Halaman

Selasa, 07 Maret 2017

Bukan Sekadar Anjing

 Catatan Hati

Begitu banyak yang saya lihat di 'luar jendela' sana, dan begitu banyak jua referensi hidup yang saya alami sendiri sehari-hari. Semuanya saya tuangkan lewat 'catatan hati' ini, semoga saja bisa menjadi 'cermin' -- tidak saja bagi yang membaca, terutama bagi diri saya sendiri sebagai penulisnya. 

 (Oleh Effi S Hidayat)
                                              
Sepotong pagi yang indah itu 'pecah', 22 Februari 2011, tak akan terlupa oleh keluarga kami. Khususnya bagi anak bungsu-ku, Zachary. Masih sempat aku mendengar teriakannya yang keras,"Mama, Bruno ketabrak mobil!" Tergesa, aku memburu ke luar pintu pagar. Sesaat aku mengira Zach hanya bercanda dan semestinya memang itulah yang kuharapkan.

Tapi, ternyata tidak! Masih dengan seragam, karena pukul 06.35 pagi itu ia siap berangkat ke sekolah, aku melihat Zach tersedu berlinang airmata. Dan, di pinggir jalan dekat trotoar yang jaraknya sangat dekat dengan rumah kami, terbaringlah... Bruno.

Tubuh mungilnya yang tambun, berselimut warna cokelat muda itu sama sekali tak bergerak. Di sisi kiri kepalanya berhamburan darah merah. "Mama, gigi susu Bruno yang baru tumbuh itu pecah terlindas mobil...," kudengar isak pelan Zach, lebih mirip rintihan memilukan. Jelas-jelas ia menyaksikan peristiwa tabrak lari itu di depan hidungnya!

Bagaimana rasanya menyaksikan hewan kesayangan kita tertabrak mati oleh mobil? Ah, aku tak bisa membayangkan seperti apa perasaan anakku. Yang pasti, mendengarnya menangis tanpa suara seperti ini, aku tahu pasti 'kesakitan' seperti apa yang mendera dadanya. Aku memahami betul karakter Si bungsuku, ia sangat peka, mudah berempati pada dunia di sekitarnya. Jadi, kejadian pagi ini, kehilangan Bruno -- apalagi disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, bukanlah suatu hal yang mudah baginya.

Orang boleh saja bilang, Bruno cuman anjing. Hanya seekor binatang saja, buat apa buang-buang energi ditangisi? Namun tokh, walau kehadirannya terbilang singkat, tepatnya sejak awal Februari hingga hari ini (hitung-hitung baru 22 hari) Bruno bersama kami, ia sudah merupakan bagian dari keluarga. Kedua puteraku; Zoe dan Zachary sangat mencintainya. Bulu cokelatnya yang lembut 'berkaus kaki' putih, gonggongan garingnya, body-nya yang bahenol 'gebal-gebol'...duh! 

Perlahan, aku mengangkat jasad chow-chow yang baru berusia 4 bulan itu, memindahkannya ke gundukan pasir di taman depan rumah. Bruno harus segera dimakamkan. Tapi, Zach dan kakaknya, Zoe (yang hanya 'ngumpet' sedih di dalam rumah, tak mau menyaksikan) harus segera berangkat ke sekolah. Mereka ada ulangan di sekolah pagi ini. Sementara itu mobil yang menabrak Bruno sudah meluncur pergi, sama sekali tak berhenti setelah kejadian.

Hanya seorang oma tua, keluarga dari si mobil tabrak lari yang ternyata tetangga kompleks kami, muncul bersama pembantunya, mencoba menghibur Zach dengan sejuta kata penghiburan. Hhhh, tak ada gunanya! Kalau boleh jujur, hatiku mengumpat kesal. Tokh, sang pelaku tabrak lari sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya?

Apa makna dari peristiwa itu? Siang hari bolong, aku sempat merenung setelah urusan pemakaman Bruno di taman seberang rumah kami usai. Ya, rupa-rupanya kehidupan ini penuh dengan segala ketidakmungkinan. Sangat sulit diterka! Batas antara suka dan duka ibarat kain tirai yang super tipis. Baru tadi pagi, sekitar pukul 04.00 dini hari, Bruno kecil membangunkan aku dengan jilatan lucunya di tanganku.

Tak seperti biasanya, rupanya semalam ia tidur di kamar kami. Dan, tidak seperti biasanya pula aku terbangun sesubuh itu hingga tiba-tiba memiliki gagasan untuk jalan-jalan pagi yang sudah cukup lama tak kulakukan. Bersama Zach, aku berlarian 'ngangon' Si Bruno, juga Pussy dan Snowy -- kucing dan maltise peliharaan kami yang lain.

Sungguh asyik dan menyenangkan berkeliling taman dan lapangan hingga mentari terbit di ufuk timur. Bahkan, tubuh mungil Bruno yang semakin gembul itu sempat kugendong laiknya anak bayi, sebelum ia menghabiskan susu dan sarapan paginya. Sehingga akhirnya tanpa kami ketahui, entah bagaimana ceritanya ia bisa 'molos' ke luar pagar. Dan, meluncurlah sebuah mobil yang dikemudikan kencang. Melenyapkan nyawa seekor anjing kecil ; Bruno, kesayangan kedua orang puteraku. Ya, hanya dalam hitungan waktu dua jam, segalanya berubah drastis! Alangkah fananya dunia ini....

Tak berbeda dengan ketidakmengertian bungsuku, Zach, yang bertanya kepadaku kemudian sepulangnya ia dari sekolah, "Mengapa setelah menabrak Bruno, mobil itu tidak segera berhenti, Ma? Bukankah Mama bilang, jikalau seseorang itu bersalah, sudah seharusnya ia segera meminta maaf?"

Tertegun sejenak, aku sebisa mungkin mencari jawaban."Bukankah tadi oma dan pembantu empunya mobil si tabrak lari itu sudah datang menghibur Zach?" Ya, bahkan sang oma sempat menjanjikan kepada Zach seekor anak anjing baru sebagai pengganti Bruno tanpa kami minta.

Terlebih lagi kemudian, setelah tetangga yang menabrak itu akhirnya muncul. Dia bertemu hanya denganku, tidak dengan pemilik Bruno yang sah, yaitu kedua anakku. Dan, tanpa diduga ia hanya mengatakan sebaris ucapan ringan,"Nanti diganti uang, deh." Boro-boro meminta maaf !

Terus-terang mendengar ucapan itu hatiku terasa miris. Maaf, sekali lagi; maaf, bagi kami sekeluarga, Bruno bukan hanya sekadar anjing. Ia bukan sekadar binatang peliharaan semata! Mungkin karena itu aku sangat berkeberatan jika ada manusia-manusia seperti kita semua ini yang kerapkali entah tanpa sadar ataupun sebaliknya dengan kesadaran penuh, memaki seenak udel,"Dasar anjing lu!" (maaf, red.). Bagi kami, Bruno -- walaupun dibilang "seekor" Bruno, dia adalah makluk ciptaan-Nya yang unik. Dia memiliki juga nyawa dan kehidupan, laiknya manusia.

Memang benar, sih, jika Bruno dikatakan hewan yang tak memiliki akal dan budi seperti kita manusia. Walaupun begitu, aku meyakini betul bahkan tahu pasti jika Bruno, Snowy, dan entah siapa pun lagi nama anjing peliharaan lainnya...mereka memiliki c-i-n-t-a, dan teramat sangat pantas untuk dicintai. Disayangi sepenuh hati.

Bukan hanya itu, aku malah berani mengatakan, mereka justru memiliki hal lain yang istimewa, yang bahkan terkadang tak dimiliki oleh umat manusia itu sendiri. Apa itu? Ketulusan! Ya, pengabdian mereka sepanjang usia sudah terbukti. Berbagai rekaman cerita sejarah berabad lalu menuliskan ; persahabatan di antara manusia dan hewan yang disebut anjing itu merupakan kisah unik mengharukan yang tak akan tergilas oleh waktu sekali pun.

Sebut saja, dia: Hachiko. Pengorbanan seekor anjing hingga akhir hayatnya, demikian setia menunggu tuannya di stasiun Shibuya, Jepang. Monumennya melegenda menjadi bukti cinta nyata abadi yang telah menggilas batas antarmakhluk, ya... yang disebut-sebut sebagai anjing dan manusia itu!

Ah, aku sungguh tak ingin berpanjang-panjang kata. Yang jelas airmata kami, terutama airmata anak-anakku, Zoe dan Zachary, yang beruraian membasahi pakaian seragam mereka di suatu pagi hari yang tragis itu sungguh tidak sebanding dengan berapa pun jumlah nilai nominal yang ditawarkan tetangga si empunya mobil tabrak lari itu.

Percayalah, cinta keluarga kami untuk Bruno jauh melampauinya. Ketimbang uang, sungguh tidak seimbang! Mungkin itu pula sebabnya kemudian aku memiliki gagasan untuk mengajak anak-anakku menguntai sebuah doa yang tidak biasa (Anda bisa ikut berdoa jika tak berkeberatan). "Marilah kita sama-sama berdoa agar para pengemudi di jalan (terlebih di jalan-jalan kompleks perumahan yang ramai berseliweran hewan peliharaan dan anak-anak bermain), agar lebih berhati-hati dan fokus saat berkendara. Apalagi 'ngebut' seenaknya seolah yang empunya jalan itu sendiri, sehingga memakan korban jiwa."

Keselamatan raga Anda di jalan bukan hanya bermanfaat bagi pejalan kaki atau hewan peliharaan yang tak sengaja melintas saja, tapi terutama juga bagi diri Anda pribadi, dan keluarga di rumah. Asyik mengobrol via ponsel, atau nonton 'tipi' yang entah mengapa disejajarkan dekat dengan kemudi, bukanlah pilihan keren saat menyetir. Percayalah, melakukan berbagai hal yang dengan bangga disebut-sebut sebagai "multi talenta" itu memiliki porsinya tersendiri.

Dan, kebetulan aku merupakan salah satu personal yang lebih mengandalkan satu kata : fokus, ketika mengerjakan sesuatu. Aku pikir pepatah usang yang satu ini masih tetap berlaku sampai sekarang, "Biar lambat asal selamat."Alon-alon asal kelakon.... Hmm, Anda ingat,'kan cerita sang kelinci yang larinya terkenal cepat, tapi akhirnya berhasil dikalahkan oleh Si lelet kura-kura? Apalagi jika berkendara pagi-pagi, bukankah lebih nyaman jika tidak 'ngebut'? Menghirup udara dan suasana di luar jendela kaca mobil di pagi hari tanpa tergesa-gesa menguber setoran itu luar biasa menyenangkan, lho!

Ternyata, kepergian Si kecil Bruno mampu membuatku berpikir tentang banyak hal. Tidak fokus nanti jika aku 'ngalor-ngidul' panjang lebar. Yang pasti, aku tersentuh oleh doa yang diucapkan Zach menjelang tidur. Katanya khusyuk,"Ya, Tuhan, maafkanlah orang yang menabrak Bruno, karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat...."

Aku lebih tersentuh lagi ketika pada hari keempat 'kepergian' Bruno, ia berdoa di depan makam Bruno yang berjuntai tanaman. Lalu seusai berdoa ia bilang dengan mimik serius, "Mama, Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus setelah empat hari kematiannya. Zach juga berharap, Bruno "bangkit" kembali ke surga pada hari ini...."

Keyakinan kanak-kanaknya begitu menggugahku. Aku berharap Zoe dan Zach tidak hanya bertumbuh secara spiritual sesuai dengan usia dan pengalaman batin mereka saja. Namun mereka juga tetap berpegang teguh memiliki keyakinan dan ketulusan hati. Seperti kepercayaan mereka untuk menunggu janji pengganti Bruno. Walau sudah sebulan, dua bulan, setahun...dan akhirnya tak kunjung datang. Sungguh tepat sekali doa yang pernah dipanjatkan bungsuku, Zach. "Maafkan dia, Tuhan, karena sungguh dia tidak tahu apa yang dia perbuat...." (Komunika 02/XI, Maret-April).          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar