Halaman

Sabtu, 11 Maret 2017

Sweet Revenge

(Oleh Effi S Hidayat)

Di tengah berbagai provokasi kebencian yang kini begitu mudah disebarkan lewat berbagai cara, mengapa kita tidak mencoba menjadikan kebencian itu menjadi sesuatu yang bermanfaat sekaligus indah?


Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang selalu bercerita tentang dendam kesumatnya dari waktu ke waktu? Ibarat pita kaset zaman baheula, mungkin sudah soak akibat terlalu sering diputar bolak-balik dengan lagu yang itu-itu lagi.


Ya, saya punya seorang teman yang seperti itu. Pertanyaan saya cuma satu,"Kok, tidak lelah, ya, mendendam dan membenci seseorang atau sesuatu?" Setelah sekian lama, akhirnya dengan tegas saya katakan, "Maaf, saya bosan dengan ceritamu. Sama sekali tak ada harapan untuk menarikmu dari kubangan dendam yang kau gali sendiri. Orang yang kau limpahi dendam mungkin malah enak-enak tidur pulas dan tak peduli kau sumpah serapahi. Bukankah kamu sendiri yang rugi?"

Bagi kebanyakan orang, biasanya rasa marah dan dendam hanya bercokol sebentar di hati, lalu hilang sendiri terbilas oleh waktu. Karena tubuh secara otomatis akan melindungi diri dari berbagai rasa tak enak --marah dan dendam di antaranya, antara lain dengan menciptakan ingatan yang terbuang, alias... lupa!

Tapi mungkin memang ada sebagian orang yang memiliki kemampuan khusus untuk menyimpan dendam dan terus mengipasinya sepanjang waktu, sehingga sang dendam dan kebencian itu terus membara. Sayangnya, belakangan ini seiring dengan maraknya media sosial dan era keterbukaan di negeri ini, tampaknya justru yang terakhir inilah yang tampil lebih nyata.

Kita tentu masih ingat yang terjadi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, ketika para pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo terpecah-belah menjadi dua kubu yang bermusuhan dan saling melontarkan fitnah kebencian terhadap satu sama lain.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa membenci adalah sesuatu yang manusiawi alias normal pada manusia, di belahan mana pun dan di zaman apa pun. Namun bagi saya, membenci (sesuatu atau seseorang), apalagi sampai menjadi dendam kesumat adalah sesuatu hal yang serius. Bayangkan, dendam yang berurat-akar itu ternyata bisa juga diwariskan sebagai 'penyakit turunan', bahkan bisa dibawa sampai ke... liang lahat!

Saya merasa sangat miris saat melihat di televisi, sejumlah anak-anak masih di bawah umur diajak berdemo di depan Gedung DPRD DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Tak lain hanya demi memenuhi kuota 'sejuta umat' untuk kepentingan : melengserkan seorang Ahok sebagai Gubernur Jakarta.

Lebih celaka lagi, para orangtua sengaja membiarkan anak-anak kecil ini berdemo hanya untuk mengejar sejumlah uang dan sebungkus nasi. Mereka tidak sadar bahwa hal itu sama saja dengan mengajarkan kepada generasi muda untuk saling menebar kebencian sesama umat manusia. Anak-anak kecil itu ikut sibuk menggotong-gotong papan bertuliskan "Orang Muda Islam Tolak Ahok!"

Winda, seorang teman, bercerita bahwa puterinya, Nanda, usia dua tahun, dan sedang bermain luncuran di taman, tiba-tiba didatangi seorang anak perempuan berkerudung, yang kemudian mendorong Nanda sembari berteriak, "Kamu masuk neraka! Kamu masuk neraka!"

Hanya karena Nanda saat itu mengenakan busana tak berlengan dan tentu saja tanpa kerudung. "Bayangkan, anak sekecil itu berani bilang anakku bakal masuk neraka! Siapa sih, yang ngajarin?" ungkap Winda, yang juga muslim, kesal.

Kembali ke urusan dendam personal, seorang teman pernah melempar tanya di facebook," Kalau kamu punya tetangga super nyinyir dan suka ikut campur urusan orang lain, enaknya diapain, ya?" Tanggapan yang masuk beraneka-ragam. Mulai dari "dimutilasi", "disantet", "didiamkan", hingga "didoakan" saja.

Lalu, apa tanggapan saya? "Kirimi dia makanan, ajak ngobrol. Lama-lama dijamin ; hatinya bakalan lumer dan akhirnya jadi malu hati sendiri karena ternyata orang yang dibencinya malah bersikap begitu baik kepadanya!"

Saya tidak pernah lupa amanat almarhumah ibu saya," Semakin seseorang membencimu, maka justru semakin berbaik-hatilah kamu kepadanya."  Mantra itu pernah saya praktikkan sendiri dan ... berhasil! Namun, kalau tak mampu berbuat semulia itu, ada lho, cara lain untuk membalaskan dendam tanpa harus membuat hati kita berkarat karena dipoles rasa benci.

Contohnya kisah seorang isteri yang pernah dihina mati-matian oleh suaminya sendiri karena dianggap tak becus memasak di dapur. Setelah akhirnya bercerai, ia belajar memasak secara serius dan akhirnya malah sukses di bisnis resto berkat kepiawaiannya membuat pastry! Sungguh sebuah sweet revenge, bukan?

Ya, mengapa tidak menjadikan kebencian sebagai sesuatu yang bermanfaat, membawa dampak positif, dan sekaligus... indah? Sweet revenge adalah sebuah balas dendam yang cerdas! (Jeda Pesona No.05/XIII, Mei 2015).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar