Halaman

Jumat, 24 Maret 2017

Meditasi Sehari-hari

(Oleh Effi S Hidayat)

Mendengar kata "meditasi" akan segera terbayang di benak ; profil seorang pertapa religius di biara-biara yang kesehariannya jauh dari ingar-bingar kebisingan, larut dalam senyap dan keheningan. Pendek kata, 'orang suci' yang tidak biasa-lah, berbeda dengan manusia pada umumnya. Terlebih jika dikaitkan dengan embel-embel kata "kristiani" di belakang kata meditasi ini : "meditasi kristiani", wah, bertambah-tambah wibawa moralitasnya! 

Padahal menurut saya, sih, tidak seseram itu. Walaupun meditasi itu sendiri jika ditilik dari etimologi katanya, yaitu : meditare (latin), bermakna sebagai kegiatan pikiran yang berfokus mengheningkan diri dalam rangka mencari solusi ketenangan batin, memperbaiki diri yang berkaitan dengan sikap atau prilaku bahkan fase-fase kehidupan.

Dan, ada berbagai cara bersemadi yang dianjurkan. Entah dengan merapal mantra atau ayat-ayat suci, dan duduk diam di suatu tempat sunyi, tenang, dalam jangka waktu tertentu. Mungkin itu sebabnya orang berbondong-bondong pergi ke negeri timur seperti India, Nepal, biara-biara di puncak pegunungan Himalaya yang jauuuuh dari peradaban dunia.

Hmm, seharusnya-kah demikian? Wong, ndak perlu jauh-jauh kok. Ada banyak tempat hening dan indah di negeri kita sendiri. Sebut saja di antaranya adalah Gedono di Salatiga, Jawa Tengah. Biara dari ordo Trappist yang bangunannya khusus dirancang oleh budayawan sekaligus rohaniwan dan arsitek, Romo Mangunwijaya ini sangat menunjang untuk hidup membiara dan melakukan kontemplasi yang super hening.

Namun sejujurnya ingin saya katakan, bahwa sesungguhnya kita tidak-lah perlu harus bersusah payah untuk pergi ke ujung dunia sekali pun hanya untuk mencari-cari ketenangan hati. Tidak butuh ongkos yang mahal dan segala tetek bengek persiapan dilakukan, seperti harus browsing informasi dan reservasi tiket, tempat penginapan segala. Cukup dengan menenangkan diri, relaksasi ; fokus pada pikiran dan setiap detik helaan napas yang keluar dari rongga dada kita.

Ya, sah-sah saja sebetulnya jika Anda kepingin mencari tempat sepi dan sunyi, lalu duduk tenang sendiri, atau secara bersama-sama komunitas religius melakukan meditasi kristiani, atau entah apa pun itu namanya. Toh, hakekatnya hanya-lah sebagai sarana penunjang yang diyakini akan semakin memperdalam aktivitas semadi atau meditasi yang Anda lakukan.

Jika kesemuanya Anda yakini baik, mengapa tidak? Hanya berdasarkan yang saya alami, rasane kok, sesungguhnya referensi meditasi yang paling manjur itu tak lain tak bukan adalah pengalaman kita sendiri. Berdasarkan stok pengalaman hidup yang kita amankan datanya di benak selama ini, selaiknya kita dapat merenungkan sedemikian rupa secara pribadi, sebelum merefleksikannya kembali ke dalam lakon hidup yang kita jalani.

Hmm, boleh,ya, jika saya sebut atau namakan saja aktivitas yang satu ini sebagai "meditasi sehari-hari"?  Mungkin itu sebabnya selain rutin melakukan saat teduh setiap pagi, cukup 5-10 menit sebelum melakukan aktivitas, saya pun melangkah ke 'luar'. Tidak selalu terpaku kepada berbagai aturan di dalam melakukan meditasi yang dikatakan secara praktik sebagaimana mestinya.

Ya, boleh dikatakan, pegangan saya hanya-lah landasan iman. Di mana kita masuk ke dalam diri, meluncur kepada kesadaran diri yang paling dalam, yaitu kesadaran hakiki seorang manusia. Demikianlah seturut pemikiran saya yang teramat sederhana.

Lalu, apa yang kemudian saya lakukan di dalam meditasi sehari-hari ini? Tak banyak metode atau teori yang saya praktikkan, karena saya lebih banyak melakukannya secara spontanitas dan alamiah sesuai dengan pola pikir, situasi dan kondisi saya pada saat itu juga. Misalnya, ketika saya melakukan kegiatan berkebun. Saat membongkar-bongkar tanah, membersihkan rumput dan tanaman liar, lalu memupukinya kembali, itu adalah saatnya saya melakukan kontemplasi!

Cukup dengan membayangkannya, serupa dengan saat saya mencoba membuang segala keresahan atau pemikiran-pemikiran kotor saya yang tidak berguna, dan mengisinya kembali dengan sebuah kesadaran baru. 'Berbicara' dengan tanaman, itu sudah merupakan charger baru yang memberikan energi berlebih dan positif. Karena bentuk dari pepohonan, udara segar, alam bebas sebenarnya merupakan healing vibration yang amat bermanfaat.

Termasuk, ketika 'bercakap-cakap' dengan hewan, alam semesta (hanya lewat desiran angin atau rintik hujan, contohnya), sebaris kalimat bermakna dalam dari sebuah buku yang kebetulan saya baca, atau lagu yang menyentuh di film musikal yang sedang saya tonton -- semua itu menjadi unsur penting yang saling mendukung dalam melakukan meditasi sehari-hari.

Tentu saja, saya tidak terlepas dari sesama manusia itu sendiri. Ketika melakukan dialog, tidak selalu lewat bahasa dan kata saja. Prilaku dan body language , berusaha saya tangkap melalui kelima panca indra yang saya miliki.

Saya berusaha menyelaraskan hati dan pikiran ; seimbang dengan daya tangkap pendengaran, penglihatan, bahkan segala bentuk bau dan rasa, yang dikembalikan ke dalam bentuk "wujud syukur" secara utuh dan penuh. Mungkin karena itu kita lebih nyaman bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman handai taulan yang memiliki 'hawa sejuk' , ya?

Tidak mudah pada awalnya memang. Karena bisa saja, saat menyetrika (saya senang menyetrika! hehe), dan kegiatan meditatif yang seiring saya lakukan, membuat saya tersengat panas secara tiba-tiba! Ah, begitulah. Sedemikian dalamnya saya 'masuk' ke dalam helaan napas yang saya embuskan spontan. Eh, apakah hal ini tidak serupa dengan ... melamun?

Oh, tidak! saya harus tegas mengatakan, sama sekali bukan day dreaming ! Lebih tepatnya, mungkin saya hanya sedikit 'terpeleset' karena maklum saja untuk melakukan kontemplasi perlu pembelajaran yang konsisten sekaligus fokus.

Sejalan dengan waktu, seperti saya, Anda kelak pasti akan mampu membedakan setelah mencoba mempraktikkannya sendiri. Toh, mencoba masuk ke dalam diri secara seutuhnya, sebenarnya sangat tidak mudah. Perlu kejujuran melepaskan semua topeng yang kita kenakan, menghadapi dengan gagah kelemahan dan kekurangan diri, alih-alih lari kepada masa lalu, lalu menyangkal diri melakukan pembenaran. Frekuensi getaran alam, bencana, perubahan cuaca, bisa jadi akan sangat memengaruhi mood kita. 

Pada akhirnya saya hanya mau bilang, berprilaku meditatif itu tidak selalu harus dengan bermeditasi. Prilaku meditatif bisa bermakna 'lebih', artinya : kontemplatif, instospektif, mawas diri, eling, waspada, sabar, dan senantiasa penuh rasa syukur.

Nah, semakin jago Anda melakoni semua unsur itu, belajar merasakan sepenuhnya bagaimana menjadi human being sejati, semakin selamat-lah bumi kita ini, termasuk segenap makhluk hidup di dalamnya. Prinsipnya, kita dapat bermeditasi kapan saja, di mana saja, bahkan tatkala sedang melakukan apa saja. Kuncinya hanya membiasakan diri fokus kepada napas dan hadir sepenuhnya, saat ini juga! (Komunika 06/XIV, November-Desember 2014).      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar