(Oleh Effi S Hidayat)
"Sudah cakep, pintar , kaya, baik hati lagi!" Mungkin Anda pernah mendengar ucapan yang bernada memuji seperti ini. Padanan kata "baik hati" diletakkan di ekor kalimat, menegaskan betapa hebatnya seseorang. Kebaikan hati, ah, mengapa pula dijadikan patokan sebuah pujian bagi karakter seseorang?
Ayo, coba berikan kepada saya beberapa alasan yang tepat. Kelihatannya tidak penting-penting amat jika dibandingkan dengan poin-poin sebelumnya : cakep, pintar, kaya, hmm... apalagi ? Top markotop, terkenal, beken, sukses, bla...bla...bla....
Dibandingkan ke semua itu, bukankah poin yang disebut belakangan, yaitu "baik hati" kelihatannya lebih sederhana bahkan terkesan biasa-biasa saja? Tetapi, mengapa ia malah diletakkan di urutan paling belakang, ditambah kata "lagi" sehingga membuat kedudukannya menjadi paling tinggi ketimbang yang lain? Jadi, bukankah "Si baik hati" itu menjadi sangat teramat penting?
Ya, ya, yang jelas compassion atau sincerity, orang Inggris bilang ; tidak sembarang orang mampu mendapatkan gelar ini. Tentu saja, saya percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik, dan memang demikianlah adanya ketika Tuhan menciptakan manusia dan segenap isinya.
Namun dengan perjalanan waktu, selaras poros bumi yang makin tua berputar, kebaikan hati ini kok, terasa makin langka. Duh, jujur saja-lah berapa banyak manusia yang merasa berbaik hati, namun tanpa sadar ber-pretensi "baik" jika.... Atau, gamblang-nya menjadi baik dengan maksud terselubung, selalu ada pamrih di balik kebaikan hatinya. Ada udang di balik bakwan, eh, batu -- begitu kata pepatah lama.
Padahal, yang ingin saya tegaskan sejak awal adalah seseorang yang memang tulus hatinya, welas asih tanpa pamrih sedikit pun dalam membantu atau melayani orang lain. Nah, berapa banyak dari kita yang konsisten mampu berprilaku seperti itu? Tanpa tameng "Saya akan baik jika kamu baik", atau " Saya baik karena...."
Berbagai alasan kerap muncul di balik kebaikan hati itu, bukan? Sangat berbeda dengan kebaikan hati spontan, tanpa tendensi apa pun. Saya jadi teringat cerita seorang teman, tentang kebaikan hati spontan orangtuanya. Tanpa ragu sigap menampung seorang kenalan bule yang rumahnya musnah terbakar.
Belinda, begitu nama teman saya, akhirnya memeroleh guru privat bahasa Inggris tanpa harus les dan membayar, alias gratis. Maklum saja, pria berkebangsaan Inggris yang akhirnya tinggal menetap bersama keluarga mereka itu rajin mendongeng berbagai cerita klasik Grimm's Fairy Tales dalam 'bahasa ibu'-nya.
Tidak hanya Belinda, saudara sepupu dan bahkan anak tetangga sekitar rumah pun menjadi kecipratan pintar berbahasa Inggris karena seminggu sekali mereka belajar dari guru yang sangat kompeten. Terbukti, kemampuan berbahasa Inggris itu akhirnya kadung menetap hingga dewasa.
Hingga pada suatu hari, Belinda diberi hadiah seuntai kalung manik-manik berwarna biru, oleh-oleh dari teman sang guru bahasa Inggris yang mengetahui keberadaannya menumpang di rumah yang memiliki anak perempuan bernama Belinda. Saking senangnya, Belinda bertanya lugu, "Bagaimana harus membalas kebaikan teman Anda, Mr. Mann?"
Sambil tersenyum, Mr. Mann menjawab,"Kebaikan tidak harus dibalas, cukup hanya diteruskan kepada orang lain...."
Lama, setelah Mr. Mann pindah ke Florida, Amerika Serikat, Belinda baru menyadari apa maksud ucapan itu. Dengan caranya sendiri, Mr. Mann telah meneruskan kebaikan hati yang diterimanya dari orangtua Belinda (dapat tinggal menumpang seperti keluarga), dengan mengajarkan pelajaran berbahasa Inggris secara cuma-cuma.
Belum lagi kecintaan membaca yang ternyata berurat akar hingga hari ini. Andai saja Mr. Mann tahu bahwa anak perempuan kecil bernama Belinda yang diajarinya bahasa Inggris sehingga fasih itu, kini telah menjadi seorang editor yang disegani sekaligus dicintai di kalangan penulis fiksi.... Duh,manis sekali bukan 'buah' dari kebaikan hati yang diteruskan?
Karen Armstrong, penulis kenamaan buku-buku bergenre spiritual, rajin mendengungkan Compassion of declaration di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia (Armstrong datang ke Indonesia, 14-15 Juni lalu). Ia mengatakan,"Alangkah cantiknya dunia ini jika semua orang bisa berwelas asih seperti laiknya seorang Ibu..."
Sungguh 'dalam' makna dari ucapan mantan biarawati yang beralih profesi menjadi penulis spritual yang buku-bukunya best seller itu. Mengapa ia merasa perlu menengahkan sosok seorang ibu? Apakah karena ia juga seorang perempuan?
"Oh, No!"katanya lugas. Ia lalu menegaskan bahwa cinta kasih kebaikan hati seorang ibu itu sangat mulia, tiada duanya di dunia. Seorang ibu, menurut Armstrong, rela berkorban bagi anak-anak dan keluarganya. Seorang ibu memiliki kekuatan hati dan kebaikan menembus batas....
Persis sama saya pikir dengan sosok Bunda Maria. Sejak mendengar sabda ia akan mengandung, perawan Maria dengan kebaikan hatinya, hanya mampu pasrah dan bersyukur. "Terjadilah kepadaku menurut perkataan-Mu," ucapnya simpel.
Namun prilakunya yang penuh ketulusan hati selama mengandung, melahirkan, dan kemudian menjadi seorang ibu, jauh dari kata sederhana. Maria telah melahirkan seorang putera yang bahkan sanggup berucap tegas,"Cintailah musuhmu!"
Sungguh, sosok keibuannya bukan cuma bagi puteranya, seorang Yesus semata, tetapi juga ibu dari seluruh anak-anaknya di dunia yang sepenuh hati percaya kepadanya. Doa Salam Maria merupakan doa sahadat yang tergolong singkat, namun untaian maknanya nyess, bikin lumer hati yang resah gelisah!
Ah, andai semua orang mampu memiliki kebaikan hati seorang ibui? Bayangkan betapa nyamannya dunia yang akan penuh dengan kasih sayang. Kebaikan hati spontan, yang sampai detik ini masih harus saya kais-kais.
Ya, apalah saya ini, toh hanya manusia biasa yang kerapkali lebih berpikir dengan logika, bukan dengan hati. Malah boleh jadi jika ada orang yang berbaik hati, eh, malah berprasangka," jangan-jangan ada maunya?"
Sedari kecil, saya sudah tahu sebaris dua patah kata ini : terima kasih. Tetapi, setua ini baru saya ngeh hakekatnya yang bermakna "terima", lalu "kasih". Sistem tabur dan tuai sejati, prinsip paling dasar dalam hukum saling memberi dan menerima. Inti kehidupan religius dan moral belas kasih yang bersemayam di dalam jantung semua agama, etika, bahkan tradisi spiritual.
Diam-diam, saya menjadi teringat lagi, dan lagi kepada almarhumah ibu saya tercinta. Imbauannya agar selalu memerlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan, terngiang senantiasa di telinga. "Memberi ,ya, memberi saja. Nggak usah ngedumel. Capek lho, mengalkulasi spekulasi untung dan rugi. Apalagi mengharap pahala segala. Ikhlas itu membantu diri kita sendiri juga."
Duh, memang tidak mudah berlaku spontanitas berhati malaikat. Mengabaikan segenap prasangka dan hanya berpedoman kepada satu rumus "kasih" bahwa kebaikan tidak mesti dibalas, melainkan cukup diteruskan kepada orang lain.
Saya belajar banyak dari cerita teman saya, Belinda. Dan, satu cara yang bisa saya lakukan adalah meneruskan cerita tentang kebaikan hati ini kepada Anda. Siapa tahu bisa menjadi setitik nyala api kecil yang mampu menerangi kegelapan?
Karena bukankah di tengah kegelapan yang terjadi, daripada mengutuk serapah membuang-buang energi adalah lebih baik jika menyalakan sebatang lilin dan menyalakannya? (Komunika 05/XIII, September - Oktober 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar