(Oleh Effi S Hidayat)
Bayangkan. Ketika suatu hari yang cerah Anda sedang berjalan-jalan santai, namun tiba-tiba hujan badai datang menyerbu. Anda pasti panik, buru-buru berlari mencari tempat untuk berteduh, bukan? Dan, rasanya tentu legaaa sekali begitu mendapatkan sebuah tempat yang nyaman untuk berlindung dari air hujan yang membasahi seluruh tubuh yang mendadak basah kuyup kedinginan.
Ya, begitulah kira-kira mungkin perumpamaan dari kata "teduh". Sebuah keadaan atau situasi dan kondisi yang membuat seseorang akhirnya merasa nyaman (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 1030). Terlebih pada saat ini, tepatnya di zaman di mana setiap insan dunia begitu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Masih adakah saat teduh yang begitu dirindukan di mana kita bisa tetirah mengistirahatkan sejenak - dua jenak tubuh yang lelah, dan beban pikiran yang penuh dengan tekanan pekerjaan, serta berbagai masalah yang menghadang di jalan kehidupan? Dijamin, setiap orang tentu berbeda-beda memiliki cara dan kebiasaannya masing-masing.
Ada yang senang pergi shooping ke mal. Mencari tempat hiburan dan bersenang-senang. Ada pula yang memilih menekuni hobinya ; pergi memancing ikan di laut, atau sekedar membaca buku, dan menonton film sembari mendengarkan musik favorit. Hmm, namun pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk tidak sekadar membaca buku bacaan semata, tetapi Anda lebih memilih sebuah buku tebal yang dari tahun ke tahun bercokol melintasi perabadan, yaitu...Alkitab?
Aha. Pelupuk mata kok, mendadak berat ditindih beban ribuan kati, ya? Tak beda ketika mendengarkan pastor berkhotbah panjang lebar di gereja. Membaca Alkitab ... perasaan kok, jadi mengantuk kepingin tidur? Hihihi begitulah yang saya alami. Saya tidak tahu, entah bagaimana dengan Anda?
Apakah menjadi begitu bersemangat, langsung membacanya dari halaman pertama -- bablas sukses hingga ke ending? Tidak itu saja, memori pun dengan runtun mencatat setiap bab, secara rinci dan detail hingga Anda dengan lancar kemudian bisa membacakannya kembali sebagai cerita pengantar tidur Si kecil? Tak ubahnya dengan cerita Puteri Salju, Cinderella, atau Kisah Si Bawang Merah dan Si Bawang Putih yang memikat dari masa ke masa?
Ayolah, jujur saja, bagaimana jawaban Anda? Saya akan memberikan standing applaus jika yang saya tuliskan semua di atas mendapatkan anggukan kepala Anda dengan yakin tanpa jeda. Hiks, berbeda banget, ya, dengan saya. Saya kerapkali menjadi mengantuk dan konsentrasi terpecah belah ke mana-mana, asyik mengamati sekitar dengan imajinasi yang mengembara ke mana-mana.
Apalagi jika cuaca sangat tidak mendukung, misalnya angin semilir bertiup sepoi-sepoi.... Duh, rasanya mata saya semakin sipit saja diganduli Si Angin. Oi, ngantuk tenan! Mungkin karena itu, saya lalu mencoba menyiasatinya dengan cara tersendiri. Metodenya sih, lumayan kuno. Sst, kepingin tahu tidak?
Sini saya bisikkan ke telinga Anda. Ha, tak istimewa sebetulnya, jika saya katakan saya hanya mencari waktu khusus dan menyesuaikannya sedemikian rupa dengan jam biologis merem meleknya saya! Hahaha. Mengapa Anda terperangah? Atau, malah mengumpat, mengatakan bahwa saya tidak kreatif ?
Ya, terserahlah. Yang jelas, berhubung saya cukup beruntung termasuk spesies "manusia pagi" (itu sekarang, sebelumnya saya juga pernah sangat malas bangun pagi karena lebih memilih menjadi kalong, itu lho, kelelawar yang hobinya bergadang), maka sah-sah saja jika saya merasa mood saya paling membara tatkala pagi hari, eh, dini hari malah.
Menantikan ayam berkokok ria, memandu sang matahari terbit di ufuk timur, itulah saat-saat teduh yang paling teduh bagi saya. Setelah ngulet bersama-sama dengan para anjing dan kucing peliharaan saya, ritual pagi pun dimulai dengan rutinitas yang kira-kira tak berbeda.
Duduk manis, anteng, tenang -- bagaikan anak bayi yang innocent. Lima sampai sepuluh menit-lah paling lama berlalu, dan itu sudah cukup bagi saya untuk menyapa semesta, bercakap-cakap hening dengan batin saya. Orang bilang, kerennya mungkin : meditasi, yoga, atau entah apa lagi. Tapi, saya lebih senang menggunakan istilah 'menyapa semesta'. Yeah, say hello pagiiii....
Tetapi, saya benar-benar sungguh berusaha mengosongkan pikiran saya yang biasanya lalu lalang hiperaktif memikirkan sesuatu. Saat itu pula dengan tegas saya memerintahkan,"Stop! Berhenti!" Persis sama ketika saya menekan remote control yang bertuliskan pause. Begitulah. Dunia seolah berhenti saat mata saya terpejam menyapa semesta. Rasanya? Nyaman dan teduh sekali.
Setelah itu barulah saya mengambil sebuah buku tebal (coba tebak judulnya ?) dan membuka halamannya secara acak. Mencari sebuah ayat yang entah mengapa tampaknya selalu saja "klop" alias mengena bagi diri saya, menjadi semacam pemandu untuk menjalani seluruh hari baru.
Hais, kelihatannya saya lumayan rajin membaca kitab suci? Sayang sekali, dengan malu hati saya harus dengan jujur mengakui, kerapkali adaaaa saja rintangan yang menghalangi saya untuk lebih fokus dan akhirnya memilih berbagai kegiatan lain yang (kelihatannya) lebih menarik.
Membakar dupa wangi aroma Lavender yang saya suka, menyetel musik, memberi makan ikan dan kura-kura, atau sekadar membelai lalu buntut-buntutnya bermain dengana hewan-hewan peliharaan saya, sebelum memandikan tanaman di kebun, dan mengecek email yang masuk, atau mulai menari-narikan jemari saya di atas keyboard komputer, alias menulis. Lalu, setelah itu bersiap-siap deh, mengayun pedal sepeda untuk berolahraga pagi.
Halah, pagi-pagi saja sudah sibuk sekali, ya? Apalagi saya tidak boleh lupa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak saya ke sekolah, termasuk memikirkan menu apa yang harus dihidangkan untuk keluarga pada hari itu. Nah!
Jujur saja, saya 'jatuh bangun', lho, mencoba menyatukan langkah -- mencari-cari saat teduh bersama-Nya. Sungguh proses yang tidak main-main, karena langkah saya yang terseret terseok-seok. Hanya saja, ya, kalau dipikir-pikir, saya dan juga Anda ini manusia yang beruntung karena Dia Yang Maharahim sama sekali tidak "jaim"(jaga image, red.) bermain-main birokrasi sehingga kita harus repot bikin janji segala.
Itu persis sama dengan kebiasaan para pejabat, selebritis kebanyakan. Jika ingin bertemu mereka, kita perlu pontang-panting nguber bikin appointment. Ibaratnya harus rela antre jika ingin berkonsultasi dengan seorang dokter bertangan dingin yang jumlah pasiennya berjibun. Namun tokh, Bapa kita di Surga tidak seperti itu, bukan?
Dia sungguh baik dan penyayang, tulus hati melayani kita semua tanpa harus ribet dengan segala aturan protokoler. Walaupun anehnya, justru sudah segitu baik hatinya Dia menyediakan waktu untuk kita, eh, ndilala kok, malah kita yang sombong enggan menyapa....
Sehingga lambat laun akhirnya saya menyadari bahwa urusan menyapa semesta, bersyukur dan berserah diri dalam hening demi berdampingan dengan Sang Maha, tepatnya menyediakan saat teduh mencurahkan segenap isi hati kepada-Nya dalam duka dan bahagia itulah, merupakan prioritas utama yang tak bisa diganggu gugat saat saya mengawali hari. Dan, saya sungguh berterima kasih bahwa saya dapat datang kepada Dia anytime alias kapan saja.
Dia akan selalu mendengarkan dan memedulikan . Even, pemahaman saya tentang Alkitab itu sendiri masih sangat compang-camping. Toh, di tengah hiruk-pikuk keduniawian yang kita semua alami sehari-hari memang sangat tidak mudah untuk berdiam diri. Hanya sendirian bersama Allah, mencoba konsisten untuk menggabungkan doa dan meresapi firman-Nya.
Saya baru ngeh, mendengarkan suara Tuhan itu bukan main sulit. Ya, dalam dialog komunikasi sehari-hari saja kebanyakan dari kita semua sangat sulit bukan untuk bersedia hanya 'mendengarkan'? Pikiran yang mengembara ke mana-mana repot kita hentikan jika tidak berusaha untuk fokus secara tulus. Lebih mudah untuk buka mulut berbicara daripada mendengarkan.
Tentu, sampai hari ini pun situasi seperti itu masih saja saya alami. Saya masih harus banyak belajar untuk mencoba mendengarkan suara Tuhan. Saya masih saja berusaha keras hingga detik ini, agar bisa lebih mampu untuk hening dan menjadi sedikit lebih pintar memahami dalam membaca 'surat cinta' yang tersemat di dalam Alkitab. Begitu banyak puisi indah yang perlu saya telaah dan pahami lebih baik lagi. Tidak hanya dengan nalar semata, tapi terutama dengan hati nurani saya.
Begitulah proses saat teduh yang saya alami, berkatakese secara pribadi demi mengenal Dia lewat firman-Nya tak akan pernah ada habisnya dalam waktu 365 hari saja. Refleksi yang dalam atas semua peristiwa melalui iman kita sebagai manusia yang 'jatuh bangun' sungguh merupakan suatu tantangan besar di dalam keluarga.
Saya yakin sekali, tumbuh kembang cinta kasih sejati selalu bermula dari dalam diri kita sendiri dahulu sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, dan selanjutnya ; yaitu keluarga, dan masyarakat sekitar. Ya, saat teduh akan benar-benar teduh jika kesadaran diri paling hakiki dari setiap insan mau benar-benar berserah setulus hati mendengarkan Dia di dalam keheningan semesta.
Nah, kapan saat yang paling tepat? Di waktu pagi buta seperti yang saya lakukan? Atau di saat rehat karena mata terlalu penat memelototi layar komputer? Saya kira Anda sendiri-lah yang paling tahu jawabannya. Ayo, rancang segera manajemen waktu Anda untuk berbincang-bincang dengan Dia. Tunggu apa lagi? (Komunika 04/XIII Juli - Agustus 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar