Halaman

Minggu, 23 April 2017

Berani Percaya Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Have enough courage to trust love one more time and always one more time"(Maya Angelou, penyair, aktivis, penulis skenario).
Refleksi:
"Aku melahirkan seorang anak laki-laki tetapi aku memiliki ribuan anak perempuan. Kau yang berkulit hitam dan putih, kau yang yahudi dan muslim, Asia... aku berbicara kepada kalian semua!"seruan bagi keragaman dan toleransi yang ditorehkan dalam "Letter to My Daughter", satu di antara 30 buku, warisan berharga Maya Angelou terus bergema, walau ia telah berpulang 28 Mei 2014, di usianya yang ke-86 tahun.  

Siapa yang tak mengenal reputasi penyair perempuan kelahiran Afro-Amerika ini di dunia sastra? Mengilhami banyak orang AS memerjuangkan kebebasan, kemajemukan dan toleransi, diskriminasi ras, Marguerite Anne Johnson-- nama aslinya, sebetulnya sangat sulit dipercaya mampu mengeluarkan pijatan quote yang saya temukan di antara bacaan pagi ini ; "keberanian untuk memercayai cinta yang tak berkesudahan, sekali lagi, dan selalu ...sekali lagi" dikumandangkan keluar bagi dunia dari seseorang yang memiliki masa lalu kelam seperti dirinya.

Sungguh, saya termangu dengan bibir kelu. Membayangkan Angelou kecil yang broken home, memiliki hubungan tidak harmonis dengan ibu kandungnya, bahkan ia...diperkosa oleh kekasih ibunya (dan sang kekasih yang brutal tersebut kemudian dibunuh oleh pamannya !). Bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurukan, kehilangan kepercayaan akan cinta, di dalam suatu 'labirin hitam' yang telah tercatat di dalam noktah buku kehidupannya, bukan?

Beruntung, ia masih memiliki seorang nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih. Mungkin, itulah yang membuatnya tidak pernah kehilangan harapan akan cinta? Seperti yang pernah diungkapkannya lagi, dalam seuntai kalimatnya,"When we decide to be happy, we accept the responbilility to bring happiness to someone else."

Memutuskan untuk berbahagia, dan menerima tanggung jawab untuk membagikan kebahagiaan kepada orang lain di sekitar, tentu saja harus menjadi orang yang mampu untuk menyingkirkan awan-awan gelap di dalam hidupnya dahulu. Ya, Angelou mengakui jujur akan hal itu, beberapa serial buku ditulis berdasarkan pengalaman sejatinya. "Aku punya banyak sekali awan, tapi juga punya begitu banyak pelangi di awan-awanku...."

Sulit dipercaya, ketika saya mencernanya dengan akal sehat saya. Namun, dengan mudah, akhirnya saya mampu meresapinya dengan segenap kebebasan rasa, sebagaimana yang didengung-dengungkan sang orator kebebasan itu. Ya, seorang yang memiliki berjuta kepahitan seperti Maya Angelou mampu melakukannya-- bagaimana dengan Anda dan saya? (Catatan Minggu pagi, 2342017).             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar