(Oleh Effi S Hidayat)
Sebetulnya, saya tidak terlalu suka mendengar orang mengomel. Walaupun begitu, maaf saja jika kali ini saya menulis Catatan Hati berdasarkan omelan seorang teman. Ha, kalau begitu, saya setuju dong dia mengomel? Ya, sebelum Anda protes, saya mencoba mengulas omelan yang malah saya beri acungan jempol itu, ya?
Sebut saja nama teman saya itu Jeng Tenik. Dia mengomel panjang lebar ketika seorang teman dari putera tunggalnya yang bernama Dio, tiba-tiba membatalkan janji untuk bermain ke rumah. "Padahal, sudah seminggu yang lalu janji itu dibuat dan Dio sangat antusiasme menantikan hari itu. Maklum, itu 'tamu perdananya'!
'
Dio sudah memersiapkan segala sesuatu menyambut sang tamu dengan sempurna (menurut ukuran seorang anak berusia 7 tahun, tentu). Tetapi apa yang terjadi ketika 'hari H' itu tiba? Dua jam sebelum waktu yang ditentukan, tiba-tiba tanpa hujan dan angin, datanglah sopir teman Dio membawa kabar tidak menyenangkan bahwa sang teman tidak jadi bertandang. Dan, tanpa alasan yang jelas pula!
"Siapa tidak kesal dibuatnya?" Jeng Tenik mencak-mencak, bukan hanya soal janji yang tidak ditepati. Tapi, terlebih melihat betapa 'hancurnya' hati seorang Dio. Anak lelakinya menangis terisak-isak bahkan sampai mogok makan segala!
Sebagai seorang ibu, saya paham betul perasaan teman saya dan juga puteranya, Dio. Apa yang dialaminya bukan tidak pernah dialami oleh putera, Zach. Masih ingat Catatan Hati saya yang bertutur tentang tertabraknya Bruno, anjing peliharaan keluarga kami? Sang pengumudi yang notabene tetangga saya itu sudah berjanji untuk segera menjanjikan pengganti.
Namun sampai Si tetangga akhirnya pindah entah ke mana, janji itu tak pernah ditepati.Janji hanyalah tinggal 'janji kosong' belaka. Sehingga berakibat fatal, saya digugat anak saya sendiri tentang makna janji (yang katanya Mama,'kan; 'janji harus ditepati karena berkaitan dengan harga diri, kepercayaan orang lain terhadap diri kita, bla, bla, bla'....).
Pendek kata, semua ikhwal janji yang pernah saya tegaskan kepada Zach, dipertanyakan kembali dengan manis olehnya, bikin saya pusing tujuh keliling! Ya, kelihatannya sih, sepele. Apalagi cuma janji terhadap seorang anak kecil. Eit, jangan salah! Realitanya tidak semudah itu. Janji sangat berkaitan dengan kepercayaan seseorang, berhubungan erat dengan nama baik yang disandang.
Lebih berat lagi, janji bahkan berkorelasi mesra dengan... iman! Ah, apakah saya terlalu lebay mengatakan hal ini? Namun bukannya tanpa alasan berdasar jika saya sampai hati menyimpulkan demikian. Karena pada saat peliharaan anak-anak, Si hamster mangkat, putera saya Zach yang menguburkan hamster mereka yang bernama Moro dan Mere di taman seberang rumah kami, ia berdoa khusyuk. Hatinya tentu sedih sekali kehilangan hewan-hewan lucu itu. Usia putera saya ketika itu, 6 tahun, tetapi ia sudah pandai merangkai doanya sendiri.
Dan, pada hari ketiga setelah kembal dari makam sang hamster, Zach menemui saya. Ia bertanya dengan serius," Mama, kenapa hamster Zach belum bangkit juga? Bukankah tiga hari setelah kematian hamster Zach tepat Hari Paskah? Saat Tuhan Yesus bangkit, hamster Zach juga ikut bangkit,'kan? Apalagi Zach juga sudah berdoa khusus pada Tuhan Yesus, kalau Dia bisa membangkitkan Lazarus, tentunya hamster Zach juga bisa hidup kembali,'kan?" mata kanak-kanaknya yang bening menatap saya sarat dengan binar-binar penuh harapan.
Saya terpana. Nalar saya digedor-gedor pertanyaan seorang anak kecil yang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang sangat luar biasa. Tanpa ba-bi-bu macam-macam prasangka, ia percaya Tuhan Yesus bangkit dan mumpuni menghidupkan kembali makhluk tak bernyawa dengan sepenuh hatinya! Ah, bukankah itu... iman? Iman yang berkaitan erat dengan janji bahwa Sang Penebus akan datang untuk menebus dosa semua umat manusia di dunia?
Kepercayaan Zach yang luar biasa telah menyadarkan saya bahwa iman adalah percaya segala sesuatunya dengan kepasrahan penuh seorang anak tanpa syarat. Ya, sebuah kepercayaan tanpa syarat apa pun kepada-Nya atas segala kuasa cinta kasih-Nya yang sangat besar.
Begitulah nalar saya kemudian bekerja merangkai teori bahwa sebuah janji itu sangat erat dengan kaitannya dengan iman. Walaupun kecil ibarat biji sesawi, jika disemai dengan kepercayaan penuh, sesuatu yang kecil itu akan tumbuh dan bertunas dengan kekuatan hebat. Ya, itulah iman! Karena saat Tuhan Yesus menyerahkan nyawanya di kayu salib pun, ada sebuah janji setia di dalamnya ; Allah Bapa akan datang untuk menebus semua dosa umat manusia di dunia.
Padahal, begitu banyak janji yang 'dipecahkan' di luar sana. Janji untuk sehidup semati sekali pun, ikrar suci yang diberkati pastor dalam sebuah perjamuan kudus saat sepasang sejoli bertekad mengarungi rumah-tangga bahagia, kini dalam hitungan hari dengan mudahnya diingkari.
Apalagi janji anak muda yang sedang kasmaran."Nggak janji, deh...," istilah begini tampaknya selalu siap di saku mereka. Lalu, bagaimana dengan janji seorang politikus? Ah, sekaliber apa pun ia berlaga di panggung politik dan sederet bintang emas berjejeran di pundaknya, janji yang diumbarnya saat pemilu dapat digugat massa (tuh, lihat! Segitu banyaknya demo berseliweran!) setelah pada akhirnya melihat bukti nyata dari prilaku sang pemimpin yang tidak sesuai dengan ucapannya. Ya, mungkin betul kata pepatah,"lidah tidak bertulang!"
Kembali pada kasus teman saya Jeng Tenik, yang mencak-mencak 'hanya' karena janji yang tidak dipenuhi, saya jadi memahami betul bagaimana berat sebenarnya tugas dari orangtua dalam mendidik watak sang anak berkaitan dengan masalah janji.
Betapun gombalnya lingkungan dunia di mana kita berpijak, sepenuh hati saya masih percaya kepada makna janji suci yang keluar dari nurani. Warna dasarnya masih tetap sama, saya kira. Putih bersih tak bernoda karena terikat moral dan iman.
Ya, karena itu seberat apa pun tugas kita sebagai orangtua, urusan janji, kejujuran, toleransi dan berbagai nilai pembentukan watak adalah hal mutlak dalam perkembangan pendidikan seorang anak. Tak cuma sekadar berkomitmen membaptis bayi dan memberi nama indah Santo atau Santa favorit, namun juga mengasah karakter tumbuh-kembang Si kecil, saya pikir adalah merupakan pe-er tersulit orangtua zaman sekarang di tengah kesibukannya yang berjibun.
Sedari kecil anak-anak kita perlu dibekali pemahaman bahwa yang namanya janji itu bukan hanya sekadar di mulut belaka, melainkan perlu pembuktian dalam melakukan suatu tindakan konkrit alias nyata.Sehingga orangtua dari teman Dio, terutama sang ibu pun bisa lebih bijak dalam membatalkan janji; paling tidak memberikan alasan yang masuk di akal adalah etika yang tidak boleh dilupakan (sekaligus menjadi teladan bagi puteranya).
Bukannya melenggang begitu saja tanpa pemberitahuan apa pun, seolah tidak terjadi apa-apa. Belum lagi, yang ini : tanpa merasa bersalah sedikit pun, menggampangkan persoalan, meremehkan sesama manusia lain. Jelas saja, teman saya, Jeng Tenik ngomel (dan saya mendukung!).
Sebagai orangtua, saya yakin betul, kita tentu berharap memiliki anak-anak yang saat-saat beranjak dewasa kelak tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah mengumbar janji dan alih-alih mengingkarinya, karena ada kekuatan iman yang sedang bekerja penuh di dalam dirinya.
Ya, seperti mentari yang selalu tepat waktu muncul di ufuk timur dan terbenam di sebelah barat takala senja tiba,begitupula kuasa cinta-Nya adalah janji Ilahi yang perlu kita ragukan kemapanannya. (Komunika 02/XII, Maret-April 2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar