Halaman

Minggu, 28 Mei 2017

Kunci Kehidupan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Love is everything. It is the key to live, and it's influences are those that move the world" (Ralph Waldo Trine, filsuf, penulis, guru).
Refleksi:
Apa yang membuat hidup ini menjadi lebih bermakna?  Menurut penulis kelahiran Amerika Serikat yang telah menerbitkan lebih dari lusinan buku, Ralph Waldo Trine, apa lagi jika bukan...kasih? Ya, kasih merupakan segalanya. Kasih adalah "kunci kehidupan" dan membuat hidup lebih berarti.

Anda setuju? Kepala saya sih, mengangguk-angguk tanpa jeda, ketika menemukan tulisan ini di...sertifikat kelahiran putra kedua saya, Zachary, dari RS Siloam Gleneagles, di mana ia dilahirkan hampir tujuh belas tahun lalu.... Wah, sudah cukup lama, ya?

Seorang anak adalah wujud cinta kasih dari kedua orangtuanya. Dan, sebaliknya ...orangtua merupakan pewarta kasih, wakil-Nya di dunia. Demikian, seturut pemikiran saya. Semua makhluk ciptaan Tuhan, termasuk hewan dan tumbuhan selain manusia itu sendiri merupakan hasil karya kasih-Nya yang luar biasa. Sehingga tentu saja, kita pun harus memelihara warisan tiada ternilai-- berupa kasih itu, dengan menebar kasih pula di sekeliling kita. Mulai dari yang terdekat hingga ke ... ujung dunia!

Kasih adalah "kunci kehidupan", saya tidak menyangkali buah pemikiran dari pendidik, sekaligus filsuf, dan penulis buku best seller "In Tune with the Infinite" yang diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa dan dijual jutaan eksemplar. Apa lagi yang bisa menangkis serangan dari virus nestapa, duka derita, kegagalan, hati yang remuk, sayap-sayap jiwa yang patah, selain mengobatinya dengan : kasih?

Namun, kasih juga bukan hanya sekadar tebaran kata belaka. Ia perlu ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata bagi sesama. Tidak cuma bagi mereka yang dekat dan jauh, tapi juga orang asing yang tidak kita kenal sama sekali. Ketimbang tidak karuan juntrungan meniupkan api kebencian, iri hati, dan dengki, ketidakpuasan, dan lain sebagainya yang merupakan akar dari kejahatan pikiran maupun hati, bukankah lebih baik kita belajar lebih berbelas kasih dan rendah hati yang membuat hidup menjadi lebih berarti?

Bayangkan jika dunia ini tanpa kasih. Sepi, kosong, tiada bemakna....(Catatan Minggu pagi, 2752017). 
         
 

Selasa, 23 Mei 2017

Kebiasaan itu....

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebiasaan itu seperti seutas tambang, kita menenun benangnya satu persatu setiap hari, sampai akhirnya kita sendiri tidak mampu memutuskannya"(Horace Mann, pendidik).

Refleksi: 
Tepat sekali yang dikatakan pendidik kelahiran AS, Horace Mann. Tanpa kita sadari --menenun benang yang akhirnya menjadi seutas tambang yang sulit untuk diputuskan : demikianlah yang namanya "kebiasaan". Bersyukur, jika sedari awal, kita melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang berurat akar menjadi kebiasaan yang akhirnya bertumbuh sebagai karakter.

Namun, bagaimana jika benang yang kita pintal itu tanpa kita sadari, justru  adalah merupakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang alih-alih mampu kita lepaskan, karena kita sudah terlanjur kadung terjerat di dalamnya? Banyak contoh, kebiasaan kecil saja, misalnya : bermalas-malasan, menunda sesuatu yang kita kerjakan. Atau, menjumput sebatang rokok yang mulanya hanya iseng, kepingin mencoba-coba , tapi akhirnya jadi kebablasan 'nyandu' sulit dilepaskan.

Ya, Horrace Mann sendiri, terlahir dari ayah seorang petani miskin, akhirnya bisa terkenal sebagai pendidik yang berpengaruh karena pemikirannya -- tentu tak terlepas dari kebiasaan baiknya dalam melahap berbagai bacaan di ...perpustakaan, hingga walaupun awalnya tak punya beaya sekolah, akhirnya berkat ketekunannya yang dipintal dari hari ke hari, toh mampu melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi, dan tak pernah terus berhenti belajar hingga akhir hayatnya.

Begitulah. Tanpa kita sadari, kebiasaan yang  masing-masing kita miliki terwujud pula berkat kedisiplinan dan ketekunan menjalaninya. Seperti saya sendiri, berusaha menulis Pijatan Quotes ini setiap harinya hingga tanpa disadari, jika sehari saja saya lengah, atau tidak sempat menuliskannya, rasanya ada sesuatu yang hilang, yang belum saya kerjakan. Sesempit apa pun waktu yang saya punya, saya berusaha menulis setiap harinya. Dan, itulah kebiasaan saya yang lama-lama menjadi kebisaan saya....(Catatan Selasa pagi, 2352017).   

Senin, 22 Mei 2017

Kejarlah!

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Temukan sesuatu yang kau cintai dan kejarlah!" (anonim). 
 Refleksi:
 Menemukan sesuatu yang dicintai itu "sesuatu" banget. Apalagi jika menggunakan "usaha" di dalamnya, sekuat daya yang ada untuk mengejarnya ; lebih "sesuatu" banget...banget! 

Nah, ketika muda belia, biasanya tidak mudah untuk mengetahui secara pasti dan maksimal berupaya menemukan sesuatu yang kita cintai. Boro-boro tahu secara jelas dan gamblang di depan mata, wong terkadang kita malah tidak tahu apa yang semestinya kita cintai. Persis seperti orang buta yang sedang meraba-raba dalam gelap, begitu-lah situasi dan kondisinya.

Ditambah lagi, kita tidak terlalu peduli untuk berusaha sekuat daya menemukan. Hanya menjalani saja apa yang ada, bahkan tak jarang, kita ikut-ikutan teman menemukan sesuatu yang dicintai... teman, bukan oleh diri kita sendiri. Lalu, bagaimana setelah sang waktu berjalan, dan usia merambat dewasa, bahkan tua? Apakah sudah tak berlalu lagi istilah menemukan sesuatu yang kita cintai? Bagaimana mau mengejar, jalan saja sudah tertatih-tatih ngos-ngosan menggunakan alat bantu tongkat?

Aha! Saya sama sekali tak setuju jika usia menjadi batasan penghalang mengejar sesuatu yang kita cintai. Banyak lho, nenek-nenek, aki-aki yang malah mengejar mimpi sejatinya tatkala usia sudah beranjak  senja. Dan, mereka berhasil tuh memerolehnya! Jadi sarjana di usia 90 tahun, belajar dansa di usia 78 tahun, atau... naik gunung di usia 65 tahun? Sah-sah saja....

So, tunggu apa lagi? Yuk, temukan sesuatu yang kita cintai, dan kejar sampai ke ujung dunia! (Catatan Senin, 2252017).

Minggu, 21 Mei 2017

Bertahan Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kita membutuhkan cara berpikir yang baru jika manusia ingin bertahan hidup"(Albert Einstein, ilmuwan fisika). 

Refleksi: 
Jika dikaji ulang, kalimat "bertahan hidup "ini sebetulnya lucu,ya? Kayaknya kita harus berpegangan pada sesuatu-- "gantungan", menggenggam jari jemari kita dengan erat, berupaya agar bisa ... hidup! Namun memang tak bisa disangkal, ada sementara orang yang dengan demikian kerasnya sekuat daya berusaha agar mampu melanjutkan hidupnya dari hari ke hari. Entah karena didera nestapa secara mental, atau beragam konflik sosial, finansial, dan entah apa lagi.

Dan, bapak fisikawan abad ke-20, Albert Einstein yang sebegitu terkenal dengan Teori Relativitasnya, memberikan tip jitu untuk mengatasinya. Hanya dengan ...cara berpikir yang "baru"! Ya, saya sependapat sebenarnya kita semua membutuhkannya. Cara berpikir yang baru, tidak terlepas dari memandang segala sesuatu yang kita hadapi dengan sudut pandang berbeda dari segala sisi. Tidak bisa stuck, bertahan kepada pola lama yang enggan kita lepas. Jika sudah tak dapat memberi kita energi, atau daya yang membuat kita sekadar bertahan hidup saja tak mampu, buat apa tetap dipertahankan?

Seorang ilmuwan seperti Einstein pun sudah membuktikannya sendiri. Kecilnya pemalu, disleksia dan sedikit autis pula, namun nama dan bahkan profil rupanya kemudian melejit dahsyat sebagai manusia genius yang dikagumi seantero dunia. Siapa yang menyangka penemu teori E=mc2 ini pernah berkali-kali gagal tes masuk ke Institut Teknologi di Zurich? Nah! @ Catatan Minggu 2152017  

Minggu, 14 Mei 2017

Sang Hakim

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Who am I to judge?"(Pope Francis, pemimpin gereja Katolik).
Refleksi:
Empat hari saya absen, mengendapkan semua masalah yang sedang bergolak di negeri sendiri. Mulai dari acara ketok palu hakim abal-abal yang mem-vonis Gubernur DKI, Ahok ; aksi seribu lilin yang mendunia, hingga akhirnya... leleh-lah "titik didih" saya, mencair pelan-pelan saat 'bertemu' quote dari Paus Fransiskus.

"Siapa-lah saya ini, sehingga mengadili sesama?" Gitu kira-kira terjemahan bebasnya, dan siap landas di benak saya yang sejatinya sejak kemarin-kemarin sibuuuk saja lalu-lalang ke sana ke mari, ndak mau sejenak-dua jenak merebahkan diri.

Ya, pada akhirnya saya harus nerimo, rela berserah ... sehingga secara berproses muncul kesadaran, kalau bahasa kerennya mungkin "pencerahan" --  sebaiknya saya mulai saja dulu dari diri sendiri, ndak usah ngerepoti atau direpoti orang lain. "Mampukah saya memiliki sudut pandang yang jernih dan bersih bak air pegunungan yang bebas polusi, terlepas bebas dari jeratan keinginan atawa hawa nafsu hasrat "menghakimi" sesama saya?

Duh, ini 'pekerjaan rumah' yang kudu harus segera dikerjakan, nih! (Catatan Minggu 08.48, 14 Mei 2017, eh, ini Hari Ibu, Mother's day di belahan dunia sana,ya? Selamat Hari Ibu sedunia bagi  emak-emak yang hebaaat. Anda semua luar biasaaa! ** )    

Selasa, 09 Mei 2017

Move On

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cry. Forgive. Learn. Move on. Let your tears water the seeds of your future happiness"(Steve Maraboli, penulis, pembicara).
 Refleksi: 

Satu dari motivator yang tergolong muda (kelahiran 1975), Steve Maraboli yang juga dikenal sebagai penulis buku laris, mengajuk kita untuk... menangis. Yeah, dibarengi dengan perilaku : memaafkan, belajar (lagi dan lagi), kemudian yang terakhir, ending-nya adalah : move on. 

Nggak mudah untuk membiarkan airmata kita jatuh, terkadang untuk hal sepele yang kita sesali sekali pun. Maklum, gengsi itu senantiasa menyertai. Apalagi jika ketahuan oleh orang-orang di sekeliling, bahkan mereka yang terdekat di lingkaran kita. Malunya itu, lho. A la mak! Siapa sih, yang bersedia rela hati ketahuan ... kelemahannya?

Yup, namun seturut pemikiran saya yang dangkal ini, seperti yang dikatakan Steve, ada baiknya kita mengeluarkan semua uneg-uneg ketimbang mengendap-- lalu mengkristal di hati menjadi penyakit. Dan, airmata, dibarengi memaafkan, sembari belajar untuk bangkit lagi alias move on, adalah hal yang terbaik bisa kita lakukan. Tidak saja untuk orang-orang tercinta yang menyayangi kita, namun terlebih bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Menangislah habis-habisan jika perlu, bahkan sampai matamu sembab dan wajahmu kelihatan babak-belur. It's okay. Toh, airmata yang terkuras itu akan menyirami benih-benih kebahagiaan di masa depan. Energi cinta akan bertunas, bertumbuh, dan berkembang lagi.... So, jangan takut untuk menangis, ya? (Catatan Selasa 08.41 AM, 952017).

 

Senin, 08 Mei 2017

Tentang Mimpi

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"If you can dream it, you can do it!"(Walt Disney, produser film, sutradara, animator)
Refleksi:
Setua ini, saya masih tergila-gila dengan ... film kartun! Ya, siapa lagi dedengkotnya yang piawai memeriahkan ranah dunia hiburan lewat imajinasi yang tak terbatas, dan bahkan sanggup menghadiahkan perasaan-perasaan yang cerah, saat menikmati karya animasi : Walt Disney-lah orangnya.

Kelahiran AS dengan nama panjang Walter Elias Disney, sejak usia 7 tahun sudah rajin menjual sketsa hasil gambarnya kepada tetangganya. Lebih banyak melukis ketimbang mengerjakan pe-er, Disney akhirnya melesat mengubah industri dunia hiburan Hollywood. Mengemas masa lalu dan masa depan dengan begitu apiknya, kita mengenal segitu banyaknya film yang ciamik : mulai dari Mickey Mouse yang menggemaskan, Snow White, hingga Frozen.

Apa yang begitu membuat saya termehek-mehek dengan seorang Disney? Tak hanya fantasinya yang saya katakan "gilaaaa", tapi optimismenya yang demikian luar biasa amat menancap di hati saya. Sehingga satu dari sekian quote-nya yang paling menginspirasi saya, adalah  yang saya jadikan Pijatan Quotes hari ini.

Katanya," Jika kamu dapat memimpikannya, kamu juga dapat melaksanakannya!" See, demikian membara gelora harapan yang ditiupkannya!  Jangan pernah meremehkan secuil impian sekali pun. Bermimpilah setinggi langit. Dan, bangunlah untuk melaksanakannya. Kita pasti bisa! Saya terpesona dengan kalimat ini, sedari ...wah, entah kapan ya, saya mulai menuliskannya di mana-mana : agenda, papan tulis harian, buku, bahkan kertas nota yang sudah lecek dan tergeletak di dapur.

Saya termasuk orang yang sangat percaya kepada kekuatan mimpi. Ya, boleh jadi Anda menertawakan saya, dan lalu bilang,"Hei, realistis sajalah! Hari  giniiii... masih percaya mimpi?"

Hais, emangnya kenapa kalo saya segitu kepincut "mimpi"? Bukan cuma karena keberadaannya yang gratis, melainkan imaginasi saya yang liar ini, sungguh mendapat tempat terhormat di dalamnya. Dan, hebatnya lagi, mampu memberikan energi berlebih, daya tahan , sumber kekuatan yang memacu saya untuk mewujudkannya, walaupun tidak sekarang-- tetapi suatu hari nanti, saya percaya kelak akan menggapainya.  Dan, saya memang sudah membuktikannya sendiri. Impian masa kecil saya, masa remaja saya, masa tua saya...? Hahaha. Duh, saya menikmati proses rajutan impian itu, satu per satu....

Seperti Disney, creator sekaligus saya bilang saja dia "Bapak dari segala mimpi", saya sangat berharap anak-anak di dunia ini memiliki mimpi dan impian yang siap mereka kejar ke ujung dunia sekali pun. Beranilah untuk bermimpi dan jangan pernah takut untuk mewujudkannya! (Catatan Senin 9.24 AM, 852017).           

Minggu, 07 Mei 2017

Tentang Kata

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kata terbaik di seluruh penjuru dunia adalah kata kasar yang tidak diucapkan"(unknown).
 Refleksi : 
Pernahkah Anda bersinggungan dengan seorang teman yang hobinya mengumpat, melontarkan sejuta perbendaharaan perikebinatangan dari dalam mulutnya? Atau, mungkinkah itu terjadi pada diri kita sendiri? Jika melihat segala sesuatu yang tidak berkenan dengan kita, langsung saja mengucapkan komentar yang 'pedas', tidak enak didengar di telinga?

Quote yang saya temukan Minggu pagi, namun sayangnya lagi-lagi tidak diketahui siapa pencetusnya ini, mengingatkan saya untuk mengontrol diri untuk tidak mubazir, menghabiskan energi -- marah-marah tidak karuan dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Ada begitu banyak tercipta bahasa di seluruh dunia, dan tentu ada demikian banyak pula istilah yang "tidak perlu" diucapkan, sebetulnya.

Saya ambil contoh, sebuah bahasa daerah di negeri saya, Indonesia : "Asu", misalnya. Dalam bahasa Jawa, Asu bermakna : "anjing". Hewan manis yang menjadi sahabat manusia ini, berubah makna ketika diucapkan dengan hentakan nada keras dan marah, karena berubah arti dengan "meng-anjingkan" Si manusia lain yang kita umpat. Ya, Asu menjadi kata makian yang kasar, berasal dari daerah tertentu (Jawa), berkembang menjadi 'bahasa nasional' "Anjing loe!" (maaf).

Itu baru satu contoh saja, bagaimana dengan bahasa international, Inggris, misalnya. Ada banyak istilah slank, yang juga miris didengar. Bikin merah telinga mereka yang berhati lembut, tetapi mungkin sebaliknya terdengar "biasa-biasa" saja bagi yang penggunanya. "Fu*k you!" etc,etc...Anda boleh menambahkannya sendiri....

Aha, kepanjangan. Yang mau saya sampaikan, ada baiknya jika kita menahan diri dalam berkata-kata. Budi bahasa yang lembut, manis didengar, mengelus-elus hati sesama kita, termasuk diri sendiri. Di balik saja posisinya, enakkah rasanya Anda jika mendengar umpatan kasar terlontar seorang teman, misalnya yang ditujukan langsung kepada diri kita? Duh, pasti sebal sekali, bukan? Siapa sih, yang mau dimaki-maki sedemikian rupa?

Jadi, benar banget,'kan imbauan Pijatan Quotes yang saya temukan dalam bacaan Minggu pagi ini, bahwa,"Kata terbaik di seluruh penjuru dunia adalah kata kasar yang tidak diucapkan?" Walaupun tidak mudah, saya pikir, dengan menahan diri dalam berbahasa yang baik dan benar (ehm), paling tidak kita pun berlatih kesabaran diri dalam berhubungan dengan orang lain, maupun tentu saja belajar menjadi manusia yang seutuhnya dalam memberi penghargaan kepada sesama -- termasuk diri kita sendiri. (Catatan Minggu pagi, 752017).            

Sabtu, 06 Mei 2017

Yuk,duduk?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kadang-kadang, hanya dengan duduk, jiwa mengumpulkan kearifan"(Peribahasa Zen).
 Refleksi: 
Satu dari aliran Buddha Mahayana, Zen yang memusatkan diri pada "kekosongan yang menuju kesempurnaan yang penuh" dengan bertumpu pada meditasi, mengajuk kita untuk duduk sejenak. Berhenti melakukan segala kesibukan diri yang terkadang tak perlu.

Anda merasa tidak punya waktu untuk melakukannya? Ah, sayang sekali. Cobalah dahulu alih-alih menolak mengatakan, "tidak bisa". Masakan Anda tidak mampu melakukannya, lima atau sepuluh meniiit saja? Namun sebelumnya, mungkin saya harus sedikit 'meluruskan' makna dari kata "duduk" yang dimaksudkan peribahasa Zen yang saya ambil sebagai Pijatan Quotes kali ini.

Duduk diam tenang, dan rasakan aliran udara yang keluar masuk memenuhi rongga hidung hingga menyelusup  ke paru-paru Anda. Bukan duduk belingsatan, resah gelisah, bahu berputar atau leher menandak-nandak celingak-celinguk, mengikuti mata yang asyik melirik ke kiri dan ke kanan, lho, ya. Itu berbeda!  

Aha, saya yakin, tidak semua orang di antara kita mampu melakukannya dengan mudah. Bahkan, saya sendiri harus mengakuinya dengan jujur. Benak yang sibuk, sulit fokus, terkadang seperti kuda liar yang perlu tali kekang. Imajinasi saya yang kerap mengembara ke sana ke mari itu yang jadi penyebabnya.

Namun, jika sekali waktu, kita sudah berupaya mempraktikkan duduk tenang, dengan kumpulan pikiran yang kita kendalikan pula untuk sejenak "stop" diam, tak mengembara bebas seperti biasanya, ternyata memang benar : jiwa kita pun terasa berserah damai. Segala galau keresahan, bahkan juga ketakutan, menguar hilang....

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan Zen : mengumpulkan kearifan? Itu yang saya rasakan. Nah, bagaimana dengan Anda. Coba-lah! (Catatan Sabtu 08.15,652017).      

Jumat, 05 Mei 2017

Embrace Change

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"It is not the strongest of the species that survives, nor the most intellegent that survives. It is the one that is most adaptable to change"(Charles Darwin, ahli geologi Inggris).
 Refleksi : 
Apakah manusia bisa mengontrol setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya? Oh, tidak! Peristiwa yang terjadi, tetap saja sudah kadung terjadi, tak bisa dikendalikan oleh kita. Namun karena setiap peristiwa yang terjadi memiliki potensi untuk bergerak "maju" atau sebaliknya "mundur", masih ada celah yang bisa dikontrol oleh kita, yaitu "reaksi kita terhadap perubahan" itu sendiri.

Nah, seperti yang diutarakan Charles Robert Darwin, ahli geologi yang juga dikenal sebagai seorang naturalis kelahiran Inggris, bahwa "Ini bukan tentang yang terkuat dari spesies  yang bertahan atau yang paling cerdas, melainkan yang paling responsif terhadap perubahan"; bukankah seharusnya kita menerima saja perubahan yang terjadi itu dengan positif dan tetap bergerak maju?

Jadikan perubahan sebagai tantangan yang menarik. Yakini setiap perubahan adalah peluang untuk meningkatkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri kita. Dan, percaya saja setiap perubahan justru merupakan jalan menuju pertumbuhan pribadi dan pengembangan profesional dengan memaksa keluar dari zona nyaman.

"Apa yang kira-kira bisa kita pelajari dari situasi yang terjadi ini?" Mengubah pemikiran demikian, saya pikir akan mampu membuat kita tidak hanya sekadar berserah terhadap perubahan, tetapi mampu bertindak responsif -- seperti yang dikatakan kontributor Teori Evolusi yang sempat menggegerkan dunia pada masanya itu.

Ya, pengarang buku, satu yang berjudul "Asal-usul Spesies", Charles Darwin, membuat saya lagi-lagi tidak menjadi mudah terpukau pada intelegensi seorang manusia, atau terkagum-kagum pada kekuatan semata. Kunci  membangun ketahanan diri sebagai manusia sejatinya adalah tergantung kepada adaptasi perilaku, pikiran, dan tindakan menerima perubahan.  Alih-alih menolak perubahan , lebih baik 'merangkul' perubahan.  So, staying positive, motivated, focused! (Catatan Jumat, 552017).         




Kamis, 04 Mei 2017

Selera Humor

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Di atas segalanya : pertahankan selera humor Anda"(Hugh Sidey, jurnalis ).
Refleksi:
Mungkin itu sebabnya, ya, Hugh Sidey dikenal sebagai penulis favorit kepresidenan Amerika Serikat. Ia senantiasa memertahankan rasa humornya tatkala 'bergaul' dengan para petinggi orang nomor satu negara adikuasa, seperti Eisen Hower, John F Kennedy, Nixon, Jimmy Carter, Ronald Reagan....

Saya sih, setuju banget dengan jurnalis Life Magazine yang satu dari bukunya berjudul "The Statue of Liberty" ini. Kalau dia bilang kita harus "mengedepankan" selera humor, dan sekaligus "memertahankannya". Karena terus terang saja, tidak gampang lho, menjadi orang yang ceria, tidak pemarah, memiliki sense of humour. Seturut pemikiran saya, orang yang punya rasa humor itu saja sudah memiliki satu karakter "plus"  dalam dirinya. Ya, memandang dunia dengan gembira dan terlebih mampu menularkan kegembiraan itu bagi orang lain di sekitarnya itu sungguh anugerah yang luar biasa....

Saya sendiri, masih harus belajar banyak dalam urusan sense of humour ini. Kadang terlalu serius memandang segala sesuatu, melelahkan juga, bukan? Memiliki selera humor yang baik pun perlu pembelajaran, karena paling tidak kita menjadi bijak dalam menanggapi sesuatu dengan kacamata positif yang meringankan beban di hati kita sendiri. Bukan begitu? 

Jadi, hayuuuk, tunggu apa lagi? Menertawakan kebodohan diri sendiri itu perlu, lho. Kalau Anda memiliki selera humor (syukur-syukur peringkat selera humor Anda : tinggiiii), Anda pastinya dengan mudah memahami maksud saya, apa makna dari menertawakan kebodohan diri sendiri! Hahaha (Catatan Kamis, 452017)

Rabu, 03 Mei 2017

Berbagi Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cinta bukanlah cinta sampai Anda membagikannya kepada orang lain"(anonim)

Refleksi: 
Saya terpana mendapatkan quote yang tak bernama ini. Alangkah dalam makna cinta itu, menurut si pencetusnya-- sayangnya, entah siapa dia....Walau sesungguhnya saya penasaran, darimana datangnya inspirasi quote yang begitu bagus ini (menurut saya, lho).

Hmm, saya jadi berpikir-pikir tentang cinta yang dipendam sendiri. Cinta yang hanya untuk diri sendiri, cinta yang tunggal tak dibagi-bagi. Atau, ada lagikah definisi cinta yang lain, menurut Anda? Saya sih, sukaaa pijatan quotes yang saya tulis sore ini. Tumben ya, bukan ditulis pagi hari?

Namun,ah, jika bicara cinta...pagi, sore, malam, bukan lagi sesuatu yang perlu diperdebatkan. Karena cinta itu abadi, tak lekang oleh waktu. Bukankah begitu? (Catatan Rabu sore,352017).    

Senin, 01 Mei 2017

Konspirasi Semesta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"One you make a decision, the universe conspires to make it happen"(Ralph Waldo Emerson, esais AS, dosen, penyair).
Refleksi :
Keputusan itu bisa benar, tetapi bisa jadi juga... salah. Karena itu, berhati-hatilah sebelum membuat suatu keputusan, pikirkan matang-matang apa akibatnya. Seperti yang ditegaskan oleh Ralph Waldo Emerson, dosen sekaligus penyair, dan esais kelahiran Boston, bukan hanya manusia saja yang cerdas ber-konspirasi. Alam semesta pun mampu melakukannya.

Ya, saya pikir, dampak yang terjadi malah akan lebih luas. Bayangkan, kontribusi energi yang kita kirimkan saat memutuskan sesuatu, dengan mudah secepat kilat sampai. Nggak tunggu lama, lebih instan lho, semesta berkonspirasi mewujudkan apa yang kita inginkan dan harapkan saat memutuskan sesuatu.

Jadi, jangan gegabah dan serampangan. Banyak hal di luar dugaan yang mampu terjadi, jika kita 'gagal paham' mengirimkan signal keputusan yang kita ambil. Hais, 'sereeem'! Makanya, nasihat emak saya dulu ada benarnya ;"Jadi orang jangan macem-macem...."(Catatan Senin, awal Mei, 0152017).