Halaman

Jumat, 09 Juni 2017

Dukungan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Dukungan... dapat berupa perhatian terhadap apa yang dianggap biasa oleh orang lain dan penegasan terhadap apa yang dilihat oleh orang lain, tetapi tak pernah dipuji secara terbuka" (anonim)
Refleksi:

Manakah yang lebih sering Anda berikan; dukungan atau pujian? Saya menemukan quote yang satu ini dari bacaan pagi ini. Tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada kalimat-kalimat yang menarik perhatian saya; hmm, dukungan? Apakah saya orang yang termasuk sering memberikan dukungan kepada orang lain? Tiba-tiba pula pikiran saya mengajuk tanya demikian.

Rasanya sih, lumayan sering! Ya,ya, saya senang membagi perhatian saya kepada orang-orang di sekitar saya. Bahkan, kepada orang lain yang tidak saya kenal sekali pun. Ujug-ujug ketika bertemu seorang oma yang berpakaian serasi di mata saya, mulut saya lepas kontrol untuk segera berkomentar memujinya. Lihat pemulas bibir yang merahnya "pas" berkilau di wajah seseorang saja, saya bisa segera menjawil, dan spontan mengatakan apa keindahan yang tertangkap di benak saya!

Hais, tapi...itu sih, pujian, ya, bukan...dukungan. Karena menurut quote di atas, dukungan tak pernah memuji secara terbuka. Nah, lo! Benar juga kalau saya bagi menjadi kategori: dukungan materiil dan dukungan moril. Misalnya..., apa?  Oh, menepuk-nepuk bahu seseorang saat dia sedih! Tanpa kata, tanpa nada suara, bisa jadi itu sudah merupakan perhatian yang luar biasa besarnya. Lalu, apa lagi? Ikut berteriak-teriak senang gembira ketika teman menang lotere? Hahaha....

Senang juga, saya jadi mencari-cari berbagai bentuk dukungan tanpa pujian terbuka ini. Hayuk, Anda bantu saya dong, mendapatkan contoh yang lain. Mungkin, berdasarkan pengalaman nyata Anda sendiri. Dukungan terbesar apa yang pernah Anda bagikan kepada orang lain? (Catatan Jumat,962017).  

Selasa, 06 Juni 2017

Oh, Batasan!

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

" Satu-satunya batasan yang kita miliki dalam hidup adalah apa yang kita tanamkan dalam benak kita sendiri"(Frank Moffat, penulis, pendidik).

Refleksi: 
    Anda dan saya, semua orang malah...pastinya memiliki keinginan. Dan yang namanya harapan, keinginan, entah apa lagi namanya, tentu tidak hanya satu, melainkan beragam-ragam. Yang menjadi masalah pula, bagaimana caranya mewujudkan segala keinginan dan harapan itu? Tergantung upaya manusia itu sendiri, seberapa keras upayanya dia berusaha, dan seberapa bulat tekadnya menggapai "impiannya".

Nah, Frank Moffat yang telah terlibat dalam urusan coaching, training, dan teaching, sejak usia belia adalah orang yang sangat meyakini bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah mungkin. Bahkan, sebegitu antuasiasmenya ia menjalani hidup, sehingga mendapat 'gelar' : Mr. Positive.  Ha! Betapa tidak, menurut Moffat, satu-satunya orang yang membatasi kesempatan kita itu tak lain, ya ... diri kita sendiri!

Jadi, jangan pernah berani-beraninya Anda menyalahi orang lain atau keadaan, segala macam situasi dan kondisi yang Anda hadapi jika sampai gagal mencapai tujuan idaman dalam hidup ini. Toh, sesungguhnya memang tidak bisa disangkal, yang empunya hidup itu,'kan Anda sendiri, bukan siapa-siapa, bukan orang lain.

Go Beyond! Saya pernah membaca ajukan yang begitu bersemangat ini, entah di mana. Saya jatuh hati pada ungkapan "Menembus Batas".... Acapkali merasa kecewa, sedih, bahkan mungkin putus asa tatkala keinginan dan harapan saya tidak tercapai (namanya,'kan, saya manusia juga!), saya mencoba mengingat-ingat kembali kepada quotes yang satu ini.

Paling tidak, ibarat pompa ajaib, ia mampu meniupkan udara cadangan kepada balon harapan milik saya yang lagi kempes! (Catatan Selasa 08.15 pagi , 662017). 

Senin, 05 Juni 2017

Hati Nurani

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebaikan moral seseorang tidak diukur oleh agama apa yang ia peluk namun lebih dari dorongan-dorongan emosional apa yang telah ia terima dari "hati nurani" semasa hidupnya" (Albert Einstein, ilmuwan fisika).  
Refleksi:

Apa sebenarnya yang diharapkan dari agama? Apa yang diinginkan agama itu sendiri dari pemeluknya? Bagaimana kehidupan beragama seharusnya diyakini oleh warga dunia? Apa sih, dampak dari kehidupan beragama? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan berderet panjang jika digali-gali sedemikian rupa menyoali agama, padahal jawabannya sebenarnya cuma satu, yakni : kebaikan.

Jadi, sungguh tidak habis pikir, jika agama yang selaiknya ujung-ujungnya bermuara kepada  "kebaikan" itu, justru malah dijadikan sebagai alasan perpecahan antarumat beragama itu sendiri. Alangkah naif dan menyedihkan! Tuhan Yang Maha Esa dipecah-pecah menjadi begitu banyak rupa -- dalam bentuk imajinasi manusia itu sendiri, mulai dari "rumah-Nya", tata cara bertemu dengan-Nya, dan seabrek perayaan 'wah' lainnya seturut versi ...lagi-lagi, manusia itu sendiri.

Belum lagi, jika kemudian diiringi dengan pemikiran "agamaku-lah yang paling benar dan  paling hebat". Di luar itu..., sila pergi ke neraka sana! Duh! Tercenung habis-habisan pun, saya tak akan pernah ketemu nalar yang mengiringi "perasaan-perasaan" yang bertumpu pada egoisme semata itu. Ya, apalagi jika larinya tidak kepada kesombongan yang mengabaikan kasih sayang dan kebaikan kepada sesama?

Makanya ketika bertemu quotes ahli fisikawan terbesar yang pernah ada, Albert Einstein ini, saya merasa senang sekali dan merasa mendapat dukungan besar. Agama, tandas Einstein, bukan untuk mengukur kebaikan moral seseorang. Tepatnya dengan meyakini agama tertentu, tidak bisa dijadikan seseorang itu pasti akan menjadi baik atau alih-alih lebih unggul dari yang lainnya, yang memiliki agama berbeda.

Kelahiran Ulm, Jerman, 14 Maret 1879 dan wafat di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, dalam usia 76 tahun -- Albert Einstein memang dikenal dunia hingga abad ini sebagai seorang genius yang luar biasa, dan seperti kebanyakan ilmuwan lainnya kerapkali diklaim bukan sebagai orang yang ber-Tuhan. Tetapi, itu,kan lagi-lagi pendapat orang! Sedangkan, seturut pendapat saya sendiri, sih, keimanan Einstein justru tampak kepada antusiasmenya yang besar kepada segala sesuatu ciptaan di dunia ini. Buktinya, dia masih percaya sekali kepada hati nurani.

Kebaikan moral seseorang yang berdasarkan hati nurani ini, pernah ia cetuskan melalui pemikirannya tentang sanksi emosional mendalam mengenai kehadiran sebuah kekuatan penalaran superior yang diungkapkan di dunia, yang menurutnya sama sekali tidak bisa dipahami, dan membentuk pemikirannya tentang...Tuhan!  (Catatan pagi, 06.50, 5062017).       

Minggu, 28 Mei 2017

Kunci Kehidupan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Love is everything. It is the key to live, and it's influences are those that move the world" (Ralph Waldo Trine, filsuf, penulis, guru).
Refleksi:
Apa yang membuat hidup ini menjadi lebih bermakna?  Menurut penulis kelahiran Amerika Serikat yang telah menerbitkan lebih dari lusinan buku, Ralph Waldo Trine, apa lagi jika bukan...kasih? Ya, kasih merupakan segalanya. Kasih adalah "kunci kehidupan" dan membuat hidup lebih berarti.

Anda setuju? Kepala saya sih, mengangguk-angguk tanpa jeda, ketika menemukan tulisan ini di...sertifikat kelahiran putra kedua saya, Zachary, dari RS Siloam Gleneagles, di mana ia dilahirkan hampir tujuh belas tahun lalu.... Wah, sudah cukup lama, ya?

Seorang anak adalah wujud cinta kasih dari kedua orangtuanya. Dan, sebaliknya ...orangtua merupakan pewarta kasih, wakil-Nya di dunia. Demikian, seturut pemikiran saya. Semua makhluk ciptaan Tuhan, termasuk hewan dan tumbuhan selain manusia itu sendiri merupakan hasil karya kasih-Nya yang luar biasa. Sehingga tentu saja, kita pun harus memelihara warisan tiada ternilai-- berupa kasih itu, dengan menebar kasih pula di sekeliling kita. Mulai dari yang terdekat hingga ke ... ujung dunia!

Kasih adalah "kunci kehidupan", saya tidak menyangkali buah pemikiran dari pendidik, sekaligus filsuf, dan penulis buku best seller "In Tune with the Infinite" yang diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa dan dijual jutaan eksemplar. Apa lagi yang bisa menangkis serangan dari virus nestapa, duka derita, kegagalan, hati yang remuk, sayap-sayap jiwa yang patah, selain mengobatinya dengan : kasih?

Namun, kasih juga bukan hanya sekadar tebaran kata belaka. Ia perlu ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata bagi sesama. Tidak cuma bagi mereka yang dekat dan jauh, tapi juga orang asing yang tidak kita kenal sama sekali. Ketimbang tidak karuan juntrungan meniupkan api kebencian, iri hati, dan dengki, ketidakpuasan, dan lain sebagainya yang merupakan akar dari kejahatan pikiran maupun hati, bukankah lebih baik kita belajar lebih berbelas kasih dan rendah hati yang membuat hidup menjadi lebih berarti?

Bayangkan jika dunia ini tanpa kasih. Sepi, kosong, tiada bemakna....(Catatan Minggu pagi, 2752017). 
         
 

Selasa, 23 Mei 2017

Kebiasaan itu....

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebiasaan itu seperti seutas tambang, kita menenun benangnya satu persatu setiap hari, sampai akhirnya kita sendiri tidak mampu memutuskannya"(Horace Mann, pendidik).

Refleksi: 
Tepat sekali yang dikatakan pendidik kelahiran AS, Horace Mann. Tanpa kita sadari --menenun benang yang akhirnya menjadi seutas tambang yang sulit untuk diputuskan : demikianlah yang namanya "kebiasaan". Bersyukur, jika sedari awal, kita melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang berurat akar menjadi kebiasaan yang akhirnya bertumbuh sebagai karakter.

Namun, bagaimana jika benang yang kita pintal itu tanpa kita sadari, justru  adalah merupakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang alih-alih mampu kita lepaskan, karena kita sudah terlanjur kadung terjerat di dalamnya? Banyak contoh, kebiasaan kecil saja, misalnya : bermalas-malasan, menunda sesuatu yang kita kerjakan. Atau, menjumput sebatang rokok yang mulanya hanya iseng, kepingin mencoba-coba , tapi akhirnya jadi kebablasan 'nyandu' sulit dilepaskan.

Ya, Horrace Mann sendiri, terlahir dari ayah seorang petani miskin, akhirnya bisa terkenal sebagai pendidik yang berpengaruh karena pemikirannya -- tentu tak terlepas dari kebiasaan baiknya dalam melahap berbagai bacaan di ...perpustakaan, hingga walaupun awalnya tak punya beaya sekolah, akhirnya berkat ketekunannya yang dipintal dari hari ke hari, toh mampu melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi, dan tak pernah terus berhenti belajar hingga akhir hayatnya.

Begitulah. Tanpa kita sadari, kebiasaan yang  masing-masing kita miliki terwujud pula berkat kedisiplinan dan ketekunan menjalaninya. Seperti saya sendiri, berusaha menulis Pijatan Quotes ini setiap harinya hingga tanpa disadari, jika sehari saja saya lengah, atau tidak sempat menuliskannya, rasanya ada sesuatu yang hilang, yang belum saya kerjakan. Sesempit apa pun waktu yang saya punya, saya berusaha menulis setiap harinya. Dan, itulah kebiasaan saya yang lama-lama menjadi kebisaan saya....(Catatan Selasa pagi, 2352017).   

Senin, 22 Mei 2017

Kejarlah!

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Temukan sesuatu yang kau cintai dan kejarlah!" (anonim). 
 Refleksi:
 Menemukan sesuatu yang dicintai itu "sesuatu" banget. Apalagi jika menggunakan "usaha" di dalamnya, sekuat daya yang ada untuk mengejarnya ; lebih "sesuatu" banget...banget! 

Nah, ketika muda belia, biasanya tidak mudah untuk mengetahui secara pasti dan maksimal berupaya menemukan sesuatu yang kita cintai. Boro-boro tahu secara jelas dan gamblang di depan mata, wong terkadang kita malah tidak tahu apa yang semestinya kita cintai. Persis seperti orang buta yang sedang meraba-raba dalam gelap, begitu-lah situasi dan kondisinya.

Ditambah lagi, kita tidak terlalu peduli untuk berusaha sekuat daya menemukan. Hanya menjalani saja apa yang ada, bahkan tak jarang, kita ikut-ikutan teman menemukan sesuatu yang dicintai... teman, bukan oleh diri kita sendiri. Lalu, bagaimana setelah sang waktu berjalan, dan usia merambat dewasa, bahkan tua? Apakah sudah tak berlalu lagi istilah menemukan sesuatu yang kita cintai? Bagaimana mau mengejar, jalan saja sudah tertatih-tatih ngos-ngosan menggunakan alat bantu tongkat?

Aha! Saya sama sekali tak setuju jika usia menjadi batasan penghalang mengejar sesuatu yang kita cintai. Banyak lho, nenek-nenek, aki-aki yang malah mengejar mimpi sejatinya tatkala usia sudah beranjak  senja. Dan, mereka berhasil tuh memerolehnya! Jadi sarjana di usia 90 tahun, belajar dansa di usia 78 tahun, atau... naik gunung di usia 65 tahun? Sah-sah saja....

So, tunggu apa lagi? Yuk, temukan sesuatu yang kita cintai, dan kejar sampai ke ujung dunia! (Catatan Senin, 2252017).

Minggu, 21 Mei 2017

Bertahan Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kita membutuhkan cara berpikir yang baru jika manusia ingin bertahan hidup"(Albert Einstein, ilmuwan fisika). 

Refleksi: 
Jika dikaji ulang, kalimat "bertahan hidup "ini sebetulnya lucu,ya? Kayaknya kita harus berpegangan pada sesuatu-- "gantungan", menggenggam jari jemari kita dengan erat, berupaya agar bisa ... hidup! Namun memang tak bisa disangkal, ada sementara orang yang dengan demikian kerasnya sekuat daya berusaha agar mampu melanjutkan hidupnya dari hari ke hari. Entah karena didera nestapa secara mental, atau beragam konflik sosial, finansial, dan entah apa lagi.

Dan, bapak fisikawan abad ke-20, Albert Einstein yang sebegitu terkenal dengan Teori Relativitasnya, memberikan tip jitu untuk mengatasinya. Hanya dengan ...cara berpikir yang "baru"! Ya, saya sependapat sebenarnya kita semua membutuhkannya. Cara berpikir yang baru, tidak terlepas dari memandang segala sesuatu yang kita hadapi dengan sudut pandang berbeda dari segala sisi. Tidak bisa stuck, bertahan kepada pola lama yang enggan kita lepas. Jika sudah tak dapat memberi kita energi, atau daya yang membuat kita sekadar bertahan hidup saja tak mampu, buat apa tetap dipertahankan?

Seorang ilmuwan seperti Einstein pun sudah membuktikannya sendiri. Kecilnya pemalu, disleksia dan sedikit autis pula, namun nama dan bahkan profil rupanya kemudian melejit dahsyat sebagai manusia genius yang dikagumi seantero dunia. Siapa yang menyangka penemu teori E=mc2 ini pernah berkali-kali gagal tes masuk ke Institut Teknologi di Zurich? Nah! @ Catatan Minggu 2152017  

Minggu, 14 Mei 2017

Sang Hakim

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Who am I to judge?"(Pope Francis, pemimpin gereja Katolik).
Refleksi:
Empat hari saya absen, mengendapkan semua masalah yang sedang bergolak di negeri sendiri. Mulai dari acara ketok palu hakim abal-abal yang mem-vonis Gubernur DKI, Ahok ; aksi seribu lilin yang mendunia, hingga akhirnya... leleh-lah "titik didih" saya, mencair pelan-pelan saat 'bertemu' quote dari Paus Fransiskus.

"Siapa-lah saya ini, sehingga mengadili sesama?" Gitu kira-kira terjemahan bebasnya, dan siap landas di benak saya yang sejatinya sejak kemarin-kemarin sibuuuk saja lalu-lalang ke sana ke mari, ndak mau sejenak-dua jenak merebahkan diri.

Ya, pada akhirnya saya harus nerimo, rela berserah ... sehingga secara berproses muncul kesadaran, kalau bahasa kerennya mungkin "pencerahan" --  sebaiknya saya mulai saja dulu dari diri sendiri, ndak usah ngerepoti atau direpoti orang lain. "Mampukah saya memiliki sudut pandang yang jernih dan bersih bak air pegunungan yang bebas polusi, terlepas bebas dari jeratan keinginan atawa hawa nafsu hasrat "menghakimi" sesama saya?

Duh, ini 'pekerjaan rumah' yang kudu harus segera dikerjakan, nih! (Catatan Minggu 08.48, 14 Mei 2017, eh, ini Hari Ibu, Mother's day di belahan dunia sana,ya? Selamat Hari Ibu sedunia bagi  emak-emak yang hebaaat. Anda semua luar biasaaa! ** )    

Selasa, 09 Mei 2017

Move On

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cry. Forgive. Learn. Move on. Let your tears water the seeds of your future happiness"(Steve Maraboli, penulis, pembicara).
 Refleksi: 

Satu dari motivator yang tergolong muda (kelahiran 1975), Steve Maraboli yang juga dikenal sebagai penulis buku laris, mengajuk kita untuk... menangis. Yeah, dibarengi dengan perilaku : memaafkan, belajar (lagi dan lagi), kemudian yang terakhir, ending-nya adalah : move on. 

Nggak mudah untuk membiarkan airmata kita jatuh, terkadang untuk hal sepele yang kita sesali sekali pun. Maklum, gengsi itu senantiasa menyertai. Apalagi jika ketahuan oleh orang-orang di sekeliling, bahkan mereka yang terdekat di lingkaran kita. Malunya itu, lho. A la mak! Siapa sih, yang bersedia rela hati ketahuan ... kelemahannya?

Yup, namun seturut pemikiran saya yang dangkal ini, seperti yang dikatakan Steve, ada baiknya kita mengeluarkan semua uneg-uneg ketimbang mengendap-- lalu mengkristal di hati menjadi penyakit. Dan, airmata, dibarengi memaafkan, sembari belajar untuk bangkit lagi alias move on, adalah hal yang terbaik bisa kita lakukan. Tidak saja untuk orang-orang tercinta yang menyayangi kita, namun terlebih bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Menangislah habis-habisan jika perlu, bahkan sampai matamu sembab dan wajahmu kelihatan babak-belur. It's okay. Toh, airmata yang terkuras itu akan menyirami benih-benih kebahagiaan di masa depan. Energi cinta akan bertunas, bertumbuh, dan berkembang lagi.... So, jangan takut untuk menangis, ya? (Catatan Selasa 08.41 AM, 952017).

 

Senin, 08 Mei 2017

Tentang Mimpi

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"If you can dream it, you can do it!"(Walt Disney, produser film, sutradara, animator)
Refleksi:
Setua ini, saya masih tergila-gila dengan ... film kartun! Ya, siapa lagi dedengkotnya yang piawai memeriahkan ranah dunia hiburan lewat imajinasi yang tak terbatas, dan bahkan sanggup menghadiahkan perasaan-perasaan yang cerah, saat menikmati karya animasi : Walt Disney-lah orangnya.

Kelahiran AS dengan nama panjang Walter Elias Disney, sejak usia 7 tahun sudah rajin menjual sketsa hasil gambarnya kepada tetangganya. Lebih banyak melukis ketimbang mengerjakan pe-er, Disney akhirnya melesat mengubah industri dunia hiburan Hollywood. Mengemas masa lalu dan masa depan dengan begitu apiknya, kita mengenal segitu banyaknya film yang ciamik : mulai dari Mickey Mouse yang menggemaskan, Snow White, hingga Frozen.

Apa yang begitu membuat saya termehek-mehek dengan seorang Disney? Tak hanya fantasinya yang saya katakan "gilaaaa", tapi optimismenya yang demikian luar biasa amat menancap di hati saya. Sehingga satu dari sekian quote-nya yang paling menginspirasi saya, adalah  yang saya jadikan Pijatan Quotes hari ini.

Katanya," Jika kamu dapat memimpikannya, kamu juga dapat melaksanakannya!" See, demikian membara gelora harapan yang ditiupkannya!  Jangan pernah meremehkan secuil impian sekali pun. Bermimpilah setinggi langit. Dan, bangunlah untuk melaksanakannya. Kita pasti bisa! Saya terpesona dengan kalimat ini, sedari ...wah, entah kapan ya, saya mulai menuliskannya di mana-mana : agenda, papan tulis harian, buku, bahkan kertas nota yang sudah lecek dan tergeletak di dapur.

Saya termasuk orang yang sangat percaya kepada kekuatan mimpi. Ya, boleh jadi Anda menertawakan saya, dan lalu bilang,"Hei, realistis sajalah! Hari  giniiii... masih percaya mimpi?"

Hais, emangnya kenapa kalo saya segitu kepincut "mimpi"? Bukan cuma karena keberadaannya yang gratis, melainkan imaginasi saya yang liar ini, sungguh mendapat tempat terhormat di dalamnya. Dan, hebatnya lagi, mampu memberikan energi berlebih, daya tahan , sumber kekuatan yang memacu saya untuk mewujudkannya, walaupun tidak sekarang-- tetapi suatu hari nanti, saya percaya kelak akan menggapainya.  Dan, saya memang sudah membuktikannya sendiri. Impian masa kecil saya, masa remaja saya, masa tua saya...? Hahaha. Duh, saya menikmati proses rajutan impian itu, satu per satu....

Seperti Disney, creator sekaligus saya bilang saja dia "Bapak dari segala mimpi", saya sangat berharap anak-anak di dunia ini memiliki mimpi dan impian yang siap mereka kejar ke ujung dunia sekali pun. Beranilah untuk bermimpi dan jangan pernah takut untuk mewujudkannya! (Catatan Senin 9.24 AM, 852017).           

Minggu, 07 Mei 2017

Tentang Kata

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kata terbaik di seluruh penjuru dunia adalah kata kasar yang tidak diucapkan"(unknown).
 Refleksi : 
Pernahkah Anda bersinggungan dengan seorang teman yang hobinya mengumpat, melontarkan sejuta perbendaharaan perikebinatangan dari dalam mulutnya? Atau, mungkinkah itu terjadi pada diri kita sendiri? Jika melihat segala sesuatu yang tidak berkenan dengan kita, langsung saja mengucapkan komentar yang 'pedas', tidak enak didengar di telinga?

Quote yang saya temukan Minggu pagi, namun sayangnya lagi-lagi tidak diketahui siapa pencetusnya ini, mengingatkan saya untuk mengontrol diri untuk tidak mubazir, menghabiskan energi -- marah-marah tidak karuan dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Ada begitu banyak tercipta bahasa di seluruh dunia, dan tentu ada demikian banyak pula istilah yang "tidak perlu" diucapkan, sebetulnya.

Saya ambil contoh, sebuah bahasa daerah di negeri saya, Indonesia : "Asu", misalnya. Dalam bahasa Jawa, Asu bermakna : "anjing". Hewan manis yang menjadi sahabat manusia ini, berubah makna ketika diucapkan dengan hentakan nada keras dan marah, karena berubah arti dengan "meng-anjingkan" Si manusia lain yang kita umpat. Ya, Asu menjadi kata makian yang kasar, berasal dari daerah tertentu (Jawa), berkembang menjadi 'bahasa nasional' "Anjing loe!" (maaf).

Itu baru satu contoh saja, bagaimana dengan bahasa international, Inggris, misalnya. Ada banyak istilah slank, yang juga miris didengar. Bikin merah telinga mereka yang berhati lembut, tetapi mungkin sebaliknya terdengar "biasa-biasa" saja bagi yang penggunanya. "Fu*k you!" etc,etc...Anda boleh menambahkannya sendiri....

Aha, kepanjangan. Yang mau saya sampaikan, ada baiknya jika kita menahan diri dalam berkata-kata. Budi bahasa yang lembut, manis didengar, mengelus-elus hati sesama kita, termasuk diri sendiri. Di balik saja posisinya, enakkah rasanya Anda jika mendengar umpatan kasar terlontar seorang teman, misalnya yang ditujukan langsung kepada diri kita? Duh, pasti sebal sekali, bukan? Siapa sih, yang mau dimaki-maki sedemikian rupa?

Jadi, benar banget,'kan imbauan Pijatan Quotes yang saya temukan dalam bacaan Minggu pagi ini, bahwa,"Kata terbaik di seluruh penjuru dunia adalah kata kasar yang tidak diucapkan?" Walaupun tidak mudah, saya pikir, dengan menahan diri dalam berbahasa yang baik dan benar (ehm), paling tidak kita pun berlatih kesabaran diri dalam berhubungan dengan orang lain, maupun tentu saja belajar menjadi manusia yang seutuhnya dalam memberi penghargaan kepada sesama -- termasuk diri kita sendiri. (Catatan Minggu pagi, 752017).            

Sabtu, 06 Mei 2017

Yuk,duduk?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kadang-kadang, hanya dengan duduk, jiwa mengumpulkan kearifan"(Peribahasa Zen).
 Refleksi: 
Satu dari aliran Buddha Mahayana, Zen yang memusatkan diri pada "kekosongan yang menuju kesempurnaan yang penuh" dengan bertumpu pada meditasi, mengajuk kita untuk duduk sejenak. Berhenti melakukan segala kesibukan diri yang terkadang tak perlu.

Anda merasa tidak punya waktu untuk melakukannya? Ah, sayang sekali. Cobalah dahulu alih-alih menolak mengatakan, "tidak bisa". Masakan Anda tidak mampu melakukannya, lima atau sepuluh meniiit saja? Namun sebelumnya, mungkin saya harus sedikit 'meluruskan' makna dari kata "duduk" yang dimaksudkan peribahasa Zen yang saya ambil sebagai Pijatan Quotes kali ini.

Duduk diam tenang, dan rasakan aliran udara yang keluar masuk memenuhi rongga hidung hingga menyelusup  ke paru-paru Anda. Bukan duduk belingsatan, resah gelisah, bahu berputar atau leher menandak-nandak celingak-celinguk, mengikuti mata yang asyik melirik ke kiri dan ke kanan, lho, ya. Itu berbeda!  

Aha, saya yakin, tidak semua orang di antara kita mampu melakukannya dengan mudah. Bahkan, saya sendiri harus mengakuinya dengan jujur. Benak yang sibuk, sulit fokus, terkadang seperti kuda liar yang perlu tali kekang. Imajinasi saya yang kerap mengembara ke sana ke mari itu yang jadi penyebabnya.

Namun, jika sekali waktu, kita sudah berupaya mempraktikkan duduk tenang, dengan kumpulan pikiran yang kita kendalikan pula untuk sejenak "stop" diam, tak mengembara bebas seperti biasanya, ternyata memang benar : jiwa kita pun terasa berserah damai. Segala galau keresahan, bahkan juga ketakutan, menguar hilang....

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan Zen : mengumpulkan kearifan? Itu yang saya rasakan. Nah, bagaimana dengan Anda. Coba-lah! (Catatan Sabtu 08.15,652017).      

Jumat, 05 Mei 2017

Embrace Change

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"It is not the strongest of the species that survives, nor the most intellegent that survives. It is the one that is most adaptable to change"(Charles Darwin, ahli geologi Inggris).
 Refleksi : 
Apakah manusia bisa mengontrol setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya? Oh, tidak! Peristiwa yang terjadi, tetap saja sudah kadung terjadi, tak bisa dikendalikan oleh kita. Namun karena setiap peristiwa yang terjadi memiliki potensi untuk bergerak "maju" atau sebaliknya "mundur", masih ada celah yang bisa dikontrol oleh kita, yaitu "reaksi kita terhadap perubahan" itu sendiri.

Nah, seperti yang diutarakan Charles Robert Darwin, ahli geologi yang juga dikenal sebagai seorang naturalis kelahiran Inggris, bahwa "Ini bukan tentang yang terkuat dari spesies  yang bertahan atau yang paling cerdas, melainkan yang paling responsif terhadap perubahan"; bukankah seharusnya kita menerima saja perubahan yang terjadi itu dengan positif dan tetap bergerak maju?

Jadikan perubahan sebagai tantangan yang menarik. Yakini setiap perubahan adalah peluang untuk meningkatkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri kita. Dan, percaya saja setiap perubahan justru merupakan jalan menuju pertumbuhan pribadi dan pengembangan profesional dengan memaksa keluar dari zona nyaman.

"Apa yang kira-kira bisa kita pelajari dari situasi yang terjadi ini?" Mengubah pemikiran demikian, saya pikir akan mampu membuat kita tidak hanya sekadar berserah terhadap perubahan, tetapi mampu bertindak responsif -- seperti yang dikatakan kontributor Teori Evolusi yang sempat menggegerkan dunia pada masanya itu.

Ya, pengarang buku, satu yang berjudul "Asal-usul Spesies", Charles Darwin, membuat saya lagi-lagi tidak menjadi mudah terpukau pada intelegensi seorang manusia, atau terkagum-kagum pada kekuatan semata. Kunci  membangun ketahanan diri sebagai manusia sejatinya adalah tergantung kepada adaptasi perilaku, pikiran, dan tindakan menerima perubahan.  Alih-alih menolak perubahan , lebih baik 'merangkul' perubahan.  So, staying positive, motivated, focused! (Catatan Jumat, 552017).         




Kamis, 04 Mei 2017

Selera Humor

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Di atas segalanya : pertahankan selera humor Anda"(Hugh Sidey, jurnalis ).
Refleksi:
Mungkin itu sebabnya, ya, Hugh Sidey dikenal sebagai penulis favorit kepresidenan Amerika Serikat. Ia senantiasa memertahankan rasa humornya tatkala 'bergaul' dengan para petinggi orang nomor satu negara adikuasa, seperti Eisen Hower, John F Kennedy, Nixon, Jimmy Carter, Ronald Reagan....

Saya sih, setuju banget dengan jurnalis Life Magazine yang satu dari bukunya berjudul "The Statue of Liberty" ini. Kalau dia bilang kita harus "mengedepankan" selera humor, dan sekaligus "memertahankannya". Karena terus terang saja, tidak gampang lho, menjadi orang yang ceria, tidak pemarah, memiliki sense of humour. Seturut pemikiran saya, orang yang punya rasa humor itu saja sudah memiliki satu karakter "plus"  dalam dirinya. Ya, memandang dunia dengan gembira dan terlebih mampu menularkan kegembiraan itu bagi orang lain di sekitarnya itu sungguh anugerah yang luar biasa....

Saya sendiri, masih harus belajar banyak dalam urusan sense of humour ini. Kadang terlalu serius memandang segala sesuatu, melelahkan juga, bukan? Memiliki selera humor yang baik pun perlu pembelajaran, karena paling tidak kita menjadi bijak dalam menanggapi sesuatu dengan kacamata positif yang meringankan beban di hati kita sendiri. Bukan begitu? 

Jadi, hayuuuk, tunggu apa lagi? Menertawakan kebodohan diri sendiri itu perlu, lho. Kalau Anda memiliki selera humor (syukur-syukur peringkat selera humor Anda : tinggiiii), Anda pastinya dengan mudah memahami maksud saya, apa makna dari menertawakan kebodohan diri sendiri! Hahaha (Catatan Kamis, 452017)

Rabu, 03 Mei 2017

Berbagi Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cinta bukanlah cinta sampai Anda membagikannya kepada orang lain"(anonim)

Refleksi: 
Saya terpana mendapatkan quote yang tak bernama ini. Alangkah dalam makna cinta itu, menurut si pencetusnya-- sayangnya, entah siapa dia....Walau sesungguhnya saya penasaran, darimana datangnya inspirasi quote yang begitu bagus ini (menurut saya, lho).

Hmm, saya jadi berpikir-pikir tentang cinta yang dipendam sendiri. Cinta yang hanya untuk diri sendiri, cinta yang tunggal tak dibagi-bagi. Atau, ada lagikah definisi cinta yang lain, menurut Anda? Saya sih, sukaaa pijatan quotes yang saya tulis sore ini. Tumben ya, bukan ditulis pagi hari?

Namun,ah, jika bicara cinta...pagi, sore, malam, bukan lagi sesuatu yang perlu diperdebatkan. Karena cinta itu abadi, tak lekang oleh waktu. Bukankah begitu? (Catatan Rabu sore,352017).    

Senin, 01 Mei 2017

Konspirasi Semesta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"One you make a decision, the universe conspires to make it happen"(Ralph Waldo Emerson, esais AS, dosen, penyair).
Refleksi :
Keputusan itu bisa benar, tetapi bisa jadi juga... salah. Karena itu, berhati-hatilah sebelum membuat suatu keputusan, pikirkan matang-matang apa akibatnya. Seperti yang ditegaskan oleh Ralph Waldo Emerson, dosen sekaligus penyair, dan esais kelahiran Boston, bukan hanya manusia saja yang cerdas ber-konspirasi. Alam semesta pun mampu melakukannya.

Ya, saya pikir, dampak yang terjadi malah akan lebih luas. Bayangkan, kontribusi energi yang kita kirimkan saat memutuskan sesuatu, dengan mudah secepat kilat sampai. Nggak tunggu lama, lebih instan lho, semesta berkonspirasi mewujudkan apa yang kita inginkan dan harapkan saat memutuskan sesuatu.

Jadi, jangan gegabah dan serampangan. Banyak hal di luar dugaan yang mampu terjadi, jika kita 'gagal paham' mengirimkan signal keputusan yang kita ambil. Hais, 'sereeem'! Makanya, nasihat emak saya dulu ada benarnya ;"Jadi orang jangan macem-macem...."(Catatan Senin, awal Mei, 0152017).

 

Minggu, 30 April 2017

Bermimpi dan Percaya

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Untuk mencapai hal-hal besar, kita bukan hanya harus bertindak, tetapi juga bermimpi ; bukan hanya rencana, tetapi percaya" (Anatole France, jurnalis, penyair, novelis).

Refleksi: 
Di antara kita, ada manusia yang bertumpu pada tindakan nyata, dan mengabaikan kekuatan mimpi. Memilih lebih mengutamakan 'segudang' rencana di kepala, tanpa menyandingkannya dengan keyakinan di dada. Nah, saya suka sekali quote satu dari tokoh utama dunia sastra Prancis, Anatole France. Gemar membaca sedari belia (mungkin karena punya seorang ayah penjual buku), peraih penghargaan nobel sastra di tahun 1921 ini-- waduh, sudah lamaaa sekali,ya, malah menggabungkan kesemuanya menjadi satu kesatuan.

Penulis kritikus urban yang disebut-sebut sebagai tokoh sastra di akhir abad ke-19 ini, demikian bijak mengingatkan kita untuk berjaga-jaga tidak hanya berbekal rencana dan tindakan nyata saja, tetapi juga arif tanpa mengesampingkan betapa dahsyatnya kekuatan  mimpi dan sebuah keyakinan untuk mencapai hal-hal besar.

Ya, tentu saja mimpi saja tidak cukup tanpa diwujudkan dengan tindakan nyata. Begitupun rencana, tanpa keteguhan tekad bahwa itu akan terlaksana, suatu hari nanti.... Hmmm, pokoknya saya sukaaaa pijatan quote akhir minggu di bulan April ini! Anda juga,'kan? Tosss! (Catatan Minggu, 3042017).        

Jumat, 28 April 2017

Kekuatan Semesta

Piatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Jika seseorang berlatih melakukan hal-hal bagi orang lain sampai hal itu menjadi kebiasaan yang tidak disadarinya, semua kekuatan baik di Semesta berbaris di belakangnya dan di belakang apa pun  yang ia upayakan"(Bruce Barton, penulis, jurnalis, politisi).
Refleksi:
Sangat menyenangkan dapat menemukan quote dari seseorang berbakat sekelas Bruce Barton yang punya banyak keahlian. Anak tunggal dari ayah seorang pastor, dan ibu seorang guru ini, sejak usia 9 tahun sudah berusaha sendiri dengan berjualan koran. Bakat jurnalisnya pun diasah tatkala remaja high school, hingga  penciuman bisnisnya semakin 'tajam' dan ia terjun ke dunia periklanan  dan dikenal sebagai pendiri agensi periklanan BBDQ yang termasyhur.


Borton sangat percaya pada tindakan memberi. Saya menyukai pemikirannya, bahwa seseorang dapat "belatih" di dalam melakukan hal-hal bagi orang lain, sampai menjadi suatu "kebiasaan yang tidak disadarinya". Ya, apa sih, yang tidak mungkin, jika kita mau belajar? Saya pikir, kebiasaan yang sudah menetap ini kelak akan bertumbuh menjadi "karakter" kita. Dan, apa yang kemudian disodorkan Borton sangat melegakan. Katanya, "semua kekuatan baik di Semesta akan berbaris di belakang, dan di belakang apa pun yang kita upayakan".

Aha! Mungkin sebab itu, Borton dikenal sebagai penulis terlaris, selebriti bisnis, penyumbang bagi berbagai isu sosial, dan sangaaaat kaya? Ngomong-ngomong, sudahkah membaca bukunya yang best seller "The Man Nobody Knows"? (Catatan Jumat, 07.25 am, 2842017).  





 

Kamis, 27 April 2017

Temperatur Sepanjang Tahun

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"The best year round temperature is a warm heart and a cool head"(unknown).
Refleksi:
Ada tercatat di halaman paling belakang salah satu agenda saya, sebuah quote yang tak diketahui rimbanya, siapa si pencetus yang memiliki untaian kalimat indah ini. Katanya," Temperatur alias suhu udara yang terbaik sepanjang tahun adalah jika kita memiliki hati yang hangat dan kepala yang dingin."

Hangat dan dingin, memang sebuah kontradiksi "yin" dan "yang", demikian istilah peradaban negeri Tiongkok. Bisa saja kita bayangkan, sebuah baju atau selimut yang hangat, dan segelas es atau bahkan, gumpalan salju yang...brrr, dinginnya a la mak!  Namun, jika dikaitkan dengan organ tubuh: hati dan kepala, tentu sangat berbeda makna.

Memiliki hati yang 'hangat', saya langsung teringat kepada mereka yang penuh cinta, semangat pengampunan, dan berbelas kasih. Sebaliknya, kepala yang dingin --- menyadarkan saya kepada orang-orang di sekitar yang senantiasa menanggapi situasi atau kondisi yang dihadapinya dengan kesabaran, serta kontrol diri yang tinggi.

Ah, benar sekali,ya? Jika saja semua orang (termasuk Anda dan saya, tentunya), mampu mengendalikan diri sedemikan bijak, besar sekali kemungkinannya kita tidak  akan mengeluh panjang-pendek, karena toh, kita memiliki tahun-tahun yang terlewati dengan baik. Tak peduli, apa pun "temperatur udara" yang dihadapi di depan mata....(Catatan Kamis pagi, 2742017).      

Rabu, 26 April 2017

Cara Mengubah Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Satu persepsi baru, satu pikiran segar, satu tindakan pasrah, satu lompatan iman, dapat mengubah hidupmu untuk selamanya"(Robert Holden, penulis, pembicara).

Refleksi: 
Di tengah himpitan hidup, di tengah kebosanan dunia, acapkali banyak orang yang ingin mengubah hidupnya tetapi tidak tahu bagaimana caranya? Penulis kelahiran Kenya, 1965, Robert Holden yang menerbitkan buku-buku  bergenre psikologi dan spiritual, menyodorkan solusinya. Tidak banyak-banyak, cukup satu persepsi baru, satu pikiran 'segar', satu tindakan pasrah, dan satu lompatan iman!

Saya pikir, tidak percuma buku-buku Holden bertajuk kebahagiaan masuk jajaran buku laris yang telah diterbitkan ke dalam 14 bahasa. Ya, saya suka, ia tidak melupakan tindakan untuk berserah atau pasrah, karena terkadang sebagai manusia, kita mengabaikan hal yang satu ini. Boro-boro pasrah, kita kerap mengejar terus penuh ambisi tanpa mau mencoba sekalipun untuk sedikit rendah hati, bukan?  

Begitu juga dengan istilah 'lompatan iman' yang disodorkan Holden. Bagaimana mungkin, Si Iman ini melompat-lompat? Hahaha tentu ini hanyalah sebuah istilah dari permainan kata dari seorang penulis. Hmm, saya juga senang sekali, Holden menyisipkan unsur yang utama ini. Seturut pemikiran saya, seseorang yang ingin mengubah hidupnya, tidak akan pernah berhasil, tanpa memiliki iman.

Yeah, itu sih, menurut pemikiran saya. Bagaimana menurut pemikiranmu? (Catatan Rabu pagi, 2642017).

Selasa, 25 April 2017

Kebenaran

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Kebenaran pada akhirnya akan terungkap"(fi, penulis dan pendidik).
Refleksi:
Begitu saja, melintas kalimat ini. Entah darimana datangnya. Yang jelas, agar tidak lupa, buru-buru saya mencatatnya di selembar kertas... nota bekas belanja! Hahahaha. Dan, tanpa sengaja melihatnya pagi ini -- lalu saya tuangkan di arena Pijatan Quotes. Ya, begitu saja.... 

Saya sangat percaya, apapun jenis dusta atawa kebohongan yang dibuat seseorang, pada suatu waktu kelak entah bagaimana caranya, ada saja jalan untuk terkuak mengacu jalan kepada kebenaran. "Sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai, bau busuk akan menguar di udara" -- begitu kata pepatah lama, yang pernah saya dengar dari alamarhumah ibu saya.

Jadi, jangan pernah merasa takut untuk jujur. Prinsip "kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana", mungkin sama saja konteksnya dengan quote yang saya tulis, walau berbeda rupa. Ya, walau seorang sufi pernah mengatakan "jalan yang benar adalah jalan yang sunyi" (karena banyak orang yang enggan melakoninya atau hanya satu-dua orang saja yang bersiteguh di 'jalan yang benar'?) , saya kok, tetap saja kekeuh dan yakin sekali, hingga akhir zaman, quote kebenaran yang satu ini, tak akan sirna digilas waktu! Bagaimana dengan Anda? (Catatan Selasa pagi, 2542017).  

Senin, 24 April 2017

Compassion

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"If you want others to be happy, practice compassion. If you want to be happy, practice compassion"(Dalai lama, tokoh Buddhis). 

Refleksi: 
Lagi-lagi saya kepincut kalimat bijak dari Dalai lama ! Bicara soal kebahagiaan memang tiada habis-habisnya. Konon, karena manusia begitu banyak menghabiskan waktu untuk mencari kebahagiaan. Padahal, menurut seorang tokoh Buddhis sekaliber Dalai lama ke-14, jika ingin membuat orang lain berbahagia, caranya hanyalah mempraktikkan "compassion". Begitu pun jika ingin diri kita sendiri bahagia, ya...lagi-lagi, praktikkan saja "compassion".

Apa sih, "compassion" itu?  Menurut pemikiran saya tak terlepas dari hati yang "berbelas kasih", karakter luhur "welas asih". Berkesinambungan dengan tindakan kasih yang kudu harus dibagikan dan disebarluaskan, tidak hanya kepada sesama kita, tetapi juga seluruh makhluk ciptaan-Nya, seperti hewan dan tumbuhan lainnya.

Ya, praktikkan saja jika tidak percaya. Membagikan kasih di sekeliling kita, niscaya akan menumbuhkan perasaan senang luar biasa, menjalar ke seluruh sel syaraf tubuh sampai ke hati. Lebih dari perasaan senang, berakhir pada ...bahagia. Jadi, upayakan saja kebiasaan baik "compassion" di setiap perjalanan kehidupan kita setiap harinya. Ajukan Dalai lama ini, apakah merupakan sesuatu yang sulit, ataukah sebaliknya mudah untuk Anda?  Nah! (Catatan Senin pagi, 2442017).

Minggu, 23 April 2017

Berani Percaya Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Have enough courage to trust love one more time and always one more time"(Maya Angelou, penyair, aktivis, penulis skenario).
Refleksi:
"Aku melahirkan seorang anak laki-laki tetapi aku memiliki ribuan anak perempuan. Kau yang berkulit hitam dan putih, kau yang yahudi dan muslim, Asia... aku berbicara kepada kalian semua!"seruan bagi keragaman dan toleransi yang ditorehkan dalam "Letter to My Daughter", satu di antara 30 buku, warisan berharga Maya Angelou terus bergema, walau ia telah berpulang 28 Mei 2014, di usianya yang ke-86 tahun.  

Siapa yang tak mengenal reputasi penyair perempuan kelahiran Afro-Amerika ini di dunia sastra? Mengilhami banyak orang AS memerjuangkan kebebasan, kemajemukan dan toleransi, diskriminasi ras, Marguerite Anne Johnson-- nama aslinya, sebetulnya sangat sulit dipercaya mampu mengeluarkan pijatan quote yang saya temukan di antara bacaan pagi ini ; "keberanian untuk memercayai cinta yang tak berkesudahan, sekali lagi, dan selalu ...sekali lagi" dikumandangkan keluar bagi dunia dari seseorang yang memiliki masa lalu kelam seperti dirinya.

Sungguh, saya termangu dengan bibir kelu. Membayangkan Angelou kecil yang broken home, memiliki hubungan tidak harmonis dengan ibu kandungnya, bahkan ia...diperkosa oleh kekasih ibunya (dan sang kekasih yang brutal tersebut kemudian dibunuh oleh pamannya !). Bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurukan, kehilangan kepercayaan akan cinta, di dalam suatu 'labirin hitam' yang telah tercatat di dalam noktah buku kehidupannya, bukan?

Beruntung, ia masih memiliki seorang nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih. Mungkin, itulah yang membuatnya tidak pernah kehilangan harapan akan cinta? Seperti yang pernah diungkapkannya lagi, dalam seuntai kalimatnya,"When we decide to be happy, we accept the responbilility to bring happiness to someone else."

Memutuskan untuk berbahagia, dan menerima tanggung jawab untuk membagikan kebahagiaan kepada orang lain di sekitar, tentu saja harus menjadi orang yang mampu untuk menyingkirkan awan-awan gelap di dalam hidupnya dahulu. Ya, Angelou mengakui jujur akan hal itu, beberapa serial buku ditulis berdasarkan pengalaman sejatinya. "Aku punya banyak sekali awan, tapi juga punya begitu banyak pelangi di awan-awanku...."

Sulit dipercaya, ketika saya mencernanya dengan akal sehat saya. Namun, dengan mudah, akhirnya saya mampu meresapinya dengan segenap kebebasan rasa, sebagaimana yang didengung-dengungkan sang orator kebebasan itu. Ya, seorang yang memiliki berjuta kepahitan seperti Maya Angelou mampu melakukannya-- bagaimana dengan Anda dan saya? (Catatan Minggu pagi, 2342017).             

Jumat, 21 April 2017

Saat 'Bersentuhan'

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"When you touch someone's life it is a privilege.
 When you touch someone's heart it is a blessing.
 When you touch someone's mind it is an honor.
           When you touch someone's soul it is a triumph.
          
           When you touch someone's spirit it is a miracle"(Dr Jeff Mullan, Phd., ahli metafisika). 

Refleksi:
Agak panjang ya, Pijatan Quotes yang satu ini ? Sebagai seorang ilmuwan, ahli medis, penasihat spiritual, sekaligus pula penulis, Dr Jeff Mullan, Phd. memiliki banyaaak quotes yang menurut saya, sih; menyentuh. Ya, sesuai dengan judulnya, yang akan saya bahas kali ini memang soal "sentuhan".

Bukan..., bukan ngomongin soal sentuhan secara fisik! Itu, mah, lain lagi ceritanya. Tetapi, yang saya maksudkan adalah saat kita berhubungan dengan sesama kita manusia, tentu kita tidak luput dari kata yang satu ini. "Bersentuhan" dalam makna yang lebih luas lagi dan 'dalam'. Karena, acapkali sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari pun, kita bertemu dengan orang lain, secara tidak disadari, yang mampu 'menyentuh' kita....

'Bersinggungan' dengan orang-orang di sekitar kita, dikenal dekat, maupun orang asing sekali pun ia, terkait dengan kemampuan bahasa secara verbal, body language, dan ...apa lagi? Kemampuan memahami, alias tenggang rasa, bahkan lebih berbelarasa pun, termasuk di dalamnya. Ada yang membuat kita merasa hangat,nyaman, adem...sebaliknya ada pula yang bikin kita belingsatan setengah mati, 'mati kutu, dan mungkin juga, cemas, takut, tidak berdaya.

Nah, seturut pemikiran saya, quote yang rada panjang dari Dr Jeff Mullan (tetapi diahlibahasakan dengan rima yang indaaah ini), mengajak kita untuk lebih memahami keberadaan kita saat bersama-sama orang lain. Mampukah kita menjadi seseorang yang sedemikian rupa menyentuh banyak orang dalam kehidupan yang singkat ini, dengan menebarkan 'sentuhan-sentuhan' -- yang merekam jejak-jejak di kehidupan sesama dengan 'secuil kecil' saja; sesuatu yang istimewa, berkah, penghargaan, kemenangan, bahkan...keajaiban?

Tidak hanya mampu berbagi dalam hidup, hati, benak pikiran, jiwa, namun juga kedalaman rasa yang mampu menumbuhkan semangat inspirasi cinta dan kasih sayang...Yuuk, mari sama-sama kita renungkan? (Catatan Jumat pagi, 2142017).       

Kamis, 20 April 2017

Damai

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi di dalam hidupmu"(Vishnu, dewa pelindung Trinitas Hindu).
Refleksi:
Mengapa saya mengutip kalimat bijak seorang dewa --pelindung kekacauan dunia? Entahlah, begitu saja bacaan saya, pagi ini, tersedot oleh Vishnu, pasangan trinitas Brahma dan Siwa. Walau konsepnya metafisik, tak berbentuk, saya terusik membagikannya dalam Pijatan Quotes kali ini.    

Banyak kali yang kita minta-minta dalam doa, entah itu kesehatan, kesuksesan, nama yang termahsyur bahkan harta kekayaan yang berlimpah. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda, suatu ketika, sekaliiiii saja memohonkan diberi ... hati yang damai?

Vishnu mengingatkan saya,"Apa pun yang terjadi di dalam hidupmu, mintalah hati yang damai." Yup, harapan saya kepada semesta, tidak saja damai di hati saya sendiri, tetapi juga di hati Anda, di hati kita semua, di hati semua makhluk penghuni alam semesta raya ini. Betapa pun gonjang-ganjingnya  dunia, badai terasa datang menyerbu di kehidupan kita....(Catatan Kamis pagi, 2042017).  

Rabu, 19 April 2017

Jongos Rakyat

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Leadership is service, not position"(Tim Fargo, pengarang)
Refleksi:
Hari ini, Jakarta akan disibukkan dengan pemilihan gubernur (PILGUB) DKI 2017 putaran kedua, ditetapkan menjadi hari libur nasional. Siapa yang akan menang, tergantung 'hati nurani' para pemilihnya. Sayang sekali, saya berdomisili tidak lagi di Jakarta, sehingga tidak dapat ikut meramaikan dan menggunakan hak pilih sebagai warganegara yang baik (hmmm...).

Pasangan Ahok-Jarot, ataukah Anies Bawesdan-Sandi ,yang bakal berkuasa, bukan orang-nya yang utama bagi saya secara personal. Kerja nyata yang tulus dari seabrek janji yang telah terucap di hadapan rakyat, itu yang terpenting!

Seperti yang dikatakan pengarang kelahiran New York, AS, Tim Fargo. Pijatan quote yang saya pilih pagi ini sengaja mengacu kepada tipikal pemimpin seperti apa yang selaiknya 'berkuasa' atas negeri ini. Pemimpin adalah seorang pelayan, alias 'jongos rakyat' yang tugasnya melayani rakyat, bukan sebaliknya minta dilayani atau malah sekadar 'menduduki kursi' ,kemaruk kekuasaan belaka. "Not position, is service", saya pikir itu tepat sekali.

Ah, sudahlah. Saya hanya mampu berharap dan berdoa, semoga Jakarta diberikan pemimpin yang memang sungguh-sungguh layak untuk membenahi segala sudut negeri, tidak hanya mendirikan bangunan-bangunan tinggi menjulang, tetapi juga mengenyangkan perut yang lapar, menghapus segala duka atas nama korupsi. Berpihak kepada 'wong cilik', dan sungguh mencintai tanah airnya semerah darah yang mengalir di tubuhnya, dan seikhlas putih hatinya.

 Mohon kabulkan sepotong doa anak bangsa ini, Tuhan. Berikan Jakarta pemimpin yang bukan sekadar lip service, namun seorang pemimpin yang sungguh memiliki jiwa kepemimpinan ; melayani dengan hati... *Bukan rencana kami, namun rencana-MU lah yang terjadi.  Amin. (Catatan Rabu pagi, 1942017). 

       

Selasa, 18 April 2017

Jangan Menyakiti

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Tujuan utama kita dalam kehidupan ini adalah membantu orang lain. Apabila Anda tidak dapat menolong, maka setidaknya janganlah menyakiti"(Dalai Lama, biarawan Buddhisme Tibet).  

Refleksi: 
Satu ukuran standar manusia dalam kebaikan hati adalah mampu menolong orang lain. Dan, menurut pemimpin Tibet peraih Nobel Perdamaian, Dalai Lama, membantu orang lain adalah merupakan  tujuan hidup kita yang paling penting di kehidupan ini.

Lebih lanjut lagi, pijatan quote dari Tenzin Gyatso, dalai lama saat ini yang ke-14, menegaskan, bahkan jika kita tidak dapat menolong, setidaknya-lah kita jangan menyakiti. Ah, saya suka banget dengan pemikiran ini!

"Jangan menyakiti" adalah standar ukuran kebaikan hati yang esensial dalam konteks tidak menyakiti seluruh makhluk ciptaan-Nya (termasuk tumbuhan dan hewan!). Tidak hanya secara fisik, saya pikir, terlebih secara mental atau psikologis kepada sesama. Mampu memberikan prioritas kepada 'yang satu ini' saja, sudah menyumbang banyak bagi perdamaian dunia. Pikirkan dan renungkanlah! *saya sih, sudaaaah...(Catatan Selasa dinihari,1842017)

Senin, 17 April 2017

Kesadaran

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Hari di mana seorang anak menyadari bahwa semua orang dewasa adalah manusia yang tidak sempurna merupakan hari di mana dia menjadi seorang remaja ; hari di mana dia memaafkan mereka, dia berubah menjadi orang dewasa ; hari di mana dia memaafkan dirinya sendiri, dia berubah menjadi orang yang bijaksana"(Alden Nowlan, jurnalis, penyair, novelis).
 Refleksi: 
Orang-orang selalu mengatakan,"tidak mudah menjadi orangtua karena harus mendidik dan menjadi panutan anak-anak mereka." Tetapi, sesungguhnya menurut pengalaman saya, sangat tidak mudah pula untuk menjadi ... seorang anak. Terlebih jika ia dibesarkan di dalam lingkungan yang tidak semestinya, yang mungkin saja menjadikan ia tumbuh menjadi anak yang tidak memahami arti kata "bahagia".

Alden Albert Nowlan, penyair Canada yang boleh dibilang satu yang dipuja-puja dalam dunia sastra di abad ke-20, mencetuskan proses perkembangan kesadaran manusia sedari masa kanak-kanak. Katanya, di usia remaja -- saat itulah biasanya kita menyadari bahwa tidak semua manusia dewasa (terlebih orangtua kita), itu makhluk yang sempurna. Ya, hingga di saat proses pencerahan itu sampai kepada taraf "memaafkan" orang lain di sekitar, barulah kita menjadi dewasa. Sampai pada akhirnya, ke taraf kesadaran yang lebih tinggi lagi : mampu memaafkan diri sendiri ; seseorang dikatakan bijaksana.

Masalahnya; tidak semua di antara kita (walaupun usia sudah 'tua bangka'!), mau dan mampu menjadi orang dewasa, alih-alih menjadi Si bijaksana itu, bukan? *ketok jidat tiga kali (Catatan Senin pagi, 1742017).    

Minggu, 16 April 2017

Cinta Universal

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Cintailah satu sama lain"(Yesus dari Nazaret).
Refleksi:
 Pesan Yesus singkat saja, kita harus mencintai satu sama lain. Siapa satu sama lain ini? Saya pikir, sih, tidak hanya sesama kita saja, tetapi seluruh makhluk ciptaan-Nya termasuk hewan dan tanaman di seluruh alam semesta raya yang luas ini.. Ya, banyak para ahli teologi meyakini, mesias -- Sang Putera Allah  akan membawa rekonsiliasi universal.

Bagaimana tidak, karena semua amanat yang diwariskannya-- sedari kelahiran hingga penyaliban, dan kebangkitannya, senantiasa abadi hingga abad ini. Cinta yang universal adalah pesan perdamaian bagi dunia yang tidak akan pernah sirna. Kesabaran, kesetiaan, pelayanan, hingga pengorbanannya yang paling besar , rela memberikan nyawanya untuk kita semua, disertai semangat pengampunan yang tulus....

Duh, apalagi yang bisa saya katakan? Pijatan quote Yesus, di Minggu Paskah ini telah memijat seluruh tubuh saya, tidak saja sampai ke ubun-ubun, tetapi juga...hati saya. Selamat merayakan kebangkitan Yesus, bagi teman-teman seiman. Semoga cinta kasih yang universal ini dapat kita praktikkan di dalam kehidupan keseharian kita semua. Amin....(Catatan pagi Minggu Paskah, 1642017).       

Sabtu, 15 April 2017

Baik Hati

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Tiga hal terpenting dalam kehidupan manusia. Pertama adalah baik hati. Kedua adalah baik hati, dan ketiga adalah baik hati" (Henry James, penulis berkebangsaan AS). 
Refleksi:
Apa ukuran kebaikan hati menurut Anda? Orang yang senang memberikah? Mereka yang suka menolong, atau mau berkorban untuk orang lain? Begitu banyak keberagaman daftar ukuran kebaikan hati seseorang, saya pikir tergantung persepsi Anda masing-masing.

Malah ada bukan, yang menilai seseorang itu baik kalau sudi memberikan uang atau hadiah? Sebaiknya jika ogah membantu atau menolak 'direpotkan' , alih-alih dibilang baik hati, pasti label yang Anda berikan kepadanya bisa jadi "Si Pelit", "Si Pemberang", atau...ah, entah banyak lagi julukan tak menyenangkan lainnya!

Demikianlah hebatnya kita sebagai manusia, ya? Kerap mengukur seseorang dengan sudut pandang kita sendiri, padahal menurut Henry James, penulis produktif yang pernah meraih Pulitzer Prize untuk karya biografi , hanya ada tiga hal terpenting dalam kehidupan manusia. Yaaaa, kebaikan hati itu!

Nah, apakah Anda (atau malah saya sendiri), termasuk kategori orang yang mengutamakan kebaikan hati ini di dalam hidup? *melongok ke dalam hati sendiri (Catatan pagi Sabtu Vigili, 1542017).      

Jumat, 14 April 2017

Kecerdasan Langka

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 
 "If we encounter a man of rare intellect, we should ask him what books he reads"(Ralph Waldo Emerson, esais, dosen dan penyair).
Refleksi:
Tidak bisa disangkal lagi, orang-orang yang banyak membaca biasanya memiliki pengetahuan rata-rata di atas orang lain yang sebaliknya sama sekali tidak suka membaca. Jelas-jelas penyair kelahiran Boston, AS, Ralph Waldo Emerson, menegaskan hal ini.

Katanya,"Jika kita bertemu dengan orang yang kecerdasannya langka, tanyakan saja buku apa yang dia baca." Ya, ya, pengarang banyak buku, satu diantaranya yang paling terkenal "The Transcendentalist" tentu saja telah membuktikan hal itu. Dan, saya sendiri mengakui, dengan membaca pikiran kita jadi terbuka luas. Buku membawa kita 'berlayar' ke mana-mana -- ke ujung dunia sekalipun....

Buku yang baik, bahkan mampu membentangkan cakrawala kita ke tingkat yang lebih tinggi. Ajari anak-anak membaca sejak kecil, paling tidak sebagai orangtua kelak kita bisa menepuk dada telah menitipkan warisan yang paling berharga untuk mereka. Pengetahuan yang menetap tidak bisa dibeli dengan uang, lho! Lebih baik menjadi 'kutu buku' ketimbang 'kutu loncat'! hehehe (Catatan Jumat Agung, 1442017).    
 

 

Kamis, 13 April 2017

Usia

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Jalani hidup Anda, lupakan usia Anda"(Dr Norman Vincent Peale, pengkhotbah dan penulis).

Refleksi:
Ada orang yang mengeluh cemas dan takut bila usianya bertambah,"Aduuuh, makin tuaaa aja!" Sebaliknya, ada orang yang mengatakan dengan santai bahwa usia hanyalah sederet bilangan angka. Nah, berada di golongan yang manakah Anda?

Secara kronologis, hitungan usia memang dihitung sedari kita dilahirkan hingga perjalanan berikutnya, menurut kalender tahunan. Namun jangan lupa, selain usia biologis, ada juga yang namanya "usia psikologis"; seberapa tua kita merasa? Ya, saya pernah membaca, bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa sesungguhnya dapat menentukan seberapa muda atau tua diri kita.

Sikap kita, cara kita berpikir, menumbuhkan keyakinan apakah kita masih muda ataukah sebaliknya, kita ini  sudah sepuh alias tua. Pijatan quote dari Dr Norman Vincent Peale, penulis kelahiran Ohio, AS yang terkenal dengan bukunya "The Power of Positive Thinking" (terjual 7 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke 41 bahasa di dunia), menegaskan sebaiknya-lah, kita lupakan saja yang namanya usia, yang terpenting adalah menjalani hidup.

Hmm, saya pikir begitu. Orang tua masih perlu 'bermain', dan anak remaja jangan terlalu berpikir serius, sehingga hidup pun terasa teramat 'berat'. Nikmati sajalah setiap momen yang ada dengan sukacita. Keceriaan berpikir itu obat awet muda. Anda setuju? (Catatan Kamis putih, 1342017).    




   

Rabu, 12 April 2017

Waktu

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Anak-anak mengeja kata cinta dengan W-A-K-T-U" (John Crudele , jurnalis dan kolumnis). 

Refleksi:
Berapa prosentase waktu yang Anda habiskan mengejar kesibukan pekerjaan, sosialisasi, dan lain-lain di luar rumah? Dan, berapa sisa prosentase waktu yang Anda habiskan di rumah bersama anak-anak Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini 'menggedor benak' saya tatkala mata saya tertumbuk tanpa sengaja pada bacaan quote yang saya temukan pagi ini.

Pencetusnya adalah John Crudele, kolumnis finansial New York Post yang laporan analisisnya dikenal humoris. Ia juga jurnalis New York Times, Reuters, radio dan televisi, selain menjadi pendidik. Mungkin itu sebabnya ia mengingatkan Anda dan juga saya. Sebagai orangtua, kita kerap berkilah,"Bukankah kita bekerja demi keluarga, demi kepentingan anak-anak? Yang penting toh, kualitas waktu, bukan kuantitasnya...."

Hmm, benarkah demikian? Apakah Si kecil paham "teori waktu" yang kita gunakan ; kualitas waktu lebih penting daripada kuantitas waktu? Apakah anak-anak remaja juga mau mengerti bahwa yang kita uber ; mencari nafkah mati-matian di luar sana hanya demi mencukupi seabrek fasilitas mereka?

Saya pikir sih, tidak! Mereka mengeja kata cinta yang kita berikan hanya dengan W-A-K-T-U ! Ada kekosongan yang tidak akan terisi, karena sebagai orang dewasa, Anda dan juga saya, tanpa sadar seringkali terikat kepada sekadar ambisi dan egoisme pribadi, karena merasa tahu... segala-galanya? Termasuk merasa mengetahui apa-apa yang sebenarnya anak-anak kita butuhkan (benarkah imbalan uang atau hadiah lebih bermakna bagi mereka ketimbang pelukan, pujian, dan kebersamaan)?

Duh, Crudele. Pijatan quote-mu Rabu pagi ini membuat saya mereka-reka cinta di hati saya kepada anak-anak dengan imbalan waktu yang saya punya, dan telah saya berikan kepada mereka selama ini...(Catatan pagi, 1242017).      

Selasa, 11 April 2017

Musuh Kreativitas

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"The worst enemy to creativity is self-doubt"(Sylvia Plath, penyair, novelis).

Refleksi:
Apa itu kreativitas? Daya cipta dari buah pikiran yang gemilang! Saya yakin begitu. Sayangnya, walau kita memiliki unsur yang hebat ini, tidak semua mampu dan mau memberdayakannya. Termasuk...saya.

Banyak hal  mendera dan bahkan menghalangi ; malas, kebimbangan, apa lagi?  Sylvia Plath, cerpenis, eseis, novelis, yang lebih dikenal sebagai penyair, jelas-jelas bilang,"Musuh terburuk kreativitas adalah meragukan diri sendiri." Yup, terbelenggu oleh rasa ragu, sama saja kita sudah mengambil selangkah... mundur.

Oh, tentu saja untuk menciptakan kreativitas yang brilian, kali pertama yang harus kita lakukan adalah memupuk kepercayaan diri dulu. Yakini gagasan kita baik adanya, go for it! Tidak mudah memang, karena boro-boro menindaklanjuti gagasan, menyampaikan buah pikiran saja terkadang lidah kita kelu, takut, minder.

Penulis novel semi auto-biografi "The Bell Jar", yang bercerita tentang perjuangan melawan depresi dan sudah difilmkan, Sylvia Plath (sayangnya ia meninggal di usia muda, 31 tahun!), melalui pijatan quote-nya pagi ini, telah mengingatkan saya. Paling tidak, berupaya sedapat mungkin terlebih dahulu untuk mengedepankan kepercayaan diri sebagai tameng kreativitas yang saya hasilkan.

Tanpa keraguan, dengan sebulat tekad kepercayaan diri penuh, tentu kreativitas kita siap melejit mengangkasa! (Catatan Selasa pagi,1142017).    

Senin, 10 April 2017

Melawan Lupa

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Pertumbuhan intelektual seharusnya dimulai pada saat lahir dan berhenti pada saat mati" (Albert Einstein, ilmuwan fisika).  

Refleksi:
Orang yang sudah tua, umumnya kerap dibilang "pikun" alias mudah lupa. Tetapi, realitanya, anak-anak muda pun seringkali dijangkiti 'penyakit lupa' ini. Apalagi yang berkaitan dengan penyelesaian tugas, dengan mudahnya mereka akan bilang,"Wah, lupa!" hehehe.

Apa pun pembenarannya, saya setuju yang ditegaskan Bapak ilmuwan terbesar di abad 20, Albert Einstein. Tidak ada batasan usia dalam hal kemampuan berpikir! Penemu teori relativitas, kelahiran 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman, menerima nobel dan banyak penghargaan dunia lainnya karena 'kegeniusannya'.

Padahal, jika ditelusuri dari kisah hidupnya, Einstein kecil malah pernah dianggap terbelakang karena disleksia dan autis (ia pemalu dan penyendiri). Lulus SMA pun ditolak menjadi asisten dosen, sehingga akhirnya sempat menjadi guru.

Begitulah, pada realitanya, saya percaya bahwa dengan rangsangan yang baik, otak kita dapat memertahankan kemampuan bekerjanya sepanjang usia. Ini hanya masalah kemampuan ekspansi dan perkembangan kok, seperti pijatan quote Einstein yang saya temukan pagi ini ; "Kemampuan intekletual  dimulai saat lahir dan baru stop tatkala mati".

So, jangan mau kalah sama usia, ya? Terus belajar, banyak membaca, dan bekerja. Tentu juga dibarengi semangat spiritualisme, harapan yang senantiasa bersinar di dalam diri, dan berpikir positif. Ssst, ini sih, saya sekadar menambahkan bumbu racikan melawan lupa! (Catatan Senin pagi, 1042017).          

Minggu, 09 April 2017

It is Magic !

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"It is important to remember that we all have magic inside us"(J.K.Rowling, novelis kelahiran Yate, Britain).

 Refleksi: 
Siapa yang tidak kenal penulis novel serial "Harry Potter"? Walaupun mungkin tidak semua ngeh, single mom yang punya tiga anak ini memiliki nama asli Jeanne Kathleen Rowling, dan sebelum terkenal sebagai penulis paling kaya di dunia, kehidupan pribadinya boleh dibilang 'babak belur'?

Namun, seperti yang ditandaskan Rowling  di antara satu quote-nya yang mampu memijat ubun-ubun saya, pagi ini, bahwa penting banget mengingat di dalam diri kita semua ada... magic! Yeah, kekuatan 'sihir', yang saya persepsikan saja sebagai 'keajaiban'. Tentu, asalkan kita mau percaya dan meyakininya, keajaiban sihir itu akan mampu bekerja dan...terjadi.

Coba lihat saja magic yang terjadi di dalam kehidupan Si pencetus-nya sendiri ; penulis yang menetap di Edinburg, Scotlandia ini sungguh-sungguh membuktikan bagaimana 'sihir' mampu mengubah kehidupannya 360 derajat.

Ehm, tentu bukan sekadar mengayunkan tongkat sihir lalu bilang keras-keras "Voila...Abracadabra!" Kemudian ongkang-ongkang kaki, cuma duduk menunggu keajaiban terjadi. Oh, no!

 "Tekad, kerja keras, integritas", saya pikir masih sangat diperlukan untuk mewujudkan 'sihir' di dalam diri kita. Tanpa itu semua? Jangan pernah berharap, deh....(Catatan Minggu Palma, 942017).     

Sabtu, 08 April 2017

Awal Baru

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Aku suka sekali bau manis udara fajar--peluang unik yang kita dapatkan setiap hari untuk 'mencium waktu', untuk mencium peluang---setiap pagi merupakan sebuah awal baru"(Emme Woodhull-Bache, penulis).  

Refleksi: 
Susah bangun pagi? Dulu, saya begitu. Kalau sudah ketemu bantal, susah bangunnya. Tetapi, dengan berjalannya waktu, satu perubahan yang lumayan konsisten saya lakukan adalah...bangun pagi. Kini, bangun dini hari, sebelum fajar menyingsing adalah merupakan keharusan.Saya jatuh cinta pada 'keajaiban' udara pagi!

Seperti yang dikatakan Emme Woodhull-Bache, penulis yang punya banyak quote dan satu di antaranya, saya kutip sebagai 'pijatan' pagi ini, adalah kesempatan unik setiap hari untuk 'mencium waktu' alias peluang. Saya setuju banget yang dikatakan Emme, "setiap pagi merupakan awal baru".

Jadi, buat apa menengok ke belakang. Merintih dan menyesali masa lalu? Ciptakan peluang baru Anda, mulai dari setiap pagi, hari ini. Diawali dari mana dulu?

Ayo, bangun pagi!(Catatan Sabtu pagi setelah gerimis berhenti, 842017).     

Jumat, 07 April 2017

Gangguan Seumur Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Aku suka menikah. Sangat menyenangkan menemukan seseorang yang istimewa, yang mau kau ganggu sepanjang sisa hidupmu" (Rita Rudner, aktris komedi, penulis). 

Refleksi:
Tidak salah Rita Rudner berkecimpung di dunia hiburan sebagai aktris komedian, perspektifnya tentang pernikahan membuat saya ketawa ngakak! Alih-alih membahas kesemerawutan atawa duka kehidupan pernikahan, Rita justru menyodorkan satu hal yang kudu harus dikedepankan : sukacita menikah. 

Yeah, kesenangan bagi pasangan yang menikah adalah "memiliki seseorang yang bisa kau ganggu sepanjang usiamu." Wah, keren sekali,'kan pijatan quote-nya? Halah, benar juga, ya, pasangan hidup kita itu istimewa, lho, karena dia bersedia dan mau kita 'ganggu' seumur hidup.

Bagaimana kalau nggak mau diganggu? Yo, wis, bubar, rek! Mungkin, ini satu resep cespleng awetnya suatu pernikahan! Hahaha.(Catatan Jumat pagi,742017).






Kamis, 06 April 2017

Tentang Cinta

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Janganlah mencintai dan mencari ketidaksempurnaan, tetapi cintailah ketidaksempurnaan dengan cara yang sempurna" (Anonim).

Refleksi: 
Mari kita bicara tentang cinta ! Pijatan quote kali ini romantis, yak. Sayangnya, saya tidak tahu siapa pencetusnya. Saya mendapatkannya begitu saja, pagi ini, di antara 'selipan tua' sebuah agenda saya.  Hmm, sebuah agenda? Ya, saya punya lumayan banyak agenda. Isinya macam-macam, dari coretan ide yang melintas, sampai urek-urekan catatan emak. Hahaha.

Seperti yang saya sodorkan sedari awal, mari kita bicara tentang cinta ! Orang yang jatuh cinta, biasanya kelilipan matanya (bahkan ketutupan matanya), segala sesuatu yang dilihat, hanyalah kesempurnaan semata. Nah, setelah yang merasa dicintai dan dikejar-kejar setengah mati didapat, barulah... ketidaksempurnaan terbentang di mana-mana.

Adaaaa saja yang dicari-cari, dan biasanya memang berkaitan dengan ketidaksempurnaan Si pasangan. Quote anonim ini bertutur dengan bijak, menasihati kita agar justru "mencintai ketidaksempurnaan itu dengan cara yang sempurna".

Piye, toh, bagaimana caranya? Ah, seturut pemikiran saya yang dangkal tentang cinta ini, apa lagi jika bukan mencintai ketidaksempurnaan itu dengan menerima apa adanya, segala suka dan duka ditanggung bersama se-ia sekata, abaikan segala rasa yang menyiksa. No complaining, rela berkorban, bersyukur...

Tuh, bisa nggak?  *garuk-garuk kepala (Catatan Kamis,07.55 AM, 642017).  


Rabu, 05 April 2017

Hidup itu...?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Hidup itu seperti naik sebuah taksi. Entah kamu sedang berjalan ke suatu tempat atau tidak, argonya tetap berjalan"(John C. Maxwell, penulis dan pembicara).

Refleksi:
Saya tidak ingin memerdebatkan keberadaan taksi on line atau tarifnya yang sedang ramai digunjingkan, tetapi pijatan quotes milik pak pendeta yang buku-bukunya laris manis ini bikin saya merenung. Benar seperti yang dikatakannya, secara sadar maupun tidak, kita semua sedang menaiki kendaraan.

Suka-suka saja, Anda boleh pilih naik apa saja. Sepeda, motor, kereta api, atau ... pesawat terbang? Yang jelas, Maxwell yang memilih naik taksi, tidak lupa mengingatkan kita ada harga yang harus kita bayar. "Argonya tetap berjalan", katanya,"entah Anda sedang berjalan ke suatu tempat atau tidak."

Yeah,boleh jadi sebagai manusia terkadang kita merasa tidak punya tujuan yang ingin dituju. Tetapi, ketimbang deg-degan melirik argo yang terus berjalan, bukankah sebaiknya kita memiliki tujuan saja? Jadi..., ya, jalani saja-lah sepenuh hati jiwa dan raga!(Catatan Rabu pagi, 542017).

Selasa, 04 April 2017

Menangkap Peluang

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Ketika sebuah pintu tertutup, pintu lain terbuka. Namun kita terlalu sering melihat ke arah pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita"(Alexander Graham Bell, ilmuwan, penemu).

Refleksi:
Scientist yang lebih dikenal sebagai penemu alat telekomunikasi, telepon, Alexander Graham Bell, sangat dimungkinkan  mengaplikasikan pengalamannya dalam quote ini. Berapa banyak kegagalan yang pernah dilakoninya saat mencipta suatu gagasan yang akhirnya menjadi benda yang memiliki berjuta manfaat bagi dunia?

Ya, dalam interpretasi saya, "pintu" yang dimaksudkan Graham adalah "peluang" alias kesempatan. Sebuah kegagalan dapat berubah wujud menjadi kesuksesan, bila kita jeli menangkap peluang tersebut. Tak apa berulangkali 'terjatuh', toh, kita pasti mampu bangkit kembali.

Asalkan percaya, seperti yang dikatakan penemu kelahiran Edinburg, Britain ,"Jika pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka". Yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah mindset kita, dengan sepenuh hati melihat adanya harapan menangkap peluang lain. Jangan terpaku kepada kegagalan, tetapi bersemangatlah merebut kesempatan berbeda yang pasti akan lewat di depan mata kita.

Begitu,'kan? (Catatan Selasa pagi, 4042017).           

Senin, 03 April 2017

Don't be Sad

(Oleh Effi S Hidayat)

"Jangan nasihati aku untuk tidak bersedih. Atau jika kamu ingin bilang hal yang sama, seperti mereka yang lain katakan kepadaku,'Sudahlah, ikhlaskan saja kepergiannya. Dia sudah tenang di surga sana. Kamu harus kuat...', lebih baik kamu tidak usah datang!" Saya terkejut. Ah, dia bukan seperti orang yang kukenal.

Sahabatku, kutulis saja initialnya "T", suaranya terdengar sinis, kecut, dan judes sekali. Lama saya terpekur, setelah menutup gagang telepon. Sejak bersahabat dekat dengannya, saya merasa sudah memahami karakternya luar dan dalam.

Tetapi, kali ini, saya merasa gamang. Dia bukan  seorang "T" yang lama kukenal. Speechless, tidak ada yang bisa kuutarakan, dan dia juga terlebih lagi, mungkin. Sehingga buntut-buntutnya kemudian jawabanku lebay seperti ini,"Oh, nggak, kok. Siapa bilang aku seperti mereka? Aku lain! Aku cuma... cuma ingin memeluk kamu!"

Yang jelas, kepergian suaminya untuk selamanya sangat mengejutkan. Baru beberapa minggu lalu, saat dia pulang cuti ke Yogya untuk menjenguk suami tercintanya yang sakit, tapi kemudian kabarnya via telepon," Tidak ada yang perlu dicemaskan. Suamiku sudah membaik kondisinya. Dokter bilang juga tidak apa-apa...."

Lalu, tiba-tiba datang berita duka itu. Suaminya berpulang untuk selamanya ke haribaan-Nya. Dan, karena saya berhalangan terbang ke Yogya, hanya berusaha mengontaknya melalui telepon. Tetapi, dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Telepon genggamnya, berbagai sarana media sosial seperti facebook, semuanya off line. 

Dan, kini setelah akhirnya bisa juga berbicara dengannya melalui ponselnya, setelah ia kembali ke Jakarta, mengapa seperti ini kejadiannya? Ah, sudahlah. Tetap datangi saja. Ayo, dia pasti membutuhkan kehadiranmu, kata hatiku berbisik lirih.

Ya, walaupun sama sekali belum ada kepastian, apakah dia sudah kembali bekerja atau tidak, saya nekat saja mendatangi kantornya. Dengan mengajak seorang teman, sore hari itu akhirnya kami bisa bertemu.

Entahlah, saya tidak bisa bersikap seramai biasanya. Hanya mampu berbasa-basi cerita yang tidak perlu. Untunglah saya mengajak Lin , yang pada dasarnya 'tukang ngoceh'. Wira-wiri dia bertutur tentang kesehariannya setelah lama tidak bertemu ; soal anak dan suaminya, juga bisnis barunya.

Dan, saya hanya bisa ikut tekun mendengarkan sembari tentu saja merengkuh pundak T. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan, sampai akhirnya T sendiri yang 'buka suara', bla,bla,bla... dan ...."Aku marah sama Tuhan!" bisiknya pelan, tapi kedengaran seperti genderang yang dipukul tiba-tiba, memekakkan telingaku yang seketika berdiri. Mungkin mirip telinga milik anjing peliharaanku, Snowy.

"M-e-n-g-a-p-a?" pertanyaan yang kueja di benakku itu kutahan saja sebisa mungkin, tak kulontarkan kepadanya. Namun, untunglah dijawabnya sendiri dengan tegas," Rasa-rasanya selama ini aku sudah hidup lurus-lurus saja. Ketika berbicara aku menjaga semua perkataan agar tidak menyinggung perasaan orang, dan berprilaku sesuai dengan perintah-Nya. Aku berusaha menjadi orang baik...," dia menghela napas panjang.

Lalu dia melanjutkan dengan suara lirih,"Tetapi, mengapa Tuhan malah mengambil Mas-ku tercinta di saat kami sedang nyaman-nyamannya, berusaha menggapai mimpi kami berdua?" Pandangannya lurus jatuh ke tanah. Saat ini, kami memang sedang duduk ngedeprok di dekat lapangan parkir. Bokong-bokong mobil di parkiran berderet di depan hidung kami. Hanya satu-dua orang yang kelihatan lalu lalang.

Saya terpekur lama, tanpa janjian saling bertukar pandang dengan Lin. Dan, temanku Lin itu, rupanya tidak tahan untuk tidak menutup mulutnya seperti yang kulakukan. Dia berkomentar panjang lebar," Begini, T. Maafkan ya, aku bukan ingin mengguruimu. Tetapi, jujur, aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Marah kepada Tuhan!"

"Ya, bahkan mukenah kulempar begitu saja! (Lin muslim, sahabatku T juga berkeyakinan yang sama, red.). Suamiku pun melarangku untuk beribadah. Buat apa menyembah-nyembah kepada Dia yang sama sekali tidak peduli kepada kita? Semuanya sia-sia tidak ada gunanya...."

Dan, Lin mengungkapkan, betapa penderitaan sebagai keluarga muda yang harus mereka tanggung. Membayar uang sekolah anak semata wayang saja sudah tak mampu. Himpitan ekonomi membuat mereka menggugat-Nya. Namun toh, akhirnya keluarga mereka kembali sadar berlari kepelukan-Nya. Dan, ajaib! Rezeki mereka mengalir lancar melimpah....

Saya serius mendengarkan sembari menoleh kepada T, berusaha mencari-cari sesuatu di matanya. Tetapi, kosong..., binar-binar yang biasa kudapati pada perempuan yang kadang freak, tapi sungguh, bagiku, dia seorang sahabat yang asyik menyenangkan, sama sekali tiada.

Tiba-tiba aku teringat kata-katanya, "Please, jangan nasihati aku seperti orang-orang lain lakukan. Agar aku ikhlas, agar aku kuat, agar aku menerima dan melapangkan jalan Mas-ku. Karena jujur saja, saat ini aku tidak kuat, aku tidak ikhlas, aku marah! Aku... mengapa harus Si Mas yang diberikan doa? Seharusnya aku ini lho, yang kalian doakan. Mas-ku telah lelap, diam membeku di alam sana! Aku ini, tinggal aku, seorang janda yang masih hidup, dan membutuhkan doa kalian agar aku mampu bertahan...."

Sudah jelas, bukan segudang nasihat yang diharapkan T sekarang. Lihat saja, sepertinya dia mendengarkan, tetapi pandangan matanya menerawang entah ke mana.... Jadi, ya, percuma saja! Lin sendiri, entah capek, entah menyadari, akhirnya pun terdiam.

Kumpulan awan hitam yang bergerumbul di langit, menyadarkan kami bahwa senja sudah lama turun. Sebentar lagi gelap menjelang. Saya dan Lin pun berpamitan, melambai pada T yang berdiri mematung mengantar kami di depan kantornya.

Melihat sosoknya yang terlihat ringkih tidak berdaya, matanya yang indah bercahaya kini kuyup letih dan lesu, tiba-tiba saya ingin merengkuhnya kembali. Betapapun, saya yakin, dia itu tipikal perempuan kuat dan mandiri. Namun, oh, siapa yang tahu rapuhnya sebuah hati?

Dalam perjalanan pulang, hujan turun sangat deras. Puji Tuhan, saya tiba di rumah tatkala hari belum terlalu malam. Entah mengapa, perasaan tak berdaya masih begitu kuat menyelimuti. Ah, siapalah saya ini? Rasa-rasanya tak berbeda dengan orang-orang lain yang T sebutkan.

Kami semua hanya bisa berkata-kata, cuap-cuap sekadar menghibur, "Ayolah, jangan sedih. Ikhlaskan saja, kamu harus kuat. Doakan agar suamimu mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya...." Ya, ya, seperti yang T katakan, suaminya sudah tidur untuk selamanya. Kini hanya tinggal dia seorang diri dan butuh dihibur, didoakan....

Memeroleh kesadaran itu, seperti biasa saya membuka halaman Alkitab sebelum tidur. Dan, percaya atau tidak, mataku terpaku pada bacaan firman pada hari Rabu, 7 September,  tepat hari itu. Begini bunyinya, "Berbahagialah, hai, kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa" (Lukas 6: 21).

Duh, siapa bilang tidak ada yang bisa saya lakukan untuknya? Walau berbeda keyakinan, saya akan mendoakan T agar dia kuat dan semakin kuat menjalani hari-harinya. Saya percaya, tangisnya akan luntur, berganti menjadi tawa. Tiba-tiba hati saya terasa tenang. Dan, saya berharap T pun demikian. Sungguh! (Just for TS, 30916)* (Komunika 05/XVI, September-Oktober 2016).       

Mana yang Lebih Mudah?

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"To a disciple who was forever complaining about others the Master said,'If it is peace you want, seek to change yourself, not other people. It is easier to protect your feet with slippers than to carpet the whole of the earth'." (Anthony de Mello,SJ, rohaniwan dan penulis).

Refleksi:
Saya mengoleksi buku-buku yang ditulis oleh direktur Institut Konseling Pastoral Sadhana di Poona, India ini. Saya kerap 'terkejut-kejut' dengan buah pemikirannya yang bernas dan humoris. Seperti pilihan  Pijatan Quotes pagi ini, pastor Anthony justru dengan lugu bertanya,"Mana yang lebih mudah, melindungi kaki kita sendiri dengan sandal, atau menyelimuti seluruh muka bumi ini dengan permadani?"

Lugasnya, daripada mengomel terus tentang  orang lain dan menginginkan perdamaian, bukankah akan lebih mudah jika berupaya mengubah diri kita saja sendiri terlebih dahulu! Anda setuju? Saya, sih,...setuju! "Berdamailah dengan diri sendiri", baru kita bisa berdamai dengan orang lain. (Catatan Senin pagi, 3042017).   

Minggu, 02 April 2017

Teori Memberi

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Apa pun yang Anda rasa ditahankan orang lain dari Anda-- pujian, penghargaan, bantuan, kasih sayang, dan seterusnya--berikanlah itu pada mereka"(Echart Tolle, penulis kelahiran Jerman).  

Refleksi:
Ini teori "hukum kebalikan" yang menarik! Kerapkali sebagai manusia, kita berpikir secara negatif bahkan sampai-sampai dalam hal "merasa" pun demikian juga. Berbagai hal yang sudah ada pada diri, kita abaikan dan malah fokus kepada hal-hal yang kita anggap 'ditahan-tahankan' orang lain dari kita.

Penulis buku laris "The Power of Now", Echart Tolle, mengajuk  saya untuk memutarbalikkan ilusi ketidaksadaran itu menjadi realita kesadaran yang sebaiknya-lah saya lakukan. Alih-alih menyesali diri dan mengumpat orang lain serta seluruh dunia, bukankah lebih baik jika saya malah memberikan saja apa-apa yang saya punya dan bisa saya berikan kepada orang lain?

Termasuk, memberikan kepada mereka yang justru enggan memberi kepada kita, apa pun itu...? Ah, ini sungguh teori kesadaran diri yang luar biasa dan patut saya praktikkan. Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk mencobanya juga-kah? *rayuan di hari Minggu (Catatan pagi 2042017).          

Sabtu, 01 April 2017

Mari Berbagi

(Oleh Effi S Hidayat)

Seorang teman saya mengomel. Katanya,"Paling sebal ketemu Si A, wajahnya di-setel 'kencang' melulu. Ndak mau senyum. Jadi, malas menegur, deh! Mentang-mentang kaya, kali, ya?"

Kebetulan saya, yang baru juga diprotes seorang teman, karena prihal yang nyaris mirip, berupaya memberi masukan positif. "Ah, siapa tahu dia tidak sedang melihat kamu. Jadi, tidak sempat 'say hello' ?"

Ya, ya, bisa jadi begitu, bukan? Karena seperti itu pula jawaban yang saya berikan kepada teman yang bilang saya "sombong" akibat saat bertemu di jalan, tidak menyapanya.

"Maaf , terus terang saja kalau sedang jalan, pandangan saya suka lurus  ke depan. Lempaaaang saja, jadinya suka ketelisut tidak lihat-lihat orang. Apalagi terkadang kelupaan kacamata. Jadilah, sudut pandang saya makin terbatas, dan parahnya ditambah lagi dengan kebiasaan saya yang sering day dreaming. Jadi, bukan maksud hati saya untuk 'bersombong-ria'...," Saya pun meminta maaf sembari terpaksa menjelaskan panjang dan lebar. Karena demikianlah yang terjadi, apa adanya. Tak lebih dan tak kurang.

"Tetapi, kalau semua faktor yang kamu sebutkan itu tidak cocok? Wong, jelas-jelas Si A jalan berpapasan sama aku, kok. Di depan batang hidung persis, begini ini, nih!" temanku terlihat penasaran, masih bernada suara jengkel. Lalu dengan pasti, berusaha menyingkirkan semua premis mayor yang kusebutkan. Tidak lupa dia mencontohkan 'gaya amprokannya' bersama Si A.

"Dan, bukannya sekali-dua kali, lho. Hampir setiapkali begitu, teman lain juga mengeluhkan hal yang sama!" tuturnya lagi menambahkan, kali ini sembari menghela napas panjang.

Mau tak mau saya jadi terdiam. Kepinginnya sih, memang berpikir positif senantiasa. Tetapi, jika kenyataan berkata lain? Mungkin saja ada tipikal orang tertentu yang emoh kenal orang. Siapa loe, siapa gue, begitu kira-kira. Maka bisa jadi, praduga "mentang-mentang kaya" itu mengintili.

Ya, saya pun pernah mengalami hal yang sama. Suatu waktu, malah pernah dibiarkan 'terlantar' di depan pintu, saat hujan turun mulai rintik, tak dipersilakan masuk menunggu ke dalam. Demi mengurus sesuatu hal, berkaitan menunggu surat yang dibutuhkan. Apa boleh buat, prilaku seperti itu, akhirnya memintal tanya tanya besar.

"Kok, tega, ya?"
"Apa memang ia sesombong itu?" antara lain pertanyaan seperti ini sambung menyambung beruntun. Buntut-buntutnya kita pun menjadi agak segan bergaul dengannya. Nah!

Omong-omong tentang karakter manusia memang berjibun ragam. Belum lagi berbicara tentang kemurahan hati. Karena sikap memberi, saling berbagi, sebagai satu ciri terbesar dari kerahiman Allah, tak terlepas dari hal yang satu ini.

Saya abaikan saja, ya, pemberian yang berkaitan dengan materi. Itu ada porsinya tersendiri. Saya lebih sreg berbicara tentang pemberian non-materi, yang cakupannya sebenarnya jauh lebih meluas. Namun meliputi banyak hal-hal kecil, misalnya: seulas senyuman saat berpapasan di jalan, pelukan, atau sekadar tepukan hangat di bahu yang membesarkan hati seseorang.

Tentu, ini berkaitan langsung dengan ilustrasi cerita saya di awal tulisan. Mungkin itu sebabnya, saya respek sekali dengan seorang teman yang menurut saya punya kebiasaan manis. Saya tak segan memujinya demikian. Karena, dia selalu tak segan menyapa orang duluan. Bahkan, rela menyempatkan diri untuk sekadar membuka kaca jendela mobilnya, lalu menongolkan kepala sebentar, 'hanya' untuk sekadar tersenyum sembari menyapa ramah.

Duh, saya 'angkat topi' untuk kebiasaan baik ini. Dan, bukan kategori teman saya yang satu itu saja. Saya punya langganan, seorang bapak penjual roti keliling, yang setiapkali mengucapkan "selamat pagi" kepada saya, tanpa keharusan saya sedang membeli roti jualannya atau tidak!

Begitupula, senyum sumringah tukang siomay, atau penjual buah yang dengan riangnya malah mengingat betul dengan cermat nama anjing peliharaan saya. "Selamat pagi, Bu. Mana Snowy, kok, tidak ikut ke pasar hari ini?" Tidak hanya sapaan, kali lain ia malah mengingatkan ingin bertemu dengan Snowy karena...kangen! Dan, tawanya yang lebar sungguh membuat hati saya adem, membuat saya ikut-ikutan tertawa, tak hanya melempar senyum.

Apa yang saya rasakan? Saya merasakan amat 'bersahabat' dengannya! Orang yang memiliki kepedulian terhadap hewan peliharaan saya, tak terkecuali, adalah manusia yang memiliki 'rasa' -- begitulah seturut pemikiran saya yang sederhana ini.

Bukan hanya basa-basi, cuma di mulut belaka. Ia mengenal saya, dan juga 'ingin mengenal' anjing saya, Snowy, karena ia memiliki kepedulian menyapa. Begitulah. Jalinan pertemanan atau bahasa halusnya "silaturami" bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Hanya dengan berbagi 'sentuhan'sentuhan' kasih yang sederhana seperti itu.

Ya, ya, apa susahnya unggah-ungguh demikian (orang Jawa, bilang? red.). Sedihnya, kelihatannya anak-anak muda sekarang mulai kehilangan 'rasa' ini. Entah kealpaan orangtua di rumah yang tidak sempat mendidik mereka etiket, entah memang zaman digital teknologi yang tak butuh 'netiket' di era gadget?

Malah mereka akan bilang, "Ihh...lebay!" basa-basi berlebihan jika harus menghormati orang yang lebih tua, misalnya hanya menyapa dengan sebutan "Pak" atau "Bu", "permisi" (numpang lewat, etc), "terima kasih","tolong", dan "maaf" ?

Apa demikian sulitkah sekadar mengulas senyum (mau tipis, samar, kek, yang penting senyum!), say hello, bilang "terima kasih", "tolong" (bukan asal perintah dengan nada otoriter bak juragan terhadap badinde-nya)? Terlebih pula dalam urusan meminta maaf, aduh, pemberian kata maaf itu pun besar dan dalam maknanya, bukan? Menandakan Si empunya memiliki keluasan hati melebihi lapangan bola!

Demikianlah, kerahiman Allah yang sejati. Saya coba renungkan dalam-dalam, sungguh ibarat bayi suci yang baru keluar dari rahim bunda-Nya, sepatutnya memiliki 'rasa' ; suatu pemberian penghargaan berlebih kepada sesamanya. Termasuk kepada ciptaan lain : hewan, tanaman, dan semesta. (Komunika 04/XVI, Juli-Agustus 2016). 

       

Keep Your Circle Positive

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Speak good words
Think good thoughts
Do good deeds"(Wisdom from Chinese Literary & Buddhist Classics).

Refleksi:
Begitu banyak referensi, quotes, apa pun, yang acuannya berkisar pada ketiga 'butiran mutiara' ini : cara berpikir, cara berucap, dan cara berprilaku. Kesemuanya mengarah di dalam satu kata saja "baik".
Ya, "baik!"

Baiklah, mengupas kata "baik", bisa beragam-ragam maknanya, tergantung sudut pandang manusia itu sendiri. Baik menurut saya, belum tentu baik menurutmu, bukan? Jadi, jika pagi ini saya  memilih pijatan quotes bijak dari Chinese Literary & Buddhist Classics, bukannya tiada sebab. Saya kepingin menyatukan hati kita semua untuk menyamaratakan sudut pandang kebaikan yang dimaksud.

Apa lagi jika bukan perbuatan baik yang dapat kita lakukan bagi kepentingan sekitar (bahkan... dunia!) untuk sesuatu hal yang positif? Aura positif yang keluar dari hati yang tulus saat berpikir, berbicara, dan akhirnya mengarah kepada tindakan yang positif itu, semoga saja mampu menjadi 'virus kebaikan', yang menyebar pula bagi sesama kita.

Selamat memasuki 1 April. Menularkan virus kebaikan itu bukan sekadar April Mop, lho!(Catatan Sabtu pagi,0142017).      

Jumat, 31 Maret 2017

Yang Tak Boleh Ditunda

(Oleh Effi S Hidayat)

Yuk, bayangkan ini: seorang anak balita bertelanjang dada mengejar kedua orangtuanya berkeliling-keliling mengitari ruangan sembari membawa ...palu di tangannya. Dan, anak balita yang 'kriminal' dibutakan oleh api cemburu, karena sang ayah memeluk-meluk ibunya--"miliknya" seorang,semata wayang itu, hingga ia marah besar dan mengambil palu adalah... saya!

Oh, jujur saja. Cerita kenangan masa kecil yang sudah puluhan tahun lewat itu masih 'segar' dalam ingatan saya. Bukannya apa-apa, mungkin karena ini adalah peninggalan, satu dari dosa masa lalu di mana saya diingatkan sebagai anak yang pernah 'tidak berbakti' kepada orangtua.

Dari dulu hingga sekarang, jika ada yang mengenangkan saya kembali akan kisah ini, respon saya yang utama adalah meringis miris. Duh! Namun, benarkah sedemikian dangkalnya makna harfiah kata "bakti" itu?

Yang jelas, ilustrasi cerita tersebut hanya sekadar intermezo. Satu dari episode ketidakpatuhan saya, kenakalan kanak-kanak yang mboten-mboten tak terlupakan. Bahwa, bagaimanapun seorang anak, seyogyanya harus selalu diingatkan untuk berbakti kepada orangtuanya.

Jika dikulik  berdasarkan etimologi alias pengertian asal usul katanya, kata bakti mengacu kepada ungkapan rasa hormat, tunduk,dan setia, bukan hanya tertuju kepada tanah air, negara dan orangtua saja, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, sejatinya sungguh dalam unsur-unsur yang terkandung dalam kata bakti itu.

Dan, berkaitan dengan kedalamannya itu pula, saya senantiasa menyimpan butiran kata mutiara yang mengelus-elus hati saya. Bunyinya begini,"Ada yang tak bisa ditunda di dunia ini : berbakti kepada orangtua dan berbuat kebajikan."

Ya, sejak membacanya, saya tak bisa lupa. Menguncinya rapat dan rapi dalam brankas benak saya. Namun kali ini, izinkanlah saya menambalkan satu kata lagi, yang saya kemas dengan tulus, yaitu padanan kata "syukur".

Secara pribadi, saya suka sekali pada kata yang satu ini, entah mengapa begitu. Pokoknya saya suka! Syukur, menyatakan kelegaan hati dan rasa terima kasih kepada Allah : kemampuan syukur kepada-Nya akan karunia yang telah diberikan.

Jadi, notabene, saya memiliki tiga butir mutiara yang tak hanya kedengaran hebat secara konsonan katanya, tetapi juga memiliki makna harfiah yang, hmm, boleh-lah dibilang dahsyat. "Ada yang tak bisa ditunda di dunia ini : berbakti kepada orangtua, berbuat kebajikan, dan rasa syukur."

Terlebih setelah saya membaca surat berisi pesan dari Paus Fransiskus yang mencanangkan Tahun Hidup Bakti (30 November 2014-2 Februari 2016). "Anda memiliki tidak hanya sejarah yang mulia untuk dikenang dan diceritakan kembali, tetapi juga sejarah agung yang masih harus diselesaikan. Pandanglah masa depan di mana Roh Kudus sedang mengutus untuk melahirkan hal-hal yang lebih besar," tulis Paus yang mengena betul di hati saya.

Melihat masa lalu penuh rasa syukur dan menyambut masa depan - menerjemahkan Injil dan mengikuti Kristus lebih dekat sebagai pelaku hidup bakti. Di mana senantiasa ada keyakinan, Tuhan menguatkan iman kita untuk bersyukur kepada Bapa yang memanggil mengikuti-Nya, adalah butir-butir lain yang saya petik pada kutipan Paus Fransiskus selanjutnya.

Bahwa, kesempatan untuk memberi kesaksian yang kuat dan penuh sukacita di hadapan dunia, sesungguhnya merupakan kesempatan pula untuk mengaku dengan rendah hati jika "Allah adalah kasih".

Ya, kita semua diberdayakan untuk mengasihi. Lebih tepatnya lagi, diberi kemudahan karena kita memiliki hati-Nya. Jadi, seturut pemikiran saya, apa dan bagaimana kita mampu 'terbuka' ditantang oleh Injil, "benarkah Injil telah menjadi panduan hidup sehari-hari" ?

Atau, "sudahkah Injil dihayati dengan sungguh-sungguh secara radikal?", merupakan ujian bagi kita semua untuk memerangi segala kelemahan diri sebagai manusia.

Tidak usahlah jauh-jauh, contohnya saya sendiri. Ada kalanya diliputi virus kemalasan, tidak disiplin, ketidakkonsistenan, dibelit perasaan ragu-ragu, sedih, cemas, marah, takut... apalagi? Segitu banyaknya kemanusiawian , keduniawian, kedagingan kita yang justru kerap menjadi bumerang, alias 'batu sandungan' untuk setia mengikuti panggilan-Nya.  

Hal yang paling kecil saja, misalnya di dalam pergaulan sehari-hari, entah di dalam keluarga maupun sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Apakah dengan rendah hati kita bersedia lebih sadar diri menyediakan kedua telinga kita -- memaksimalkan kemampuannya "mendengarkan", ketimbang lebih berperan aktif mengambil alih sebagai komunikator ulung yang menggebu-gebu membicarakan seluk beluk tentang betapa hebatnya diri sendiri?

Atau ujug-ujug pada akhirnya... berujung jatuh ke dalam 'sumur gosip' yang kita gali ramai-ramai -- berisikan penghakimanan berdasarkan sudut pandang sendiri kepada orang lain?

Hidup bakti secara profesional mungkin dengan mudah disimak dari 'jubah' yang dikenakan seorang dokter, pengacara, hakim, wartawan, seniman, atau pastor dan rohaniwan.  Apapun itu, 'kemurniannya' saya pikir, sama saja sebetulnya dengan orang awam biasa. Tak ada yang membatasi, selain kemampuan diri sendiri untuk berserah menerima kerasulan Sang Ilahi.


Jadi, kalau dikenang-kenang lagi sekarang, kedegilan saya di masa kecil dengan membawa-bawa palu mengejar orangtua saya, bukanlah karena ketidakbaktian saya kepada mereka. Tetapi justru akibat cinta membara saya, khususnya terhadap Ibu sebagai cinta pertama saya sebagai balita.

Ya, benar sekali. Cinta kasih itu juga tak dapat ditunda! Dan, kudu harus disebarluaskan ! Anda setuju? (Komunika 06/XV, November-Desember 2015).