Halaman

Rabu, 08 Maret 2017

Please,Say : No!

 (Oleh Effi S Hidayat)

Hitung-hitung sudah hampir tiga belas tahun saya tidak bertemu Dee, sahabat saya di kampus dulu. Tepatnya saya kehilangan kontak setelah terakhir ia menghadiri prosesi pemberkatan pernikahan saya di gereja. Lamaaa...sekali tidak mendengar kabarnya, karena itu saya terlonjak gembira ketika menemukan namanya di facebook. Sehingga melalui jaringan sosial fb, tali silaturahmi kami yang sempat terputus puluhan tahun pun tersambung kembali.
  
Ngobrol di fb rasanya kurang puas karena lahan yang terbatas. Lebih afdal menjalin janji bertemu sehingga saya dan Dee bisa ngalor-ngidul seperti dulu (huu, dasar ibu-ibu!). Ah, seperti apa kini rupanya? Apakah kacamatanya masih setebal dulu dan garis senyum di wajahnya yang mengingatkan saya pada artis terkenal Mery Streep tak berubah? Dee, dalam ingatan saya adalah mahasiswa yang pintar dan ia punya ciri khas khusus dalam beradu argumen. Lugas, tegas, namun lembut. Hmm, tutur-katanya memang sangat lembut. Mungkin karena ia berdarah Sunda.

Ah, yang jelas kini ia sudah punya seorang putera yang kalau saya lihat fotonya di fb sangat tampan. Wajar saja karena All (begitu panggilannya) berdarah campuran Indonesia-Amerika. Ya, Dee ternyata menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika. Dan, ia sempat menghilang lama karena memang sempat menetap di California, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali lagi pulang ke Indonesia. Itu hanya sebagian dari kisah hidupnya yang sempat terekam sebelum akhirnya kami berjanji bertemu suatu siang.

Hari Sabtu kebetulan Dee libur dari kantornya. Dan, saya juga tidak ada kegiatan mengajar. Maka kami janji bertemu di American Grill Rest, Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan. Saya sengaja mengikuti jadwal yang diberikan Dee. Tak apa, karena sebelumnya menurut rencana, Sabtu pagi itu saya siap menyantroni rumahnya di Bogor.

Kangen nih, Dee, saya bela-belain deh ke Bogor. Begitu isi SMS saya. Namun ternyata ia sudah keburu meluncur bersama All ke PIM. All kepingin lunch di sana, kita ketemuan saja di Sizzler, tawar Dee, yang saya sambut gembira. Tak perlu jauh-jauh ke Bogor karena kebetulan lokasi rumah saya lumayan dekat dengan mal yang dimaksud.

Maka jadi juga akhir Agustus itu saya bertemu dengan sahabat saya di kampus dulu. Duh, yang namanya reuni memang sangat membahagiakan. Apa pun ceritanya. Tak peduli kerut kemerut di wajah sudah bertambah beberapa sentimeter dan umban menyembul di sana-sini. Yang jelas, tak banyak terjadi perubahan secara fisik pada Dee. Ia masih tipikal perempuan yang tegar, sepanjang ingatan saya.

Tutur-katanya pun masih sangat lembut. Apalagi terhadap putera semata wayangnya, All. Anak kelas enam SD itu bertubuh tinggi besar melebihi usianya. Maklum saja ya, dilihat dari silsilah keturunannya yang memungkinkan akan hal itu. Namun, postur tubuhnya yang tambun tentu juga tak terlepas dari porsi makannya. Jujur saja, saya takjub melihat selera makannya.

Siang itu, aneka ragam makanan disantapnya. Ketika saya dan putera bungsu saya, Zach datang, All sudah selesai menyantap sepiring salad dan steik. Ada lagi semangkuk sup ham makanan pembuka. Ketika Zach hanya memesan seporsi kids meal berupa potongan kentang goreng dan fish, All sudah minta tambah segelas jus stroberi, kentang panggang ditambah pasta. Lalu, hidangan penutup? Es krim dan puding jelly cokelat masih muat juga di perutnya! 

 Merasa tergelitik dengan selera makannya yang besar, saya mencoba mengangkat topik 'gaya makan' sebagai bahan perbincangan dengan Dee. "Aku sadar, All agak berlebih bobot tubuhnya. Selera makannya tak bisa ditolerir, tapi bagaimana lagi, ya? Aku pikir anak seusianya yang sedang dalam masa pertumbuhan memang perlu makan banyaaak. Jadi, kerapkali aku tak sampai hati menolak apa pun permintaannya," papar Dee sembari tertawa.

Hmm, begitu, ya? Tak sampai hati menolak apa pun permintaan anak, agaknya itu pernyataan yang jujur. Karena usai makan siang, All langsung menagih janji kepada maminya untuk segera meluncur ke Toys City. Dan, dalam sekejap di tangannya sudah ada tiga macam mainan yang harganya 'lumayan'. "Beliin aku ya, Mi?" Tak perlu menunggu lama, saya melihat Dee menganggukkan kepala. Dan, segera menuju ke kasir menyelesaikan pembayaran.

 "Anakmu tidak beli mainan?" Dee bertanya heran karena ia hanya melihat Zach wira-wiri tanpa tertarik meminta sesuatu kepadaku.  Saya tersenyum. "Kelihatannya ia lebih tertarik melengkapi koleksi buku bacaannya. Sedari tadi sudah tak sabar mengajak ke Toko Buku Gramedia (GM)."

 "Oh, hayuk ke GM, tapi mampir sebentar di toko sepatu, ya? All kepingin dibelikan sepatu olahraga," Dee menggamit tangan All yang sudah penuh dengan tas plastik berisi mainan. Sebelum keluar dari Toys City saya  sempat mengajuk Zach dengan pertanyaan," Sungguh tidak kepingin beli mainan seperti All? Ayo, pilih saja satu...," belum habis ucapanku, anakku menggeleng.  "Nanti kalau aku pilih mainan, berarti aku tidak boleh membeli buku,'kan?"

 Ah,ya! Saya memang selalu memberi pilihan kepada anak-anak. Jika menginginkan sesuatu, pilihlah saja yang benar-benar kamu inginkan. Sebaiknya tidak berlebihan....Bukan hanya barang seperti mainan, dalam prihal makanan pun begitu. "Masih begitu banyak orang-orang yang kelaparan dan berkekurangan di sekeliling kita, Nak. Sayang sekali bukan jika makan berlebihan, apalagi kalau sudah kenyang lalu mubazir dibuang? Beli saja segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan kita yang secukupnya...."

Diingatkan akan hal itu oleh Zach, saya nyengir, dan tentu saja dengan cepat menganggukkan kepala. Ya, membeli buku tentu jauh lebih baik. Saya tak pernah berkeberatan jika anak-anak membeli buku. Walau demikian, prinsipnya tentu tetap sama : membeli secukupnya. "Aku boleh membeli tiga buah buku,'kan, Ma?" Zach bertanya sebelum memilih buku yang diinginkannya. Biasanya  sih, 'porsi'-nya hanya dua buku. Tetapi karena hari ini dia manis sekali, malah sudah mengingatkan mamanya tentang prinsip hukum "memilih sesuai dengan kebutuhan", aku pun mengiyakan.

"Ya, tentu saja boleh, tapi jangan lupa konsekuensinya. Zach 'berhutang' tiga nilai pelajaran yang bagus pada Mama!" kataku tertawa. Melirik pada Dee, temanku yang tampak mengernyitkan keningnya. "Ah, sebagai orangtua, kau terlalu hitung-hitungan pada anak!" gerutunya. Oh, tentu saja jika dibandingkan dengan dirinya, Dee tampak tak pernah berhitung. Ketika mampir ke toko sepatu, ia membiarkan All memilih sesuka hatinya. Dan, alhasil... terbelilah sepatu olahraga seharga hampir...sejuta rupiah, tanpa banyak waktu untuk memilih.

Sementara itu Zach tampak tak peduli dengan sepatu olahraga yang dibeli All karena ia sedang asyik menikmati bukunya. All sendiri di TB Gramedia memborong buku Harry Potter edisi terakhir, dan beberapa buku lain, walaupun tampaknya ia tak terlalu tertarik membaca buku. Tiga belas tahun tak bertemu dengan Dee, rupanya ada pula terjadi transformasi dalam hidupnya. Kelugasan seorang Dee yang kulihat di kampus dulu "lumer meleleh" di saat beradu argumen dengan putera tunggalnya.

Ketika aku mengatakan bahwa sebagai orangtua kerapkali aku mengatakan "tidak" menanggapi permintaan kedua bocahku, Dee tampak tak setuju.  "Aku tidak tega melakukan hal itu, tokh selama ini aku bekerja keras untuk siapa kalau bukan untuk memenuhi kebutuhan All? Apalagi aku selalu pergi pagi dan pulang malam dari bekerja. Sehari-hari All kesepian hanya ditemani pembantu. Wajar sajalah kalau aku menemaninya lunch sesuai kegemarannya, atau membelikan mainan dan segala keperluan yang diinginkannya. Selama aku masih mampu, apa salahnya?"

Aha, memberikan segala sesuatu dengan begitu mudah tanpa pertimbangan? Benarkah itu semua sebagai pertanda dari kasih-sayang? Namun kalimat-kalimat itu hanya menggantung di benakku saja, tak kuungkapkan. Sudah lama sekali tak bertemu dengan sahabatku, tentulah terjadi banyak perubahan di antara kami, termasuk style kami sebagai orangtua kini. Aku hanya sedikit terkejut dengan sosok keibuannya yang teramat begitu mencintai anaknya. Sehingga tampaknya ia tidak pernah tega mengatakan : "tidak". Hanya dalam interval waktu dua jam-an  saja, Dee sudah menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk membuat All senang!

Ah, Dee, betapapun aku bahagia bisa berjumpa kembali denganmu. Namun pertemuan di Sabtu siang itu sungguh membuatku merenungkan kembali predikat "orangtua" yang kusandang selama ini. Apakah benar seperti kata Dee, aku terlalu "hitung-hitungan" terhadap anak-anakku sendiri?  Entah mengapa aku mulai goyah, menjadi sedikit tak percaya diri, sehingga akhirnya mengajuk tanya kepada bungsuku," Zach tidak iri melihat All belanja macam-macam? Tidak kepingin punya mama seperti mami All yang baik hati itu?"

"Lho, buat apa iri, Ma? All, ya...All. Zach, ya...Zach. Bukankah Mama pernah mengatakan bahwa kita  harus selalu mensyukuri apa pun yang kita punya?" Jawaban puteraku singkat saja, namun mengena telak di hatiku. Aku terharu, hanya sanggup membelai helai-helai rambut di kepalanya. Dan, kelakuan spontanitas keibuanku itu rupanya membuat risih anakku yang mulai beranjak gede. "Iiih, Mama...apa-apaan, sih?" Zach lari sembari menyisakan tawanya yang berderai-derai.    

Oh, I love you, Zachary! Mama sanggat bangga kepadamu. Ya, ya, jika selama ini Mama kerap mengatakan "tidak", itu bukan berarti Mama tidak mencintaimu. Tetapi justru sebaliknya, karena Mama sangat menyayangimu.  Hidup ini adalah sebuah pilihan. Kita harus selalu berani memilih segala sesuatu sesuai dengan hati nurani dan tentu saja kebutuhan kita. Secukupnya saja-lah.... Makan yang cukup, tidur yang cukup, bermain yang cukup. Asalkan semuanya dinikmati selalu dengan perasaan bersyukur, yakinlah hidupmu akan berkecukupan. (Komunika 05/XI, September-Oktober 2011).


        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar