(Oleh Effi S Hidayat)
Setiap bulan Desember tiba, entah mengapa suasana hati saya selalu menjadi "biru" lebih daripada biasanya. Saya setuju sekali tuh, jika ada judul lagu, sinetron, cerita pendek, atau apa pun itu yang mengatakan bahwa Desember itu biru, alias Desember Biru.
Ya, mungkin karena siatuasi dan kondisi juga menunjang. Selain cuaca begitu mudah berubah-ubah, dari panas menyengat lalu gelap mendung, dan tiba-tiba turun hujan, petir menyambar menggelegar -- udara kering dan lembap pun menjadi begitu dingin.
Apalagi jika sedang berada di luar Indonesia, warna putih bertebaran di mana-mana, karena salju mulai turun. Dan, etalase toko serta mal-mal pun menjadi lebih meriah sumringah. Lagu Natal semarak diperdengarkan di mana-mana, sungguh serasi sejuta padu warna merah dan hijau menyegarkan pandangan mata dan hati.
Makanya, apakah terlihat lebay jika saya menyatakan terus terang bahwa hati saya pun menjadi blue, se-blue-blue-nya. Walaupun faktor utama yang sebenarnya adalah hanya karena saya teringat pada sosok seorang perempuan yang saya panggil : Ibu? Ya, sederhana sekali sebetulnya. Saya terkenang dan selalu lebih mengenang ibu saya, perempuan yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkan saya. That's the reason.
Apakah saya hanya mengenangnya pada bulan Desember? Oh, tentu saja tidak! Tidak ada batas waktu tertentu di benak dan hati saya untuk selalu dekat kepadanya bahkan jika jumlah bulan lebih dari dua belas, sayas selalu teringat kepadanya lebih daripada itu.
Lalu, mengapa bulan Desember menjadi lebih biru bagi saya, dan saya mengenangnya lebih 'kental' dari biasanya? Mungkin karena 5 Desember adalah hari kelahiran ibu saya, yang biasanya menjadi hari istimewa di mana saya bisa memanjakannya.
Dan tak hanya itu, 22 Desember juga merupakan "Hari Ibu" yang biasa diperingati di Indonesia. Walaupun sebenarnya 22 Desember lebih sebagai peringatan hari kebangkitan kaum perempuan di Indonesia, mengenang sosok Dewi Sartika sebagai perempuan yang berjasa bagi kebangkitan kaum perempuan.
Ya, walau sebenarnya tak ada keharusan untuk memeringatinya, namun bagi saya pribadi, selain mengenang keseluruhan peristiwa itu, Desember merupakan bulan terakhir penutup tahun. Momen paling tepat untuk merenungkan kembali apa-apa yang telah kita perbuat, dan dapatkan setahun penuh sepanjang 2012 ke belakang.
Tak terasa cepat sekali, ya, waktu berlalu? Nah, makanya sosok Ibu sebagai perempuan yang telah melahirkan saya akan lebih melenggang-lenggok di benak saya, bukan saja karena status saya -- walau sudah setua ini adalah tetap "anaknya", tetapi karena kelekatan cinta saya kepadanya.
Saya tak pernah melupakan nilai-nilai pendidikan yang sudah saya dapatkan darinya. Walau sosoknya bisa saja saya katakan sangat bersahaja, tetapi sungguh, kesabaran dan kecintaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa belum bisa saya lampaui hingga sekarang.
Perempuan yang saya panggil Ibu itu tidak pernah marah memaki-maki saya dengan kata-kata kasar, sekali pun tidak pernah.Ia juga tidak pernah terlibat pertengkaran dengan ayah saya, seingat masa kanak-kanak saya dahulu. Dia sungguh perempuan baik hati yang selalu mengatakan kepada saya bahwa "lebih baik orang yang mencubit kita, daripada diri kita yang mencubit mereka."
Duh, sampai sekarang saya masih terkagum-kagum kepada sosoknya hanya karena filosofinya yang satu ini. Saya kira, walau ia seorang muslim, tak berlebihan jika saya pun teringat kepada Yesus yang mengatakan,"Jika orang menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu."
Yang paling berkesan bagi saya sebagai puterinya memang adalah kesabaran dan kebaikan hatinya, selain kesederhanaan dan sifat pantang menyerahnya dalam bekerja. Ibu saya adalah sosok perempuan yang menganggap bahwa semua orang itu baik adanya. Sehingga ia selalu dengan mudah bergaul dan menjamu siapa pun di rumahnya tanpa pandang bulu.
Ketika sempat tinggal bersama saya karena ia harus 'berobat jalan' di RS (ia mengidap komplikasi penyakit jantung dan ginjal), ibu saya sangat dekat dengan kedua anak saya, termasuk pula teman-teman bermain mereka.
Dan, ia juga orangnya yang memanggilkan tukang las untuk memperbaiki permainan jungkat-jungkit yang patah di taman bermain dekat rumah saya. Suatu hal yang tidak terpikirkan oleh saya sendiri (dan sungguh membuat saya menjadi malu hati karenanya). Begitulah, Ibu selalu lebih memikirkan kepentingan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Karena itu, saya sungguh sedih jika akhir-akhir ini menyimak begitu banyak berita tentang maraknya seorang ibu (tiri) yang mampu membunuh anak balita asuhannya. Walau bukan anak kandung sendiri, tokh, ia tetaplah seorang ibu, bukan?
Tidak gampang lho, menyandang predikat "Ibu". Saya sendiri baru ngeh menyadari betapa bermaknanya menjadi ibu ketika sudah melakoninya. Susah payah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, dan membesarkan anak, merupakan anugerah-Nya bagi kaum perempuan yang sungguh tak ternilai.
Saya agak heran dan sama sekali tidak setuju jika justru banyak pula perempuan yang melalaikan predikatnya menjadi ibu, bahkan alih-alih menjadi rendah diri merasa tak berarti jika gelarnya hanya-lah sebagai ibu rumah tangga saja yang tugasnya katanya "hanya" merawat anak dan keluarga di rumah. Menurut saya, profesi seorang ibu adalah profesi tersulit dan paling mulia di dunia.
Jadi, 'bangun'-lah wahai para ibu. Justru di bahu-mu fondasi sebuah atmosfer baru berada. Generasi penerus bangsa yang bangga tumbuh menjadi seorang pemimpin kelak, terlahir dari rahim seorang ibu yang hebat mampu membesarkan anak-anaknya penuh cinta dan keikhlasan sejati.
Oh, Ibu, saya sungguh memujamu dengan segala kekurangan saya selama ini sebagai seorang anak, yang justru kadang baru menyadari sebegitu besar jasa Ibu ketika sosoknya sudah tak ada lagi di sisi. Ibu yang telah berpulang kerap meninggalkan banyak kenangan bagi seorang anak justru di saat ia telah tiada.
Sebagai mantan anak kecil nakal hiperaktif di waktu balita, saya sadar betul "dosa-dosa" saya terhadap Ibu. Demikian pula ketika saya tumbuh menjadi anak remaja yang keras kepala dan bahkan nekat membelot bersimpang jalan kepercayaan dengannya, saat dewasa dan akhirnya menikah.
Baru setelah berumah-tangga dan memiliki anak sendiri, tumbuh kesadaran di benak saya bagaimana seharusnya memerlakukan seorang ibu. Itu pun masih dirintangi oleh jarak tempat tinggal kami yang berjauhan. Sehingga hanya setahun sekali, saya sempat menyambanginya di saat Hari Raya Lebaran saja. Lalu, hari-hari bersamanya hanyalah terjalin lewat surat dan bertukar sapa melalui jaringan telekomunikasi telepon.
Hingga hari-hari terakhirnya, Minggu sore, 28 Oktober 2007, saya masih saja sibuk bekerja mewawancarai seorang tokoh. Saya pulang ke rumah, tak sempat bertukar sapa dengan Ibu, karena dalam tidurnya yang damai, Ibu telah pergi berpulang untuk selamanya. Meninggalkan penyesalan mendalam yang sungguh tak dapat saya tukar dengan apa pun di dunia ini.
Kini, saya hanya mampu memendam rindu jika melihat anak-anak setua saya yang masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk merawat orangtua mereka. Mendorong kursi roda bersama Ibu mengitari mal, menggandengnya berjalan tertatih sekeliling taman bermandikan cahaya matahari pagi , atau sekadar menyuapi makanan kesukaannya ; saya yakin sekali adalah keberuntungan besar seorang anak.
Kerapkali saya menghela napas panjang jika melihat maraknya pemandangan pagi : orangtua tak berdaya di kursi roda mereka, hanya ditemani oleh pembantu atau suster -- bukan bersama dengan anak dan cucu. Apalagi jika berkunjung ke rumah panti jompo yang sarat berbagai kisah jeritan nurani para orangtua yang merindukan kasih sayang kehangatan keluarga.
Mungkin benar kata pepatah, jika kasih anak hanya sepanjang galah, sedangkan kasih ibu itu sepanjang masa jalan kehidupan. Demikian pula istilah, "Jika anak kaya raya ibu hanya menjadi asisten pembantu spesialis menjaga rumah dan momong cucu, sebaliknya jika orangtua yang berada, anak menjadi raja"?
Bagaimana cara kita memerlakukan seorang ibu, saya pikir seharusnya kita semua memiliki kesepakatan yang sama. Dasanya,'kan hanyalah satu : cinta kasih yang tiada akan terbalas hingga akhir zaman. Pelayanan seorang ibu kepada anak-anak dan suaminya adalah talenta kasih dan amal baik semangat Ilahi, pewarta cinta yang tak ada duanya. Sudah seharusnya semua pelayanan kerasulan awam selalu bermula dari rumah yang bahagia....
Mungkin itu sebabnya hingga setua ini pun saya kerap mengangeni Ibu. Saya rindu masakannya yang luar biasa uwenaaak. Saya rindu dibelikan baju, atau sekadar seuntai gelang oleh-oleh darinya. Ibu, saya sungguh mencintaimu. Saya merindukanmu. Itu sebabnya, Desember menjadi begitu biru bagi saya! (Komunika 06/XII, November - Desember 2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar