(Oleh Effi S Hidayat)
Zachary, putera kedua saya, sudah beberapa hari ini manyun. "Zach lagi jengkel!" katanya, cemberut. Oh, rupanya ia tak suka ibu gurunya memanggilnya Jacky. "Memangnya aku Jacky Chan? Padahal sudah berulangkali aku bilang,'My name is Zachary Ryan. My name is Zach!' Eh, ibu gurunya lupa melulu. Namaku diganti jadi... Jacky!"
Terpaksalah saya pergi ke sekolahnya. Syukurlah tak ada masalah. Ibu guru mau mengerti dan berjanji akan memanggil Zach persis sesuai dengan panggilannya itu. "Pantas saja kalau dipanggil "Jacky", ia suka diam tak ada respon," komentar sang guru, tertawa.
Keadaan menjadi normal kembali. Namun tak sampai seminggu, Zach kembali cemberut. "Ibu guru lupa. Zach dipanggil Jacky lagi!" protesnya. Duh, mosok sih, saya harus bolak-balik ke sekolah setiap kali ia komplain ibu gurunya 'lupa'?
Nama bermasalah, ternyata merembet ke Zoe Nathan Janapriya. Anak sulung saya itu juga 'protes berat' karena nama belakangnya. "Aku malu, Ma. Teman-teman selalu ketawa kalau ibu guru memanggilku di kelas...."
Yang bertanggung-jawab pada pemberian nama itu adalah Herry, suami saya. Dia yang repot pinjam kamus bahasa Sansekerta segala saat Zoe lahir. Padahal, saya sudah menyiapkan nama bagus : Zoe Nathan (Zoe adalah kata dari bahasa Yunani yang bermakna : kehidupan, dan Nathan adalah nama pemuka agama Kristiani yang berbudi luhur dan berani). Tepatnya Zoe Nathan adalah hadiah dari Tuhan.
Namun, Herry ngotot ingin menyumbang nama ketiga, ya, "Janapriya" itu. Alasannya, agar Zoe seperti dirinya, disukai oleh banyak orang, terutama... perempuan. Uhuy! Nyatanya, Si empunya nama yang bersangkutan malah berkeberatan dengan nama 'aneh' itu. "Zoe nggak suka! Ganti aja, Ma...." Sampai sekarang, Herry masih sibuk membujuk agar Zoe menyukai nama belakangnya itu. Ya, itu sih, urusan bapak dan anaknya....
Lain lagi dengan adikku. Maklum, jebolan pesantren.Sah-sah saja anak pertamanya ia beri nama : Mohammad Lukman, dan anak keduanya : Mohammad Zaki (yang ini, Zaki dengan "Z", digandeng huruf kesukaan saya). Tapi, buntutnya menurut info ibu saya di Lampung, Si Zaki sekarang telah berganti nama menjadi : Mohammad Wahyudi.
Lho, apa pasal? "Nama Zaki 'berat', membuat pemiliknya sering sakit-sakitan. Begitu terawang seorang Kyai. Jadi, harus diganti dengan Wahyudi. Dan, boleh percaya atau tidak, terbukti setelah berganti nama, Si Zaki keponakan saya itu ...eh, maksud saya: Wahyudi, berubah menjadi sehat bahkan gemuk montok! Walau begitu, jikakalau saya dan anak-anak liburan ke Lampung, kami masih suka keseleo lidah memanggilnya Zaki ketimbang Wahyudi! Hehehe.
Masih ada kisah dari seorang Tante saya yang kukuh memegang teguh adat leluhur. "Pemilihan nama bayi tidak boleh main-main," katanya serius. Kedua puterinya pun harus rela membiarkan sang nenek, tante saya itu, memilihkan nama spesial bagi cucu-cucunya.
Yang penting tak boleh mengandung unsur "Si" (dalam bahasa mandarin, "Si" bermakna buruk ; kematian). Jadi, nama itu tidak boleh berderet cuma empat huruf. Agar senantiasa sehat sejahtera sentosa, harus mengandung enam huruf. maka jadilah kedua cucunya memiliki nama yang berjumlah enam huruf. Dan, masih pula ditambah pemilihan nama mandarin yang terdiri dari tiga patah kata. Choa Hok Lay, misalnya, bermakna : rezeki ( Hoki Lay, keberuntungan datang!) Padahal, bukankah keluarga muda warga keturunan Tionghoa kini tak lagi memberi nama Cina pada anaknya?
Memang selalu ada kisah di balik nama. Nama saya sendiri : Effi, berasal muasal dari nama seorang 'gadis plastik', primadona grup akrobatik kesayangan yang ayah saya tonton doeloe tatkala pacaran sama Ibu. Lalu, Ayah mencomot nama Sofia dari Sofia Loren, itu lho...artis seksi favorit Ayah! "Sofia bermakna bijaksana," suatu hari Ayah menjelaskan.
Namun seperti juga Zoe, entah mengapa saya tak begitu suka nama Sofia, hingga selalu saya umpetin menjadi huruf "S" saja di antara nama Effi dan Hidayat (nama belakang ini tentu saja diteguhkan dari nama ayah saya!)
Beberapa teman mengaku, memberi nama anaknya berdasarkan hobi. Misalnya ini: Ferrari, karena ayahnya suka mobil Ferarri. Atau, Nikita dan Sabrina, karena sang ibu tergila-gila film yang berjudul sama! Tierra, seorang teman saya malah terpaksa mengalah pada suaminya, Djoenaedy SP (yang kelewat mencintai namanya sendiri), yang menabalkan nama depannya khusus untuk nama tengah kedua anak mereka : Prakala Djoen Turangga dan Shangdieva Djoen Narasmara.
Bagi teman-teman dari etnis Jawa, jangan ditanya kukuhnya istiadat pemberian nama. Ada teman yang khusus mencomot nama wayang bagi anak-anaknya : Arjuna, Rama, Shinta, Nakula, Sadewa. Teman saya yang dari Sumatera Utara, nama-nama marga mereka mencerminkan watak dan kekhasan sifat mereka. Dari Tapanuli, misalnya, warga Sihombing biasanya beragama Nasrani, sedangkan Siregar biasanya Muslim. Begitupula yang berasal dari Flores, nama-nama Portugis atau nama-nama dari Alkitab bertebaran di dalam keluarga mereka.
Nama memang mencerminkan 'akar' seseorang. Bahkan bagi peramal, nama memiliki hitungan alias numerologi tersendiri! Ada nama yang mencerminkan pemiliknya Si tukang marah, sembrono, dan pembuat onar. Bahkan ada yang lebih parah, katanya," Dasar tukang selingkuh! Habis namanya...." (ah, lebih baik off the record, ya! red.).
Suatu hari, saya berada di sebuah taksi dengan sopir ganteng mirip aktor F4, Tao Ming Tse itu. ternyata ia menjadi sopir untuk membiayai kuliahnya di sebuah perguruan tinggi terkenal di Jakarta. Tapi bukan itu yang membuat saya tersenyum-senyum sepanjang perjalanan.
Melainkan karena ia memiliki 'riwayat' pemilihan nama yang nyaris identik dengan suami saya. Yakni,selain sama-sama memilih nama sendiri ketika masih sekolah, ia juga bernama persis sama serupa : Herry Susanto. Jadilah, siang itu, saya disopiri oleh Herry Susanto, yang bukan ... suami saya. Aha! (Gado-gado femina F43/XXXIIII, 27 Okt-2 Nov 2005).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar