(Oleh Effi S Hidayat)
Politik. Apa itu Politik ? Ada yang bilang dunia politik itu kejam. Tapi, sebagian lagi bilang, dunia politik itu indah menjanjikan. Hmm, yang jelas, melalui politik, seseorang mampu menyalurkan aspirasi dan bahkan ambisinya.
Seorang politikus yang sukses akan berhasil meraih kekuasaan, keberhasilan secara materi,dan popularitas yang ujung-ujungnya bisa memabukkan. Karena itu, sungguh tidak mudah menapaki jalan politik yang suci bersih, tak bernoda.
Dunia politik adalah dunia penuh intrik, pretensi, dan tendensi, kadang malah membuat orang lalai sehingga menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Namun, bukan tak mungkin seorang politikus yang penuh visi, misi, dan idealisme mampu bertahan di jalan ini. Demi menjaga martabat dan hakekat bangsa, kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dasar negara Pancasila, dan tentu saja atas nama rakyat bangsa Indonesia.
Lalu, bagaimana posisi kita sebagai orang awam? Ada banyak pilihan. Umpama daftar menu, dunia politik selaras perkembangan zaman sudah demikian beragam bahkan semarak dengan lahirnya demikian banyak partai. Sila dipilih, yuk, dipilih?
Mana yang kira-kira sesuai dengan aspirasi dan tentu saja diharapkan mampu membawa masa depan cerah bangsa dan negara. Walau tak dapat dipungkiri, sedemikian banyak menu makanan yang ada, berjejer pula jenis junk food yang tak laik dicicipi karena jelas-jelas akan merusak kesehatan kita. Bikin sakit perut, sakit gigi, bahkan sakit hati.
Itu sebabnya, saking frustrasinya, seseorang bisa saja menjadi apatis, bersikap sinis dan skeptis. Dan memilih untuk... tidak memilih! Golongan putih alias "Golput" istilahnya, sama saja bagi orang-orang yang sadar diri memastikan untuk tidak terlibat dan sama sekali enggan (kalau emoh disebut : malas!) menggunakan hak pilihnya sebagai anak bangsa.
Namun secara pribadi, saya kok, merasa sayang sekali ,ya, jika melepaskan hak tersebut? Mungkin benar, dari berbagai kejadian kisruh politik dan solusi yang tampil, lalu kita menganggap dan menyimpulkan ; dunia politik negeri ini sudah bobrok, tidak bisa lagi dipercaya.
Para politisi yang muncul kerap ditunggangi berbagai kepentingan, intervensi dari sana-sini bahkan partai yang membebani langkah dan amat pintar berkelit ketika digugat. Dunia politik, ya, memang seperti itu karena begitu banyak hal yang terlibat, apalagi jika mengatasnamakan kepentingan.
Wong, yang namanya "kepentingan rakyat" saja sedemikian mudah dijungkirbalikkan menjadi "kepentingan sang penguasa"? Manusia-manusia yang dipuja 'setengah dewa' karena sudah dilimpahi kekuasaan tertinggi sebagai wakil rakyat, duduk di kursi DPR atas nama rakyat, dan bekerja atas keringat rakyat itu memiliki banyak bungkus dan kemasan.
Tergelincir, terpeleset akibat mabuk kekuasaan itu mah, sudah biasa! Tetapi kalau sudah begitu, apakah kita harus menyerah? Tentu saja tidak! Lebih baik menyegerakan tindakan perubahan (yang siapa tahu membawa kebaikan) ketimbang membeku diam tiada bersuara. Jadi, ya, pilih saja-lah sesuai dengan hati nurani yang menurut kita mampu dipercaya untuk memegang sauh dan suluh, tanpa kenal kompromi iming-iming segala hal yang memabukkan itu.
Yakin adakah? Ada ! Saya yakin sekali, masih ada orang-orang yang setia berjalan di jalan yang benar. Walau kata seorang sufi yang pernah saya baca, "Jalan yang benar itu adalah jalan yang sunyi sepi...." Namun, justru di tangan kita-lah orang-orang yang setia itu bisa terpilih.
Ya, saya tetap percaya, orang tulus itu pamornya beda, kok! Dari sekian banyak tokoh pilihan yang tampil dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 mendatang, tanpa menyebutkan nama, Anda bisa menilai mana di antara mereka yang elegan, bersih, jujur, pekerja keras, punya integritas dan inspiratif, yang pantas dan laik duduk di tampuk pemerintahan.
Apalagi? Oh, ya! Satu hal lagi ; yang namanya kasih itu sepanjang masa tidak berubah. Itu sebabnya mungkin, saya selalu kepincut dengan kriteria ini : yang bikin hati adem, membangkitkan harapan, dan mampu dipercaya berjuang untuk kebaikan.
Hmm, saya namakan saja "Politik Kasih", ya? Intinya menggunakan rumus sederhana ; mampu berbagi, bersimpati dan empati berbela rasa (kepada kepentingan wong cilik? kepentingan orang banyak?). Hitung-hitungannya tidak ribet dan rumit-rumit amat.
Sila saja menjadi politisi yang mewakili Tuhan (yang sesuai dengan agama Anda masing-masing). Walau begitu, hakekatnya saya kira tetap sama, yaitu "mampu memberi tanpa berharap untuk menerima". Memberi tanpa pamrih bahkan rela berkorban (keringat, tenaga, materi, nyawa sekalipun!) itulah "Politik Kasih" yang luar biasa.
Mencintai orang yang mencintai kita juga, itu sudah klise. Tetapi, mampu mencintai orang yang membenci kita, rela mengayomi dan melayani dengan hati tanpa berharap kembali adalah 'kasih putih' seorang politikus yang sungguh-sungguh saya idam-idamkan!
Halah, kalau saja kita semua mampu melakoninya? Kalau saja para politikus yang kemudian duduk di kursi pimpinan itu mampu menjalankan peranan amanat di bahunya dengan tekad tulus dan sungguh hati? "Seorang pemimpin itu,'kan seharusnya-lah menjadi seorang pelayan, bukan minta dilayani", begitu saja kata kuncinya.
Nah, selamat memilih dengan jeli. Buka mata, telinga, dan tentu saja : hati Anda lebar-lebaaar. Selamat menata hati nurani masing-masing. Semangat! Teriring salam dari saya, 'Salam Politik Kasih' ! (Komunika 01/XIV, Januari-Februari 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar