Halaman

Selasa, 21 Maret 2017

Bersih-Bersih Jiwa dan Raga

(Oleh Effi S Hidayat)

Kepingin tau deh, benda apa yang paling banyak memenuhi rumah Anda? Opss, don't worry! Saya bukan pegawai pajak yang sedang mengintai berapa persisnya jumlah kekayaan Anda, tapi pertanyaan tersebut tiba-tiba saja terlintas di benak saya, ketika tanpa sadar saya menghitung-hitung jumlah jam yang ada di rumah saya. Dan, ternyata jumlahnya lebih dari...lima !

Waduh, lumayan banyak, ya? Bayangkan saja ; jam-jam  itu berada di ruang tamu, ruang kerja, di kamar, dapur, bahkan di... kamar mandi. Halah, boleh jadi hal ini terjadi karena saya termasuk orang yang peduli dengan waktu. Apaaa saja yang dikerjakan harus ada tenggat waktunya. Nah!



Itu baru soal jam, belum yang lain. Karena saya juga termasuk spesies manusia yang maniak banget sama yang namanya buku dan musik, tentu saja yang memenuhi hampir setiap sudut rumah saya pun adalah kedua hal tersebut.

Buku-buku berjibun, selain keping DVD musik dan film. Biarpun bentuknya nggak gede-gede amat, tapi yang namanya koleksi (dan sudah dikumpulkan bertahun-tahun), jumlahnya, ya, banyak juga! Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, pepatah kuno itu tidak bisa disangkal kebenarannya.

Iya, kalau rajin dibenahi, tapi kalau malas sedang kumat, buku-buku itu kerapkali 'berjalan-jalan' mengitari ruang, dari ruang tidur hingga ke kamar mandi. Hahaha. Buntut-buntutnya, anak-anak saya pun demikian. Jadi tukang bawa buku ke mana-mana.

Nah, repotnya benda-benda itu tanpa disadari semakin bertambah saja jumlahnya, beranak-pinak. Belum lagi kalau saya angkut daftar kekayaan buku saya yang dikumpulkan sejak zaman kecil dahulu di rumah orangtua saya di Lampung. Waduh, baru seadanya saja yang sempat terbawa ke rumah saya di Serpong, sudah memenuhi segala tempat. Bagaimana jika menuruti kata hati, digondoli semuaaaa?

Apa lagi? Ya, kalau mau diinventaris, tentu saja mulai dari pernak-pernik mainan anak, busana, sepatu, bahkan perlengkapan dapur, semua yang memenuhi rumah yang kita tempati sehari-hari jumlahnya akan membuat tercengang.

Tanpa disadari, ruang gerak kita semakin sempit saja. Hiii, jujur, saya termasuk orang yang sentimental dan senang sekali menyimpan benda-benda kenangan yang saya anggap punya nilai historis , sweet memories, entah apa lagi.

Sebut ini : selimut bayi anak-anak saya, dan gambar-gambar yang dibuat mereka ketika duduk di bangku TK, semuaaa... masih lengkap. Lalu, lagi-lagi buku koleksi mereka sedari kecil (termasuk punya saya, ibunya!) yang masih rapi hingga sekarang. Yey, semua itu membutuhkan tempat penyimpanan, bukan?

Tidak heran, jika semakin banyak lemari dan tempat penyimpanan di rumah Anda, maka dalam sekejap semuanya akan penuh, tak menyisakan ruang. Malah bukan cuma barang-barang kecil keperluan sehari-hari saja, yang besar-besar tampak di depan mata pun seperti kendaraan roda dua dan empat, bisa jadi lebih dari satu-dua jumlahnya.
 
Tuh, lihat koleksi mobil para pejabat negara, yang baru-baru ini heboh diciduk KPK : Hakim Ketua Mahkamah Agung Konstitusi, Akil Mochtar, dan Tubagus Cherry yang merupakan adik dari Gubernur Banten, Ratu Atut. Jumlah mobil mewah yang mereka miliki kalau ditotal-total, entah berapa nilai harga nominalnya itu, mencapai bilangan... 10-30. Wow! 

Konon begitulah sifat manusia. Selain dikaruniai akal budi, juga tidak terlepas dari nafsu duniawi. Orang bilang, sih, demi memenuhi hobi, lalu bergeser ke status sosial, atawa gengsi, dan entah apa lagi. Kabarnya, kalau punya sejumlah vila, apartemen, property miliaran dolar, dan seabrek emas batangan, plus kendaraan pribadi, maka martabat Si empunya akan jauuuh melambung tinggi di mata masyarakat.

Stratanya jadi naik bertingkat-tingkat gitu. Ha, telak sekali egosentrisme insani jika dikaitkan dengan materi. Yang jelas, rupanya sifat bak pemulung, yang gemar mengumpulkan barang-barang ini, walau bukan sesama jenis kategori kaliber kakap seperti tertulis di atas, eh, menulari saya juga, lho. 

Koleksi buku-buku, DVD, baju, tas, sepatu, dan sejumlah pernak- pernik printil benda yang mungkin tak seberapa perlu guna dan manfaatnya itu, lama-lama membukit bahkan menggunung. Beruntung puji Tuhan, akhirnya saya gerah juga!

Terus terang, kesadaran semacam ini datangnya tidak ujug-ujug, melainkan sangat berproses. Tepatnya, mungkin setelah saya menonton film Up in the Air yang diperankan aktor tampan, George Clooney, dan Eat Pray Love-nya Julia Roberts. Disusul pula oleh serial bacaan Simplify Your Life, Simplify Your Work Life yang ditulis Elaine St. James.

Entah mengapa secara bersamaan ke semuanya mengaliri benak saya, mengisyaratkan makna hidup yang akan menjadi lebih mudah, praktis, dan menyenangkan, jika kita mau melambatkan sedikiiit saja irama kehidupan.

Dan, satu kiat praktis yang paling menohok hati saya adalah bagaimana sebagai manusia kita bersedia secara ikhlas dan tulus berkesadaran penuh, mau menyederhanakan hidup dengan "membersihkan" segala yang ada di sekeliling kita, seminimal mungkin.

Film drama komedi berdasarkan novel yang  meraih penghargaan Golden Globe untuk skenario terbaik Up in the Air menyindir saya melalui peran Clooney -- seorang profesional perampingan perusahaan yang super sibuk. Pada akhirnya, ia bahagia hanya dengan membawa sebuah koper saja, bukan segudang benda yang semula melekat tak bisa dilepaskan dari dirinya.

Begitupun, Eat Pray Love yang menceritakan memoir penulis berkebangsaan Amerika, Elizabeth Gilbert -- pascaperceraian yang menyakitkan lalu berkeliling dunia ke Itali, India, sampai ke Indonesia hingga menemukan jati dirinya. Dengan anteng dan enteng tanpa beban akhirnya mampu menikmati segala kesederhanaan yang ada.

Hidup mengalir cantik sebagaimana aliran air menuju muaranya, tanpa embel-embel material yang alih-alih malah membebani. Itu kesimpulan yang saya peroleh. Bersih-bersih, jadinya tidak sekadar memandikan raga saja, tapi bersih-bersih jiwa pun perlu. Sangat perlu, malah.

Jika sepiring nasi putih dan sayur sudah cukup mengenyangkan, mengapa harus memenuhi meja makan dengan seabrek menu Western yang akhirnya mubazir tak termakan? Jika bisa dicapai dengan berjalan kaki atau bersepeda dan angkutan umum, mengapa harus gengsi tak naik mobil? Jika rumah kecil lebih adem dan nyaman sesuai dengan kebutuhan, mengapa harus bela-belain kredit rumah mewah bertingkat hingga mencekik leher sendiri?

Suatu hari, selagi memeriksa daftar tugas yang harus saya kerjakan, saya tiba-tiba tersadar, betapa kacau dan tak seimbangnya hidup saya! Dikuasai oleh pekerjaan tanpa jeda untuk bersantai dan menikmati waktu bagi diri sendiri... duh!

Pada saat itulah saya putuskan untuk melakukan perombakan, lebih tepatnya ; penyederhanaan. Mulai dari yang kecil-kecil dulu, perampingan pada urusan dapur dan bersih-bersih rumah, perampingan pada isi lemari pakaian saya dan mengubah kebiasaan belanja secara drasastis.

Saya belajar memberlakukan sistem "keluar dan masuk", misalnya jika saya membeli dua baju sekaligus, praktis suka ataupun tidak, saya pun harus mengeluarkan dua baju lama dari lemari (uhh, jujur, saya masih dalam proses berusaha belajar terusss hingga hari ini! red.).

Begitulah. Saya pun belajar  untuk menolak (dengan tegas) permintaan bantuan pekerjaan yang banyak menyita waktu. Berhenti menjadi budak harian dengan memangkas jadwal kerja semula memang tidaklah mudah. Tapi, toh, semua ini memang tidak harus instan, termasuk menyederhanakan pola makan, dan berupaya...stop mengubah orang lain sebagaimana yang saya harapkan. Hadeww!

Ya, ya, tepatnya mungkin persis sama seperti makna sederet kalimat yang saya baca di buku Elaine St James, "Biarkan perahu kehidupanmu menjadi ringan, ambillah hanya yang kauperlukan ; rumah yang nyaman dan hiburan sederhana, satu atau dua orang teman dekat, seorang yang kau cintai dan mencintaimu, satu atau dua ekor kucing dan anjing, pangan dan sandang secukupnya, dan air minum lebih dari cukup, sebab dahaga itu berbahaya...." (Komunika 06/XIII, November - Desember 2013).  

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar