(Oleh Effi S Hidayat)
Sabtu pagi, kaki saya melenggang gagah memasuki gerbang Santa Ursula, Bumi Serpong Damai. Langkah saya bersemangat seperti biasa, bergegas menuju kelas menulis di mana saya mengajar. Tap, tap, tap. Setapak, dua tapak, tiga..., eh, langkah saya tiba-tiba terhenti.
Ada sesuatu yang tak biasa di bawah kaki saya, sehingga saya memutuskan untuk menundukkan leher, mengarahkan mata pada kaki saya yang berbalut sepatu. Benar saja! Sepatu saya, tepatnya yang sebelah kanan terlihat sedikit 'ajaib'!
Apa pasal? Saya memaksakan diri untuk melangkahkan kaki kembali. Eit, semakin melambai-lambai-lah sol sepatu bermerk 'T' itu. Hhh, siapa bilang sepatu kulit yang katanya kuat berkualitas dan tahan lama, tak punya ulah? Mau tak mau saya mengumpat dalam hati. Posisinya membuat hati saya ketar-ketir, cemas!
Waduh, bagaimana caranya ,ya, saya bisa 'selamat' sampai di kelas? Saya menghela napas panjang, memandang dengan nanar anak-anak tangga yang berjajar rapi di depan kacamata saya. Minus saya rasanya mendadak bertambah!
Sementara saya termangu tak tahu harus berbuat apa (rasanya persis PC yang mendadak hang), nah, tepat pada saat itulah sesosok makhluk hijau melintas. Refleks, saya memanggilnya. "Pak..., Pak, tolong!" Mungkin, suara saya rada-rada histeris saat itu.
Thanks God, 'malaikat' berkaus hijau itu menoleh. Walau tatap matanya heran, tapi ia menghampiri saya, dan langsung menguakkan senyum begitu melihat sepatu yang saya angkat begitu saja di depan wajahnya. Halah. Spontanitas saya memang kerap langsung nampil, malu-maluin tak diundang, saat sedang panik.
"Tenang, Bu, tenang. Ada lem sepatu yang kuat di gudang!" katanya yakin, dan tanpa ragu saya mengikutinya sembari nyeker, menenteng sepatu. Kebetulan letaknya di samping kamar mandi, tak jauh dari lokasi TKP. Napas lega yang hampir saya embuskan terpaksa harus saya tahan, ketika tiba-tiba ia menoleh, memberitahu bahwa lem-nya ... tak ada. Waduh!
Mungkin, melihat reaksi saya yang sudah kembali rungsing, ia pun menenangkan," Tapi, di kantin lantai bawah, ada, kok. Saya yakin!"
Haa, lantai bawah? Saya sudah bersusah payah menghindari murid yang melihat saya berjalan nyeker menenteng sepatu, saat menaiki undakan demi undakan tadi. Apakah saya kembali harus mengulang dengan menuruninya?
Sesaat bingung, tapi lagi-lagi saya lega saat sang malaikat berkaus hijau (ya, tepat betul dia saya sebut malaikat penolong) berkata lagi, "Ibu tunggu saja di perpustakaan, biar sepatunya saya saja yang bawa ke bawah. Di-lem sebentar, tidak lama, kok." Ia menentramkan ketika melihat saya mencuri-curi pandang dengan gelisah, menengok jam tangan.
Masih beruntung saya datang lebih awal pagi ini, karena masih tersisa waktu sekitar 15 menit lagi sebelum bel tanda masuk ke kelas berbunyi. Saya pun bergegas ke perpustakaan, memang tempat itulah yang paling tepat untuk menunggu.
Rasanya menunggu selama 15 menit itu lamaaa sekali. Sehingga pikiran buruk saya muncul. Bagaimana jika Si malaikat hijau itu tidak menemukan lem yang dicari? Bagaimana jika ia tidak datang membawa sepatu saya sesuai dengan waktu yang dijanjikan? Apalagi saya tidak menanyakan siapa namanya tadi?
Yeay. Rupanya Tuhan mendengarkan doa saya. Malaikat yang Dia kirimkan benar-benar sigap menjalankan tugasnya. Lima menit lagi, sebelum bel masuk berbunyi nyaring, ia datang menemui saya di perpustakaan. Lengkap dengan sepatu kanan saya yang sudah tidak melambai-lambai lagi. Ampuh sekali jenis lem yang digunakan untuk melekatkan kembali sepatu saya yang 'bandel' (sayang, saya tidak sempat menanyakan merk lem itu).
Sungguh, saya berterima kasih kepada Pak Asep. Akhirnya saya tahu nama bapak --satu dari sekian banyak asisten rumah tangga sekolah yang telah berbaik hati menyelamatkan saya pagi itu. Pak Asep yang ramah senyum bahkan menolak tip yang saya selipkan di tangannya sebagai tanda terima kasih saya yang tak terhingga.
Hingga saya masuk ke kelas dan mengajar sebagaimana biasa, terselamatkan dari 'idih, malu, deh!' yang siap menimpa. Bayangkan saja jika Si malaikat tidak muncul di saat yang tepat. Siang hingga sore hari itu, saya masih saja tidak habis pikir merenung-renungkan kejadian itu.
Salahkah saya, jika lalu terbetot membandingkannya dengan office boy (OB) yang beritanya sedang heboh wara-wiri di media cetak dan elektronik? Ya, para OB berseragam dari TK JIS sebagai pelaku tersangka korban sodomi, yang jelas-jelas masih anak TK juga.
Tidak pernah terlintas sama sekali kejadian brutal semacam itu bisa terjadi di sebuah sekolah berskala internasional yang terbilang punya reputasi memikat, secara gengsi dan prestige, muahaall pulak? Berita dari minggu ke minggu yang bahkan berkembang menjadi hitungan bulan, semakin memprihatinkan nilai beritanya.
Terutama bagi para orangtua yang memiliki anak-anak seusia korban sodomi. Terjadilah 'pembantaian massal', sumpah serapah berhamburan saling sambut mirip bola ping pong bergulir sana-sini menggelinding demikian gesit, disambar oleh yang merasa berkepentingan maupun sebaliknya, tidak memiliki kepentingan sama sekali. Namun hampir dipastikan dengan kejam-nya lalu men-judge alias menghakimi menggunakan lontaran pemahaman bahasanya masing-masing.
Saya tergugah menyaksikan semua itu. Sebagai seorang ibu dari dua putera menjelang remaja, tentu saja sungguh merasa terpukul, sedih, sekaligus gemas. Sebagai jurnalis, terlebih saya kepingin menghujat, merasa punya beban moral jika tidak menyuarakan apa yang terlintas di pikiran, menuntut keadilan.
Namun, sebagai seorang manusia, kok, ya, ndilala saya merasa mendadak menjadi "saru" tidak adil ketika mendapati betapa simpang siurnya pemberitaan yang terus menerus memborbardir, mengobok-obok semua detail pedofil. Mulai dari pelosok bumi sangkuriang, di mana diketemukannya Si Emon, 'pemuda sakit', ditambah lagi Sang Ustad dengan jumlah korban yang fantastis, dan seterusnya, dan seterusnya....
Hingga akhirnya, terungkap-lah Sang Mister yang berpredikat sebagai guru JIS --yang secara profesional bekerja sekian belas tahun, namun diakui sebagai buronan FBI di Amerika Serikat. Duh! Hakim-hakim publik pun semakin ramai bersemangat memberi sanksi.
Ada yang berkomentar,"Lebih baik dikebiri atau cekik leher, hukum gantung, atau tembak mati saja-lah!" Whatever! Dan, Sang OB-pun tak luput sebagai sumber kecurigaan yang berkembang menjadi hysteria paranoid ; menyamaratakan semua orang yang berprofesi OB sebagai bukan "orang baik-baik". Wahai, adilkah buat mereka?
Itulah yang kemudian menjadi titik balik pemikiran saya hingga menuliskan catatan hati "Sepatu dan Sodomi" ini. Tentu saja, harus saya pertanyakan ; adilkah kita menjadi judges terhadap sesama kita? Tidak hanya dalam perkara sodomi ini saja, tetapi juga dalam banyak perkara yang lainnya, termasuk Pilpres yang sedang ramai berlangsung.
Tim sukses kampanye pendukung jagoan dari masing-masing kubu saling tuding, melecehkan lawan dengan sejuta kalimat yang sama sekali tak patut didengar. Ya, bayangkan saja jika semua itu lalu diserap oleh putera dan puteri kita dan kerap menjadikan orangtua atau orang dewasa, dan tentu saja : pimpinannya, sebagai teladan?
Ketika seorang guru memberikan nilai bagi murid-muridnya, tentu hal ini merupakan kewajaran. Namun ketika nilai itu sudah berubah menjadi penghakiman, misalnya seorang anak yang mendapat nilai di bawah rata-rata dianggap adalah anak bodoh (semata-mata hanya karena nilai!), sungguh tidak adil saya pikir ketika kita sebagai sesama mentahbiskan diri dengan bangga menjadi hakim bagi sesamanya.
Kecuali, dia memang berprofesi sebagai hakim di dunia profesionalisme kerja, walau tetap saja menurut saya sih, menjadi seorang hakim pun kudu harus mampu memilih bersikap seadil-adilnya sebelum mengetokkan palu, menjatuhkan vonis.
Bukankah tak ada hakim yang lebih pantas selain Dia Yang Maha Kuasa? Ya, hanya Tuhan yang mahaadil. Hanya Dia yang setia memiliki kasih sejati, lagi maha penyayang. Manusia mungkin hanya boleh saling menilai, tetapi menghakimi?
Oh, no! Lihat saja contoh kecil di hari Sabtu pagi saya yang ceria, lalu mendadak membuat hati saya kempot dan galau, hanya karena sol sepatu yang hampir copot! Kalau saja, tidak ada seseorang yang berprofesi sebagai OB itu muncul dan berbaik hati menolong saya?
Bukankah Si OB itu yang mendadak dicurigai bahkan lalu dilecehkan sana-sini, hanya karena satu saja kasus sodomi yang menghebohkan? Selaras banget dengan pepatah yang mengatakan,"Hanya karena nila setitik, maka rusak susu sebelanga?"
Ah, itu,'kan tidak sepenuhnya benar! Yang mana loyang, yang mana emas pun akan teruji dan terdeteksi dengan mudah, kok! (Komunika 03/XIV, Mei - Juni 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar