(Oleh Effi S Hidayat)
Saya masih ingat betul ketika kali pertama bergabung sebagai tim redaksi Komunika, tepatnya 8 tahun lalu (saat artikel ini ditulis, red.). Ya, tak terasa begitu cepatnya waktu berlalu! Masih tersimpan apik di album file saya selembar sertifikat sebagai tanda bergabung menjadi 'keluarga besar' Komunika.
Pak Aloysius Bhui Almarhum , Pemimpin Redaksi Komunika saat itu, yang memberikannya langsung kepada anggota Komunika, termasuk beberapa anggota baru (termasuk saya) dalam sebuah acara kebersamaan yang tak terlupakan di Pantai Anyer, Carita, Januari 2004 silam.
Bagaimana saya bisa bergabung sebagai bagian dari awak redaksi media Paroki Santa Monika, Serpong yang tercinta, ceritanya sebenarnya tak terlalu istimewa. Karena saya sama sekali tidak melalui proses lamaran, pinangan, atau sebagainya. Semua hanya berawal dari rasa ingin berbagi talenta, khususnya dalam bidang tulis-menulis yang sudah diberikan Tuhan kepada saya.
Sehingga tanpa berpikir dua kali, suatu sore yang mendung, saya nyelonong sorangan wae, seorang diri ke ruang Dorothea di sayap kanan gereja St. Monika, di mana para awak redaksi Komunika sedang mengadakan rapat. Dan, tanpa ba, bi, bu, melalui proses bertele-tele saya pede (percaya diri) saja mengenalkan diri sendiri, dan mantap menyatakan ingin bergabung dengan Komunika.
Ternyata kedatangan saya disambut sukacita dengan tangan terbuka oleh Pak Aloy, dkk. Sehingga jadilah, sore itu juga, saya "resmi" menjadi anggota redaksi Komunika bahkan langsung ikut... rapat! Hahaha, keren sekali,'kan ; datang, diterima, dan langsung rapat!
Jadi, ya, memang begitu saja. Tak seorang teman redaksi pun saya kenal (boro-boro ada yang mengajak), saya nekat menceburkan diri dan langsung saja 'berenang' sampai sekarang dalam lautan pelayanan kepengurusan gereja melalui Seksi Komunikasi Sosial, tepatnya Sub Seksi Komunika.
Sangat sederhana, hanya bermula dari sebongkah passion yang ada di dalam jiwa dan raga. Mengapa passion alias kegemaran atau lebih tepatnya lagi kecintaan ini , yang pada akhirnya saya kedepankan, karena tanpa hal satu ini, segala sesuatu yang kita kerjakan tidak akan ada maknanya. Apalagi jika ada unsur keterpaksaan atau hanya karena diiming-imingi sesuatu.
Weleh, saya berani jamin, tanpa passion semua hal yang Anda kerjakan akan mudah luntur dan bahkan dalam hitungan detik akan segera berganti musim. Bosan, bete, atau segala istilah lain akan menjadi alasan untuk mundur. Jadi, jangan pernah menganggap hanya sebelah mata Si Passion ini, ya.
Buktinya cuma gara-gara passion, seorang teman yang katakanlah sudah berada di posisi puncak karirnya di media massa ibukota, tiba-tiba 'banting setir' pindah berdomisili ke Bali. Ia melompat dari zona nyamannya, meninggalkan profesi mapannya di dunia kerja hanya untuk menjadi seorang penulis paruh waktu dan pengajar...yoga!
Wah, berani mati! Mungkin begitu komentar Anda. Yang jelas apa pun kata orang, dia berbahagia dengan pilihannya. Saya pikir, itu kata kunci yang tepat ; yang penting kita berbahagia dengan apa yang sudah kita pilih. Saya sih, tidak merasa heran jika melihat orang-orang yang beralih posisi dari seseorang yang luar biasa di mata awam namun kemudian menjadi 'orang biasa' saja.
Berjejer nama orang top melakoni hal serupa. Seorang Presiden direktur bankir terkenal sekaliber Mario Teguh, misalnya, pada akhirnya mengikuti passion-nya sebagai motivator. Dan jika belum cukup, hihihi, saya sendiri tokh, sudah membuktikannya. Bekerja, berkaya, apa pun namanya adalah bermakna dari penyelesaian usaha, kepuasan, pembelajaran, perkembangan, dan... ganjaran.
Bekerja merupakan suatu cara kita untuk menyatakan diri, merealisasikan keunikan diri, demi meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagi dunia. Walau begitu, kerja juga berdampak menimbulkan kecemasan, frustrasi, ketegangan, kebosanan, dan kekecewaan.
Kegagalan dalam pekerjaan dapat membuat diri kita terganggu, tidak efektif, merasa kekurangan, dan bahkan tidak berhasil. Nah, lho, jika kerja membuat diri Anda merasa kurang puas dan stres melanda membuat galau sehingga hari-hari berjalan begitu membosankan ketimbang membawa berkah, kelihatannya tidak ada solusi yang lebih tepat selain memeriksa unsur 'daleman jeroan' yang namanya Si Passion itu.
Namun, hei, tak usah khawatir, setiap orang memunyainya, kok. Karena jangan pernah lupa berkat yang diberikan-Nya kepada setiap manusia sedari kita lahir ke dunia, yaitu : talenta. Sang Maha menitipkan anugerah tak tertandingi ini kepada makhluk ciptaan-Nya yang serupa dengan gambaran diri-Nya sendiri sebagai makhluk berakal budi -- berakhlak tinggi, tentunya bukan tanpa makna.
Ada begitu banyak petunjuk di dalam Alkitab agar kita melatih ragawi-jiwani dengan talenta yang berujung kepada pelayanan. Ya, bekerja sebetulnya adalah bentuk karya pelayanan mengoptimalkan talenta yang telah diberikan Tuhan kepada manusia.Walau ujung-ujungnya berimbas kepada yang namanya 'ganjaran' atawa imbalan. Ada berbentuk upah, honor, gaji yang mengiringinya. Money, fulus -- berdampak bagi kepuasan diri manusia pada umumnya.
Jika dibayar atau dihargai dengan nilai nominal tinggi, kita merasa puas bahkan berbangga diri. Sebaliknya jika dihargai kecil atau malah tidak sepantasnya, maka mulailah berontak sana-sini. Walau akhirnya, jika semua unsur ini dikaitan dengan Si Passion, segalanya akan menjadi tidak ada artinya. Nilai kepuasan diri dalam bekerja tak bisa dipatok harga mati dengan uang semata.
Ya, yakini sajalah yang namanya rezeki dan berkat itu tidak akan lari ke mana-mana asalkan mau bekerja dan berkarya dengan kesungguhan hati, semua akan dilimpahkan kepadamu. Cieee, saya kok, yakin sekali? Hmm, mungkin karena selama ini saya sudah melakoninya sendiri sehingga berani mati berkata seperti ini. Aha!
Apapun intinya, jika kita sudah berbulat hati melayani, tentu harus berbesar hati berjiwa sebagai seorang pemimpin sekaligus hamba.Menurut hemat saya, seorang pemimpin itu justru bukan untuk dilayani melainkan melayani. Contoh paling nyata adalah Yesus sendiri. Dia datang ke dunia untuk melayani bahkan rela kehilangan nyawanya sendiri.
Luar biasa, bukan? Jadi, abaikan kalkulasi untung dan rugi, imbalan dalam bentuk uang dan materi jika Si Passion sudah memanggil Anda. Tak usah malu, ragu, bimbang, takut atau kecil hati melibatkan diri dalam pelayanan di gereja. Kudu ikhlas....
Ada banyak wadah yang sesuai dengan talenta Anda. Yakin dan 'sok pede' saja seperti saya. Hehehe buktinya berkat Si Passion ini, saya masih betah tuh menjadi warga Komunika sampai sekarang, tidak terasa sudah tahun kedelapan, sejak kedatangan saya yang ujug-ujug langsung ikutan rapat itu. Walau sudah lumayan banyak nama di dalam angkatan saya yang sudah tiada, antara lain, Pemred Pak Aloy, Pak Subianto Setio selaku Pimpinan Bina Usaha, dan Pak Ikhsan, Desainer Grafis.
Begitupula, Pemimpin Umum Pastor Andreas Dedi, OSC yang sudah pindah berdinas ke Bandung, dan kini digantikan pastor lain yang silih berganti sesuai dengan masa kepengurusannya. Atau, teman-teman seangkatan yang kerap saya rindukan: mantan Redaktur Pelaksana Pak Her Suharyanto, teman di jajaran redaksi: Arnette, Mahanani, Bu Anis (Apa kabar?).
Bagaimanapun, sampai hari ini dan detik ini, saya bersyukur masih ada rekan-rekan yang setia mendampingi: Bu Maria Etty, Bu Reni, Winda Mustari, Vincent Hakim, selain rekan-rekan baru lainnya yang datang dan pergi. Datang dan pergi.
Saya percaya walau sekian musim berganti, periode alih tugas kepengurusan gereja, mulai dari para anggota Dewan Paroki, Seksi, Sub-seksi Kelompok Kategorial maupun Pengurus Wilayah dan Lingkungan, senantiasa banyak yang masih setia bertahan dan bertekun dalam karya nyata pelayanan. Tentu, berkat jasa Si Passion itu, bukan? Tabik! (Komunika 04/XII, Juli-Agustus 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar