Halaman

Rabu, 08 Maret 2017

Menabung Waktu

(Oleh Effi S Hidayat)

Seorang teman memberikan pengakuan revolusioner. "Setelah lima tahun berlalu, aku baru saja terbangun dari tidurku," katanya dengan nada getir. Suatu kejadian tak terduga telah mengubah hidupnya sedemikian rupa, sehingga ia menjalani rutinitas sehari-hari laiknya robot. Sekadar melakukan ini dan itu tanpa lagi yang namanya passion, spirit, dan... harapan. Ia benar-benar cuma bangun, lalu tidur lagi. Bangun, lalu tidur lagi.... Dan, tahu-tahu waktu sudah berlalu selama lima tahun!
 
"Aku seolah terjaga dari mimpi buruk. Sesuatu di dalam diriku tiba-tiba saja berteriak,'Hei, ayolah, kau tidak bisa tidur seperti ini terus! Kau harus segera bangun dan melakukan sesuatu yang lebih bermakna bagi hidupmu!'." Siang itu teramat mendung, namun kalimat yang diucapkannya seolah menyiratkan kehangatan yang begitu saja menyibakkan awan-awan gelap di langit agar segera menyingkir.

'Sesuatu' seolah-olah meleleh di hati. Dan, saya pun menyediakan kedua pasang telinga saya dengan sabar, mendengarkan ceritanya yang mengalir deras. Sehingga akhirnya saya hanya mampu berucap kepadanya, sembari menatap matanya yang berembun dalam-dalam. "Kau tidak cuma sekadar melek dan bangun, tetapi aku yakin sekali kau mampu melakukan lebih dari itu : berlari dan bahkan terbang ke langit tinggi!"

Saya tidak tahu pasti apakah ia menyimak kalimat saya sepenuh jiwanya, tapi yang jelas saya telah mengucapkannya dengan segenap hati. Terus-terang saja selama ini sosoknya yang saya kenal adalah seorang perempuan hebat, sehingga tak pernah saya duga sesungguhnya ia menyimpan duka teramat dalam bertahun-tahun lamanya. Ya, siapa yang tahu hati manusia? Hanya waktu yang bisa menjawabnya!

Saya jadi teringat beberapa minggu terakhir, saya dikejar-kejar finance advisor  yang menawarkan asuransi dengan tawaran sangat menarik. Premi terjangkau dengan beragam jaminan fasilitas hidup dan iming-iming proteksi kesehatan. Masih ada lagi derang-dering telepon dari sales marketing bank yang gencar menawarkan bunga tinggi untuk produk tabungan deposito yang dipromosikannya. Bla, bla, bla....intinya hanya satu : uang yang kita titipkan kepada mereka akan menghasilkan keuntungan berlipat-ganda.

Pokoknya, katanya, dijamin deh kita tidak akan menyesal! Mau tak mau otak saya jadi berpikir ajaib. Kayaknya asyik sekali ya, jika yang ditawarkan adalah tabungan...waktu. Ya, waktu! Bukan sekadar uang yang akan siap beranak-pinak menjamin kehidupan kita di kemudian hari. Nah, mari coba bayangkan sebentaaaar saja; kita memiliki ini : tabungan waktu.

Beragam-ragam pepatah berbicara tentang waktu. Waktu terbang melesat bagaikan anak panah, tak bisa diputar ulang, begitu antara lain yang paling saya ingat. Mungkin karena itu kerapkali orang-orang banyak mengeluh,"Ah, andaikan saja bisa memutar ulang waktu?"  Wah, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Banyak sekali,'kan orang yang terbius dengan masa lalunya. Entah manis, entah pahit, yang namanya kenangan itu memang kerap bikin kangen.

Itulah sebabnya reuni laris-manis di mana-mana. Masa kecil, masa sekolah yang indah, yang cuma dipelototi di album foto usang berdebu menjadi realita nyata. Ketemu teman lama, Si Anu, Si Ani, mantan kekasih...aduhai, tebar pesonanya seolah masih begitu terasa di dada! Ini baru berbicara tentang masa lalu, bagaimana dengan masa depan?

Berbagai tawaran produk bunga bank maupun asuransi, bukankah semua berkaitan dengan masa yang akan datang? Siapa sih, yang ingin sengsara hidupnya di masa pensiun? Tua tak berdaya lalu tak punya apa-apa? Mungkin itulah sebabnya orang-orang di zaman modern amat sangat berhati-hati merancang masa depannya.
Pendek kata, semua orang ingin bahagia, tak mau hidup susah di masa depan. Jadi, sedap sekali bukan jika kita punya tabungan waktu demi berkelana ke masa datang?

Andaikata manusia memiliki semua itu ; tabungan waktu masa lalu dan tabungan waktu masa depan, di mana kita bisa menariknya lewat kartu ATM, cek dan giro bank, tunai....Atau, sekadar mengintip saldo yang tersisa, mengecek waktu yang kita punya? Ya, wajar saja manusia mengawang-awang berangan-angan. Apalagi menjelang tutup tahun, biasanya adalah momen romantis yang membuat orang menjadi melankolis sentimental.

Paling klop untuk tetirah berbenah diri. Banyak yang membuat ancang-ancang reformasi diri menyambut tahun baru. Ingin ini, ingin itu. Berjanji sana-sini, bla, bla, bla... sekian puluh pasal, misalnya saja berdiet ketat ah, agar lebih langsing! Atau, membuang jauh-jauh ke laut sifat amarah, pemberang, dan pencemburu? Lalu, irit berhemat sekian puluh juta rupiah dolar guna membeli mobil sport dan apartemen mewah idaman? Dan, sebagainya. Dan, sebagainya. Aha, sah-sah saja manusia mencanangkan semua itu. Jika berdampak positif, mengapa tidak?

Saya sendiri selalu senang berbagi mimpi bersama anak-anak. Ya, saya lebih senang menggunakan istilah "berbagi mimpi". Paling tidak, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya bahwa bermimpi setinggi-tingginya itu perlu dilakukan. Karena dengan adanya mimpi, kita memiliki semangat untuk menggapai segala sesuatu menjadi lebih baik lagi.

Adanya mimpi membentuk harapan. Walaupun secuil, cuma 'seupil', adanya harapan membuat jiwa manusia hidup seutuhnya. Dengan bermimpi setinggi langit, jika terjatuh pun ...kita jatuh di antara bintang-bintang. Begitu itu seturut pemikiran saya yang sederhana saja. Entah bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan saya, atau malah menyesal karena sekian puluh target resolusi di awal tahun tak satu pun yang tercapai selama ini? Sehingga maklumi sajalah, menjelang akhir tahun, justru penyesalan bertumpuk berjibun?
   
Sayangnya, ya, sayangnya kita harus kembali ke dunia nyata. Menabung waktu tak akan pernah mampu kita lakukan. Seorang cenayang sekaliber apa pun, sekadar membaca garis tangan untuk meramalkan nasib mujur Anda kelak di masa depan, sepatutnya tak laik dipercayai (apalagi "diamini"). Hanya Bapa di Surga, sang pencipta dunia tempat kita bersandar. Hanya Dia Yang Mahatahu masa depan kita, hanya Dia pula yang telah genap sempurna merancang masa lalu kita yang tak perlu disesali.

Semestinya segenap hati yang kita lakukan hanyalah percaya bahwa semua itu karunia dan anugerah. Baik atau buruknya kehidupan, semua itu hadiah yang terindah bagi kita. Masa lalu sudah berlalu, yang tersisa hanya lembaran kisah belaka. Tak perlu didekap erat-erat, lepaskan saja... beban kita akan jauh lebih ringan dengan membebaskan semua perasaan pada keterikatan masa lalu.

Masa depan? Semuanya masih berupa fatamorgana belaka, tak perlu terlalu dicemaskan hingga membelit pikiran membuat keseharian hidup ini menjadi rumit. Yang harus dijalani sepenuhnya dan seutuhnya adalah masa sekarang. Di mana diri kita berada saat ini, apa yang bisa kita lakukan sebaik mungkin. Bagi diri sendiri, bagi keluarga, teman-teman, semua orang-orang terdekat, bahkan mungkin bagi masyarakat luas dan dunia.

 Kepada teman yang menginspirasi cerita ini, terima kasih. Saya berdoa engkau siaga tersenyum lepas mengembangkan dan mengepakkan  sayapmu di udara bebas berlangit biru nan indah,ya? Demikian pula finance advicor dan sales marketing yang rajin menguber-uber saya, berkat kalian semua, catatan hati ini terangkum. Menabung waktu...ah, andaikan saya mampu memilikinya? Saya tak akan berpikir panjang untuk segera menganggukkan kepala jika ada seorang seorang FA, SM, atau entah apa lagi nama profesional jabatannya yang menawarkan kepada saya untuk menabung waktu.

Aha! Tetapi kok, akhirnya setelah lama-lama saya pikir-pikir dan renungkan, tampaknya saya lebih suka menjalani hidup kekinian saya apa adanya dengan penuh rasa syukur yang tak berkesudahan. Ya, cukup itu saja. Karena jika hal ini tak saya lakukan, hidup saya akan rumit,ribet bak benang kusut merindukan masa lalu dan mencemaskan masa depan yang belum ketahuan juntrungannya. Wah! Mana saya mau? (Komunika 06/XI, November-Desember).              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar