(Oleh Effi S Hidayat)
Sepanjang karir jurnalistik saya, bepergian ke luar negeri, ke luar kota, atau ke luar daerah bukan sekadar perjalanan dinas semata. Melainkan suatu perjalanan yang selalu memerkaya batin saya, sehingga selalu saya lakoni dengan sepenuh hati. Ada antusiasme kecintaan yang tak bisa saya ucap dengan kata-kata, sehingga boleh dibilang hampir tidak pernah saya menampik bepergian ke mana saja. Kecuali sekali waktu, saya terpaksa dengan rela menolak untuk berangkat ke Belanda dan Belgia karena harus selamatan tujuh hari meninggalnya ayah tercinta.
Saya lebih memilih menemani ibu di rumah. Itulah pertama dan kali terakhir saya harus tega menolak tugas traveling yang begitu saya cintai. Pendek kata, saya sangat happy mengemban tugas perjalanan, walau kerap sepulang dari tempat yang saya kunjungi, saya harus pontang-panting menguber deadline (biasa tho, wong namanya juga 'kuli tinta'!)
Apa yang paling menarik berkunjung ke suatu tempat baru yang memiliki sejuta pesona wisata dan mencicipi beraneka-ragam makanan khas-nya? Ya, bukan cuma kuliner atau obyek baru yang saya singgahi, yang saya katakan 'memerkaya' batin saya. Tapi, penghuninya juga, alias sesama makhluk ciptaan-Nya walau berbeda budaya dan bangsa.
Saya punya kesan mendalam tentang hal yang satu ini; keramahan seorang teman yang kerap saya temui dalam perjalanan di suatu negeri antah-berantah. Padahal bukan saudara, bukan siap-siapa, karena mereka adalah orang asing yang saya kenal --bisa di dalam bus atau trem yang sedang melaju.
Bisa di jalan atau di pasar-pasar tradisional yang becek. Bahkan, lebih sering lagi ketika saya sedang dalam proses 'nyasar' (ha-ha!). Misalnya, suatu malam saya salah naik bus yang membawa saya pulang ke homestay saya di London, namun seorang lelaki berkulit hitam yang tampangnya menyeramkan, eh, malah berbaik-hati menunjukkan nomor bus yang seharusnya saya tumpangi. Bahkan, ia pula yang mengantar saya hingga selamat di tempat!
Penduduk yang saya kenal spontan-- selalu begitu, entah mengapa mereka tulus menyambut saya. Paling berkesan saat saya terdampar di suatu daerah transmigran di pedalaman luar Jawa. Mereka mengajak saya makan siang walau hanya dengan menu seadanya, tak segan menyilakan saya mandi, bahkan...menginap. Pendek kata saya dijamu sedemikian rupa dan diperlakukan sebagai keluarga. Ketulusan hati mereka sungguh tidak dibuat-buat.
Hanya satu hari satu malam saja, tetapi saya merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Dan, ketika saya harus berpamitan, mereka memeluk saya dengan hangat. Tak lupa saya dibekali oleh-oleh kue, penganan khas tradisional daerah. Bukan cuma se-plastik kecil, tapi dua...toples besar sekaligus. Alamak, saya terharu!
Ajaibnya, baru-baru ini saya berkunjung ke rumah seorang saudara. Sungguh, kali ini beneran berstatus "saudara". Bukan orang asing atau penduduk desa yang saya kenal spontan di suatu tempat. Rumahnya di kompleks perumahan elit. Sudah tradisi bagi yang punya anak kecil kudu ekstra hati-hati. Sebelum menginjakkan kaki di pelataran beranda rumah, anak-anak kecil itu diberi berbagai wejangan. "Ingat ini, hati-hati ya, Nak. Banyak barang antik di sana, ndak boleh disentuh atau dipegang sembarangan. Awas lho, kalau pecah!"
Atau wanti-wanti begini ini. "Tidak boleh lari-lari, tidak boleh bikin kotor rumah. Ambil makanan pun kalau ndak ditawari tidak boleh makan sembarangan, ya. Pokoknya tidak boleh bikin malu orangtua. Bla,bla,bla.... Ya, maklum saja penghuni rumah elit itu apik tenan. Dan, super ceplas-ceplos menegur orang, tak peduli siapa pun dia. Sehingga sebagai tamu pun,'bawaannya' saya pun kepingiiiiiin pulaaaang saja. Sah-sah saja biar makanan yang terhidang banyak dan lezat, boro-boro menikmatinya dengan nyaman. Basa-basi yang tak perlu, mana ada sih, yang menentramkan hati?
Mungkin kebetulan saja ya, kalau saya punya saudara (untungnya 'saudara jauh') tipikal yang satu ini. Tetapi, saya yakin di sekeliling kita sebetulnya cukup banyak pula tersebar manusia-manusia berkarakter sama. Memerlakukan orang seenaknya tanpa melibatkan hati. Ehmm, saya pernah lho, menerima parcel makanan dan minuman sudah kadaluarsa. Puluhan tusuk sate bakar yang kelihatannya 'nyam-nyam', tapi setelah dicicipi, anjing dan kucing saya pun (maaf) menolak makan. Belum lagi kado-kado yang minimal jauh dari personality Anda?
Ah, sebenarnya kita memang harus selalu berterima-kasih jika menerima sesuatu. Apa pun bentuknya, itu adalah tanda kasih dan perhatian seseorang kepada kita. Itu ucapan yang saya ingat, antara lain dari almarhumah ibu saya. Tetapi justru itulah, jika "sesuatu" yang diberikan kepada seseorang adalah bentuk dari perhatian, nah, mengapa kita tidak memberikannya dengan tulus? Memberikan segala sesuatu dari hati, apa pun bentuknya, pasti akan menimbulkan energi positif bagi Si penerimanya, bukan?
Seorang bibi saya yang memiliki kriteria ini luar biasa menyenangkan untuk dikunjungi. Anak-anak bahkan suami saya kerap kangen untuk datang ke rumahnya. Biarpun mungil dan rada terpencil, selalu terbuka bagi siapa pun yang datang. Semua orang diajak makan dan dijamu bak keluarga sendiri. Pulang dari rumahnya tak pernah dengan tangan hampa, malah oleh-oleh yang kita berikan kalah banyak dengan 'buah tangan' yang harus kita bawa kembali pulang ke rumah!
Terkadang cuma a la kadarnya, tapi 'sesuatu' sudah diberikan oleh bibi saya: ketulusan hati. Senyum cerianya yang tak pernah ketinggalan kala menyambut tamu, dan segenap perhatiannya di kala senang maupun duka adalah kado luar biasa bagi keluarga yang memilikinya. Serasa berada di rumah sendiri, sehingga mau nambah makan beberapa kali pun, kita tidak akan merasa malu. Jalan menyeruduk ke sana ke mari di seputar rumahnya, tidak ada yang melarang. Anak-anak bebas berlarian dan ceria bermain. Dan, saya pun bebas mencurahkan isi hati kepadanya.
Sesuai dengan tema Paskah 2011 "Mari Berbagi", gaungnya belum berlalu, bukan? Berbagi tidak hanya kepada yang membutuhkan saja, melainkan berbagi kepada sesama yang sebenarnya dibarengi dari hati kita yang terdalam. Jika ingin berbagi, ingin memberi, mengapa tidak yang terbaik yang kita punya? Kalau makanan dan minuman sudah tidak enak, pakaian sudah tidak laik pakai, kok, baru diberikan ke orang lain, sih?
Memilih kado pun, saya pikir harus ekstra hati-hati. Apa yang kita anggap berguna dan bermanfaat, apa yang kita sukai, belum tentu punya nilai yang sama bagi penerimanya. Apa pun itu, kualitas dan kebahagiaan mereka sangat perlu kita pertimbangkan. Ya, resepnya sebetulnya tidak susah: lagi-lagi...ketulusan. Hati kita yang tulus saat berbagi dan saat memberi itu-lah yang paling penting.
Saya selalu teringat kepada penduduk desa, bahkan orang-orang di negeri asing yang tak saya kenal baik sebelumnya. Entah mengapa, kepedulian dan ketulusan mereka amat 'menyentuh' saya. Mereka menjamu dengan sepenuh hati, itulah yang terpenting. Nah, mengapa kita tidak melakoninya? (Komunika 03/XI, Mei-Juni 2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar