(Oleh Effi S Hidayat)
Melek di pagi hari awal tahun yang baru, biasanya hati berbunga-bunga penuh semangat bahkan mungkin benak Anda ngepul menggebu-gebu sejak akhir tahun. Penuh rencana resolusi, bla-bla-bla...sembari menyulut kembang api dan memandang pendaran sinarnya yang pecah berhamburan di langit malam, segudang doa diembuskan.
Biasanya sih, begitu bukan? Berharap tubuh menjadi lebih sehat, pekerjaan dan karir lebih cemerlang, rezeki lebih meluber, keluarga rukun dan damai, pokoknya hidup menjadi lebih mudah dan bahagia. Demikianlah beraneka ragam keinginan manusia secara garis besarnya.
Namun di balik itu, tidak bisa disangkal pula, masih banyak dari kita yang tidak mampu move on, alias hang -- blank, diam di tempat. Maju kena, mundur kena. Merasa takut dan tu-la-lit pada bayang-bayang masa lalu yang setia menghantui.
Akibatnya tentu mudah diterka, yang lain-lain mungkin sudah berkelana ke mana-mana, ngacir sampai ke bulan menggapai bintang, eh, Si pemeluk masa lalu masih saja enggan melepas cangkangnya. Bahkan saking merasa tidak berdaya, boro-boro punya energi lebih, ia malah merasa lebih aman adem ayem tiduuur saja, melingkar bergelung bak ular raksasa anaconda yang kekenyangan usai mencaplok seekor ayam bahenol.
Hmm, padahal kalau mau ditelisik secara jujur, lebih tepatnya pikiran negatifnya sendiri-lah yang erat membelenggu, mengungkung diri. Prediksi akhirnya memang menjadi seperti ini : apatis ! Dan, resolusi berlembar-lembar itu pun bisa ditebak hanya lalu lalang di benak, sebatas keinginan tanpa pernah terwujudkan, sehingga kemudian menguap menghilang begitu saja.
Duh, sebenarnya siapa sih, orang yang tidak mau sukses dan bergairah menjalani hari-harinya ke depan? Sepuluh orang yang ditanya, sepuluh jari pasti mengacung menyetujui. Hanya masalahnya kehidupan yang dimiliki seseorang tentu saja tidak sama alias berbeda-beda.
Kalau semua jalan mulus tidak belentang-belentong bopeng, karut marut tidak karuan, tentu tak akan bermunculan para motivator yang mencoba senantiasa menggebrak semangat Anda untuk bangkit berdiri. Itu lho, sebut saja nama-nama seperti : Mario Teguh, Andri Wongso, Billy Boen -- semuanya dijamin tidak akan laku lagi jumpalitan berkoar-koar menyelipkan jutaan quotes via facebook, twitter, media sosial lainnya.
Sehingga akhirnya ada saja yang protes, "Hidup ini, 'kan tidak semudah kata-kata dan teori semata? Enak saja, yang miskin dan merana tak punya uang, saku bolong kosong melompong, merindukan pekerjaan mapan yang berkualitas, dan kekasih hati idaman yang super tulus,'kan ane, bukannya ente?"
Nah! That is true! Tuh, die! (Orang Betawi bilang). Di sinilah akar rumput permasalahannya. Seberapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya "manusia", mampu berempati lebih kepada sesamanya?
Tidak sekadar empati malah, saya katakan saja dengan tegas ; langsung bertindak merangkul, menolong dengan tulus ikhlas tanpa melihat seseorang itu siapa (apakah dia baik atau jahat, patut ditolong atau tidak, dan seabrek label lainnya)? Di kota besar seperti Jakarta, laris manis para psikolog, psikiater dan kini marak pula profesi hipnoterapis.
Tentu saja mereka akan siap memberikan bala bantuan mencari solusi bagi permasalahan Anda. Tapi jangan lupa, jika mereka punya tarif khusus. Orang bilang,"Ada uang, problem terpecahkan". Masalahnya, tak semua orang punya duit lebih untuk berobat mental yang dijamin menguras kocek.
Padahal, kalau saja kita sebagai pribadi masing-masing lebih mau bercermin, setiap manusia dibekali Sang Pencipta solusi tersendiri. Yakin saja pada hati nurani Anda dan Kristus juru selamat kita. Ada ayat ampuh 'kunci' dari masalah ,"Percobaan-percobaan yang kamu alami ialah percobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia" (1 Korintus 10:13).
Dia pasti akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Nah, ada rambu-rambu berbekal keimanan Ilahi yang siap menjadi tameng paling ampuh bagi diri. Asal saja kita mau sincere, pasrah dan percaya sepenuh hati kepada-Nya, terkadang "melepaskan" itu jauh lebih meringankan batin daripada berkutat kekeuh keras kepala mai-matian "menggenggam".
Bagaimana cara paling taktis menjalani hari-hari se-ringan bulu ? Tentu saja mengobral omongan dan janji itu selalu lebih mudah daripada menjalaninya. Sebagai manusia, saya sendiri tiada terlepas dari belitan masalah, entah pekerjaan atau keluarga, dan lainnya.
Namun, saya berusaha mandiri mengatasinya, dan senantiasa belajar mengawali ragam rasa dan emosi jiwa itu dengan mencoba untuk tetap mengucap syukur. Saya percaya betul segala yang terjadi adalah kehendak-Nya, seturut rencana-Nya, dan itu baik adanya. Maka jadilah saya mencoba setiap hari untuk... 'merayakan kehidupan'. Mulai dari bangun tidur, berkomitmen dan berdisiplin mencari-cari (lebih tepat mungkin : mengais-ngais!) apa-apaaaa saja yang mampu membuat saya mensyukuri sepanjang hari itu.
Diawali dengan hal-hal kecil yang kelihatannya remeh-temeh, namun begitu banyak sebetulnya 'permata-permata' bertebaran di sekeliling tanpa kita sadari. Ya, tidak hanya sekadar mengucap syukur jika baru kecipratan rezeki, misalnya. Karena saya selalu percaya,"bahagia itu sederhana", kok.
Pada hari-hari bertebaran hujan seperti ini, menyesap secangkir teh atau kopi susu hangat, sembari lagi-lagi terpesona jatuh cinta pada sekuntum kuncup mawar yang merekah indah, atau mendengarkan nyanyi burung merambat di udara seiring basahnya telapak kaki terkena embun di rerumputan, bagi saya sudah merupakan berkat yang luar biasa.
Atau, sekali-sekali-lah Anda menengadah ke langit luas lepas. Ada begitu banyak karya agung Sang Pencipta. Berwarna-warni biru, putih, jingga keemasan. Perasaan pun jadi adem dan nyaman mendapati seekor naga, elang, atau anak kelinci (?) yang sedang bermain-main di angkasa raya sana. Keindahan lukisan maestro yang tiada tara!
Tatkala antre di bank atau supermarket pun, celoteh tawa Si kecil yang bercanda dengan ibunya, tepat di samping kita sangat memungkinkan untuk menjadi pengobat jenuh. Terlebih, ketika hadir seseorang yang tidak usah-lah terlampau tampan atau cantik, melempar senyum ramahnya kepada Anda. Atau bayangkan ini: semangkuk sayur asam pedas mengepul hangat yang tiba-tiba dikirimkan seorang tetangga yang baik hati ke rumah Anda di kala hujan turun deras. Dan, seterusnya. Dan, seterusnya....
Aha, bukankah sebenarnya begitu berjibun berkat yang senantiasa kita terima setiap harinya? Saya sendiri setelah penat bekerja keluyuran seharian di luar rumah, begitu tiba di halaman depan, disambut mesra salak salam Si doggie berlarian hepi tak terkira mengibaskan ekor menyambut kepulangan saya saja... huaa, itu rasanya sudah 'surga' lho, buat saya!
Belum lagi jika dibandingkan dengan betapa besarnya anugerah makna keluarga bagi kita. Memiliki anak dan melahirkannya sejak berupa embrio di rahim, tumbuh membesar menjadi janin, hingga sembilan bulan dalam kandungan, adalah sebuah perayaan kehidupan lainnya. Jadi, mengapa harus mengabaikan dan menyia-nyiakannya?
Ssst, sini deh, saya bagikan sedikit rahasia kecil saya. Biasanya nih, agar kesan memori sehari-hari yang menyenangkan itu bertahan lama, saya membiasakan diri untuk membuat semacam jurnal syukur harian. Simple saja ; sehari-hari yang menyenangkan dan membahagiakan, yang membuat saya mampu selalu bersyukur, saya pindahkan dan catat semuanya di dalam sebuah buku yang saya beri judul khusus "Jurnal Syukur".
Tidak perlu panjang lebar, singkat saja. Tetapi, paling tidak bagi saya pribadi, sekali lagi saya katakan, itu adalah semacam... perayaan kehidupan. Dengan menuliskan lalu membacanya ulang, kapan pun saya mau, beban di pikiran saya menguap hilang.
Anda boleh mencobanya sendiri. Tidak sulit, kok. Akan lain aroma dan rasanya jika Anda menuliskan kebalikannya, misalnya tentang hal-hal menjengkelkan atau menyakitkan hati. Saat membaca ulang, perasaan Anda niscaya akan menjadi tertekan, mengingat kembali masa-masa sedih, luka, dan duka.
Mirip seorang anak kecil yang diberi permen gulali dan obat yang pahit rasanya ! Nah, manakah yang akan Anda pilih? Selamat Tahun Baru 2015. Sila memulai dan mengawali Jurnal Syukur Anda yang sederhana namun spesial. Mari rayakan kehidupan! (Komunika 01/XV, Januari-Februari 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar