Halaman

Selasa, 28 Maret 2017

10 Cara Hadapi Si Pemilih Makanan

Catatan Lepas
Tips Parenting

(Oleh Effi S Hidayat)

Si kecil pilih-pilih makanan? Jangan menyerah dulu! Coba simak cara hadapi pilih-pilihnya itu. 

Urusan makan anak kerap bikin pusing. Bagaimana cara menyiapkan makanan bergizi yang menggugah selera, sementara Si kecil sulit makan dan enggan mencicipi beragam jenis makanan yang sudah disajikan dengan susah-payah itu.

Apalagi ada kecenderungan memprihatinkan pada anak-anak di kota besar. Junk food jadi favorit mereka. Ironisnya, mereka juga anti sayur, sehingga tak jarang membuag sayuran yang ada di dalam hamburger yang mereka pesan, misalnya.

Bagaimana menghadapi hal itu? Ada beberapa upaya orangtua untuk tidak menyerah dalam mengatasi problema makan anak. Coba simak 10 cara berikut ini :

  1. Biasakan makan sehat sejak dini.
Sejak dalam kandungan orangtua harus memperhatikan dan mengupayakan kesehatan tubuh dan kecerdasan Si kecil dengan mengonsumsi berbagai makanan bergizi tinggi. Selepas ASI, orangtua dapat mulai memperkenalkan dan membiasakan anaknya beragam makanan padat.

       2. Lakukan bertahap.
Perkenalkan secara bertahap hidangan sayur dan buah yang semakin diperbanyak jenis dan jumlahnya. Seiring dengan pertumbuhannya, ia tidak akan gampang menolak aneka makanan yang disodorkan.

Usia balita merupakan usia rawan, pertumbuhan di usia dini merupakan cikal bakal kualitas anak kelak di usia remaja dan dewasa. Pengenalan bahan makanan yang bervariasi dengan gizi seimbang amat Si kecil butuhkan.

       3.Kreatif dan bervariasi.
Repotnya, menjelang usia 2 tahun, anak biasanya mulai menunjukkan 'pemberontakan' termasuk di dalam memilih makanan. Terang-terangan ia menunjukkan rasa suka dan tidak suka pada makanan tertentu. Menyajikan sayuran dalam bentuk menarik, misalnya irisan wortel dan tomat berbentuk bunga atau gambar hewan lucu pada makanan yang tersaji di piring dapat menggugah hasrat makannya.

Jangan ragu atau malas untuk mencoba resep baru di buku masakan , majalah/internet sebagai acuan. Tekstur warna-warni pelangi dan kualitas bahan olahan, dibarengi penyajian dan cara pengolahan yang pas (kukus, tumis, rebusan sayur), dijamin merupakan penangkal ampuh bagi penolakan Si kecil.

       4. Diskriminasi?
Terlanjur memberi label pada makanan tertentu sebagai makanan yang laik dikonsumsi atau sebaliknya, cenderung menjadi pemicu anak untuk ngemil berlebihan bahkan menolak makanan tersebut. Sikap pilih-pilih makanan disadari maupun tidak, terbentuk atas pola kebiasaan diskriminasi terhadap makanan di dalam keluarga.

Boleh juga melakukan 'penyamaran' bagi jenis makanan yang mengandung banyak sayuran. Sup, misalnya, agar lebih gurih taburkan parutan keju di atasnya. Atau, lumatkan aneka sayuran dengan blender lalu campur ke menu utamanya.

       5. Lihat lokasi dan waktu.
Memberi makanan sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, serta jadwal rutin waktu makan yang tepat adalah kondisi yang tidak boleh dilupakan. Boleh-boleh saja Anda berikan cemilan asal pada jam tertentu (misalnya, antara makan siang dan makan malam).

Seperti orang dewasa, untuk mengatasi rasa bosan anak, bolehlah berganti suasana dengan mengajaknya makan di restoran. Icip-icip sashimi mori, milk shakes, dan beragam sorbet jelas beda rasanya dengan nasi gudeg, pecel, atau es doger.

      6. Lakukan sambil bermain
Suasana makan yang ceria merupakan kebutuhan dasar anak balita. Jangan rusak hasrat makan mereka dengan terlalu banyak mencela, mengritik, atau bahkan memukul. Jangan pula paksa anak harus menyantap makanan yang disajikan dengan gaya otoriter menakutkan.

Bujuk Si kecil dengan manis, berikan alternatif makanan yang mengundang selera dibarengi saat bermain yang kreatif. Piring mangkuk berhiasan huruf alfabet misalnya, dengan gambar-gambar menarik dan warna cerah, bisa menjadi latar belakang cerita Anda untuk anak. Pura-pura jadi kambing atau Popeye Si pelaut yang doyan sayur bayam sebagai tokoh idola panutan Si kecil membuat suasana makan yang fun. 

      7. Minta bantuan anak.
Jangan sungkan atau malah memarahi Si kecil dengan menuduhnya 'bikin repot saja' jika ia ikut sibuk di dapur. Meminta bantuannya mencuci dan memotong sayuran sebelum dimasak, kebanggaannya pun timbul. Justru dengan merasa telah membantu ibunya menyiapkan hidangan, ia lebih tergoda untuk mencicipi dan menikmati.

     8. Jangan pamrih.
"Kalau Adik mau makan sayur ini sampai habis, nanti Mama baru beliin kamu robot-robotan," begitu biasanya orangtua membujuk anaknya makan. Menjanjikan sesuatu agar Si kecil mau makan, mungkin saja cara yang manjur, tapi untuk sementara waktu saja. Akibatnya malah berdampak buruk, lho. Anak menganggap makanan sehat sebagai 'alat tukar' jika menginginkan sesuatu.

     9. Beri teladan.
Tak ada kiat paling manjur selain memberi contoh pada anak. Makanlah aneka sayur dengan lahap di hadapannya. Anak-anak peniru ulung kebiasaan orangtuanya. Bagaimana mengharapkan mereka menggemari semua jenis makanan, jika ibu atau bapaknya rewel soal makan ?

Menyediakan dan membiasakan makan sayur secara rutin, secara tidak langsung menularkan pola makan yang baik pada anak. Jangan larang Si kecil bereksperimen dengan sambal kecap kesukaan Anda misalnya, agar mereka bersemangat. Biarkan anak dengan gaya primitif  belepotan mencocol kecap itu dengan jari tangan mereka. Hmm, nyam-nyam!

    10. Pantang menyerah.
Biarpun segala cara dan trik sudah dilakukan, ada kalanya Si kecil tetap ngotot, emoh makanan tertentu. Biasanya sih, paling sulit mengajak anak mengonsumsi sayuran bahkan ada yang menolak susu. Jika sudah mentok begitu, gantilah dengan alternatif makanan lain; buah-buahan yang disukai anak?

Pendek kata, sebagai orangtua, jangan mudah menyerah begitu saja. Apalagi dengan alasan sibuk tidak punya waktu, Anda lalu terjatuh pada jenis pilihan junk food dan makanan instan yang ditawarkan di pasaran.

Ayo, upayakan terus dengan berbagai cara. Repot lho, jika kebablasan hingga dewasa. Bisa jadi hubungan kelak dengan pasangan atau calon mertua terganggu karena sulit beradaptasi dalam soal makan. Duh, jangan sampai kejadian, deh.

(Majalah Ayahbunda No.17, 18-31 Agustus 2005).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar