Halaman

Sabtu, 01 April 2017

Mari Berbagi

(Oleh Effi S Hidayat)

Seorang teman saya mengomel. Katanya,"Paling sebal ketemu Si A, wajahnya di-setel 'kencang' melulu. Ndak mau senyum. Jadi, malas menegur, deh! Mentang-mentang kaya, kali, ya?"

Kebetulan saya, yang baru juga diprotes seorang teman, karena prihal yang nyaris mirip, berupaya memberi masukan positif. "Ah, siapa tahu dia tidak sedang melihat kamu. Jadi, tidak sempat 'say hello' ?"

Ya, ya, bisa jadi begitu, bukan? Karena seperti itu pula jawaban yang saya berikan kepada teman yang bilang saya "sombong" akibat saat bertemu di jalan, tidak menyapanya.

"Maaf , terus terang saja kalau sedang jalan, pandangan saya suka lurus  ke depan. Lempaaaang saja, jadinya suka ketelisut tidak lihat-lihat orang. Apalagi terkadang kelupaan kacamata. Jadilah, sudut pandang saya makin terbatas, dan parahnya ditambah lagi dengan kebiasaan saya yang sering day dreaming. Jadi, bukan maksud hati saya untuk 'bersombong-ria'...," Saya pun meminta maaf sembari terpaksa menjelaskan panjang dan lebar. Karena demikianlah yang terjadi, apa adanya. Tak lebih dan tak kurang.

"Tetapi, kalau semua faktor yang kamu sebutkan itu tidak cocok? Wong, jelas-jelas Si A jalan berpapasan sama aku, kok. Di depan batang hidung persis, begini ini, nih!" temanku terlihat penasaran, masih bernada suara jengkel. Lalu dengan pasti, berusaha menyingkirkan semua premis mayor yang kusebutkan. Tidak lupa dia mencontohkan 'gaya amprokannya' bersama Si A.

"Dan, bukannya sekali-dua kali, lho. Hampir setiapkali begitu, teman lain juga mengeluhkan hal yang sama!" tuturnya lagi menambahkan, kali ini sembari menghela napas panjang.

Mau tak mau saya jadi terdiam. Kepinginnya sih, memang berpikir positif senantiasa. Tetapi, jika kenyataan berkata lain? Mungkin saja ada tipikal orang tertentu yang emoh kenal orang. Siapa loe, siapa gue, begitu kira-kira. Maka bisa jadi, praduga "mentang-mentang kaya" itu mengintili.

Ya, saya pun pernah mengalami hal yang sama. Suatu waktu, malah pernah dibiarkan 'terlantar' di depan pintu, saat hujan turun mulai rintik, tak dipersilakan masuk menunggu ke dalam. Demi mengurus sesuatu hal, berkaitan menunggu surat yang dibutuhkan. Apa boleh buat, prilaku seperti itu, akhirnya memintal tanya tanya besar.

"Kok, tega, ya?"
"Apa memang ia sesombong itu?" antara lain pertanyaan seperti ini sambung menyambung beruntun. Buntut-buntutnya kita pun menjadi agak segan bergaul dengannya. Nah!

Omong-omong tentang karakter manusia memang berjibun ragam. Belum lagi berbicara tentang kemurahan hati. Karena sikap memberi, saling berbagi, sebagai satu ciri terbesar dari kerahiman Allah, tak terlepas dari hal yang satu ini.

Saya abaikan saja, ya, pemberian yang berkaitan dengan materi. Itu ada porsinya tersendiri. Saya lebih sreg berbicara tentang pemberian non-materi, yang cakupannya sebenarnya jauh lebih meluas. Namun meliputi banyak hal-hal kecil, misalnya: seulas senyuman saat berpapasan di jalan, pelukan, atau sekadar tepukan hangat di bahu yang membesarkan hati seseorang.

Tentu, ini berkaitan langsung dengan ilustrasi cerita saya di awal tulisan. Mungkin itu sebabnya, saya respek sekali dengan seorang teman yang menurut saya punya kebiasaan manis. Saya tak segan memujinya demikian. Karena, dia selalu tak segan menyapa orang duluan. Bahkan, rela menyempatkan diri untuk sekadar membuka kaca jendela mobilnya, lalu menongolkan kepala sebentar, 'hanya' untuk sekadar tersenyum sembari menyapa ramah.

Duh, saya 'angkat topi' untuk kebiasaan baik ini. Dan, bukan kategori teman saya yang satu itu saja. Saya punya langganan, seorang bapak penjual roti keliling, yang setiapkali mengucapkan "selamat pagi" kepada saya, tanpa keharusan saya sedang membeli roti jualannya atau tidak!

Begitupula, senyum sumringah tukang siomay, atau penjual buah yang dengan riangnya malah mengingat betul dengan cermat nama anjing peliharaan saya. "Selamat pagi, Bu. Mana Snowy, kok, tidak ikut ke pasar hari ini?" Tidak hanya sapaan, kali lain ia malah mengingatkan ingin bertemu dengan Snowy karena...kangen! Dan, tawanya yang lebar sungguh membuat hati saya adem, membuat saya ikut-ikutan tertawa, tak hanya melempar senyum.

Apa yang saya rasakan? Saya merasakan amat 'bersahabat' dengannya! Orang yang memiliki kepedulian terhadap hewan peliharaan saya, tak terkecuali, adalah manusia yang memiliki 'rasa' -- begitulah seturut pemikiran saya yang sederhana ini.

Bukan hanya basa-basi, cuma di mulut belaka. Ia mengenal saya, dan juga 'ingin mengenal' anjing saya, Snowy, karena ia memiliki kepedulian menyapa. Begitulah. Jalinan pertemanan atau bahasa halusnya "silaturami" bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Hanya dengan berbagi 'sentuhan'sentuhan' kasih yang sederhana seperti itu.

Ya, ya, apa susahnya unggah-ungguh demikian (orang Jawa, bilang? red.). Sedihnya, kelihatannya anak-anak muda sekarang mulai kehilangan 'rasa' ini. Entah kealpaan orangtua di rumah yang tidak sempat mendidik mereka etiket, entah memang zaman digital teknologi yang tak butuh 'netiket' di era gadget?

Malah mereka akan bilang, "Ihh...lebay!" basa-basi berlebihan jika harus menghormati orang yang lebih tua, misalnya hanya menyapa dengan sebutan "Pak" atau "Bu", "permisi" (numpang lewat, etc), "terima kasih","tolong", dan "maaf" ?

Apa demikian sulitkah sekadar mengulas senyum (mau tipis, samar, kek, yang penting senyum!), say hello, bilang "terima kasih", "tolong" (bukan asal perintah dengan nada otoriter bak juragan terhadap badinde-nya)? Terlebih pula dalam urusan meminta maaf, aduh, pemberian kata maaf itu pun besar dan dalam maknanya, bukan? Menandakan Si empunya memiliki keluasan hati melebihi lapangan bola!

Demikianlah, kerahiman Allah yang sejati. Saya coba renungkan dalam-dalam, sungguh ibarat bayi suci yang baru keluar dari rahim bunda-Nya, sepatutnya memiliki 'rasa' ; suatu pemberian penghargaan berlebih kepada sesamanya. Termasuk kepada ciptaan lain : hewan, tanaman, dan semesta. (Komunika 04/XVI, Juli-Agustus 2016). 

       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar