Halaman

Minggu, 26 Maret 2017

Generasi Platinum pun Butuh Iman

(Oleh Effi S Hidayat)

 Apa yang salah dalam pendampingan terhadap anak-anak kita ? Sejak kecil telah dibina bersama keluarga, juga mendapat kasih sayang yang cukup, namun ternyata tidak mudah mentransfer kebaikan sekali pun kepada anak yang selalu bersama kita ; kecenderungan untuk mencari rasa aman, nyaman, dan enak sendiri sangat nampak. 

Sama seperti Yudas, sebagai murid Yesus, tentu saja ia sudah ikut setia mendengarkan pengajaran-Nya bersama dengan para murid lain. Toh, pengalaman kebersamaan Yudas dengan Yesus itu belum secara otomatis membentuk pribadi Yudas sepenuhnya. Sehingga akhirnya ia berani 'menjual' gurunya demi kepentingan sendiri.

Membaca buku kecil renungan dan refleksi, Rabu Abu, Minggu Paskah 2015 "Tiada Syukur Tanpa Peduli", yang diterbitkan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), tepatnya Rabu (1/4), berjudul "Yudas Mengkhianati Yesus", saya diserbu beribu pertanyaan menohok dalam diri sendiri.

Jujur, predikat saya sebagai orangtua, lebih klop-nya lagi sebagai seorang ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak-anak yang kini meningkat remaja, dihadapkan kepada pertanyaan reflektif semacam ini, membuat saya merenung sangat lamaaa. 

Ya, setiap masa selalu melahirkan generasi yang berbeda. Tentu tidak asing lagi mendengarkan keluh kesah orangtua bahwa anak zaman sekarang sangat bertolak belakang dengan zaman doeloe.

Misalnya nih, menurut pengakuan orangtua, "Anak zaman dahulu lebih tahan uji alias 'tahan banting'. Suka rela hidup pas-pasan dan mau berjuang keras demi mencapai hasil terbaik yang diinginkannya. Boro-boro berangkat ke sekolah diantar naik mobil pribadi, dan setiap liburan sekolah 'terbang' ke luar negeri...."

Coba bandingkan dengan anak sekarang, yang hidupnya jauh lebih enak dan mapan dengan beragam macam fasilitas, tapi kok, ya, ndilala mereka cenderung instan tidak sabaran mendapatkan yang dicapai? "Proses" bukan lagi sesuatu yang penting, melainkan "hasil" (belum lagi, kepuasan mereka yang cukup rata-rata saja, tidak maksimal sepenuh tekad perjuangan!).

Hmm, benarkah demikian? Mau tak mau saya merujuk pada masyarakat bangsa Jepang yang dikenal sangat workaholic, sehingga cenderung mengorbankan kehidupan keluarga. Anak-anak kehilangan figur ayah karena kehadiran 'kepala keluarga' yang sangat jarang berada di rumah. Mungkin karena itu, lalu berdampak pada generasi muda Jepang yang membenci 'kerja ngoyo'.

Ah, sebetulnya bukan hanya di Jepang saja, saya pikir. Kecenderungan seperti ini hampir mampir melipir ke seluruh penjuri bumi. Mereka, termasuk anak-anak kita di Indonesia yang lahir pada abad ke-21, dan disebut-sebut oleh pakar sosiologi sebagai "Generasi Platinum (XYZ) cenderung menikmati hidup secara langsung".

Segala sarana yang tumbuh pesat selaras kemajuan teknologi cenderung tak terbendung, membuat anak semakin spontan dan lantang menyuarakan persepsinya. Sejak usia balita, mereka ekspresif dan sangat berani bereksplorasi.

Tidak ada ketakutan untuk memertanyakan apa yang melintas di benak, sehingga terkesan menuntut, dengan gaya komunikasi yang mereka ciptakan sendiri. Cenderung mengenyampingkan perasaan, bahkan rasa hormat kepada orang yang jauh lebih tua dari usia mereka.

Entahlah, terkadang sikap sarkasme, menutup diri, mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa jadi semakin menjauhkan anak-anak smart ini dari keyakinan beragama. Ada banyak hal, seperti nilai-nilai di dalam sejarah bahkan ayat-ayat di Alkitab yang dipertanyakan secara kritis.

Misalnya saja, "Mengapa pada abad pertengahan, gereja dan Paus sendiri bisa jadi terpecah belah bahkan berani nekat melakukan korupsi memerebutkan uang dan kekuasaan? Tidakkah hal semacam ini dibenci oleh Tuhan, sehingga akhirnya muncul sosok pembaharu , seorang seperti Marthin Luther yang 'berani mati' mereformasi gereja?

Atau, malah ada yang sekadar berkomentar yang terkesan nyeleneh, "Kalau Tuhan itu esa, satu dan tunggal tiada tergantikan, mengapa ada begitu banyak rupa dan wajah-Nya. Terbukti dengan bertebaran di mana-mana itu yang namanya 'rumah Tuhan', dan beragam ajarannya yang terkadang kontradiksi.

Yang satu bilang, harus melepas kasut jika bertandang ke rumah-Nya, namun lainnya malah mengatakan, "Pergi bertamu ke rumah-Nya harus sopan bersepatu...." Nah!

Terjadi adanya perbedaan sikap, prilaku dan persepsi memang tidak sama pada setiap generasi. Anak-anak bertumbuh sesuai zaman dengan beragam faktor pembentuk karakter seperti kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya dalam kurun waktu tertentu.

Generasi sebelumnya, yang disebut dengan istilah baby booomers, adalah awal perdana yang melek  kenal televisi. Hingga berkembang maraknya media komunikasi massa elektonik dan internet yang disambar dengan cepat oleh generasi berikutnya, yaitu generasi Millenium.

Sikap tidak sabaran, gaya berkomunikasi yang cuek,tidak kenal aturan (jika tak ingin disebut buruk rupa!), kadang memang amat sulit dipahami. Berbanding terbalik dengan kecerdasan dan daya tangkap mereka dalam memandang dan mengenali sesuatu, terlebih dalam hal mengakses informasi yang jauuuhh melampaui anak-anak di era lampau.

Ya, ya, anak-anak zaman kini merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya, terutama orangtua dari anak itu sendiri. Namun jangan pernah lupa, mereka tetap saja terlahir dari para orangtua masing-masing yang memiliki segenap karakter dan latar belakang pendidikan, sosial dan budaya berbeda.

Ada kehendak bebas dari produksi generasi Platinum saat ini, yang tetap saja membutuhkan keseimbangan pengekangan moral dan pengendalian diri dari orang dewasa. Mungkin itu sebabnya, betapapun saya tetap saja percaya, walaupun terlahir seorang murid yang melenceng seperti Yudas, iman yang teguh adalah tetap jawaban nomor satu.

Iman merupakan tameng kukuh super tangguh, yang tak akan tergerus oleh waktu dan masa. Setidaknya, sederas apa pun badai informasi menerjang, dan hujan teknologi mengepung, cikal bakal anak-anak generasi Platinum itu sendiri tidak akan pernah terlepas dari pengaruh dan panutan orangtua.

Saya sih, percaya; selalu terbentang jalan yang lurus dan benar bagi mereka yang setia dan percaya. Yeah, itulah... iman. Buktikan saja! (Komunika 02/XV, Maret-April 2015).      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar