(Oleh Effi S Hidayat)
"Yang Muda yang Bercinta", saya teringat judul sebuah film jadul. Kelihatannya klop banget anak muda dan... cinta! Ya, pada dasarnya, masa muda adalah masa yang paling indah untuk dikenang. Karena itu reguklah masa mudamu sepuasnya. Hiasi ia dengan cinta.
Cinta? He-eh, orang muda dan cinta, itu relasi yang semua orang tau-lah.Tapi, saya kira urusan cinta dan orang muda selaiknya tidak sekadar cinta-cintaan gejolak asmara belaka. Karena cinta amat sangat bisa dikaitkan dengan cinta dalam berkarya. Jadi, mengapa tidak jika saya merenovasi judul itu dengan "Yang Muda yang Berkarya'? Sah-sah saja, bukan?
Kalau saya boleh jujur, rasanya bicara soal masa muda (aduh, kayaknya saya sudah tua banget, ya?), alangkah menyenangkan jika bisa diulang. Akan saya lipatgandakan segala aktivitas kegiatan yang tidak sempat saya lakukan dahulu. Memang sih, saya berkarya dalam dunia tulis menulis ketika usia muda, tepatnya kelas dua SMP. Setelah sebelumnya, sejak SD (tepatnya kelas 6), saya memantapkan hati bercita-cita menjadi wartawan.
Seorang guru Bahasa Indonesia, namanya masih melekat erat di benak saya : Pak Ratum, yang kerap memberikan tugas mengarang boleh dibilang adalah orang yang berjasa menjepitkan magnet di hati saya sehingga terbetot di dunia tulis menulis. Selain ibu saya, tentu, sebagai orang pertama yang menguak dunia imajinasi saya lewat dongeng-dongeng yang setia dibacakan menjelang tidur.
Seiring berlalunya waktu, ternyata impian saya tidak luntur, malah, eh... semakin menggebu. Hanya bermodalkan mesin tik tua milik Ayah, saya mengetik dengan 'sebelas jari' (maklumlah, belum kursus mengetik), menuliskan beragam pikiran yang lalu-lalang di benak saya.
Alhasil, lamunan dan renungan itu tercipta menjadi lembaran-lembaran halaman puisi dan cerita pendek yang saya kirimkan via pos ke majalah remaja Hai, media cetak yang ngetop bagi kawula muda kala itu. Dan, ternyata dimuat! Senangnya bukan alang kepalang!
Saya memeroleh banyak berkat, antara lain 'teman-teman pena' dari berbagai daerah yang mengirimi saya surat perkenalan lewat pos. Maklum, zaman itu belum ada surat elektronik melalui internet, komputer serba digital-- alat teknologi canggih yang memudahkan komunikasi seperti sekarang.
Selain itu, saya juga menerima honor sebagai imbalan hasil karya saya yang dimuat di media. Rasanya, wah, saya menjadi orang paling kaya sedunia! Bangganya juga luar biasa. Paling tidak, sebagai remaja daerah dari sebuah kota kecil di Lampung, saya bisa 'menembus' media ibukota tanpa koneksi.
Tak pelak lagi, saya semakin getol menulis. Cerita-cerita pendek dan artikel saya yang lain bermunculan di Anita Cemerlang, Gadis, Harian Indonesia, Harian Suara Pembaruan, selain tentu saja ; majalah remaja Hai yang menjadi cikal bakal saya menulis.
Setamat dari SMA, saya 'terbang' ke Jakarta menggapai impian saya. Saya memilih berkuliah di sebuah Sekolah Tinggi Publisistik ketimbang fakultas ekonomi perguruan tinggi swasta terkenal, walaupun saya diterima dengan peringkat baik di sana. Pilihan ini sempat menuai kontroversi dalam keluarga besar saya yang rata-rata pelakon dunia bisnis.
Namun beruntung kekerasan hati saya ternyata mendapat dukungan sepenuhnya dari ayah dan ibu saya. Mereka percaya pada impian saya. Sungguh terima kasih tiada terhingga atas cinta mereka. Hal itu semakin membuat saya ingin membuktikan bahwa saya tidak salah memilih.
Selaras passion mengikuti aliran kata hati membuat saya bersemangat tak kenal lelah menulis di berbagai media. Lumayan lho, honornya bisa menambah uang saku saya sebagai mahasiswa kos-an. Dan, saya merasa sangat bersyukur ketika lulus kuliah pun langsung diterima bekerja di sebuah majalah wanita ternama di Jakarta.
Sesuai betul dengan cita-cita saya yang memang bertekad mengabdi sebagai 'kuli tinta'. Sungguh, Sang Maha amat berbaik-hati memberikan berbagai kemudahan yang terkadang kerap tak saya pahami. Hmm, kelihatannya lumayan mulus bukan meraih impian?
Padahal, setelah saya renungkan ulang, tentu semua itu tak akan terwujud tanpa dilengkapi dengan niat dan kerja keras. Kekuatan angan dan tekad, dibarengi doa kepada-Nya, saya kira hal itu merupakan modal utama membujuk semesta melancarkan jalan yang ingin kita tempuh.
Nah, apa yang bisa dipelajari dari pengalaman saya di kala meniti impian masa remaja? Tentu saja ikatan erat temali harapan dan cita-cita. Tak ada yang mustahil, selalu ada jalan jika ada kemauan. Namun, jika boleh mengulang kembali episode masa remaja, ingin sekali rasanya lebih melipatgandakan karya bersama Dia.
Mengapa? Jujur saja, saat-saat itu justru saya merasa gamang dengan kepercayaan alias iman yang setianya mendampingi. Mungkin karena saya lahir dan dibesarkan dari keluarga muslim. Ibu yang warga keturunan Cina mengikuti jejak ayah saya menjadi mualaf yang rajin salat lima waktu. Bisa dibayangkan bukan, betapa saya dididik dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah. Ketika kecil, saya pun belajar mengaji.
Krisis identitas kali pertama saya rasakan ketika bersekolah di sekolah swasta Katolik. Sejak SD hingga SMA, saya menimba ilmu di Xaverius. Alami dan manusiawi ketika akhirnya saya berproses jatuh cinta kepada Yesus dan ingin mengenal-Nya lebih mendalam lagi.
Apalagi, entah mengapa setiapkali mengikuti Misa Ekaristi, terutama saat mendengar pastor menguntai kalimat syahadat singkat,'Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan, amin...'. Duh, rasanya ada sesuatu di hati saya membuat tersedu --tak mampu menahan isak.
Timbul kerinduan yang tak terkatakan, nancep, membuat hati saya meleleh, mencair. Secara perlahan namun dengan kesadaran sendiri, saya aktif ikut kegiatan Mudika (Muda-Mudi Katolik). Dan, puncaknya... saya mulai serius belajar agama Katolik lalu dibaptis sebagai murid Kristus.
Tidak gampang mengeraskan hati, terutama saat mengabaikan perasaan orangtua yang hanya memiliki seorang puteri tunggal seperti saya ini. Ayah dan Ibu tidak menentang. Mereka kembalikan semua keputusan di tangan saya.
"Kalau jalan ini memang paling baik untukmu, pilih dan yakini sajalah. Ayah dan Ibu mendukung apa pun keputusanmu." Sungguh dilema yang sangat sulit! Jikalau saya ditentang keras, mungkin saya segera berontak. Tetapi, ini... justru diberi tanggung-jawab utuh penuh saya malah gamang, bingung, dan sempat sangat raguuuuu. Sehingga proses saya untuk dibaptis pun putus-sambung, putus-sambung, begitu terusss.
Hitung-hitung, entah berapa kali saya ikut pelajaran agama lalu mandeg, begitu berulang-kali kejadiannya. Hingga akhirnya datang juga Roh Kudus menyelimuti hati saya secara sempurna. Tepat 16 Desember 1990, saya resmi menjadi saksi Kristus.
Inti dari catatan hati saya kali ini, tak lain merupakan refleksi kilas balik kepada masa muda saya, di waktu saya masih 'imut-imut' (ehm!). Saya hanya ingin berbagi kepada kawula muda zaman kini, nikmatilah selagi kamu bisa masa mudamu dengan sebaik-baiknya.
Sungguh sangat disayangkan jika di zaman yang serba canggih, di mana teknologi demikian maju, dengan seabrek fasilitas internet, media sosial seperti facebook, twitter, blogger -- berbagai media massa elektronik maupun media cetak yang sangat menunjang segenap aktivitas positif jika tak dimanfaatkan seefektif dan sebijak mungkin.
Gapailah setinggi-tingginya impian dan cita-cita. Mengisi masa muda dengan segudang kegiatan positif yang amat sangat tersedia dan bahkan tinggal comot begitu saja, karena segala akses pendidikan maupun finansial telah dihidangkan oleh orangtua. Lihat, betapa banyaknya pilihan ekstrakurikuler, termasuk berbagai kegiatan mengasah rohani di sekolah-sekolah maupun gereja, dan lingkungan tempat tinggal. Mengapa sampai tega hati kau abaikan?
Menggereja sejak usia muda, bukan suatu usaha yang sia-sia. Dampaknya akan terasa di kala usia semakin beranjak dewasa, bahkan hingga usia menua. Memiliki pegangan batin, akan menenteramkan hatimu. Belajar adalah bertumbuh. Dan, bertumbuh adalah belajar. So, tunggu apa lagi anak muda?
Buka mata, pikiran, dan hatimu lebar-lebar. Biarkan kuasa-Nya bekerja penuh atas dirimu untuk berkarya di dalam nama-Nya. Saya tegaskan untaian kalimat "Yang Muda yang Berkarya", bukan hanya sekadar slogan tak berharga. Raihlah bintang di langit sebanyak-banyaknya selagi kau bisa. Dan, jangan lupa untuk membagi secercah sinar terangnya di sekelilingmu, tak hanya untuk kepentingan pribadi dan orang terdekat semata.
Melayani dengan hati, dan berbuah sebanyak-banyaknya -- menjadi berkat bagi orang lain selagi kau mampu, serta ada kesempatan. Niscaya, segenap berkat dilimpahkan kembali kepadamu. Siapa yang memberi, dia juga yang menerima. Siapa menabur, dia akan menuai. Tidak percaya? Butikan saja! (Komunika 03 XII, Mei-Juni 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar