Halaman

Sabtu, 18 Maret 2017

Dari Bus Trans Jakarta ke Menara Babel

(Oleh Effi S Hidayat)
 
Suatu pagi, di bulan Agustus, beberapa hari setelah Hari Raya Lebaran, saya pikir warga Jakarta sedikit lengang karena banyak penduduknya yang sedang mudik pulang kampung. Sehingga tanpa rencana matang, saya melenggang menapaki koridor bus Trans Jakarta bersama anak bungsu saya menuju Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan.

Uji coba wisata murah meriah, ah, sekalian mencicipi fasilitas publik baru Trans Jakarta. Begitu harapan saya bersemangat. Namun perjalanan yang awalnya saya duga mengasyikkan, ternyata lumayan panjang, dan sangat melelahkan.

Bukan saja penumpang yang antre naik ternyata berjibun, tapi terlebih karena pelayanan bus Trans Jakarta sendiri yang belum memadai. Sehingga kenyamanan yang saya impikan dari rumah melayang berantakan...Apa pasal?

Cerita bermula dari antrean panjang di koridor Sudirman menuju Dukuh Atas. Kebetulan, sejak naik dari halte Harmoni, saya berangkat bersama-sama dengan pasangan suami isteri lansia bersama seorang putera mereka.

Kami mengobrol akrab merasa setujuan sehingga saya kecipratan beruntung tak perlu antre panjang terlalu lama, ketika seorang petugas bus Trans Jakarta yang berseragam rompi merah memberi informasi bahwa kami bisa segera menunggu bus yang sebentar lagi datang.

Wah, lumayan nih service-nya, saya tersenyum senang membaca teks yang tertera di atas pintu. Ada gambar anak-anak, lansia, dan orang berkebutuhan khusus. Ya, menurut sang petugas, golongan penumpang berkategori ini tak perlu antre dan bahkan mendapat perlakuan lebih di dalam bus dengan mendapat tempat khusus.

Namun apa yang terjadi? Baru saja sampai di tempat, tiba-tiba dari rombongan antrean panjang di sebelah, nyolot seorang bapak. Dengan sengit ia menunjuk-nunjuk ke arah kami sembari berteriak nyaring tidak enak kedengaran di telinga.

"Hei, dasar Cina !( maaf, red.) Bisanya saling kumpul dan selalu dapat fasilitas! Bukannya antre, seenaknya saja main selonong!" teriakan garang itu dibarengi satu hardikan keras pula dari petugas Trans Jakarta berseragam rompi yang langsung mendatangi rombongan kami. Dia mengatakan bahwa kami harus kembali antre ke tempat semula.

Lho, bagaimana ini? Mengapa informasi yang disampaikan menjadi simpang siur? Kami baru dipersilakan untuk antre di bagian khusus karena ada lansia dan anak, namun dalam sekejap harus balik arah kembali? Tentu saja suami dari isteri pasangan lansia itu tidak terima. Bertemperamen keras pula, mantan dokter ini (ia menyebut dirinya demikian) dengan gagah berani malah menjawab lantang bahwa ia bertumpah darah Indonesia, mengapa masih saja dihardik Cina?

Ah, keadaan yang semakin memanas terus terang membuat saya keder juga, karena bukankah mau tak mau saya termasuk dalam rombongan yang dituding demikian? Maklum, secara kasatmata, fisik saya pun terlihat jelas sebagai keturunan Cina.

Duh, beruntung saling tuding dan maki tak berkembang menjadi saling baku hantam karena bus yang ditunggu segera datang. Dan, dengan berani, sang bapak dokter lansia bersama isteri dan puteranya -- termasuk beberapa ibu dan anak lainnya segera naik ke dalam bus. Termasuk saya dan anak saya, tentu.

Yang menyebalkan, rupanya permasalahan tidak selesai sampai di sini karena bus yang kami naiki katanya 'salah arah'. Saya tidak tahu alasan pastinya mengapa bisa demikian, entah diperintah dari sononya atau tidak, yang jelas sang bus yang seharusnya menuju Dukuh Atas balik arah kembali menuju halte semula!

Wah, gawat nih, pikir saya dengan berdebar-debar dan berkeringat dingin menanti peristiwa apa yang akan terjadi jika kami harus bertemu  dengan petugas yang tadi marah-marah menyuruh kami kembali antre. Eh, benar saja! Si petugas sudah menunggu-- masih dengan wajah berang-nya, ia bahkan menghampiri kami dan menyuruh kami semua untuk... turun. Dan, kembali harus antre panjang, menunggu bus yang katanya, arahnya benar.

Tentu saja rombongan kami keberatan (apalagi Si bapak dokter lansia!). Karena hampir semuanya bertahan enggan turun, saya pun ikutan. Karena akhirnya tak berhasil, sementara bus harus jalan lagi, sang petugas pun akhirnya menyerah. Dia turun bersama rekannya yang lain kembali ke pos mereka.Namun, tentu saja menyisakan serbuan umpatan yang tak enak didengar telinga.

Bus yang kami tumpangi akhirnya berjalan, dan balik arah lagi... ternyata benar kemudian menuju Dukuh Atas, serta beberapa perhentian lain sebelum akhirnya stop juga, berahir di tujuan akhir, yaitu Ragunan. Ah, tamasya kota yang semula saya rancang dadakan -- hopefully happy, nyatanya menyisakan pengalaman miris.

Alangkah rapuhnya hubungan sesama manusia, karena hanya suatu hal yang sepele saja bisa berbuntut panjang bahkan berkaitan dengan SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan). Manusia kerap menjadi sombong dan lupa diri hanya mengagung-agungkan kepemilikan yang berkaitan dengan diri pribadi saja. Emoh peduli pada perasaan sesama, apalagi berempati. Hanya karena iri hati, dengki, cemburu-- ini berkaitan dengan pemicu amarah yang terjadi di koridor halte bus Trans Jakarta yang saya alami.

Ya, kebetulan saja karena memang sesuai dengan porsi hak yang kami dapat (lansia dan anak, red.) membuat perjalanan kami menjadi lebih nyaman di mata orang lain yang harus antre. Dan, hal ini dengan mudahnya menyulut api kebencian yang bahkan memuncak hingga menuding ke masalah ras. Wah!

Saya sungguh belajar banyak. Tali persaudaraan di antara sesama manusia seharusnya terjalin hangat. Silaturami, penuh rasa kemanusiaan yang tinggi dengan menghormati dan menghargai satu sama lain, bukankah akan lebih manis dampaknya ketimbang gontok-gontokan yang merugikan banyak pihak?

Mengapa jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya di zaman teknologi ini begitu laku keras? Karena mampu menjalin tali temali silaturami yang sempat hilang dan bahkan terputus, selain tentu saja memberikan banyak keuntungan secara sosialisasi maupun hukum ekonomi.

Yang supel berteman, maupun mereka yang tipikal solitaire sekali pun dengan mudahnya menyapa satu sama lain. Yang punya bakat dagang, propaganda, narsis, maupun yang sedang belajar mengaktualisasikan diri dengan nyamannya saling bersilancar di dunia maya ini.

Ya, walaupun ada dampak lain,"menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh", jejaring sosial ini melekatkan networking simbiosis mutualisme -- saling menguntungkan satu sama lain. Kubu Jokowi-Ahok yang pada putaran kedua Pilkada, 20 September 2012 lalu, membuktikan bahwa networking yang terjalin sedemikian rupa mampu menjangkau begitu banyak masyarakat luas.

Dan, masyarakat yang galau merindukan perubahan "Jakarta Baru" dengan lahirnya seorang pemimpin sejati, kemudian dengan rela memberikan suaranya bagi 'pasangan kotak-kotak' ini. Begitu saja. Lalu, lahirlah pemimpin baru berdasarkan pilihan yang mengatasnamakan banyak orang. Mudah-mudahan Jokowi-Ahok segera 'meluncur' membenahi akses pelayanan publik angkutan kota, termasuk Trans Jakarta.

Pada akhirnya, saya harus kembali lagi ke zaman Menara Babel. Lho, kok, jauhhhh amat ke...Menara Babel? Ya, perjalanan tanpa rencana menumpang angkutan umum Trans Jakarta ke Kebun Binatang di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (yang menimbulkan kerutan dan keringat dingin itu), telah 'melempar' saya kembali ke zaman itu.

Saya menemukan suatu kesimpulan bahwa manusia itu arogan. Sombong dan kerap punya rasa bangga berlebih, merasa pintar sendiri, tak mau disaingi oleh siapa pun. Tak terkecuali oleh Dia, Sang Maha Pencipta. Hal ini sudah tercatat sejak doeloe kala di Alkitab. Kisah Menara Babel adalah contoh konkret yang tak bisa dipungkiri.

Orang-orang yang merasa dirinya hebat, kaya, dan pintar itu ramai-ramai membangun kota dan sebuah menara tinggi. Ya, sangat tinggiiiii... sehingga diperkirakan dapat mencapai langit ketujuh, menuju "suatu tempat" di mana Tuhan berada.

Namun apa yang terjadi? Kepicikan manusia akibat rasa angkuh berlebih dan bahkan  melampaui batas itu nyatanya membuat Tuhan marah, lalu saking murkanya Ia, bukan cuma Menara Babel yang dihancurleburkan. Kelompok-kelompok manusia yang mulanya bersatu (antara lain; disalahgunakan demi membangun menara ke langit itu) diporakporandakan-Nya sedemikian rupa sehingga cerai-berai.

Bahkan, bahasa manusia yang konon satu bahasa ketika itu (bahasa kasih?), dibuat menjadi begitu beragam-ragam menjadi 7000 bahasa di dunia! Di Indonesia saja sekarang tercatat ada 746 bahasa meliputi Sabang sampai Merauke!

Begitu dampak nyata yang diwariskan turun temurun kepada anak-anak manusia sehingga masa di masa kita sekarang berada. Nah, makanya tidak heran jika "keterpisahan" manusia membuat jembatan-jembatan di antara manusia itu sendiri semakin rapuh.

Berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama membuat manusia menjadi semakin 'terkotak-kotak'di dalam komunitasnya sendiri. Sehingga konflik makin mudah bergesekan, walaupun hanya bermula dari hal sepele yang keciiiiil saja, mampu memicu amarah yang cenderung anarkis. Mengerikan!

Alih-alih menjalin tali silaturami yang erat harmonis dengan kelompok lain yang lebih heterogen, wong, acapkali sesama jenis kelompok itu sendiri yang homogen saja 'tega' saling tuding dan membunuh, kok. Apalagi jikalau bukan karena rasa sombong, kerap tak mau kalah membanggakan dirinya sendiri?

Nah, pertanyaan akhir yang ada di kepala saya, "Berada di dalam kelompok yang manakah Anda?" Salam Solidaritas dari saya yang sudah mencicipi perjalanan Trans Jakarta ke... Menara Babel! Hehehe.(Komunika 05/XII, September - Oktober 2012). 
*Catatan: kisah ini ditulis saat pelayanan publik Trans Jakarta belum senyaman sekarang.                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar