(Effi S Hidayat)
"Cry. Forgive. Learn. Move on. Let your tears water the seeds of your future happiness"(Steve Maraboli, penulis, pembicara).Refleksi:
Satu dari motivator yang tergolong muda (kelahiran 1975), Steve Maraboli yang juga dikenal sebagai penulis buku laris, mengajuk kita untuk... menangis. Yeah, dibarengi dengan perilaku : memaafkan, belajar (lagi dan lagi), kemudian yang terakhir, ending-nya adalah : move on.
Nggak mudah untuk membiarkan airmata kita jatuh, terkadang untuk hal sepele yang kita sesali sekali pun. Maklum, gengsi itu senantiasa menyertai. Apalagi jika ketahuan oleh orang-orang di sekeliling, bahkan mereka yang terdekat di lingkaran kita. Malunya itu, lho. A la mak! Siapa sih, yang bersedia rela hati ketahuan ... kelemahannya?
Yup, namun seturut pemikiran saya yang dangkal ini, seperti yang dikatakan Steve, ada baiknya kita mengeluarkan semua uneg-uneg ketimbang mengendap-- lalu mengkristal di hati menjadi penyakit. Dan, airmata, dibarengi memaafkan, sembari belajar untuk bangkit lagi alias move on, adalah hal yang terbaik bisa kita lakukan. Tidak saja untuk orang-orang tercinta yang menyayangi kita, namun terlebih bermanfaat bagi diri kita sendiri.
Menangislah habis-habisan jika perlu, bahkan sampai matamu sembab dan wajahmu kelihatan babak-belur. It's okay. Toh, airmata yang terkuras itu akan menyirami benih-benih kebahagiaan di masa depan. Energi cinta akan bertunas, bertumbuh, dan berkembang lagi.... So, jangan takut untuk menangis, ya? (Catatan Selasa 08.41 AM, 952017).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar