan, saya tentu berusaha mewujudkannya. Tapi sayangnya sekarang, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya seorang yang gagal! Semua yang saya lakukan tidak ada yang berhasil. Kuliah tidak tamat, pekerjaan saya tidak satu pun yang beres, lalu keluarga yang kacau-balau...."
"Rasanya saya tidak punya apa-apa lagi. Keinginan, harapan, bahkan bermimpi pun ... saya tidak berani!" kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Curahan hatinya tidak dibuat-buat. Dari performance-nya saja, saya tahu, dia dalam keadaan patah arang. Awful! Pendek kata, keluh-kesahnya yang mengalir sepanjang tiga jam 'reuni kecil' kami seolah tanpa ending....
Saya merenung lama sekali setelah perjumpaan yang tidak terduga itu. Mungkin saya jauh lebih beruntung dibandingkan teman saya. Bagaimanapun, saya masih berani bermimpi. Saya kepingin...duh,ternyata lumayan banyak mimpi saya?
Tapi, kenapa ternyata setelah putera kedua saya lahir, mimpi-mimpi itu seolah terbang entah ke mana? Rasanya saya jadi kehilangan minat mengejar karir. Predikat ibu rumah-tangga yang nikmati sepenuh hati membuat saya terlena.
Hingga tanpa disadari, para bayi yang saya asuh sudah tumbuh besar. Si sulung, Zoe (6 tahun), bersama adiknya, Zachary (4 tahun), sudah pintar bicara dengan bahasa yang baik dan benar. Dan, mereka sangat gemar membaca dan bercerita.
Hari-hari yang saya lewati bersama mereka selalu penuh dengan 'kejutan', seperti saat ketika saya sedang melamunkan kembali pertemuan dengan teman lama saya yang katanya sudah tak mampu lagi bermimpi itu. Justru mereka dengan seru mengajak saya ngalor-ngidul membahas mimpi yang berwarna-warni seperti permen loli pop.Manis sekali.
Dengarkan ini, kata Zoe, dia kepingin sekali menjadi seorang Presiden Direktur setelah besar nanti. "Zoe mau bangun apartemen yang tinggi-tinggi menembus langit. Zoe mau bikin Ancol yang lebih gedeee untuk anak-anak main. Zoe mau punya karyawan yang banyaaaak...."
Lalu, apa kata Si adik? " Kalau Mama ulang-tahun Zach mau kasih bunga yang indah untuk Mama, warna-warni. Terusss...Mama mau punya berapa orang pembantu? Lima orang cukup, Ma? Satu buat ngepel, satu buat setrika baju, satu buat cuci-cuci, satu buat masak, satu lagi buat rawat anak Zach...," Si bungsu tidak mau kalah mengurai mimpinya.
"Iya, Ma, pokoknya nanti semua uang yang Zoe dan Dedek Zach dapet, Mama yang simpan, ya? Mama juga ntar yang gantiin Zoe beresin urusan kantor kalo Zoe lagi ke luar negeri. Soalnya,'kan Mama pinterrr...."
Obrolan bersama anak-anak yang cuma secuil itu menyentakkan saya dari 'tidur panjang' yang saya jalani sehari-hari selama ini. Tiba-tiba saja saya takut, suatu hari nanti, anak-anak saya mendapati bahwa ibundanya tidaklah 'sepintar' yang mereka bayangkan....
Mungkin saya tidak harus cukup puas hanya dengan menjadi pengasuh beberapa media internal, dan mengajar ekstrakurikuler mata pelajaran Jurnalistik di akhir pekan belaka. Semestinya saya juga bertanya pada diri sendiri, mengapa selama ini cuma sekali-sekali saja saya menulis cerpen atau cerbung.
Tampaknya saya harus kembali mengasah talenta. Tak ada salahnya saya bangkit menggali ambisi pribadi saya. Dan, alhasil ternyata... boleh juga! Dengan aktif menulis, bahkan terjun kembali ke lapangan mewawancarai nara sumber, rasanya sekarang hidup saya jadi lebih berwarna.
Di mana-mana selalu ada peristiwa yang terjadi, asal kita jeli, peka, dan tentu saja punya kemauan untuk menuliskan lalu melemparkannya ke media. Ya, siapa takut? Tawaran untuk menjadi kontributor (bahkan kepingin belajar menggarap skenario dan menulis buku) mulai saya lirik. Ah, tentu saja saya masih harus lebih banyak belajar lagi.
Nyatanya tinggal di rumah sekali pun, sembari ngobrol bersama anak-anak, saya masih bisa bekerja dengan optimal. Ditemani Zoe dan Zach, sumber insipirasi terbesar, saya rajin 'berbagi mimpi'. Ya, kedua 'buah hati' saya hampir setiap hari mengajak saya untuk selalu memperbaharui mimpi.
Seperti dua hari yang lalu, Si sulung Zoe berubah hasrat menjadi ...pastor dan Si bungsu Zach kepingin jadi wartawan seperti saya! Saya cuma tersenyum, sembari berdoa khusyuk di dalam hati bagi teman lama saya. Semoga saja dia juga berani bermimpi kembali hingga hidupnya yang katanya kering-kerontang menjadi lebih bermakna. (Parenting, refleksi -- Oktober 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar