Halaman

Rabu, 08 Maret 2017

Foto dari Aimee

(Oleh Effi S Hidayat)

"Tante...," suara nyaring memanggil. Dan, sebuah kepala mungil tersembul dari balik pintu pagar. Pemiliknya seorang anak perempuan berkulit putih dengan rambut berponi. Aimee, begitu nama panggilan gadis cilik yang tersenyum di depanku. "Boleh Aimee masuk, Tante? Snowy sedang bobo,'kan? Aimee takut kalau Snowy menggonggong...," katanya manja, sembari melirikkan matanya yang agak sipit, mencari-cari anjing maltise peliharaanku. Aimee memang agak takut pada Snowy, tapi siang ini, ia tetap nekat datang ke rumah mencariku.

Aku tersenyum, membuka pintu lebar-lebar, membiarkan gadis kecil itu masuk. Kebetulan Snowy sedang tidur, dan kelihatannya Aimee mulai hapal kapan jadwal Snowy beristirahat, mungkin karena sudah beberapa bulan ini ia sering main ke rumah. Ya, gadis kecil -- anak perempuan salah satu tetangga di kompleksku ini setiap pulang sekolah, atau jika sedang libur selalu datang ke rumahku.

Mulanya sih, ia hanya sekadar mampir untuk bertanya tentang Snowy, Pussy atau Yellow (mereka adalah hewan peliharaan keluarga kami). Kebetulan aku bekerja di rumah, sejak kelahiran anak kedua aku memutuskan untuk bekerja paruh waktu, dan hanya sesekali ke luar jika harus bertemu klien. Sehingga tentu saja dengan mudah Aimee bisa datang untuk mencariku.

Boleh dibilang 'persahabatan'-ku dengan gadis kecil itu terjalin begitu saja. Lewat perbincangan-perbincangan ringan yang mengalir di luar pagar ketika aku sedang menyiram tanaman, atau membawa Snowy untuk jalan-jalan sore. Hingga akhirnya ia mulai bertandang ke rumah seperti siang ini.  "Tante sedang apa?" tanyanya lincah sembari menguntitku ke dapur. Hmm, tampaknya ia tertarik dengan mie goreng yang sedang kumasak untuk makan siang anak-anakku. Dan, sedikit malu-malu ia tak lagi menampik ketika kutawari untuk mencicipinya.

"Enak sekali, Tante! Aimee suka mie goreng tapi yang tidak pedas," ceritanya meluncur begtu saja tentang makanan apa yang disukainya, atau sebaliknya yang tidak disukainya. Ia terus bertutur, bagaimana hubungannya dengan teman-temannya, bagaimana Rev, anjing peliharaannya menggondol bonekanya hingga sobek. Atau, ketika kedua kakak lelakinya iseng mengganggu sehingga tak jarang karena kesal ia menangis.

Aku hanya tersenyum mengangguk-anggukkan kepala mendengar ocehannya. Lumayan seru mendengarkan gadis kecil yang baru duduk di bangku TK B itu berceloteh. Ia tampak girang mendapatkan 'teman bicara' seperti diriku yang betah mendengarnya bercerita. Mungkin karena aku tidak mempunyai seorang pun anak perempuan. Tentu saja aku dan Aimee dengan mudah berteman baik. Sehingga kedua bocah kecilku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Malah Zach, anak bungsuku yang duduk di kelas V SD sempat berkomentar,"Waduh, Zach bisa cemburu nih, Ma. Kok, Aimee datang terus sih, ke rumah?"
  
"Memangnya Aimee mengganggu, Ko Zach? Aimee,'kan cuma kepingin main, daripada di rumah nggak ada siapa-siapa?" Aimee mengerucutkan bibirnya, cemberut. Aku terbahak melihat mimik wajahnya yang sedikit sedih. Ah, anak perempuan yang satu ini memang lucu sekali. Di usianya yang belia, ia kerapkali mirip nini-nini karena ocehannya yang lebih dewasa ketimbang umurnya yang sebenarnya.

Mendengarkan Aimee bercerita, aku jadi memahami kalau sebetulnya ia kesepian. Apalagi ketika ia berkisah tentang sekumpulan anak perempuan tetangga lain yang usinya lebih tua daripadanya. "Mosok Aimee cuma disuruh-suruh aja, Tante. Begini nih,' Aimee...ayo, ambil minum! Aime, ambil tali, ambil ini, ambil itu'. Emangnya Aimee pembantu? Aimee nggak suka! Lebih asyik main sama Tante...," tuturnya dengan mata berbinar.

Di rumahnya, bersama dengan kedua kakak lelaki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sehari-hari Aimee biasa ditemani dua orang pembantu. "Pagi-pagi Mama sudah pergi kerja dan pulangnya malam. Dan, papaku baru pulang ke rumah kalau hari Sabtu aja, kadang suka nggak pulang juga karena harus kerja ke luar kota," paparnya lain waktu tanpa aku minta.

Terlebih ketika sang mama harus dinas ke luar kota juga, Aimee kelihatan tak bersemangat. Ketika kutanyakan mengapa, ia hanya menjawab,"Iya, nih, Aimee kangen, Tante. Tapi, Mama baru pulang nanti dua hari lagi...," hanya sedetik, namun sempat kudengar gadis kecil itu menghela napas panjang. Duh, anak sekecil Aimee, mengapa sudah menghela napas begitu berat?

Setiap pagi Aimee dan kedua kakak lelakinya pergi ke sekolah diantar oleh pembantu. Setiapkali lewat di depan rumahku, jika kebetulan melihatku, ia akan melambaikan tangan dan suara nyaringnya memanggil, "Tante...!" Aku mulai terbiasa dengan panggilannya, dengan cerita-ceritanya, dengan kehadirannya. Kelihatannya sedikit ajaib memang, mendengarkan anak perempuan kecil itu berbicara dan bercerita, aku seolah memasuki dunia lain. Dunia seorang Aimee yang murni dilihat dari kacamata seorang anak perempuan yang baru berusia enam tahun.
   
Terkadang aku terkejut-kejut sendiri dengan pemikirannya yang dewasa. Hanya dengan sedikit celetukan polos, bisa saja ia mengomentari sesuatu yang tak pernah terpikirkan. Atau, pertanyaan-pertanyaan yang begitu saja meluncur dari bibirnya. Tak jarang membuat aku harus putar otak untuk mencarikan jawaban yang kira-kira "pas" bagi anak seusianya. Ah, masa-masa balita dahulu yang pernah kulalui bersama kedua anak lelakiku, Zoe dan Zach, serasa berulang kembali.

"Mengapa kita harus menyayangi semua makhluk di dunia ini, Tante? Ini sih, kata gurunya Aimee di sekolah. Betul begitu, Tante? Lalu, Snowy, Pussy, Yellow itu juga,'kan makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, kita harus sayang sama mereka juga, ya?" begitulah antara lain pertanyaannya yang tergolong umum (namun tak jarang ada pula yang tidak biasa),sehingga jika kesulitan menjawab, aku akan menjadikannya 'pe-er' dan kukatakan pada Aimee,"Tante akan mencarinya di kamus dulu. Sabar ya, Aimee?" Aha!

Kehadiran Aimee membuatku merasa bersyukur dengan keputusanku untuk tidak lagi bekerja full time sejak kelahiran Zach, anak keduaku. Zoe, Si sulung, memang sempat diasuh oleh baby sitter (walau sedapat mungkin aku selalu memantau perkembangannya dengan 'memaksa' sang pengasuh untuk tak pernah lalai mengisi diary anakku).

Sejak masih bayi kedua anakku sudah memiliki catatan harian yang lengkap. Kapan mereka minum susu, mandi, tidur, bahkan BAB (buang air besar), aku punya semuaaaa catatannya. Termasuk, apa-apa saja yang mereka lakukan. Jadi, aku tahu kapan Zoe kali pertama bisa naik sepeda, atau adiknya, Zach awal pertama berenang. Sampai sekarang, jika membaca ulang diary mereka, aku bisa tersenyum-senyum sendiri karena beberapa baby sitter punya style alias 'gaya menulis' masing-masing. Misalnya, Sr. Tuti yang senang menulis panjang lebar, atau sebaliknya 'laporan' Sr.Nina yang pendek-pendek dan ringkas.

Begitulah, sehingga akhirnya kemudian aku memutuskan untuk bekerja paruh waktu agar lebih maksimal memantau tumbuh kembang anak-anakku. Dan, tentu saja aku lebih happy karena bisa menulis sendiri diary kedua bocah lelakiku dan merasakan kehangatan hari-hariku bersama mereka. Sembari menulis (ini pekerjaan yang kulakoni) di rumah, aku tetap bisa mendampingi mereka berdua.

Ya, pada akhirnya, betapa pun ini merupakan sebuah pilihan. Bukan hal yang mudah untuk memutuskan tak lagi bekerja di kantor (apalagi jika perusahaan media tersebut adalah yang kuimpikan!) Namun apa pun risikonya, jalan itu sudah kutempuh sekarang. Dan, buktinya aku tidak pernah menyesalinya. Bahkan, aku bersyukur, jika hari ini aku bisa memiliki seorang sahabat kecil bernama Aimee.

Dia gadis manis yang luar biasa, karena ia tak sekadar berbagi denganku. Misalnya, ketika suatu hari ia memberiku hadiah-hadiah kecil berupa sticker Barbie dan gambar-gambar lukisan yang dibuatnya di sekolah. Aku juga merasa terharu sekali ketika di saat family's day, Aimee memberikan 'kejutan' : sebuah gelang manik-manik yang diuntainya sendiri di sekolah. Warna-warni pink dan lila menyatu harmonis, indah! "Ini buat Tante," katanya tulus.

Lalu, apa yang diberikannya kemudian kepadaku di saat hari kelulusannya dari TK B? Selembar foto dirinya yang sedang 'mejeng' ramai-ramai bersama teman sekolahnya! Foto ini khusus buat Tante dari Aimee, tulisnya dengan huruf cetak besar-besar rada miring ke kanan dan miring ke kiri. Aku tersenyum lebar menatap gadis kecil di dalam foto itu. Aime duduk melipat tangan dengan anggun. Kaus kakinya naik sebelah dan poninya jatuh sedikit tersibak di dahinya. Jika teman-temannya menguntai senyum dan tawa, sebaliknya Aime tidak.

Ah, gadis kecil itu... apakah ia merindukan kehadiran orangtuanya untuk selalu berada di sisinya, untuk mendengarkan cerita-ceritanya, untuk menggenapi perasaan yang dirasakannya tatkala sedang sedih dan bergembira?  Dalam diri Aimee, aku menemukan banyak cerita. Entah suka, entah duka ; kegalauan seorang anak kecil yang kerap ditinggal bekerja oleh ayah bundanya.

Berapa banyak kisah dari Aimee-Aimee lain di sekitar kita? Saat menatap foto dirinya (yang tanpa senyum), entah mengapa, aku selalu diliputi rasa haru. Duh, terima kasih, Aimee. Foto dirimu akan senantiasa Tante simpan sebagai tanda 'persahabatan' kita! (Komunika 04/XI, Juli-Agustus 2011).            
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar