Halaman

Minggu, 30 April 2017

Bermimpi dan Percaya

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Untuk mencapai hal-hal besar, kita bukan hanya harus bertindak, tetapi juga bermimpi ; bukan hanya rencana, tetapi percaya" (Anatole France, jurnalis, penyair, novelis).

Refleksi: 
Di antara kita, ada manusia yang bertumpu pada tindakan nyata, dan mengabaikan kekuatan mimpi. Memilih lebih mengutamakan 'segudang' rencana di kepala, tanpa menyandingkannya dengan keyakinan di dada. Nah, saya suka sekali quote satu dari tokoh utama dunia sastra Prancis, Anatole France. Gemar membaca sedari belia (mungkin karena punya seorang ayah penjual buku), peraih penghargaan nobel sastra di tahun 1921 ini-- waduh, sudah lamaaa sekali,ya, malah menggabungkan kesemuanya menjadi satu kesatuan.

Penulis kritikus urban yang disebut-sebut sebagai tokoh sastra di akhir abad ke-19 ini, demikian bijak mengingatkan kita untuk berjaga-jaga tidak hanya berbekal rencana dan tindakan nyata saja, tetapi juga arif tanpa mengesampingkan betapa dahsyatnya kekuatan  mimpi dan sebuah keyakinan untuk mencapai hal-hal besar.

Ya, tentu saja mimpi saja tidak cukup tanpa diwujudkan dengan tindakan nyata. Begitupun rencana, tanpa keteguhan tekad bahwa itu akan terlaksana, suatu hari nanti.... Hmmm, pokoknya saya sukaaaa pijatan quote akhir minggu di bulan April ini! Anda juga,'kan? Tosss! (Catatan Minggu, 3042017).        

Jumat, 28 April 2017

Kekuatan Semesta

Piatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Jika seseorang berlatih melakukan hal-hal bagi orang lain sampai hal itu menjadi kebiasaan yang tidak disadarinya, semua kekuatan baik di Semesta berbaris di belakangnya dan di belakang apa pun  yang ia upayakan"(Bruce Barton, penulis, jurnalis, politisi).
Refleksi:
Sangat menyenangkan dapat menemukan quote dari seseorang berbakat sekelas Bruce Barton yang punya banyak keahlian. Anak tunggal dari ayah seorang pastor, dan ibu seorang guru ini, sejak usia 9 tahun sudah berusaha sendiri dengan berjualan koran. Bakat jurnalisnya pun diasah tatkala remaja high school, hingga  penciuman bisnisnya semakin 'tajam' dan ia terjun ke dunia periklanan  dan dikenal sebagai pendiri agensi periklanan BBDQ yang termasyhur.


Borton sangat percaya pada tindakan memberi. Saya menyukai pemikirannya, bahwa seseorang dapat "belatih" di dalam melakukan hal-hal bagi orang lain, sampai menjadi suatu "kebiasaan yang tidak disadarinya". Ya, apa sih, yang tidak mungkin, jika kita mau belajar? Saya pikir, kebiasaan yang sudah menetap ini kelak akan bertumbuh menjadi "karakter" kita. Dan, apa yang kemudian disodorkan Borton sangat melegakan. Katanya, "semua kekuatan baik di Semesta akan berbaris di belakang, dan di belakang apa pun yang kita upayakan".

Aha! Mungkin sebab itu, Borton dikenal sebagai penulis terlaris, selebriti bisnis, penyumbang bagi berbagai isu sosial, dan sangaaaat kaya? Ngomong-ngomong, sudahkah membaca bukunya yang best seller "The Man Nobody Knows"? (Catatan Jumat, 07.25 am, 2842017).  





 

Kamis, 27 April 2017

Temperatur Sepanjang Tahun

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"The best year round temperature is a warm heart and a cool head"(unknown).
Refleksi:
Ada tercatat di halaman paling belakang salah satu agenda saya, sebuah quote yang tak diketahui rimbanya, siapa si pencetus yang memiliki untaian kalimat indah ini. Katanya," Temperatur alias suhu udara yang terbaik sepanjang tahun adalah jika kita memiliki hati yang hangat dan kepala yang dingin."

Hangat dan dingin, memang sebuah kontradiksi "yin" dan "yang", demikian istilah peradaban negeri Tiongkok. Bisa saja kita bayangkan, sebuah baju atau selimut yang hangat, dan segelas es atau bahkan, gumpalan salju yang...brrr, dinginnya a la mak!  Namun, jika dikaitkan dengan organ tubuh: hati dan kepala, tentu sangat berbeda makna.

Memiliki hati yang 'hangat', saya langsung teringat kepada mereka yang penuh cinta, semangat pengampunan, dan berbelas kasih. Sebaliknya, kepala yang dingin --- menyadarkan saya kepada orang-orang di sekitar yang senantiasa menanggapi situasi atau kondisi yang dihadapinya dengan kesabaran, serta kontrol diri yang tinggi.

Ah, benar sekali,ya? Jika saja semua orang (termasuk Anda dan saya, tentunya), mampu mengendalikan diri sedemikan bijak, besar sekali kemungkinannya kita tidak  akan mengeluh panjang-pendek, karena toh, kita memiliki tahun-tahun yang terlewati dengan baik. Tak peduli, apa pun "temperatur udara" yang dihadapi di depan mata....(Catatan Kamis pagi, 2742017).      

Rabu, 26 April 2017

Cara Mengubah Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Satu persepsi baru, satu pikiran segar, satu tindakan pasrah, satu lompatan iman, dapat mengubah hidupmu untuk selamanya"(Robert Holden, penulis, pembicara).

Refleksi: 
Di tengah himpitan hidup, di tengah kebosanan dunia, acapkali banyak orang yang ingin mengubah hidupnya tetapi tidak tahu bagaimana caranya? Penulis kelahiran Kenya, 1965, Robert Holden yang menerbitkan buku-buku  bergenre psikologi dan spiritual, menyodorkan solusinya. Tidak banyak-banyak, cukup satu persepsi baru, satu pikiran 'segar', satu tindakan pasrah, dan satu lompatan iman!

Saya pikir, tidak percuma buku-buku Holden bertajuk kebahagiaan masuk jajaran buku laris yang telah diterbitkan ke dalam 14 bahasa. Ya, saya suka, ia tidak melupakan tindakan untuk berserah atau pasrah, karena terkadang sebagai manusia, kita mengabaikan hal yang satu ini. Boro-boro pasrah, kita kerap mengejar terus penuh ambisi tanpa mau mencoba sekalipun untuk sedikit rendah hati, bukan?  

Begitu juga dengan istilah 'lompatan iman' yang disodorkan Holden. Bagaimana mungkin, Si Iman ini melompat-lompat? Hahaha tentu ini hanyalah sebuah istilah dari permainan kata dari seorang penulis. Hmm, saya juga senang sekali, Holden menyisipkan unsur yang utama ini. Seturut pemikiran saya, seseorang yang ingin mengubah hidupnya, tidak akan pernah berhasil, tanpa memiliki iman.

Yeah, itu sih, menurut pemikiran saya. Bagaimana menurut pemikiranmu? (Catatan Rabu pagi, 2642017).

Selasa, 25 April 2017

Kebenaran

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebenaran pada akhirnya akan terungkap"(fi, penulis dan pendidik).
Refleksi:
Begitu saja, melintas kalimat ini. Entah darimana datangnya. Yang jelas, agar tidak lupa, buru-buru saya mencatatnya di selembar kertas... nota bekas belanja! Hahahaha. Dan, tanpa sengaja melihatnya pagi ini -- lalu saya tuangkan di arena Pijatan Quotes. Ya, begitu saja.... 

Saya sangat percaya, apapun jenis dusta atawa kebohongan yang dibuat seseorang, pada suatu waktu kelak entah bagaimana caranya, ada saja jalan untuk terkuak mengacu jalan kepada kebenaran. "Sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai, bau busuk akan menguar di udara" -- begitu kata pepatah lama, yang pernah saya dengar dari alamarhumah ibu saya.

Jadi, jangan pernah merasa takut untuk jujur. Prinsip "kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana", mungkin sama saja konteksnya dengan quote yang saya tulis, walau berbeda rupa. Ya, walau seorang sufi pernah mengatakan "jalan yang benar adalah jalan yang sunyi" (karena banyak orang yang enggan melakoninya atau hanya satu-dua orang saja yang bersiteguh di 'jalan yang benar'?) , saya kok, tetap saja kekeuh dan yakin sekali, hingga akhir zaman, quote kebenaran yang satu ini, tak akan sirna digilas waktu! Bagaimana dengan Anda? (Catatan Selasa pagi, 2542017).  

Senin, 24 April 2017

Compassion

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"If you want others to be happy, practice compassion. If you want to be happy, practice compassion"(Dalai lama, tokoh Buddhis). 

Refleksi: 
Lagi-lagi saya kepincut kalimat bijak dari Dalai lama ! Bicara soal kebahagiaan memang tiada habis-habisnya. Konon, karena manusia begitu banyak menghabiskan waktu untuk mencari kebahagiaan. Padahal, menurut seorang tokoh Buddhis sekaliber Dalai lama ke-14, jika ingin membuat orang lain berbahagia, caranya hanyalah mempraktikkan "compassion". Begitu pun jika ingin diri kita sendiri bahagia, ya...lagi-lagi, praktikkan saja "compassion".

Apa sih, "compassion" itu?  Menurut pemikiran saya tak terlepas dari hati yang "berbelas kasih", karakter luhur "welas asih". Berkesinambungan dengan tindakan kasih yang kudu harus dibagikan dan disebarluaskan, tidak hanya kepada sesama kita, tetapi juga seluruh makhluk ciptaan-Nya, seperti hewan dan tumbuhan lainnya.

Ya, praktikkan saja jika tidak percaya. Membagikan kasih di sekeliling kita, niscaya akan menumbuhkan perasaan senang luar biasa, menjalar ke seluruh sel syaraf tubuh sampai ke hati. Lebih dari perasaan senang, berakhir pada ...bahagia. Jadi, upayakan saja kebiasaan baik "compassion" di setiap perjalanan kehidupan kita setiap harinya. Ajukan Dalai lama ini, apakah merupakan sesuatu yang sulit, ataukah sebaliknya mudah untuk Anda?  Nah! (Catatan Senin pagi, 2442017).

Minggu, 23 April 2017

Berani Percaya Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Have enough courage to trust love one more time and always one more time"(Maya Angelou, penyair, aktivis, penulis skenario).
Refleksi:
"Aku melahirkan seorang anak laki-laki tetapi aku memiliki ribuan anak perempuan. Kau yang berkulit hitam dan putih, kau yang yahudi dan muslim, Asia... aku berbicara kepada kalian semua!"seruan bagi keragaman dan toleransi yang ditorehkan dalam "Letter to My Daughter", satu di antara 30 buku, warisan berharga Maya Angelou terus bergema, walau ia telah berpulang 28 Mei 2014, di usianya yang ke-86 tahun.  

Siapa yang tak mengenal reputasi penyair perempuan kelahiran Afro-Amerika ini di dunia sastra? Mengilhami banyak orang AS memerjuangkan kebebasan, kemajemukan dan toleransi, diskriminasi ras, Marguerite Anne Johnson-- nama aslinya, sebetulnya sangat sulit dipercaya mampu mengeluarkan pijatan quote yang saya temukan di antara bacaan pagi ini ; "keberanian untuk memercayai cinta yang tak berkesudahan, sekali lagi, dan selalu ...sekali lagi" dikumandangkan keluar bagi dunia dari seseorang yang memiliki masa lalu kelam seperti dirinya.

Sungguh, saya termangu dengan bibir kelu. Membayangkan Angelou kecil yang broken home, memiliki hubungan tidak harmonis dengan ibu kandungnya, bahkan ia...diperkosa oleh kekasih ibunya (dan sang kekasih yang brutal tersebut kemudian dibunuh oleh pamannya !). Bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurukan, kehilangan kepercayaan akan cinta, di dalam suatu 'labirin hitam' yang telah tercatat di dalam noktah buku kehidupannya, bukan?

Beruntung, ia masih memiliki seorang nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih. Mungkin, itulah yang membuatnya tidak pernah kehilangan harapan akan cinta? Seperti yang pernah diungkapkannya lagi, dalam seuntai kalimatnya,"When we decide to be happy, we accept the responbilility to bring happiness to someone else."

Memutuskan untuk berbahagia, dan menerima tanggung jawab untuk membagikan kebahagiaan kepada orang lain di sekitar, tentu saja harus menjadi orang yang mampu untuk menyingkirkan awan-awan gelap di dalam hidupnya dahulu. Ya, Angelou mengakui jujur akan hal itu, beberapa serial buku ditulis berdasarkan pengalaman sejatinya. "Aku punya banyak sekali awan, tapi juga punya begitu banyak pelangi di awan-awanku...."

Sulit dipercaya, ketika saya mencernanya dengan akal sehat saya. Namun, dengan mudah, akhirnya saya mampu meresapinya dengan segenap kebebasan rasa, sebagaimana yang didengung-dengungkan sang orator kebebasan itu. Ya, seorang yang memiliki berjuta kepahitan seperti Maya Angelou mampu melakukannya-- bagaimana dengan Anda dan saya? (Catatan Minggu pagi, 2342017).             

Jumat, 21 April 2017

Saat 'Bersentuhan'

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"When you touch someone's life it is a privilege.
 When you touch someone's heart it is a blessing.
 When you touch someone's mind it is an honor.
           When you touch someone's soul it is a triumph.
          
           When you touch someone's spirit it is a miracle"(Dr Jeff Mullan, Phd., ahli metafisika). 

Refleksi:
Agak panjang ya, Pijatan Quotes yang satu ini ? Sebagai seorang ilmuwan, ahli medis, penasihat spiritual, sekaligus pula penulis, Dr Jeff Mullan, Phd. memiliki banyaaak quotes yang menurut saya, sih; menyentuh. Ya, sesuai dengan judulnya, yang akan saya bahas kali ini memang soal "sentuhan".

Bukan..., bukan ngomongin soal sentuhan secara fisik! Itu, mah, lain lagi ceritanya. Tetapi, yang saya maksudkan adalah saat kita berhubungan dengan sesama kita manusia, tentu kita tidak luput dari kata yang satu ini. "Bersentuhan" dalam makna yang lebih luas lagi dan 'dalam'. Karena, acapkali sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari pun, kita bertemu dengan orang lain, secara tidak disadari, yang mampu 'menyentuh' kita....

'Bersinggungan' dengan orang-orang di sekitar kita, dikenal dekat, maupun orang asing sekali pun ia, terkait dengan kemampuan bahasa secara verbal, body language, dan ...apa lagi? Kemampuan memahami, alias tenggang rasa, bahkan lebih berbelarasa pun, termasuk di dalamnya. Ada yang membuat kita merasa hangat,nyaman, adem...sebaliknya ada pula yang bikin kita belingsatan setengah mati, 'mati kutu, dan mungkin juga, cemas, takut, tidak berdaya.

Nah, seturut pemikiran saya, quote yang rada panjang dari Dr Jeff Mullan (tetapi diahlibahasakan dengan rima yang indaaah ini), mengajak kita untuk lebih memahami keberadaan kita saat bersama-sama orang lain. Mampukah kita menjadi seseorang yang sedemikian rupa menyentuh banyak orang dalam kehidupan yang singkat ini, dengan menebarkan 'sentuhan-sentuhan' -- yang merekam jejak-jejak di kehidupan sesama dengan 'secuil kecil' saja; sesuatu yang istimewa, berkah, penghargaan, kemenangan, bahkan...keajaiban?

Tidak hanya mampu berbagi dalam hidup, hati, benak pikiran, jiwa, namun juga kedalaman rasa yang mampu menumbuhkan semangat inspirasi cinta dan kasih sayang...Yuuk, mari sama-sama kita renungkan? (Catatan Jumat pagi, 2142017).       

Kamis, 20 April 2017

Damai

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi di dalam hidupmu"(Vishnu, dewa pelindung Trinitas Hindu).
Refleksi:
Mengapa saya mengutip kalimat bijak seorang dewa --pelindung kekacauan dunia? Entahlah, begitu saja bacaan saya, pagi ini, tersedot oleh Vishnu, pasangan trinitas Brahma dan Siwa. Walau konsepnya metafisik, tak berbentuk, saya terusik membagikannya dalam Pijatan Quotes kali ini.    

Banyak kali yang kita minta-minta dalam doa, entah itu kesehatan, kesuksesan, nama yang termahsyur bahkan harta kekayaan yang berlimpah. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda, suatu ketika, sekaliiiii saja memohonkan diberi ... hati yang damai?

Vishnu mengingatkan saya,"Apa pun yang terjadi di dalam hidupmu, mintalah hati yang damai." Yup, harapan saya kepada semesta, tidak saja damai di hati saya sendiri, tetapi juga di hati Anda, di hati kita semua, di hati semua makhluk penghuni alam semesta raya ini. Betapa pun gonjang-ganjingnya  dunia, badai terasa datang menyerbu di kehidupan kita....(Catatan Kamis pagi, 2042017).  

Rabu, 19 April 2017

Jongos Rakyat

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Leadership is service, not position"(Tim Fargo, pengarang)
Refleksi:
Hari ini, Jakarta akan disibukkan dengan pemilihan gubernur (PILGUB) DKI 2017 putaran kedua, ditetapkan menjadi hari libur nasional. Siapa yang akan menang, tergantung 'hati nurani' para pemilihnya. Sayang sekali, saya berdomisili tidak lagi di Jakarta, sehingga tidak dapat ikut meramaikan dan menggunakan hak pilih sebagai warganegara yang baik (hmmm...).

Pasangan Ahok-Jarot, ataukah Anies Bawesdan-Sandi ,yang bakal berkuasa, bukan orang-nya yang utama bagi saya secara personal. Kerja nyata yang tulus dari seabrek janji yang telah terucap di hadapan rakyat, itu yang terpenting!

Seperti yang dikatakan pengarang kelahiran New York, AS, Tim Fargo. Pijatan quote yang saya pilih pagi ini sengaja mengacu kepada tipikal pemimpin seperti apa yang selaiknya 'berkuasa' atas negeri ini. Pemimpin adalah seorang pelayan, alias 'jongos rakyat' yang tugasnya melayani rakyat, bukan sebaliknya minta dilayani atau malah sekadar 'menduduki kursi' ,kemaruk kekuasaan belaka. "Not position, is service", saya pikir itu tepat sekali.

Ah, sudahlah. Saya hanya mampu berharap dan berdoa, semoga Jakarta diberikan pemimpin yang memang sungguh-sungguh layak untuk membenahi segala sudut negeri, tidak hanya mendirikan bangunan-bangunan tinggi menjulang, tetapi juga mengenyangkan perut yang lapar, menghapus segala duka atas nama korupsi. Berpihak kepada 'wong cilik', dan sungguh mencintai tanah airnya semerah darah yang mengalir di tubuhnya, dan seikhlas putih hatinya.

 Mohon kabulkan sepotong doa anak bangsa ini, Tuhan. Berikan Jakarta pemimpin yang bukan sekadar lip service, namun seorang pemimpin yang sungguh memiliki jiwa kepemimpinan ; melayani dengan hati... *Bukan rencana kami, namun rencana-MU lah yang terjadi.  Amin. (Catatan Rabu pagi, 1942017). 

       

Selasa, 18 April 2017

Jangan Menyakiti

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Tujuan utama kita dalam kehidupan ini adalah membantu orang lain. Apabila Anda tidak dapat menolong, maka setidaknya janganlah menyakiti"(Dalai Lama, biarawan Buddhisme Tibet).  

Refleksi: 
Satu ukuran standar manusia dalam kebaikan hati adalah mampu menolong orang lain. Dan, menurut pemimpin Tibet peraih Nobel Perdamaian, Dalai Lama, membantu orang lain adalah merupakan  tujuan hidup kita yang paling penting di kehidupan ini.

Lebih lanjut lagi, pijatan quote dari Tenzin Gyatso, dalai lama saat ini yang ke-14, menegaskan, bahkan jika kita tidak dapat menolong, setidaknya-lah kita jangan menyakiti. Ah, saya suka banget dengan pemikiran ini!

"Jangan menyakiti" adalah standar ukuran kebaikan hati yang esensial dalam konteks tidak menyakiti seluruh makhluk ciptaan-Nya (termasuk tumbuhan dan hewan!). Tidak hanya secara fisik, saya pikir, terlebih secara mental atau psikologis kepada sesama. Mampu memberikan prioritas kepada 'yang satu ini' saja, sudah menyumbang banyak bagi perdamaian dunia. Pikirkan dan renungkanlah! *saya sih, sudaaaah...(Catatan Selasa dinihari,1842017)

Senin, 17 April 2017

Kesadaran

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Hari di mana seorang anak menyadari bahwa semua orang dewasa adalah manusia yang tidak sempurna merupakan hari di mana dia menjadi seorang remaja ; hari di mana dia memaafkan mereka, dia berubah menjadi orang dewasa ; hari di mana dia memaafkan dirinya sendiri, dia berubah menjadi orang yang bijaksana"(Alden Nowlan, jurnalis, penyair, novelis).
 Refleksi: 
Orang-orang selalu mengatakan,"tidak mudah menjadi orangtua karena harus mendidik dan menjadi panutan anak-anak mereka." Tetapi, sesungguhnya menurut pengalaman saya, sangat tidak mudah pula untuk menjadi ... seorang anak. Terlebih jika ia dibesarkan di dalam lingkungan yang tidak semestinya, yang mungkin saja menjadikan ia tumbuh menjadi anak yang tidak memahami arti kata "bahagia".

Alden Albert Nowlan, penyair Canada yang boleh dibilang satu yang dipuja-puja dalam dunia sastra di abad ke-20, mencetuskan proses perkembangan kesadaran manusia sedari masa kanak-kanak. Katanya, di usia remaja -- saat itulah biasanya kita menyadari bahwa tidak semua manusia dewasa (terlebih orangtua kita), itu makhluk yang sempurna. Ya, hingga di saat proses pencerahan itu sampai kepada taraf "memaafkan" orang lain di sekitar, barulah kita menjadi dewasa. Sampai pada akhirnya, ke taraf kesadaran yang lebih tinggi lagi : mampu memaafkan diri sendiri ; seseorang dikatakan bijaksana.

Masalahnya; tidak semua di antara kita (walaupun usia sudah 'tua bangka'!), mau dan mampu menjadi orang dewasa, alih-alih menjadi Si bijaksana itu, bukan? *ketok jidat tiga kali (Catatan Senin pagi, 1742017).    

Minggu, 16 April 2017

Cinta Universal

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cintailah satu sama lain"(Yesus dari Nazaret).
Refleksi:
 Pesan Yesus singkat saja, kita harus mencintai satu sama lain. Siapa satu sama lain ini? Saya pikir, sih, tidak hanya sesama kita saja, tetapi seluruh makhluk ciptaan-Nya termasuk hewan dan tanaman di seluruh alam semesta raya yang luas ini.. Ya, banyak para ahli teologi meyakini, mesias -- Sang Putera Allah  akan membawa rekonsiliasi universal.

Bagaimana tidak, karena semua amanat yang diwariskannya-- sedari kelahiran hingga penyaliban, dan kebangkitannya, senantiasa abadi hingga abad ini. Cinta yang universal adalah pesan perdamaian bagi dunia yang tidak akan pernah sirna. Kesabaran, kesetiaan, pelayanan, hingga pengorbanannya yang paling besar , rela memberikan nyawanya untuk kita semua, disertai semangat pengampunan yang tulus....

Duh, apalagi yang bisa saya katakan? Pijatan quote Yesus, di Minggu Paskah ini telah memijat seluruh tubuh saya, tidak saja sampai ke ubun-ubun, tetapi juga...hati saya. Selamat merayakan kebangkitan Yesus, bagi teman-teman seiman. Semoga cinta kasih yang universal ini dapat kita praktikkan di dalam kehidupan keseharian kita semua. Amin....(Catatan pagi Minggu Paskah, 1642017).       

Sabtu, 15 April 2017

Baik Hati

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Tiga hal terpenting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah baik hati. Kedua adalah baik hati, dan ketiga adalah baik hati" (Henry James, penulis berkebangsaan AS). 
Refleksi:
Apa ukuran kebaikan hati menurut Anda? Orang yang senang memberikah? Mereka yang suka menolong, atau mau berkorban untuk orang lain? Begitu banyak keberagaman daftar ukuran kebaikan hati seseorang, saya pikir tergantung persepsi Anda masing-masing.

Malah ada bukan, yang menilai seseorang itu baik kalau sudi memberikan uang atau hadiah? Sebaiknya jika ogah membantu atau menolak 'direpotkan' , alih-alih dibilang baik hati, pasti label yang Anda berikan kepadanya bisa jadi "Si Pelit", "Si Pemberang", atau...ah, entah banyak lagi julukan tak menyenangkan lainnya!

Demikianlah hebatnya kita sebagai manusia, ya? Kerap mengukur seseorang dengan sudut pandang kita sendiri, padahal menurut Henry James, penulis produktif yang pernah meraih Pulitzer Prize untuk karya biografi , hanya ada tiga hal terpenting dalam kehidupan manusia. Yaaaa, kebaikan hati itu!

Nah, apakah Anda (atau malah saya sendiri), termasuk kategori orang yang mengutamakan kebaikan hati ini di dalam hidup? *melongok ke dalam hati sendiri (Catatan pagi Sabtu Vigili, 1542017).      

Jumat, 14 April 2017

Kecerdasan Langka

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 
 "If we encounter a man of rare intellect, we should ask him what books he reads"(Ralph Waldo Emerson, esais, dosen dan penyair).
Refleksi:
Tidak bisa disangkal lagi, orang-orang yang banyak membaca biasanya memiliki pengetahuan rata-rata di atas orang lain yang sebaliknya sama sekali tidak suka membaca. Jelas-jelas penyair kelahiran Boston, AS, Ralph Waldo Emerson, menegaskan hal ini.

Katanya,"Jika kita bertemu dengan orang yang kecerdasannya langka, tanyakan saja buku apa yang dia baca." Ya, ya, pengarang banyak buku, satu diantaranya yang paling terkenal "The Transcendentalist" tentu saja telah membuktikan hal itu. Dan, saya sendiri mengakui, dengan membaca pikiran kita jadi terbuka luas. Buku membawa kita 'berlayar' ke mana-mana -- ke ujung dunia sekalipun....

Buku yang baik, bahkan mampu membentangkan cakrawala kita ke tingkat yang lebih tinggi. Ajari anak-anak membaca sejak kecil, paling tidak sebagai orangtua kelak kita bisa menepuk dada telah menitipkan warisan yang paling berharga untuk mereka. Pengetahuan yang menetap tidak bisa dibeli dengan uang, lho! Lebih baik menjadi 'kutu buku' ketimbang 'kutu loncat'! hehehe (Catatan Jumat Agung, 1442017).    
 

 

Kamis, 13 April 2017

Usia

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Jalani hidup Anda, lupakan usia Anda"(Dr Norman Vincent Peale, pengkhotbah dan penulis).

Refleksi:
Ada orang yang mengeluh cemas dan takut bila usianya bertambah,"Aduuuh, makin tuaaa aja!" Sebaliknya, ada orang yang mengatakan dengan santai bahwa usia hanyalah sederet bilangan angka. Nah, berada di golongan yang manakah Anda?

Secara kronologis, hitungan usia memang dihitung sedari kita dilahirkan hingga perjalanan berikutnya, menurut kalender tahunan. Namun jangan lupa, selain usia biologis, ada juga yang namanya "usia psikologis"; seberapa tua kita merasa? Ya, saya pernah membaca, bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa sesungguhnya dapat menentukan seberapa muda atau tua diri kita.

Sikap kita, cara kita berpikir, menumbuhkan keyakinan apakah kita masih muda ataukah sebaliknya, kita ini  sudah sepuh alias tua. Pijatan quote dari Dr Norman Vincent Peale, penulis kelahiran Ohio, AS yang terkenal dengan bukunya "The Power of Positive Thinking" (terjual 7 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke 41 bahasa di dunia), menegaskan sebaiknya-lah, kita lupakan saja yang namanya usia, yang terpenting adalah menjalani hidup.

Hmm, saya pikir begitu. Orang tua masih perlu 'bermain', dan anak remaja jangan terlalu berpikir serius, sehingga hidup pun terasa teramat 'berat'. Nikmati sajalah setiap momen yang ada dengan sukacita. Keceriaan berpikir itu obat awet muda. Anda setuju? (Catatan Kamis putih, 1342017).    




   

Rabu, 12 April 2017

Waktu

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Anak-anak mengeja kata cinta dengan W-A-K-T-U" (John Crudele , jurnalis dan kolumnis). 

Refleksi:
Berapa prosentase waktu yang Anda habiskan mengejar kesibukan pekerjaan, sosialisasi, dan lain-lain di luar rumah? Dan, berapa sisa prosentase waktu yang Anda habiskan di rumah bersama anak-anak Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini 'menggedor benak' saya tatkala mata saya tertumbuk tanpa sengaja pada bacaan quote yang saya temukan pagi ini.

Pencetusnya adalah John Crudele, kolumnis finansial New York Post yang laporan analisisnya dikenal humoris. Ia juga jurnalis New York Times, Reuters, radio dan televisi, selain menjadi pendidik. Mungkin itu sebabnya ia mengingatkan Anda dan juga saya. Sebagai orangtua, kita kerap berkilah,"Bukankah kita bekerja demi keluarga, demi kepentingan anak-anak? Yang penting toh, kualitas waktu, bukan kuantitasnya...."

Hmm, benarkah demikian? Apakah Si kecil paham "teori waktu" yang kita gunakan ; kualitas waktu lebih penting daripada kuantitas waktu? Apakah anak-anak remaja juga mau mengerti bahwa yang kita uber ; mencari nafkah mati-matian di luar sana hanya demi mencukupi seabrek fasilitas mereka?

Saya pikir sih, tidak! Mereka mengeja kata cinta yang kita berikan hanya dengan W-A-K-T-U ! Ada kekosongan yang tidak akan terisi, karena sebagai orang dewasa, Anda dan juga saya, tanpa sadar seringkali terikat kepada sekadar ambisi dan egoisme pribadi, karena merasa tahu... segala-galanya? Termasuk merasa mengetahui apa-apa yang sebenarnya anak-anak kita butuhkan (benarkah imbalan uang atau hadiah lebih bermakna bagi mereka ketimbang pelukan, pujian, dan kebersamaan)?

Duh, Crudele. Pijatan quote-mu Rabu pagi ini membuat saya mereka-reka cinta di hati saya kepada anak-anak dengan imbalan waktu yang saya punya, dan telah saya berikan kepada mereka selama ini...(Catatan pagi, 1242017).      

Selasa, 11 April 2017

Musuh Kreativitas

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"The worst enemy to creativity is self-doubt"(Sylvia Plath, penyair, novelis).

Refleksi:
Apa itu kreativitas? Daya cipta dari buah pikiran yang gemilang! Saya yakin begitu. Sayangnya, walau kita memiliki unsur yang hebat ini, tidak semua mampu dan mau memberdayakannya. Termasuk...saya.

Banyak hal  mendera dan bahkan menghalangi ; malas, kebimbangan, apa lagi?  Sylvia Plath, cerpenis, eseis, novelis, yang lebih dikenal sebagai penyair, jelas-jelas bilang,"Musuh terburuk kreativitas adalah meragukan diri sendiri." Yup, terbelenggu oleh rasa ragu, sama saja kita sudah mengambil selangkah... mundur.

Oh, tentu saja untuk menciptakan kreativitas yang brilian, kali pertama yang harus kita lakukan adalah memupuk kepercayaan diri dulu. Yakini gagasan kita baik adanya, go for it! Tidak mudah memang, karena boro-boro menindaklanjuti gagasan, menyampaikan buah pikiran saja terkadang lidah kita kelu, takut, minder.

Penulis novel semi auto-biografi "The Bell Jar", yang bercerita tentang perjuangan melawan depresi dan sudah difilmkan, Sylvia Plath (sayangnya ia meninggal di usia muda, 31 tahun!), melalui pijatan quote-nya pagi ini, telah mengingatkan saya. Paling tidak, berupaya sedapat mungkin terlebih dahulu untuk mengedepankan kepercayaan diri sebagai tameng kreativitas yang saya hasilkan.

Tanpa keraguan, dengan sebulat tekad kepercayaan diri penuh, tentu kreativitas kita siap melejit mengangkasa! (Catatan Selasa pagi,1142017).    

Senin, 10 April 2017

Melawan Lupa

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Pertumbuhan intelektual seharusnya dimulai pada saat lahir dan berhenti pada saat mati" (Albert Einstein, ilmuwan fisika).  

Refleksi:
Orang yang sudah tua, umumnya kerap dibilang "pikun" alias mudah lupa. Tetapi, realitanya, anak-anak muda pun seringkali dijangkiti 'penyakit lupa' ini. Apalagi yang berkaitan dengan penyelesaian tugas, dengan mudahnya mereka akan bilang,"Wah, lupa!" hehehe.

Apa pun pembenarannya, saya setuju yang ditegaskan Bapak ilmuwan terbesar di abad 20, Albert Einstein. Tidak ada batasan usia dalam hal kemampuan berpikir! Penemu teori relativitas, kelahiran 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman, menerima nobel dan banyak penghargaan dunia lainnya karena 'kegeniusannya'.

Padahal, jika ditelusuri dari kisah hidupnya, Einstein kecil malah pernah dianggap terbelakang karena disleksia dan autis (ia pemalu dan penyendiri). Lulus SMA pun ditolak menjadi asisten dosen, sehingga akhirnya sempat menjadi guru.

Begitulah, pada realitanya, saya percaya bahwa dengan rangsangan yang baik, otak kita dapat memertahankan kemampuan bekerjanya sepanjang usia. Ini hanya masalah kemampuan ekspansi dan perkembangan kok, seperti pijatan quote Einstein yang saya temukan pagi ini ; "Kemampuan intekletual  dimulai saat lahir dan baru stop tatkala mati".

So, jangan mau kalah sama usia, ya? Terus belajar, banyak membaca, dan bekerja. Tentu juga dibarengi semangat spiritualisme, harapan yang senantiasa bersinar di dalam diri, dan berpikir positif. Ssst, ini sih, saya sekadar menambahkan bumbu racikan melawan lupa! (Catatan Senin pagi, 1042017).          

Minggu, 09 April 2017

It is Magic !

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"It is important to remember that we all have magic inside us"(J.K.Rowling, novelis kelahiran Yate, Britain).

 Refleksi: 
Siapa yang tidak kenal penulis novel serial "Harry Potter"? Walaupun mungkin tidak semua ngeh, single mom yang punya tiga anak ini memiliki nama asli Jeanne Kathleen Rowling, dan sebelum terkenal sebagai penulis paling kaya di dunia, kehidupan pribadinya boleh dibilang 'babak belur'?

Namun, seperti yang ditandaskan Rowling  di antara satu quote-nya yang mampu memijat ubun-ubun saya, pagi ini, bahwa penting banget mengingat di dalam diri kita semua ada... magic! Yeah, kekuatan 'sihir', yang saya persepsikan saja sebagai 'keajaiban'. Tentu, asalkan kita mau percaya dan meyakininya, keajaiban sihir itu akan mampu bekerja dan...terjadi.

Coba lihat saja magic yang terjadi di dalam kehidupan Si pencetus-nya sendiri ; penulis yang menetap di Edinburg, Scotlandia ini sungguh-sungguh membuktikan bagaimana 'sihir' mampu mengubah kehidupannya 360 derajat.

Ehm, tentu bukan sekadar mengayunkan tongkat sihir lalu bilang keras-keras "Voila...Abracadabra!" Kemudian ongkang-ongkang kaki, cuma duduk menunggu keajaiban terjadi. Oh, no!

 "Tekad, kerja keras, integritas", saya pikir masih sangat diperlukan untuk mewujudkan 'sihir' di dalam diri kita. Tanpa itu semua? Jangan pernah berharap, deh....(Catatan Minggu Palma, 942017).     

Sabtu, 08 April 2017

Awal Baru

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Aku suka sekali bau manis udara fajar--peluang unik yang kita dapatkan setiap hari untuk 'mencium waktu', untuk mencium peluang---setiap pagi merupakan sebuah awal baru"(Emme Woodhull-Bache, penulis).  

Refleksi: 
Susah bangun pagi? Dulu, saya begitu. Kalau sudah ketemu bantal, susah bangunnya. Tetapi, dengan berjalannya waktu, satu perubahan yang lumayan konsisten saya lakukan adalah...bangun pagi. Kini, bangun dini hari, sebelum fajar menyingsing adalah merupakan keharusan.Saya jatuh cinta pada 'keajaiban' udara pagi!

Seperti yang dikatakan Emme Woodhull-Bache, penulis yang punya banyak quote dan satu di antaranya, saya kutip sebagai 'pijatan' pagi ini, adalah kesempatan unik setiap hari untuk 'mencium waktu' alias peluang. Saya setuju banget yang dikatakan Emme, "setiap pagi merupakan awal baru".

Jadi, buat apa menengok ke belakang. Merintih dan menyesali masa lalu? Ciptakan peluang baru Anda, mulai dari setiap pagi, hari ini. Diawali dari mana dulu?

Ayo, bangun pagi!(Catatan Sabtu pagi setelah gerimis berhenti, 842017).     

Jumat, 07 April 2017

Gangguan Seumur Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Aku suka menikah. Sangat menyenangkan menemukan seseorang yang istimewa, yang mau kau ganggu sepanjang sisa hidupmu" (Rita Rudner, aktris komedi, penulis). 

Refleksi:
Tidak salah Rita Rudner berkecimpung di dunia hiburan sebagai aktris komedian, perspektifnya tentang pernikahan membuat saya ketawa ngakak! Alih-alih membahas kesemerawutan atawa duka kehidupan pernikahan, Rita justru menyodorkan satu hal yang kudu harus dikedepankan : sukacita menikah. 

Yeah, kesenangan bagi pasangan yang menikah adalah "memiliki seseorang yang bisa kau ganggu sepanjang usiamu." Wah, keren sekali,'kan pijatan quote-nya? Halah, benar juga, ya, pasangan hidup kita itu istimewa, lho, karena dia bersedia dan mau kita 'ganggu' seumur hidup.

Bagaimana kalau nggak mau diganggu? Yo, wis, bubar, rek! Mungkin, ini satu resep cespleng awetnya suatu pernikahan! Hahaha.(Catatan Jumat pagi,742017).






Kamis, 06 April 2017

Tentang Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Janganlah mencintai dan mencari ketidaksempurnaan, tetapi cintailah ketidaksempurnaan dengan cara yang sempurna" (Anonim).

Refleksi: 
Mari kita bicara tentang cinta ! Pijatan quote kali ini romantis, yak. Sayangnya, saya tidak tahu siapa pencetusnya. Saya mendapatkannya begitu saja, pagi ini, di antara 'selipan tua' sebuah agenda saya.  Hmm, sebuah agenda? Ya, saya punya lumayan banyak agenda. Isinya macam-macam, dari coretan ide yang melintas, sampai urek-urekan catatan emak. Hahaha.

Seperti yang saya sodorkan sedari awal, mari kita bicara tentang cinta ! Orang yang jatuh cinta, biasanya kelilipan matanya (bahkan ketutupan matanya), segala sesuatu yang dilihat, hanyalah kesempurnaan semata. Nah, setelah yang merasa dicintai dan dikejar-kejar setengah mati didapat, barulah... ketidaksempurnaan terbentang di mana-mana.

Adaaaa saja yang dicari-cari, dan biasanya memang berkaitan dengan ketidaksempurnaan Si pasangan. Quote anonim ini bertutur dengan bijak, menasihati kita agar justru "mencintai ketidaksempurnaan itu dengan cara yang sempurna".

Piye, toh, bagaimana caranya? Ah, seturut pemikiran saya yang dangkal tentang cinta ini, apa lagi jika bukan mencintai ketidaksempurnaan itu dengan menerima apa adanya, segala suka dan duka ditanggung bersama se-ia sekata, abaikan segala rasa yang menyiksa. No complaining, rela berkorban, bersyukur...

Tuh, bisa nggak?  *garuk-garuk kepala (Catatan Kamis,07.55 AM, 642017).  


Rabu, 05 April 2017

Hidup itu...?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Hidup itu seperti naik sebuah taksi. Entah kamu sedang berjalan ke suatu tempat atau tidak, argonya tetap berjalan"(John C. Maxwell, penulis dan pembicara).

Refleksi:
Saya tidak ingin memerdebatkan keberadaan taksi on line atau tarifnya yang sedang ramai digunjingkan, tetapi pijatan quotes milik pak pendeta yang buku-bukunya laris manis ini bikin saya merenung. Benar seperti yang dikatakannya, secara sadar maupun tidak, kita semua sedang menaiki kendaraan.

Suka-suka saja, Anda boleh pilih naik apa saja. Sepeda, motor, kereta api, atau ... pesawat terbang? Yang jelas, Maxwell yang memilih naik taksi, tidak lupa mengingatkan kita ada harga yang harus kita bayar. "Argonya tetap berjalan", katanya,"entah Anda sedang berjalan ke suatu tempat atau tidak."

Yeah,boleh jadi sebagai manusia terkadang kita merasa tidak punya tujuan yang ingin dituju. Tetapi, ketimbang deg-degan melirik argo yang terus berjalan, bukankah sebaiknya kita memiliki tujuan saja? Jadi..., ya, jalani saja-lah sepenuh hati jiwa dan raga!(Catatan Rabu pagi, 542017).

Selasa, 04 April 2017

Menangkap Peluang

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Ketika sebuah pintu tertutup, pintu lain terbuka. Namun kita terlalu sering melihat ke arah pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita"(Alexander Graham Bell, ilmuwan, penemu).

Refleksi:
Scientist yang lebih dikenal sebagai penemu alat telekomunikasi, telepon, Alexander Graham Bell, sangat dimungkinkan  mengaplikasikan pengalamannya dalam quote ini. Berapa banyak kegagalan yang pernah dilakoninya saat mencipta suatu gagasan yang akhirnya menjadi benda yang memiliki berjuta manfaat bagi dunia?

Ya, dalam interpretasi saya, "pintu" yang dimaksudkan Graham adalah "peluang" alias kesempatan. Sebuah kegagalan dapat berubah wujud menjadi kesuksesan, bila kita jeli menangkap peluang tersebut. Tak apa berulangkali 'terjatuh', toh, kita pasti mampu bangkit kembali.

Asalkan percaya, seperti yang dikatakan penemu kelahiran Edinburg, Britain ,"Jika pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka". Yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah mindset kita, dengan sepenuh hati melihat adanya harapan menangkap peluang lain. Jangan terpaku kepada kegagalan, tetapi bersemangatlah merebut kesempatan berbeda yang pasti akan lewat di depan mata kita.

Begitu,'kan? (Catatan Selasa pagi, 4042017).           

Senin, 03 April 2017

Don't be Sad

(Oleh Effi S Hidayat)

"Jangan nasihati aku untuk tidak bersedih. Atau jika kamu ingin bilang hal yang sama, seperti mereka yang lain katakan kepadaku,'Sudahlah, ikhlaskan saja kepergiannya. Dia sudah tenang di surga sana. Kamu harus kuat...', lebih baik kamu tidak usah datang!" Saya terkejut. Ah, dia bukan seperti orang yang kukenal.

Sahabatku, kutulis saja initialnya "T", suaranya terdengar sinis, kecut, dan judes sekali. Lama saya terpekur, setelah menutup gagang telepon. Sejak bersahabat dekat dengannya, saya merasa sudah memahami karakternya luar dan dalam.

Tetapi, kali ini, saya merasa gamang. Dia bukan  seorang "T" yang lama kukenal. Speechless, tidak ada yang bisa kuutarakan, dan dia juga terlebih lagi, mungkin. Sehingga buntut-buntutnya kemudian jawabanku lebay seperti ini,"Oh, nggak, kok. Siapa bilang aku seperti mereka? Aku lain! Aku cuma... cuma ingin memeluk kamu!"

Yang jelas, kepergian suaminya untuk selamanya sangat mengejutkan. Baru beberapa minggu lalu, saat dia pulang cuti ke Yogya untuk menjenguk suami tercintanya yang sakit, tapi kemudian kabarnya via telepon," Tidak ada yang perlu dicemaskan. Suamiku sudah membaik kondisinya. Dokter bilang juga tidak apa-apa...."

Lalu, tiba-tiba datang berita duka itu. Suaminya berpulang untuk selamanya ke haribaan-Nya. Dan, karena saya berhalangan terbang ke Yogya, hanya berusaha mengontaknya melalui telepon. Tetapi, dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Telepon genggamnya, berbagai sarana media sosial seperti facebook, semuanya off line. 

Dan, kini setelah akhirnya bisa juga berbicara dengannya melalui ponselnya, setelah ia kembali ke Jakarta, mengapa seperti ini kejadiannya? Ah, sudahlah. Tetap datangi saja. Ayo, dia pasti membutuhkan kehadiranmu, kata hatiku berbisik lirih.

Ya, walaupun sama sekali belum ada kepastian, apakah dia sudah kembali bekerja atau tidak, saya nekat saja mendatangi kantornya. Dengan mengajak seorang teman, sore hari itu akhirnya kami bisa bertemu.

Entahlah, saya tidak bisa bersikap seramai biasanya. Hanya mampu berbasa-basi cerita yang tidak perlu. Untunglah saya mengajak Lin , yang pada dasarnya 'tukang ngoceh'. Wira-wiri dia bertutur tentang kesehariannya setelah lama tidak bertemu ; soal anak dan suaminya, juga bisnis barunya.

Dan, saya hanya bisa ikut tekun mendengarkan sembari tentu saja merengkuh pundak T. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, sampai akhirnya T sendiri yang 'buka suara', bla,bla,bla... dan ...."Aku marah sama Tuhan!" bisiknya pelan, tapi kedengaran seperti genderang yang dipukul tiba-tiba, memekakkan telingaku yang seketika berdiri. Mungkin mirip telinga milik anjing peliharaanku, Snowy.

"M-e-n-g-a-p-a?" pertanyaan yang kueja di benakku itu kutahan saja sebisa mungkin, tak kulontarkan kepadanya. Namun, untunglah dijawabnya sendiri dengan tegas," Rasa-rasanya selama ini aku sudah hidup lurus-lurus saja. Ketika berbicara aku menjaga semua perkataan agar tidak menyinggung perasaan orang, dan berprilaku sesuai dengan perintah-Nya. Aku berusaha menjadi orang baik...," dia menghela napas panjang.

Lalu dia melanjutkan dengan suara lirih,"Tetapi, mengapa Tuhan malah mengambil Mas-ku tercinta di saat kami sedang nyaman-nyamannya, berusaha menggapai mimpi kami berdua?" Pandangannya lurus jatuh ke tanah. Saat ini, kami memang sedang duduk ngedeprok di dekat lapangan parkir. Bokong-bokong mobil di parkiran berderet di depan hidung kami. Hanya satu-dua orang yang kelihatan lalu lalang.

Saya terpekur lama, tanpa janjian saling bertukar pandang dengan Lin. Dan, temanku Lin itu, rupanya tidak tahan untuk tidak menutup mulutnya seperti yang kulakukan. Dia berkomentar panjang lebar," Begini, T. Maafkan ya, aku bukan ingin mengguruimu. Tetapi, jujur, aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Marah kepada Tuhan!"

"Ya, bahkan mukenah kulempar begitu saja! (Lin muslim, sahabatku T juga berkeyakinan yang sama, red.). Suamiku pun melarangku untuk beribadah. Buat apa menyembah-nyembah kepada Dia yang sama sekali tidak peduli kepada kita? Semuanya sia-sia tidak ada gunanya...."

Dan, Lin mengungkapkan, betapa penderitaan sebagai keluarga muda yang harus mereka tanggung. Membayar uang sekolah anak semata wayang saja sudah tak mampu. Himpitan ekonomi membuat mereka menggugat-Nya. Namun toh, akhirnya keluarga mereka kembali sadar berlari kepelukan-Nya. Dan, ajaib! Rezeki mereka mengalir lancar melimpah....

Saya serius mendengarkan sembari menoleh kepada T, berusaha mencari-cari sesuatu di matanya. Tetapi, kosong..., binar-binar yang biasa kudapati pada perempuan yang kadang freak, tapi sungguh, bagiku, dia seorang sahabat yang asyik menyenangkan, sama sekali tiada.

Tiba-tiba aku teringat kata-katanya, "Please, jangan nasihati aku seperti orang-orang lain lakukan. Agar aku ikhlas, agar aku kuat, agar aku menerima dan melapangkan jalan Mas-ku. Karena jujur saja, saat ini aku tidak kuat, aku tidak ikhlas, aku marah! Aku... mengapa harus Si Mas yang diberikan doa? Seharusnya aku ini lho, yang kalian doakan. Mas-ku telah lelap, diam membeku di alam sana! Aku ini, tinggal aku, seorang janda yang masih hidup, dan membutuhkan doa kalian agar aku mampu bertahan...."

Sudah jelas, bukan segudang nasihat yang diharapkan T sekarang. Lihat saja, sepertinya dia mendengarkan, tetapi pandangan matanya menerawang entah ke mana.... Jadi, ya, percuma saja! Lin sendiri, entah capek, entah menyadari, akhirnya pun terdiam.

Kumpulan awan hitam yang bergerumbul di langit, menyadarkan kami bahwa senja sudah lama turun. Sebentar lagi gelap menjelang. Saya dan Lin pun berpamitan, melambai pada T yang berdiri mematung mengantar kami di depan kantornya.

Melihat sosoknya yang terlihat ringkih tidak berdaya, matanya yang indah bercahaya kini kuyup letih dan lesu, tiba-tiba saya ingin merengkuhnya kembali. Betapapun, saya yakin, dia itu tipikal perempuan kuat dan mandiri. Namun, oh, siapa yang tahu rapuhnya sebuah hati?

Dalam perjalanan pulang, hujan turun sangat deras. Puji Tuhan, saya tiba di rumah tatkala hari belum terlalu malam. Entah mengapa, perasaan tak berdaya masih begitu kuat menyelimuti. Ah, siapalah saya ini? Rasa-rasanya tak berbeda dengan orang-orang lain yang T sebutkan.

Kami semua hanya bisa berkata-kata, cuap-cuap sekadar menghibur, "Ayolah, jangan sedih. Ikhlaskan saja, kamu harus kuat. Doakan agar suamimu mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya...." Ya, ya, seperti yang T katakan, suaminya sudah tidur untuk selamanya. Kini hanya tinggal dia seorang diri dan butuh dihibur, didoakan....

Memeroleh kesadaran itu, seperti biasa saya membuka halaman Alkitab sebelum tidur. Dan, percaya atau tidak, mataku terpaku pada bacaan firman pada hari Rabu, 7 September,  tepat hari itu. Begini bunyinya, "Berbahagialah, hai, kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa" (Lukas 6: 21).

Duh, siapa bilang tidak ada yang bisa saya lakukan untuknya? Walau berbeda keyakinan, saya akan mendoakan T agar dia kuat dan semakin kuat menjalani hari-harinya. Saya percaya, tangisnya akan luntur, berganti menjadi tawa. Tiba-tiba hati saya terasa tenang. Dan, saya berharap T pun demikian. Sungguh! (Just for TS, 30916)* (Komunika 05/XVI, September-Oktober 2016).       

Mana yang Lebih Mudah?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"To a disciple who was forever complaining about others the Master said,'If it is peace you want, seek to change yourself, not other people. It is easier to protect your feet with slippers than to carpet the whole of the earth'." (Anthony de Mello,SJ, rohaniwan dan penulis).

Refleksi:
Saya mengoleksi buku-buku yang ditulis oleh direktur Institut Konseling Pastoral Sadhana di Poona, India ini. Saya kerap 'terkejut-kejut' dengan buah pemikirannya yang bernas dan humoris. Seperti pilihan  Pijatan Quotes pagi ini, pastor Anthony justru dengan lugu bertanya,"Mana yang lebih mudah, melindungi kaki kita sendiri dengan sandal, atau menyelimuti seluruh muka bumi ini dengan permadani?"

Lugasnya, daripada mengomel terus tentang  orang lain dan menginginkan perdamaian, bukankah akan lebih mudah jika berupaya mengubah diri kita saja sendiri terlebih dahulu! Anda setuju? Saya, sih,...setuju! "Berdamailah dengan diri sendiri", baru kita bisa berdamai dengan orang lain. (Catatan Senin pagi, 3042017).   

Minggu, 02 April 2017

Teori Memberi

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Apa pun yang Anda rasa ditahankan orang lain dari Anda-- pujian, penghargaan, bantuan, kasih sayang, dan seterusnya--berikanlah itu pada mereka"(Echart Tolle, penulis kelahiran Jerman).  

Refleksi:
Ini teori "hukum kebalikan" yang menarik! Kerapkali sebagai manusia, kita berpikir secara negatif bahkan sampai-sampai dalam hal "merasa" pun demikian juga. Berbagai hal yang sudah ada pada diri, kita abaikan dan malah fokus kepada hal-hal yang kita anggap 'ditahan-tahankan' orang lain dari kita.

Penulis buku laris "The Power of Now", Echart Tolle, mengajuk  saya untuk memutarbalikkan ilusi ketidaksadaran itu menjadi realita kesadaran yang sebaiknya-lah saya lakukan. Alih-alih menyesali diri dan mengumpat orang lain serta seluruh dunia, bukankah lebih baik jika saya malah memberikan saja apa-apa yang saya punya dan bisa saya berikan kepada orang lain?

Termasuk, memberikan kepada mereka yang justru enggan memberi kepada kita, apa pun itu...? Ah, ini sungguh teori kesadaran diri yang luar biasa dan patut saya praktikkan. Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk mencobanya juga-kah? *rayuan di hari Minggu (Catatan pagi 2042017).          

Sabtu, 01 April 2017

Mari Berbagi

(Oleh Effi S Hidayat)

Seorang teman saya mengomel. Katanya,"Paling sebal ketemu Si A, wajahnya di-setel 'kencang' melulu. Ndak mau senyum. Jadi, malas menegur, deh! Mentang-mentang kaya, kali, ya?"

Kebetulan saya, yang baru juga diprotes seorang teman, karena prihal yang nyaris mirip, berupaya memberi masukan positif. "Ah, siapa tahu dia tidak sedang melihat kamu. Jadi, tidak sempat 'say hello' ?"

Ya, ya, bisa jadi begitu, bukan? Karena seperti itu pula jawaban yang saya berikan kepada teman yang bilang saya "sombong" akibat saat bertemu di jalan, tidak menyapanya.

"Maaf , terus terang saja kalau sedang jalan, pandangan saya suka lurus  ke depan. Lempaaaang saja, jadinya suka ketelisut tidak lihat-lihat orang. Apalagi terkadang kelupaan kacamata. Jadilah, sudut pandang saya makin terbatas, dan parahnya ditambah lagi dengan kebiasaan saya yang sering day dreaming. Jadi, bukan maksud hati saya untuk 'bersombong-ria'...," Saya pun meminta maaf sembari terpaksa menjelaskan panjang dan lebar. Karena demikianlah yang terjadi, apa adanya. Tak lebih dan tak kurang.

"Tetapi, kalau semua faktor yang kamu sebutkan itu tidak cocok? Wong, jelas-jelas Si A jalan berpapasan sama aku, kok. Di depan batang hidung persis, begini ini, nih!" temanku terlihat penasaran, masih bernada suara jengkel. Lalu dengan pasti, berusaha menyingkirkan semua premis mayor yang kusebutkan. Tidak lupa dia mencontohkan 'gaya amprokannya' bersama Si A.

"Dan, bukannya sekali-dua kali, lho. Hampir setiapkali begitu, teman lain juga mengeluhkan hal yang sama!" tuturnya lagi menambahkan, kali ini sembari menghela napas panjang.

Mau tak mau saya jadi terdiam. Kepinginnya sih, memang berpikir positif senantiasa. Tetapi, jika kenyataan berkata lain? Mungkin saja ada tipikal orang tertentu yang emoh kenal orang. Siapa loe, siapa gue, begitu kira-kira. Maka bisa jadi, praduga "mentang-mentang kaya" itu mengintili.

Ya, saya pun pernah mengalami hal yang sama. Suatu waktu, malah pernah dibiarkan 'terlantar' di depan pintu, saat hujan turun mulai rintik, tak dipersilakan masuk menunggu ke dalam. Demi mengurus sesuatu hal, berkaitan menunggu surat yang dibutuhkan. Apa boleh buat, prilaku seperti itu, akhirnya memintal tanya tanya besar.

"Kok, tega, ya?"
"Apa memang ia sesombong itu?" antara lain pertanyaan seperti ini sambung menyambung beruntun. Buntut-buntutnya kita pun menjadi agak segan bergaul dengannya. Nah!

Omong-omong tentang karakter manusia memang berjibun ragam. Belum lagi berbicara tentang kemurahan hati. Karena sikap memberi, saling berbagi, sebagai satu ciri terbesar dari kerahiman Allah, tak terlepas dari hal yang satu ini.

Saya abaikan saja, ya, pemberian yang berkaitan dengan materi. Itu ada porsinya tersendiri. Saya lebih sreg berbicara tentang pemberian non-materi, yang cakupannya sebenarnya jauh lebih meluas. Namun meliputi banyak hal-hal kecil, misalnya: seulas senyuman saat berpapasan di jalan, pelukan, atau sekadar tepukan hangat di bahu yang membesarkan hati seseorang.

Tentu, ini berkaitan langsung dengan ilustrasi cerita saya di awal tulisan. Mungkin itu sebabnya, saya respek sekali dengan seorang teman yang menurut saya punya kebiasaan manis. Saya tak segan memujinya demikian. Karena, dia selalu tak segan menyapa orang duluan. Bahkan, rela menyempatkan diri untuk sekadar membuka kaca jendela mobilnya, lalu menongolkan kepala sebentar, 'hanya' untuk sekadar tersenyum sembari menyapa ramah.

Duh, saya 'angkat topi' untuk kebiasaan baik ini. Dan, bukan kategori teman saya yang satu itu saja. Saya punya langganan, seorang bapak penjual roti keliling, yang setiapkali mengucapkan "selamat pagi" kepada saya, tanpa keharusan saya sedang membeli roti jualannya atau tidak!

Begitupula, senyum sumringah tukang siomay, atau penjual buah yang dengan riangnya malah mengingat betul dengan cermat nama anjing peliharaan saya. "Selamat pagi, Bu. Mana Snowy, kok, tidak ikut ke pasar hari ini?" Tidak hanya sapaan, kali lain ia malah mengingatkan ingin bertemu dengan Snowy karena...kangen! Dan, tawanya yang lebar sungguh membuat hati saya adem, membuat saya ikut-ikutan tertawa, tak hanya melempar senyum.

Apa yang saya rasakan? Saya merasakan amat 'bersahabat' dengannya! Orang yang memiliki kepedulian terhadap hewan peliharaan saya, tak terkecuali, adalah manusia yang memiliki 'rasa' -- begitulah seturut pemikiran saya yang sederhana ini.

Bukan hanya basa-basi, cuma di mulut belaka. Ia mengenal saya, dan juga 'ingin mengenal' anjing saya, Snowy, karena ia memiliki kepedulian menyapa. Begitulah. Jalinan pertemanan atau bahasa halusnya "silaturami" bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Hanya dengan berbagi 'sentuhan'sentuhan' kasih yang sederhana seperti itu.

Ya, ya, apa susahnya unggah-ungguh demikian (orang Jawa, bilang? red.). Sedihnya, kelihatannya anak-anak muda sekarang mulai kehilangan 'rasa' ini. Entah kealpaan orangtua di rumah yang tidak sempat mendidik mereka etiket, entah memang zaman digital teknologi yang tak butuh 'netiket' di era gadget?

Malah mereka akan bilang, "Ihh...lebay!" basa-basi berlebihan jika harus menghormati orang yang lebih tua, misalnya hanya menyapa dengan sebutan "Pak" atau "Bu", "permisi" (numpang lewat, etc), "terima kasih","tolong", dan "maaf" ?

Apa demikian sulitkah sekadar mengulas senyum (mau tipis, samar, kek, yang penting senyum!), say hello, bilang "terima kasih", "tolong" (bukan asal perintah dengan nada otoriter bak juragan terhadap badinde-nya)? Terlebih pula dalam urusan meminta maaf, aduh, pemberian kata maaf itu pun besar dan dalam maknanya, bukan? Menandakan Si empunya memiliki keluasan hati melebihi lapangan bola!

Demikianlah, kerahiman Allah yang sejati. Saya coba renungkan dalam-dalam, sungguh ibarat bayi suci yang baru keluar dari rahim bunda-Nya, sepatutnya memiliki 'rasa' ; suatu pemberian penghargaan berlebih kepada sesamanya. Termasuk kepada ciptaan lain : hewan, tanaman, dan semesta. (Komunika 04/XVI, Juli-Agustus 2016). 

       

Keep Your Circle Positive

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Speak good words
Think good thoughts
Do good deeds"(Wisdom from Chinese Literary & Buddhist Classics).

Refleksi:
Begitu banyak referensi, quotes, apa pun, yang acuannya berkisar pada ketiga 'butiran mutiara' ini : cara berpikir, cara berucap, dan cara berprilaku. Kesemuanya mengarah di dalam satu kata saja "baik".
Ya, "baik!"

Baiklah, mengupas kata "baik", bisa beragam-ragam maknanya, tergantung sudut pandang manusia itu sendiri. Baik menurut saya, belum tentu baik menurutmu, bukan? Jadi, jika pagi ini saya  memilih pijatan quotes bijak dari Chinese Literary & Buddhist Classics, bukannya tiada sebab. Saya kepingin menyatukan hati kita semua untuk menyamaratakan sudut pandang kebaikan yang dimaksud.

Apa lagi jika bukan perbuatan baik yang dapat kita lakukan bagi kepentingan sekitar (bahkan... dunia!) untuk sesuatu hal yang positif? Aura positif yang keluar dari hati yang tulus saat berpikir, berbicara, dan akhirnya mengarah kepada tindakan yang positif itu, semoga saja mampu menjadi 'virus kebaikan', yang menyebar pula bagi sesama kita.

Selamat memasuki 1 April. Menularkan virus kebaikan itu bukan sekadar April Mop, lho!(Catatan Sabtu pagi,0142017).