(Effi S Hidayat)
"Who am I to judge?"(Pope Francis, pemimpin gereja Katolik).Refleksi:
Empat hari saya absen, mengendapkan semua masalah yang sedang bergolak di negeri sendiri. Mulai dari acara ketok palu hakim abal-abal yang mem-vonis Gubernur DKI, Ahok ; aksi seribu lilin yang mendunia, hingga akhirnya... leleh-lah "titik didih" saya, mencair pelan-pelan saat 'bertemu' quote dari Paus Fransiskus.
"Siapa-lah saya ini, sehingga mengadili sesama?" Gitu kira-kira terjemahan bebasnya, dan siap landas di benak saya yang sejatinya sejak kemarin-kemarin sibuuuk saja lalu-lalang ke sana ke mari, ndak mau sejenak-dua jenak merebahkan diri.
Ya, pada akhirnya saya harus nerimo, rela berserah ... sehingga secara berproses muncul kesadaran, kalau bahasa kerennya mungkin "pencerahan" -- sebaiknya saya mulai saja dulu dari diri sendiri, ndak usah ngerepoti atau direpoti orang lain. "Mampukah saya memiliki sudut pandang yang jernih dan bersih bak air pegunungan yang bebas polusi, terlepas bebas dari jeratan keinginan atawa hawa nafsu hasrat "menghakimi" sesama saya?
Duh, ini 'pekerjaan rumah' yang kudu harus segera dikerjakan, nih! (Catatan Minggu 08.48, 14 Mei 2017, eh, ini Hari Ibu, Mother's day di belahan dunia sana,ya? Selamat Hari Ibu sedunia bagi emak-emak yang hebaaat. Anda semua luar biasaaa! ** )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar