Halaman

Jumat, 10 Maret 2017

Banjir

(Oleh Effi S Hidayat)

Namanya juga kota dataran rendah yang dikelilingi 13 sungai, maklum saja bila nyaris lima tahunan sekali terjadi banjir besar di Jakarta. Itu kali pertama saya alami di zaman kuliah, tahun 1992, saat saya menumpang tinggal di rumah Tante di bilangan Jakarta Barat. Melihat air menyerbu masuk rumah... wuah, paniknya setengah mati!

Semua barang yang berhasil diungsikan tumplek-blek di kamar saya di lantai dua. Semua penghuni rumah : Oom, Tante, ketiga orang anak mereka, plus saya tentunya, berdesakan tidur di kamar itu. Saat tiba waktu makan, kami pesan mie dan nasi goreng dari pedagang keliling (untung mereka tidak libur) di jalan depan rumah yang lokasinya beruntung lumayan strategis. Pesanan makanan dikerek ke atas loteng dengan ... ember dan tali. Euy, seru sekali!

Tiga hari tiga malam ngendon di loteng dan makan dengan menu yang sama, membuat saya memutuskan untuk pindah dan kos di sebuah kamar yang terletak di lantai dua di kawasan Grogol. Eh, siapa mengira daerah itu pun tak berbeda ; pelanggan banjir yang setia. Maka, lagi-lagi di tahun 1997, saya terendam banjir. Hanya saja kali ini, saya rada enjoy menikmatinya.

Lho? Iyaaa, maklum saja baru punya pacar, sehingga kisah kebanjiran kali ini menjadi kenangan manis. Nonton di bioskop Roxy, hayoo! Naik bajaj pun jadi! Bahkan ketika pulangnya tak dapat kendaraan pun, tidak apa-apa. Boro-boro nelongso,'berpayung-ria' di tengah banjir, serasa tak ingin airnya surut. Halah!

Banjir terasa menggenaskan ketika saya sempat tinggal di kawasan Teluk Gong, Jakarta Utara. Nah, kali ini parah! Banjir di lokasi yang satu ini memang tidak 'pilih-pilih bulu'. Akibat derasnya air yang tidak terduga datangnya, semua koleksi buku, foto, kumpulan kliping dan majalah yang memuat karya saya ( bahkan ini yang paling sedih : skripsi), hasil perjuangan di kampus selama lima tahun, terbawa banjir!

Tamat sudah seluruh perjalanan kisah kemahasiswaan saya. Semua memori selama kuliah lenyap tertelan banjir. Ironisnya, kumpulan surat cinta, kartu-kartu manis, dan lukisan-lukisan ciamik dari seseorang yang pernah dekat sekali di hati, satu pun tak ada yang terselamatkan. Kalau ada penyesalan yang paling dalam, ya, saat itulah. Yang namanya memori, kapan pun tak akan bisa terulang.

Banjir tahun 2007 tidak kalah seru. Seorang teman terpaksa mengungsi ke hotel seusai acara kremasi jenazah ibunya. Teman saya mengaku jujur, hatinya sempat ketar-ketir  tatkala menabur abu sang ibunda di Marunda. Angin bertiup sangat kencang, sehingga ombak menggoyang-goyang perahu kecil yang ditumpangi, belum lagi lautan air di mana-mana. Hanya kepercayaan kepada-Nya saja yang membuat dia kekeuh setia mengantarkan sang ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Menggenaskan, tetapi juga ada hikmahnya. Tante saya yang tinggal di kawasan Kelapa Gading sebaliknya  mengaku menjadi lebih teringat Sang Maha. Lima hari menjadi tawanan rumah (sendiri). Semua makanan busuk di dalam kulkas, tak bisa dimakan (PLN,'kan mematikan lampu), hingga harus menggedor rumah tetangga yang beruntung masih buka toko sembako (wis, hebat sekali ya, jiwa bisnisnya?).

Tak apa harga melonjak naik. Demi mengisi perut, demi ke luar dari lokasi banjir pun nilai nominal bukanlah hitungan. Anak seorang Tante saya, misalnya, rela lho,  menyewa mobil dengan merogoh kocek ratusan ribu rupiah. Ya, walau kali ini banjir tak saya alami secara langsung, saya sempat juga ngubek-ngubek  air yang melewati 'mata kaki', tepatnya  sedengkul, di kawasan Karang Anyar, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Apa pasal? Jumat pagi itu saya kudu harus menjemput seorang teman dengan tujuan melayat. Tetapi karena mobil tak bisa masuk, saya terpaksa menggulung celana panjang yang saya kenakan, sampai ke tempat tujuan. Ternyata, brrrr... hujan turun terus menerus tanpa henti dari pagi sampai malam!

Puji Tuhan, saya selamat tiba di rumah, walau sepanjang perjalanan hati saya kebat-kebit dan bibir hampir jontor merapal doa. Serpong, kawasan hunian tempat tinggal saya, aman terhindar dari banjir. Tetapi saya tidak tahu pasti, apakah nasibnya kelak akan sama seperti Jakarta, dan daerah-daerah lainnya yang saat ini ramai-ramai bergiliran dikepung banjir?

Kan, sederet kawasan hijau (yang dulu bikin saya jatuh hati pada daerah ini) sudah banyak berubah menjadi mal dan real estate? Ah, tetapi paling tidak saya masih menghibur diri dengan iming-iming sales marketing yang dahulu mengatakan dengan sangat yakin, 'kalau Serpong banjir mah, Jakarta tenggelam atuh'! (Gado-gado femina No 26/XXXIIII, 27 Oktober- 2 November 2005).   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar