Halaman

Jumat, 09 Juni 2017

Dukungan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Dukungan... dapat berupa perhatian terhadap apa yang dianggap biasa oleh orang lain dan penegasan terhadap apa yang dilihat oleh orang lain, tetapi tak pernah dipuji secara terbuka" (anonim)
Refleksi:

Manakah yang lebih sering Anda berikan; dukungan atau pujian? Saya menemukan quote yang satu ini dari bacaan pagi ini. Tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada kalimat-kalimat yang menarik perhatian saya; hmm, dukungan? Apakah saya orang yang termasuk sering memberikan dukungan kepada orang lain? Tiba-tiba pula pikiran saya mengajuk tanya demikian.

Rasanya sih, lumayan sering! Ya,ya, saya senang membagi perhatian saya kepada orang-orang di sekitar saya. Bahkan, kepada orang lain yang tidak saya kenal sekali pun. Ujug-ujug ketika bertemu seorang oma yang berpakaian serasi di mata saya, mulut saya lepas kontrol untuk segera berkomentar memujinya. Lihat pemulas bibir yang merahnya "pas" berkilau di wajah seseorang saja, saya bisa segera menjawil, dan spontan mengatakan apa keindahan yang tertangkap di benak saya!

Hais, tapi...itu sih, pujian, ya, bukan...dukungan. Karena menurut quote di atas, dukungan tak pernah memuji secara terbuka. Nah, lo! Benar juga kalau saya bagi menjadi kategori: dukungan materiil dan dukungan moril. Misalnya..., apa?  Oh, menepuk-nepuk bahu seseorang saat dia sedih! Tanpa kata, tanpa nada suara, bisa jadi itu sudah merupakan perhatian yang luar biasa besarnya. Lalu, apa lagi? Ikut berteriak-teriak senang gembira ketika teman menang lotere? Hahaha....

Senang juga, saya jadi mencari-cari berbagai bentuk dukungan tanpa pujian terbuka ini. Hayuk, Anda bantu saya dong, mendapatkan contoh yang lain. Mungkin, berdasarkan pengalaman nyata Anda sendiri. Dukungan terbesar apa yang pernah Anda bagikan kepada orang lain? (Catatan Jumat,962017).  

Selasa, 06 Juni 2017

Oh, Batasan!

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

" Satu-satunya batasan yang kita miliki dalam hidup adalah apa yang kita tanamkan dalam benak kita sendiri"(Frank Moffat, penulis, pendidik).

Refleksi: 
    Anda dan saya, semua orang malah...pastinya memiliki keinginan. Dan yang namanya harapan, keinginan, entah apa lagi namanya, tentu tidak hanya satu, melainkan beragam-ragam. Yang menjadi masalah pula, bagaimana caranya mewujudkan segala keinginan dan harapan itu? Tergantung upaya manusia itu sendiri, seberapa keras upayanya dia berusaha, dan seberapa bulat tekadnya menggapai "impiannya".

Nah, Frank Moffat yang telah terlibat dalam urusan coaching, training, dan teaching, sejak usia belia adalah orang yang sangat meyakini bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah mungkin. Bahkan, sebegitu antuasiasmenya ia menjalani hidup, sehingga mendapat 'gelar' : Mr. Positive.  Ha! Betapa tidak, menurut Moffat, satu-satunya orang yang membatasi kesempatan kita itu tak lain, ya ... diri kita sendiri!

Jadi, jangan pernah berani-beraninya Anda menyalahi orang lain atau keadaan, segala macam situasi dan kondisi yang Anda hadapi jika sampai gagal mencapai tujuan idaman dalam hidup ini. Toh, sesungguhnya memang tidak bisa disangkal, yang empunya hidup itu,'kan Anda sendiri, bukan siapa-siapa, bukan orang lain.

Go Beyond! Saya pernah membaca ajukan yang begitu bersemangat ini, entah di mana. Saya jatuh hati pada ungkapan "Menembus Batas".... Acapkali merasa kecewa, sedih, bahkan mungkin putus asa tatkala keinginan dan harapan saya tidak tercapai (namanya,'kan, saya manusia juga!), saya mencoba mengingat-ingat kembali kepada quotes yang satu ini.

Paling tidak, ibarat pompa ajaib, ia mampu meniupkan udara cadangan kepada balon harapan milik saya yang lagi kempes! (Catatan Selasa 08.15 pagi , 662017). 

Senin, 05 Juni 2017

Hati Nurani

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebaikan moral seseorang tidak diukur oleh agama apa yang ia peluk namun lebih dari dorongan-dorongan emosional apa yang telah ia terima dari "hati nurani" semasa hidupnya" (Albert Einstein, ilmuwan fisika).  
Refleksi:

Apa sebenarnya yang diharapkan dari agama? Apa yang diinginkan agama itu sendiri dari pemeluknya? Bagaimana kehidupan beragama seharusnya diyakini oleh warga dunia? Apa sih, dampak dari kehidupan beragama? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan berderet panjang jika digali-gali sedemikian rupa menyoali agama, padahal jawabannya sebenarnya cuma satu, yakni : kebaikan.

Jadi, sungguh tidak habis pikir, jika agama yang selaiknya ujung-ujungnya bermuara kepada  "kebaikan" itu, justru malah dijadikan sebagai alasan perpecahan antarumat beragama itu sendiri. Alangkah naif dan menyedihkan! Tuhan Yang Maha Esa dipecah-pecah menjadi begitu banyak rupa -- dalam bentuk imajinasi manusia itu sendiri, mulai dari "rumah-Nya", tata cara bertemu dengan-Nya, dan seabrek perayaan 'wah' lainnya seturut versi ...lagi-lagi, manusia itu sendiri.

Belum lagi, jika kemudian diiringi dengan pemikiran "agamaku-lah yang paling benar dan  paling hebat". Di luar itu..., sila pergi ke neraka sana! Duh! Tercenung habis-habisan pun, saya tak akan pernah ketemu nalar yang mengiringi "perasaan-perasaan" yang bertumpu pada egoisme semata itu. Ya, apalagi jika larinya tidak kepada kesombongan yang mengabaikan kasih sayang dan kebaikan kepada sesama?

Makanya ketika bertemu quotes ahli fisikawan terbesar yang pernah ada, Albert Einstein ini, saya merasa senang sekali dan merasa mendapat dukungan besar. Agama, tandas Einstein, bukan untuk mengukur kebaikan moral seseorang. Tepatnya dengan meyakini agama tertentu, tidak bisa dijadikan seseorang itu pasti akan menjadi baik atau alih-alih lebih unggul dari yang lainnya, yang memiliki agama berbeda.

Kelahiran Ulm, Jerman, 14 Maret 1879 dan wafat di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, dalam usia 76 tahun -- Albert Einstein memang dikenal dunia hingga abad ini sebagai seorang genius yang luar biasa, dan seperti kebanyakan ilmuwan lainnya kerapkali diklaim bukan sebagai orang yang ber-Tuhan. Tetapi, itu,kan lagi-lagi pendapat orang! Sedangkan, seturut pendapat saya sendiri, sih, keimanan Einstein justru tampak kepada antusiasmenya yang besar kepada segala sesuatu ciptaan di dunia ini. Buktinya, dia masih percaya sekali kepada hati nurani.

Kebaikan moral seseorang yang berdasarkan hati nurani ini, pernah ia cetuskan melalui pemikirannya tentang sanksi emosional mendalam mengenai kehadiran sebuah kekuatan penalaran superior yang diungkapkan di dunia, yang menurutnya sama sekali tidak bisa dipahami, dan membentuk pemikirannya tentang...Tuhan!  (Catatan pagi, 06.50, 5062017).       

Minggu, 28 Mei 2017

Kunci Kehidupan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Love is everything. It is the key to live, and it's influences are those that move the world" (Ralph Waldo Trine, filsuf, penulis, guru).
Refleksi:
Apa yang membuat hidup ini menjadi lebih bermakna?  Menurut penulis kelahiran Amerika Serikat yang telah menerbitkan lebih dari lusinan buku, Ralph Waldo Trine, apa lagi jika bukan...kasih? Ya, kasih merupakan segalanya. Kasih adalah "kunci kehidupan" dan membuat hidup lebih berarti.

Anda setuju? Kepala saya sih, mengangguk-angguk tanpa jeda, ketika menemukan tulisan ini di...sertifikat kelahiran putra kedua saya, Zachary, dari RS Siloam Gleneagles, di mana ia dilahirkan hampir tujuh belas tahun lalu.... Wah, sudah cukup lama, ya?

Seorang anak adalah wujud cinta kasih dari kedua orangtuanya. Dan, sebaliknya ...orangtua merupakan pewarta kasih, wakil-Nya di dunia. Demikian, seturut pemikiran saya. Semua makhluk ciptaan Tuhan, termasuk hewan dan tumbuhan selain manusia itu sendiri merupakan hasil karya kasih-Nya yang luar biasa. Sehingga tentu saja, kita pun harus memelihara warisan tiada ternilai-- berupa kasih itu, dengan menebar kasih pula di sekeliling kita. Mulai dari yang terdekat hingga ke ... ujung dunia!

Kasih adalah "kunci kehidupan", saya tidak menyangkali buah pemikiran dari pendidik, sekaligus filsuf, dan penulis buku best seller "In Tune with the Infinite" yang diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa dan dijual jutaan eksemplar. Apa lagi yang bisa menangkis serangan dari virus nestapa, duka derita, kegagalan, hati yang remuk, sayap-sayap jiwa yang patah, selain mengobatinya dengan : kasih?

Namun, kasih juga bukan hanya sekadar tebaran kata belaka. Ia perlu ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata bagi sesama. Tidak cuma bagi mereka yang dekat dan jauh, tapi juga orang asing yang tidak kita kenal sama sekali. Ketimbang tidak karuan juntrungan meniupkan api kebencian, iri hati, dan dengki, ketidakpuasan, dan lain sebagainya yang merupakan akar dari kejahatan pikiran maupun hati, bukankah lebih baik kita belajar lebih berbelas kasih dan rendah hati yang membuat hidup menjadi lebih berarti?

Bayangkan jika dunia ini tanpa kasih. Sepi, kosong, tiada bemakna....(Catatan Minggu pagi, 2752017). 
         
 

Selasa, 23 Mei 2017

Kebiasaan itu....

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebiasaan itu seperti seutas tambang, kita menenun benangnya satu persatu setiap hari, sampai akhirnya kita sendiri tidak mampu memutuskannya"(Horace Mann, pendidik).

Refleksi: 
Tepat sekali yang dikatakan pendidik kelahiran AS, Horace Mann. Tanpa kita sadari --menenun benang yang akhirnya menjadi seutas tambang yang sulit untuk diputuskan : demikianlah yang namanya "kebiasaan". Bersyukur, jika sedari awal, kita melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang berurat akar menjadi kebiasaan yang akhirnya bertumbuh sebagai karakter.

Namun, bagaimana jika benang yang kita pintal itu tanpa kita sadari, justru  adalah merupakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang alih-alih mampu kita lepaskan, karena kita sudah terlanjur kadung terjerat di dalamnya? Banyak contoh, kebiasaan kecil saja, misalnya : bermalas-malasan, menunda sesuatu yang kita kerjakan. Atau, menjumput sebatang rokok yang mulanya hanya iseng, kepingin mencoba-coba , tapi akhirnya jadi kebablasan 'nyandu' sulit dilepaskan.

Ya, Horrace Mann sendiri, terlahir dari ayah seorang petani miskin, akhirnya bisa terkenal sebagai pendidik yang berpengaruh karena pemikirannya -- tentu tak terlepas dari kebiasaan baiknya dalam melahap berbagai bacaan di ...perpustakaan, hingga walaupun awalnya tak punya beaya sekolah, akhirnya berkat ketekunannya yang dipintal dari hari ke hari, toh mampu melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi, dan tak pernah terus berhenti belajar hingga akhir hayatnya.

Begitulah. Tanpa kita sadari, kebiasaan yang  masing-masing kita miliki terwujud pula berkat kedisiplinan dan ketekunan menjalaninya. Seperti saya sendiri, berusaha menulis Pijatan Quotes ini setiap harinya hingga tanpa disadari, jika sehari saja saya lengah, atau tidak sempat menuliskannya, rasanya ada sesuatu yang hilang, yang belum saya kerjakan. Sesempit apa pun waktu yang saya punya, saya berusaha menulis setiap harinya. Dan, itulah kebiasaan saya yang lama-lama menjadi kebisaan saya....(Catatan Selasa pagi, 2352017).   

Senin, 22 Mei 2017

Kejarlah!

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Temukan sesuatu yang kau cintai dan kejarlah!" (anonim). 
 Refleksi:
 Menemukan sesuatu yang dicintai itu "sesuatu" banget. Apalagi jika menggunakan "usaha" di dalamnya, sekuat daya yang ada untuk mengejarnya ; lebih "sesuatu" banget...banget! 

Nah, ketika muda belia, biasanya tidak mudah untuk mengetahui secara pasti dan maksimal berupaya menemukan sesuatu yang kita cintai. Boro-boro tahu secara jelas dan gamblang di depan mata, wong terkadang kita malah tidak tahu apa yang semestinya kita cintai. Persis seperti orang buta yang sedang meraba-raba dalam gelap, begitu-lah situasi dan kondisinya.

Ditambah lagi, kita tidak terlalu peduli untuk berusaha sekuat daya menemukan. Hanya menjalani saja apa yang ada, bahkan tak jarang, kita ikut-ikutan teman menemukan sesuatu yang dicintai... teman, bukan oleh diri kita sendiri. Lalu, bagaimana setelah sang waktu berjalan, dan usia merambat dewasa, bahkan tua? Apakah sudah tak berlalu lagi istilah menemukan sesuatu yang kita cintai? Bagaimana mau mengejar, jalan saja sudah tertatih-tatih ngos-ngosan menggunakan alat bantu tongkat?

Aha! Saya sama sekali tak setuju jika usia menjadi batasan penghalang mengejar sesuatu yang kita cintai. Banyak lho, nenek-nenek, aki-aki yang malah mengejar mimpi sejatinya tatkala usia sudah beranjak  senja. Dan, mereka berhasil tuh memerolehnya! Jadi sarjana di usia 90 tahun, belajar dansa di usia 78 tahun, atau... naik gunung di usia 65 tahun? Sah-sah saja....

So, tunggu apa lagi? Yuk, temukan sesuatu yang kita cintai, dan kejar sampai ke ujung dunia! (Catatan Senin, 2252017).

Minggu, 21 Mei 2017

Bertahan Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kita membutuhkan cara berpikir yang baru jika manusia ingin bertahan hidup"(Albert Einstein, ilmuwan fisika). 

Refleksi: 
Jika dikaji ulang, kalimat "bertahan hidup "ini sebetulnya lucu,ya? Kayaknya kita harus berpegangan pada sesuatu-- "gantungan", menggenggam jari jemari kita dengan erat, berupaya agar bisa ... hidup! Namun memang tak bisa disangkal, ada sementara orang yang dengan demikian kerasnya sekuat daya berusaha agar mampu melanjutkan hidupnya dari hari ke hari. Entah karena didera nestapa secara mental, atau beragam konflik sosial, finansial, dan entah apa lagi.

Dan, bapak fisikawan abad ke-20, Albert Einstein yang sebegitu terkenal dengan Teori Relativitasnya, memberikan tip jitu untuk mengatasinya. Hanya dengan ...cara berpikir yang "baru"! Ya, saya sependapat sebenarnya kita semua membutuhkannya. Cara berpikir yang baru, tidak terlepas dari memandang segala sesuatu yang kita hadapi dengan sudut pandang berbeda dari segala sisi. Tidak bisa stuck, bertahan kepada pola lama yang enggan kita lepas. Jika sudah tak dapat memberi kita energi, atau daya yang membuat kita sekadar bertahan hidup saja tak mampu, buat apa tetap dipertahankan?

Seorang ilmuwan seperti Einstein pun sudah membuktikannya sendiri. Kecilnya pemalu, disleksia dan sedikit autis pula, namun nama dan bahkan profil rupanya kemudian melejit dahsyat sebagai manusia genius yang dikagumi seantero dunia. Siapa yang menyangka penemu teori E=mc2 ini pernah berkali-kali gagal tes masuk ke Institut Teknologi di Zurich? Nah! @ Catatan Minggu 2152017