(Oleh Effi S Hidayat)
Les melukis baru berjalan dua bulan, tetapi Anggi sudah mogok merengek meminta-minta kepada maminya untuk pindah les piano. Padahal baru beberapa hari lalu, dia memohon kepingin belajar tari balet. Dan, baru seumur jagung pula , Anggi mengeluh ingin berhenti ikut ekstrakurikuler (ekskul) pelajaran bahasa Mandarin. Maunya pindah ke ekskul boga saja.
Nah, bisa tebak, apa yang kemudian dilakukan Sang mami, selain mengabulkan semua keinginan puterinya tercinta? "Maklum, puteri semata wayang alias satu-satunya," begitu kilahnya. "Mumpung ada kemauan, apalagi semua fasilitas ada. Semua keinginan anak tentu saja harus didukung sepenuh jiwa dan raga kita sebagai orangtua, bukan?"
Tak berbeda dengan Dwiko. Sedari kecil, menuntut ilmu di sekolah hingga bekerja, ia selaluuu saja satu atau dua langkah lebih maju dari orang lain. Prestasinya laik diacungi jempol, semua orang tampak bangga terhadapnya, termasuk dirinya sendiri, tentu.
Ya, Dwiko sangat percaya diri. Ketika bekerja pun, ia enggan berlama-lama di satu tempat saja. Patokannya tentu saja adalah salary yang ia terima. Buat apa capek-capek bekerja kalau gajinya tidak tinggi? Maka, jadilah Dwiko 'Si kutu loncat'.
Teman-teman Dwiko sudah khatam betul jika bertemu dengannya sudah 'terbang' dari kantor yang lama. Dia selalu berpindah-pindah pekerjaan. Hitung-hitung dalam kurun waktu dua tahun saja, sudah 6, eh, 7 kantor lho, yang disinggahinya!
Begitulah. Zaman sekarang, maunya memang serba cepat. Instan. Apa-apa, wis, kesusu orang Jawa bilang. Yang lebih penting adalah "hasil", bukan "proses" yang sedang berjalan. Tampaknya sudah ketahuan, mereka yang lebih memilih sebuah proses ketimbang hasil, adalah produk 'orang-orang jadul' alias orang-orang masa lampau.
'Ngapain mikir proses? Bisa-bisa orang lain sudah sampai di bulan, sementara kita sampai bulukan, masih ngos-ngosan naik becak!' kira-kira seperti ini 'pukul rata' komentar anak sekarang. Akibatnya mudah sekali diterka.
Sikap tidak sabaran ini berbuntut terkikisnya sebuah karakter yang nilainya kian lama kian menjadi mahal. Apalagi kalau bukan : "kesetiaan"? Jika sejak kecil sudah dididik demikian mudah beralih pindah ke lain hati, setelah remaja, beranjak dewasa, bahkan sampai tuek-pun dijamin tak akan pernah mau 'mengabdi' sedemikian lama mengantongi kamus yang judulnya "setia".
Banyak godaan dari lingkungan di sekeliling ; terpaan angin topan dan badai yang diterima dengan senang hati, ikut arus. Boro-boro mau menerjang, melawan dengan garang, kemudian ber-setia dengan pilihannya sendiri. Aih, bukan zamannya lagi deh untuk setiaaa?
Tidak heran, nilai-nilai pendamping lain yang boleh dibilang menjadi tameng kesetiaan , seperti antara lain nilai kejujuran, kepercayaan, pengabdian, lalu ikut-ikutan aus, menguap lenyap, terseret pasang gelombang, dan sirna ditelan deru ombak kehidupan yang semakin kompleks.
Tak hanya sedemikian mudahnya berpindah-pindah jurusan di sekolah, dan lompat melompat ke beragam pekerjaan bak bajing loncat, ketika sudah memilih pasangan hidup, dan berjanji untuk setia sehidup semati di hadapan pastor pun, kerap tinggal jejak slogan semata.
Angka perceraian semakin melonjak, melejit tinggi di abad ini. Dalam hitungan bulan saja, ketok palu cerai sudah diajukan ke meja hijau. Maka, saya benar-benar 'angkat topi' kepada mereka-mereka yang berani untuk tetap setia menjalani ikrarnya di dalam jalur apa pun juga.
Terus terang, memang sangat tidah mudah untuk kekeuh berpegang kepada prinsip hidup dalam jangka kurun waktu sepanjang usia. Memang, ada benarnya sih, katanya, manusia dituntut untuk selalu berubah. Toh, perubahan itu sendiri berbanding lurus dengan pertumbuhan yang menandakan bahwa sebagai makhluk cipataan-Nya, kita ini... "hidup"!
Tetapi, bukankah perlu mengkaji ulang secara serius, perubahan apa dulu? Perubahan itu sendiri nisbi lho, adanya. Seturut pemikiran saya yang sederhana ini, tetap harus ada nilai-nilai murni yang selaiknya dipertahankan. Antara lain, ya... kesetiaan itulah.
Di dalam kategorial manajemen gereja, misalnya. Jika mereka-mereka yang sudah berikrar komit untuk menjadi pelayan-Nya, tentu saja memerlukan ketetapan hati, iman yang teguh dalam melayani sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Apa jadinya jika tidak ada kesetiaan mengabdi dengan tulus dan ikhlas? Wong, jangankan mikirin gaji alias beaya, hitung-hitungan untung dan rugi secara waktu dan tenaga saja, haram hukumnya. Jadi, memang sangat membutuhkan keberanian untuk tetap setia.
Lihat saja deh, jalan berliku dan panjang yang ditempuh oleh para pastor dan suster. "Jalan yang benar adalah jalan yang sepi", kata seorang sufi -- mungkin itu tepat sekali.
Jika tidak begitu sulitnya memertahankan secara murni yang namanya kesetiaan ini, mana mungkin sih, misalnya seorang Romo Pandoyo, OSC yang berkarya seturut imannya, tidak sampai 'jatuh bangun' meretas jalan yang diikutinya, hingga setia sampai 30 tahun (terhitung 26 Juni 1985-2015?).
Maka, jangan pernah sekali-sekali meremehkan nilai kesetiaan. Ini merupakan satu di antara kualitas harga diri manusia yang saya pikir memiliki nilai lebih. Karena membutuhkan amat sangat, lebih dari segantang keberanian untuk tetap setia.
Jika sudah berkomitmen untuk memilih sesuatu, apa pun itu, cobalah untuk belajar berani memertahankannya hingga akhir. Jalani saja dengan sepenuh hati konsekuensi pilihan Anda. Belajar untuk menerima segala risiko dan tentu saja jangan lupa : mencintai pilihan yang sudah kita ambil tanpa tergoyahkan apa pun juga.
Niscaya, semua akan berjalan baik-baik saja. Betapun, saya percaya, setia memang butuh dan perlu, ketetapan suara hati. Dan, suara hati, di bilik jantung semua manusia pada umumnya sama ; jujur, tak mengenal kata dusta! (Komunika 03/XV, Mei-Juni 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar