(Oleh Effi S Hidayat)
"Jangan nasihati aku untuk tidak bersedih. Atau jika kamu ingin bilang hal yang sama, seperti mereka yang lain katakan kepadaku,'Sudahlah, ikhlaskan saja kepergiannya. Dia sudah tenang di surga sana. Kamu harus kuat...', lebih baik kamu tidak usah datang!" Saya terkejut. Ah, dia bukan seperti orang yang kukenal.
Sahabatku, kutulis saja initialnya "T", suaranya terdengar sinis, kecut, dan judes sekali. Lama saya terpekur, setelah menutup gagang telepon. Sejak bersahabat dekat dengannya, saya merasa sudah memahami karakternya luar dan dalam.
Tetapi, kali ini, saya merasa gamang. Dia bukan seorang "T" yang lama kukenal. Speechless, tidak ada yang bisa kuutarakan, dan dia juga terlebih lagi, mungkin. Sehingga buntut-buntutnya kemudian jawabanku lebay seperti ini,"Oh, nggak, kok. Siapa bilang aku seperti mereka? Aku lain! Aku cuma... cuma ingin memeluk kamu!"
Yang jelas, kepergian suaminya untuk selamanya sangat mengejutkan. Baru beberapa minggu lalu, saat dia pulang cuti ke Yogya untuk menjenguk suami tercintanya yang sakit, tapi kemudian kabarnya via telepon," Tidak ada yang perlu dicemaskan. Suamiku sudah membaik kondisinya. Dokter bilang juga tidak apa-apa...."
Lalu, tiba-tiba datang berita duka itu. Suaminya berpulang untuk selamanya ke haribaan-Nya. Dan, karena saya berhalangan terbang ke Yogya, hanya berusaha mengontaknya melalui telepon. Tetapi, dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Telepon genggamnya, berbagai sarana media sosial seperti facebook, semuanya off line.
Dan, kini setelah akhirnya bisa juga berbicara dengannya melalui ponselnya, setelah ia kembali ke Jakarta, mengapa seperti ini kejadiannya? Ah, sudahlah. Tetap datangi saja. Ayo, dia pasti membutuhkan kehadiranmu, kata hatiku berbisik lirih.
Ya, walaupun sama sekali belum ada kepastian, apakah dia sudah kembali bekerja atau tidak, saya nekat saja mendatangi kantornya. Dengan mengajak seorang teman, sore hari itu akhirnya kami bisa bertemu.
Entahlah, saya tidak bisa bersikap seramai biasanya. Hanya mampu berbasa-basi cerita yang tidak perlu. Untunglah saya mengajak Lin , yang pada dasarnya 'tukang ngoceh'. Wira-wiri dia bertutur tentang kesehariannya setelah lama tidak bertemu ; soal anak dan suaminya, juga bisnis barunya.
Dan, saya hanya bisa ikut tekun mendengarkan sembari tentu saja merengkuh pundak T. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, sampai akhirnya T sendiri yang 'buka suara', bla,bla,bla... dan ...."Aku marah sama Tuhan!" bisiknya pelan, tapi kedengaran seperti genderang yang dipukul tiba-tiba, memekakkan telingaku yang seketika berdiri. Mungkin mirip telinga milik anjing peliharaanku, Snowy.
"M-e-n-g-a-p-a?" pertanyaan yang kueja di benakku itu kutahan saja sebisa mungkin, tak kulontarkan kepadanya. Namun, untunglah dijawabnya sendiri dengan tegas," Rasa-rasanya selama ini aku sudah hidup lurus-lurus saja. Ketika berbicara aku menjaga semua perkataan agar tidak menyinggung perasaan orang, dan berprilaku sesuai dengan perintah-Nya. Aku berusaha menjadi orang baik...," dia menghela napas panjang.
Lalu dia melanjutkan dengan suara lirih,"Tetapi, mengapa Tuhan malah mengambil Mas-ku tercinta di saat kami sedang nyaman-nyamannya, berusaha menggapai mimpi kami berdua?" Pandangannya lurus jatuh ke tanah. Saat ini, kami memang sedang duduk ngedeprok di dekat lapangan parkir. Bokong-bokong mobil di parkiran berderet di depan hidung kami. Hanya satu-dua orang yang kelihatan lalu lalang.
Saya terpekur lama, tanpa janjian saling bertukar pandang dengan Lin. Dan, temanku Lin itu, rupanya tidak tahan untuk tidak menutup mulutnya seperti yang kulakukan. Dia berkomentar panjang lebar," Begini, T. Maafkan ya, aku bukan ingin mengguruimu. Tetapi, jujur, aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Marah kepada Tuhan!"
"Ya, bahkan mukenah kulempar begitu saja! (Lin muslim, sahabatku T juga berkeyakinan yang sama, red.). Suamiku pun melarangku untuk beribadah. Buat apa menyembah-nyembah kepada Dia yang sama sekali tidak peduli kepada kita? Semuanya sia-sia tidak ada gunanya...."
Dan, Lin mengungkapkan, betapa penderitaan sebagai keluarga muda yang harus mereka tanggung. Membayar uang sekolah anak semata wayang saja sudah tak mampu. Himpitan ekonomi membuat mereka menggugat-Nya. Namun toh, akhirnya keluarga mereka kembali sadar berlari kepelukan-Nya. Dan, ajaib! Rezeki mereka mengalir lancar melimpah....
Saya serius mendengarkan sembari menoleh kepada T, berusaha mencari-cari sesuatu di matanya. Tetapi, kosong..., binar-binar yang biasa kudapati pada perempuan yang kadang freak, tapi sungguh, bagiku, dia seorang sahabat yang asyik menyenangkan, sama sekali tiada.
Tiba-tiba aku teringat kata-katanya, "Please, jangan nasihati aku seperti orang-orang lain lakukan. Agar aku ikhlas, agar aku kuat, agar aku menerima dan melapangkan jalan Mas-ku. Karena jujur saja, saat ini aku tidak kuat, aku tidak ikhlas, aku marah! Aku... mengapa harus Si Mas yang diberikan doa? Seharusnya aku ini lho, yang kalian doakan. Mas-ku telah lelap, diam membeku di alam sana! Aku ini, tinggal aku, seorang janda yang masih hidup, dan membutuhkan doa kalian agar aku mampu bertahan...."
Sudah jelas, bukan segudang nasihat yang diharapkan T sekarang. Lihat saja, sepertinya dia mendengarkan, tetapi pandangan matanya menerawang entah ke mana.... Jadi, ya, percuma saja! Lin sendiri, entah capek, entah menyadari, akhirnya pun terdiam.
Kumpulan awan hitam yang bergerumbul di langit, menyadarkan kami bahwa senja sudah lama turun. Sebentar lagi gelap menjelang. Saya dan Lin pun berpamitan, melambai pada T yang berdiri mematung mengantar kami di depan kantornya.
Melihat sosoknya yang terlihat ringkih tidak berdaya, matanya yang indah bercahaya kini kuyup letih dan lesu, tiba-tiba saya ingin merengkuhnya kembali. Betapapun, saya yakin, dia itu tipikal perempuan kuat dan mandiri. Namun, oh, siapa yang tahu rapuhnya sebuah hati?
Dalam perjalanan pulang, hujan turun sangat deras. Puji Tuhan, saya tiba di rumah tatkala hari belum terlalu malam. Entah mengapa, perasaan tak berdaya masih begitu kuat menyelimuti. Ah, siapalah saya ini? Rasa-rasanya tak berbeda dengan orang-orang lain yang T sebutkan.
Kami semua hanya bisa berkata-kata, cuap-cuap sekadar menghibur, "Ayolah, jangan sedih. Ikhlaskan saja, kamu harus kuat. Doakan agar suamimu mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya...." Ya, ya, seperti yang T katakan, suaminya sudah tidur untuk selamanya. Kini hanya tinggal dia seorang diri dan butuh dihibur, didoakan....
Memeroleh kesadaran itu, seperti biasa saya membuka halaman Alkitab sebelum tidur. Dan, percaya atau tidak, mataku terpaku pada bacaan firman pada hari Rabu, 7 September, tepat hari itu. Begini bunyinya, "Berbahagialah, hai, kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa" (Lukas 6: 21).
Duh, siapa bilang tidak ada yang bisa saya lakukan untuknya? Walau berbeda keyakinan, saya akan mendoakan T agar dia kuat dan semakin kuat menjalani hari-harinya. Saya percaya, tangisnya akan luntur, berganti menjadi tawa. Tiba-tiba hati saya terasa tenang. Dan, saya berharap T pun demikian. Sungguh! (Just for TS, 30916)* (Komunika 05/XVI, September-Oktober 2016).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar