Halaman

Kamis, 23 Maret 2017

Orang Kecil dan Orang Besar

(Oleh Effi S Hidayat)

" Suster Francesco memang bertubuh kecil mungil, tetapi ia 'orang besar'. Pengabdiannya di dunia pendidikan (penggagas yang kini dikenal sebagai Koordinator Kampus Santa Ursula BSD, red.) yang genap sudah berusia separuh abad tak bisa dianggap main-main," untaian kalimat ini mengundang senyum haru.

Sungguh, saya terkesan mendengar khotbah Romo Hendra, OSC di misa perayaan ulang tahun Sr Francesco Marianti, OSU yang ke 80 di Auditorium Santa Ursula, Bumi Serpong Damai (17/2). Hmm, lamaaa saya bolak-balik merenungkan dua kata ini ; 'Orang kecil' dan 'Orang besar'.  

Sejak kapan sih, istilah Si Orang kecil dan Si Orang besar itu mulai popular beredar di masyarakat? Entah bagaimana cerita asal muasalnya? Yang jelas kok, buntut-buntutnya saya terketuk untuk mengulik Si kecil dan Si Besar tersebut.

Kalau anak-anak,'kan biasanya tentu langsung membayangkan ini ; Si liliput atau peri-peri sebagai orang kecil dan Si raksasa sebagai orang besar. Benar begitu? Sedangkan menurut imajinasi orang dewasa, bisa jadi beragam-ragam versinya.

Hanya satu hal yang paling jelas ; mengajuk pada Si miskin, kaum papa yang lemah tak berdaya, masyarakat bawah dan rendahan sebagai orang kecil. Lalu, Si kaya? Siapa lagi jika bukan orang yang dianggap berlimpah harta, sukses, pintar dan berkuasa? Kaum priyayi itu sudah jelas pakem keturunannya berdasarkan bibit, bebet, bobot. Tak pelak lagi, mereka tergolong orang besar ! Duh, duh, benarkah begitu?

Runtut-runtut ditilik dari Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Ekonomi, dan bahkan Ilmu Agama pun tak terlepas diketemukan istilah ini. Jelas tertulis pembagian manusia, strata kelas dalam masyarakat agama Hindu : kasta.

Masyarakat dikotak-kotakkan sedemikian rupa dan hal itu sudah berlangsung ribuan tahun lalu. Sebut saja Kasta Brahmana (kaum pandita), Kasta Kesatria (anggota lembaga pemerintahan), Kasta Waisya (nelayan , petani), dan Kasta Sudra yang merupakan pelayan dari ketiga kasta tersebut. Bahkan, di luar kasta itu masih ada lagi Kaum Paria (golongan orang rendahan yang bertugas melayani Kasta Brahmana dan Kasta Kesatria), diikuti pula Kaum Candala (golongan orang dari perkawinan antarwarna/bangsa asing).  

Di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda, jelas bercokol para tuan tanah, kaum priyayi yang berdarah biru alias kaum bangsawan. Dan sebaliknya, kaum pribumi --rakyat jelata yang merupakan masyarakat tertindas, menderita tak berdaya karena dianggap miskin tak punya hak.

Hingga merambah global di masyarkat dunia pada umumnya, selalu saja muncul golongan mayoritas dan minoritas. Siapa lagi jika bukan mereka yang dianggap kaum papa, dan sebaliknya mereka yang berkuasa memiliki power atawa kekuatan. Oh, menyedihkan!


Konsep Si Orang kecil dan Si Orang besar itu tumbuh subur tak terkendali dan beranak pinak sedemikian rupa secara merata bahkan menyeluruh di hampir semua lapisan kehidupan bermasyarakat. Mengkotak-kotakkan manusia hanya berdasarkan materi, kepintaran, kekuasaan, jenis profesi dan pekerjaan, bahkan...gender. Halah, ulahnya siapa?

Si manusianya juga, bukan? Saya yakin, ketika Tuhan berfirman bahwa manusia berkuasa atas tumbuhan, hewan di lautan bahkan burung-burung yang terbang di udara, posisi manusia sedemikian tinggi dan luhur mulia. Bayangkan dong, kita disamaratakan sebagai gambaran-Nya ; serupa dengan Dia.

Bukankah hal itu merupakan suatu hadiah yang sangat precious, luar biasa. Boleh dibilang merupakan anugerah-Nya yang tiada terhingga? Seharusnya-lah kita semua bersyukur dan berterima kasih atas karunia-Nya.

Tetapi, mengapa sejalan urusan duniawi, perkembangan zaman dalam kurun waktu yang sedemikian lamanya, manusia yang  katanya berbudi luhung, berakhlak paling mulia itu pun terkena penyakit amnesia, dimensia, alzheimer, ah, entah apa lagi istilah kerennya, hanya untuk mengistilahkan satu kata sederhana, yaitu : lupa?

Sesama manusia mulai saling berselisih paham, tersinggung satu sama lain, menciptakan konflik yang sebenarnya tidak perlu. Semakin hot kemarahan menggelegak, emosi sedikit saja mampu melayangkan tangan berbaku hantam, adu jotos, tak lagi sekadar adu mulut kepingin menang sendiri?

Kekerasan di sana-sini mulai terjadi, sehingga darah pun tumpah merah ruah membasahi bumi. Pembunuhan secara fisik terjadi, dan lebih menggenaskan lagi 'pembunuhan karakter' terjadi sejak lahir.  Sedari usia dini, anak-anak tak berdosa telah mengalaminya bahkan di dalam keluarga inti mereka sendiri.

Orangtua yang hampir setiap hari cekcok, lalu pendidikan di sekolah yang kerap tak selaras dan sejalan, saking berat beban moralnya mengejar nilai tanpa hirau kemampuan pertumbuhan mentalitas dan talenta Si anak secara individu ? Mencekoki label "pemalas", "ceroboh", "bodoh", "lelet", dan sebagainya, adalah pembunuhan karakter yang tidak kasatmata. Sungguh mengerikan!

Benarkah semua terjadi begitu saja, tanpa disadari sepenuhnya oleh Si manusia itu sendiri? Boleh jadi dia bilang "Saya khilaf", boleh saja dia berkilah dan bersilat lidah mengatakan "sudah takdir", atau "dari sononya" telah tertulis bahwa seseorang sejak ia lahir ke dunia kelak akan menjadi Si Orang kecil atau sebaliknya Si Orang besar.

Ah, sungguh miris hati saya mengulang-ulik kedua kata itu. Karena bukankah semua manusia pada hakekatnya memiliki derajat yang sama? Tidak pernah ada istilah 'Orang kecil' dan 'Orang besar' di dalam kamus saya pribadi.

Kalaupun benar seseorang disebut-sebut sebagai  orang kecil, sah-sah sajalah jika memang secara fisiknya dia kecil dan imut. Demikian pula mereka yang memang bertubuh besar, patut saja dibilang orang besar. Secara harfiah, saya setuju.

Tetapi, jika bicara berdasarkan 'kelas', strata sosial masyarakat yang diberikan oleh manusia itu sendiri sehingga secara tega hati mengkotak-kotakkan manusia sedemikian buruk rupa, saya sih, benar-benar tidak setuju. Bukankah di altar-Nya, kita semua manusia adalah sama rendahnya?

Sepatutnya, kita bersujud syukur atas semua karunia yang diberikan. Nah, jangan pernah mau disebut-sebut sebagai 'Orang kecil', ya? Kecuali Anda memang bertubuh mungil. Lalu, bagaimana dengan istilah Si Orang besar?

Saya pikir-pikir, masih ada pengecualian dalam kasus tertentu. Boleh saja sih, seseorang dibilang 'Orang besar', jika memang Anda punya karya nyata dan andil luar biasa bagi semesta. Mampu melayani dengan tulus ikhlas tanpa hirau pamrih, rela berkorban mengabaikan kepentingan pribadi. Seperti yang dipaparkan Romo Hendra, OSC, di awal tulisan ini. Personifikasi yang sah-sah saja dianugerahkan kepada mereka yang memiliki pengabdian indah di mata dunia.

Seorang Bunda Teresa, misalnya. Dia sungguh 'Orang besar' di mata saya bahkan juga di hati saya. Ada banyak pernyataannya yang lekang tak tergerus waktu, enggan beranjak dari benak saya. Begini katanya, yang saya ingat betul, "Yang penting bukanlah seberapa banyak yang Anda lakukan, tetapi seberapa banyak cinta yang Anda tuang ke dalamnya."

Ya, ya, tentu saja. Ketika Anda melakukan hal-hal yang biasa di dalam hidup dengan cara yang tidak biasa, Anda akan mengundang perhatian dunia ! Nah, siapkah Anda menjadi 'Orang besar'? (Komunika 02/XIV, Maret - April 2014).     


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar