Halaman

Jumat, 31 Maret 2017

Yang Tak Boleh Ditunda

(Oleh Effi S Hidayat)

Yuk, bayangkan ini: seorang anak balita bertelanjang dada mengejar kedua orangtuanya berkeliling-keliling mengitari ruangan sembari membawa ...palu di tangannya. Dan, anak balita yang 'kriminal' dibutakan oleh api cemburu, karena sang ayah memeluk-meluk ibunya--"miliknya" seorang,semata wayang itu, hingga ia marah besar dan mengambil palu adalah... saya!

Oh, jujur saja. Cerita kenangan masa kecil yang sudah puluhan tahun lewat itu masih 'segar' dalam ingatan saya. Bukannya apa-apa, mungkin karena ini adalah peninggalan, satu dari dosa masa lalu di mana saya diingatkan sebagai anak yang pernah 'tidak berbakti' kepada orangtua.

Dari dulu hingga sekarang, jika ada yang mengenangkan saya kembali akan kisah ini, respon saya yang utama adalah meringis miris. Duh! Namun, benarkah sedemikian dangkalnya makna harfiah kata "bakti" itu?

Yang jelas, ilustrasi cerita tersebut hanya sekadar intermezo. Satu dari episode ketidakpatuhan saya, kenakalan kanak-kanak yang mboten-mboten tak terlupakan. Bahwa, bagaimanapun seorang anak, seyogyanya harus selalu diingatkan untuk berbakti kepada orangtuanya.

Jika dikulik  berdasarkan etimologi alias pengertian asal usul katanya, kata bakti mengacu kepada ungkapan rasa hormat, tunduk,dan setia, bukan hanya tertuju kepada tanah air, negara dan orangtua saja, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, sejatinya sungguh dalam unsur-unsur yang terkandung dalam kata bakti itu.

Dan, berkaitan dengan kedalamannya itu pula, saya senantiasa menyimpan butiran kata mutiara yang mengelus-elus hati saya. Bunyinya begini,"Ada yang tak bisa ditunda di dunia ini : berbakti kepada orangtua dan berbuat kebajikan."

Ya, sejak membacanya, saya tak bisa lupa. Menguncinya rapat dan rapi dalam brankas benak saya. Namun kali ini, izinkanlah saya menambalkan satu kata lagi, yang saya kemas dengan tulus, yaitu padanan kata "syukur".

Secara pribadi, saya suka sekali pada kata yang satu ini, entah mengapa begitu. Pokoknya saya suka! Syukur, menyatakan kelegaan hati dan rasa terima kasih kepada Allah : kemampuan syukur kepada-Nya akan karunia yang telah diberikan.

Jadi, notabene, saya memiliki tiga butir mutiara yang tak hanya kedengaran hebat secara konsonan katanya, tetapi juga memiliki makna harfiah yang, hmm, boleh-lah dibilang dahsyat. "Ada yang tak bisa ditunda di dunia ini : berbakti kepada orangtua, berbuat kebajikan, dan rasa syukur."

Terlebih setelah saya membaca surat berisi pesan dari Paus Fransiskus yang mencanangkan Tahun Hidup Bakti (30 November 2014-2 Februari 2016). "Anda memiliki tidak hanya sejarah yang mulia untuk dikenang dan diceritakan kembali, tetapi juga sejarah agung yang masih harus diselesaikan. Pandanglah masa depan di mana Roh Kudus sedang mengutus untuk melahirkan hal-hal yang lebih besar," tulis Paus yang mengena betul di hati saya.

Melihat masa lalu penuh rasa syukur dan menyambut masa depan - menerjemahkan Injil dan mengikuti Kristus lebih dekat sebagai pelaku hidup bakti. Di mana senantiasa ada keyakinan, Tuhan menguatkan iman kita untuk bersyukur kepada Bapa yang memanggil mengikuti-Nya, adalah butir-butir lain yang saya petik pada kutipan Paus Fransiskus selanjutnya.

Bahwa, kesempatan untuk memberi kesaksian yang kuat dan penuh sukacita di hadapan dunia, sesungguhnya merupakan kesempatan pula untuk mengaku dengan rendah hati jika "Allah adalah kasih".

Ya, kita semua diberdayakan untuk mengasihi. Lebih tepatnya lagi, diberi kemudahan karena kita memiliki hati-Nya. Jadi, seturut pemikiran saya, apa dan bagaimana kita mampu 'terbuka' ditantang oleh Injil, "benarkah Injil telah menjadi panduan hidup sehari-hari" ?

Atau, "sudahkah Injil dihayati dengan sungguh-sungguh secara radikal?", merupakan ujian bagi kita semua untuk memerangi segala kelemahan diri sebagai manusia.

Tidak usahlah jauh-jauh, contohnya saya sendiri. Ada kalanya diliputi virus kemalasan, tidak disiplin, ketidakkonsistenan, dibelit perasaan ragu-ragu, sedih, cemas, marah, takut... apalagi? Segitu banyaknya kemanusiawian , keduniawian, kedagingan kita yang justru kerap menjadi bumerang, alias 'batu sandungan' untuk setia mengikuti panggilan-Nya.  

Hal yang paling kecil saja, misalnya di dalam pergaulan sehari-hari, entah di dalam keluarga maupun sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Apakah dengan rendah hati kita bersedia lebih sadar diri menyediakan kedua telinga kita -- memaksimalkan kemampuannya "mendengarkan", ketimbang lebih berperan aktif mengambil alih sebagai komunikator ulung yang menggebu-gebu membicarakan seluk beluk tentang betapa hebatnya diri sendiri?

Atau ujug-ujug pada akhirnya... berujung jatuh ke dalam 'sumur gosip' yang kita gali ramai-ramai -- berisikan penghakimanan berdasarkan sudut pandang sendiri kepada orang lain?

Hidup bakti secara profesional mungkin dengan mudah disimak dari 'jubah' yang dikenakan seorang dokter, pengacara, hakim, wartawan, seniman, atau pastor dan rohaniwan.  Apapun itu, 'kemurniannya' saya pikir, sama saja sebetulnya dengan orang awam biasa. Tak ada yang membatasi, selain kemampuan diri sendiri untuk berserah menerima kerasulan Sang Ilahi.


Jadi, kalau dikenang-kenang lagi sekarang, kedegilan saya di masa kecil dengan membawa-bawa palu mengejar orangtua saya, bukanlah karena ketidakbaktian saya kepada mereka. Tetapi justru akibat cinta membara saya, khususnya terhadap Ibu sebagai cinta pertama saya sebagai balita.

Ya, benar sekali. Cinta kasih itu juga tak dapat ditunda! Dan, kudu harus disebarluaskan ! Anda setuju? (Komunika 06/XV, November-Desember 2015).  

Jangan Menunda

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Jangan menunda pekerjaan. Ingatlah bahwa 'awal yang baik pun barulah separuh hasil' "(Daniel Grippo, penulis dan editor).

Refleksi:
Pilihan quote saya pagi ini jatuh pada milik Daniel Grippo. Melalui buku yang ditulisnya "Work Therapy", pendidik yang tinggal di Prairie Village, Kansas, tampaknya cuma mau bilang "kerjakan saja!" Ya, begitu yang saya tangkap.

Ah, saya jadi malu hati membacanya. Bagi saya pribadi, yang bekerja terkadang amat dipengaruhi mood, pijatan quotes empunya Grippo ini benar-benar mengingatkan saya, agar senantiasa bekerja hingga tuntas. Menunda-nunda pekerjaan sama saja menunda awal yang baik, yang kita kerjakan.

Bagaimana ingin cepat-cepat menerima hasilnya, jika awal pekerjaan yang baru kita mulai itu ditunda? *ketok jidat tiga kali (Catatan Jumat pagi,3132017)

    

Kamis, 30 Maret 2017

Berharap Sempurna

Pijatan Quotes
(Oleh Effi S Hidayat) 


"Berharap kepada manusia akan kecewa. Berharaplah kepada Sang Maha Esa, maka asa-mu akan menjadi sempurna" (me, penulis dan pendidik).

Refleksi: 
Hari ini saya kesiangan, tak sempat menikmati bacaan pagi. Makanya, quote yang saya kutip kali ini adalah 'racikan' saya sendiri.  Jadi, boleh dibilang, Pijatan Quotes kali ini istimewa, karena asli bikinan saya. Mengupas 'lapisan bawang'-nya satu demi satu pun akan menjadi terasa lebih mudah. Aha!

Ya, berdasarkan pengalaman dan beberapa kejadian yang saya alami sendiri tatkala 'bersentuhan' dengan sesama, saya akhirnya menyimpulkan dengan miris hati,"Jangan pernah berharap kepada manusia, karena kita akan kecewa, even siapa pun dia. Hanya Tuhan-mu saja tempat tuk bersandar, maka harapanmu akan jadi nyata sempurna".

Yang tidak setuju, boleh berdebat sama saya. Berani? hehe.(Catatan Kamis,3032017).     

Rabu, 29 Maret 2017

Ngobrolin Seks dengan Anak

Catatan Lepas
Tips Parenting
(Oleh Effi S Hidayat)

Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap pemahaman anak yang benar terhadap seks?  


Dua belas orang anak di bawah umur menjadi korban sodomi. Pelakunya pun masih anak-anak usia yang sama.Wah, ngilu rasanya hati membaca berita itu. Motivasi seks mereka terpacu gara-gara menonton film porno. Alamak, demikian dahsyatkah pengaruh arus informasi teknologi bagi Si kecil?

Budaya Malu

"Mama, adik datangnya darimana?" Sani, ibu tiga anak lelaki, kontan kebingungan ketika diburu pertanyaan putera sulungnya yang saat itu baru kelas satu SD. Karena merasa rikuh menyebutkan kata vagina, iapun menjawab sekenanya," Ya, dari...(maaf) bokong," dan ia pun tersipu-sipu sendiri.

Tiga tahun kemudian, jawaban itu di-koreksi sang putera yang sudah duduk di kelas IV SD. "Mama ini bagaimana, sih. Adik,'kan keluarnya dari vagina, bukan dari bokong. Ayo, tunjukkin dong, di mana sebetulnya letak vagina itu?" Sani bercerita sambil tergelak.

Rupanya, puteranya mendapat jawaban yang benar dari buku IPA yang dibacanya di toko buku. Lagi-lagi, ia merasa rikuh untuk menjelaskan pertanyaan itu lebih mendetail."Akhirnya, ya, apa adanya sajalah. Saya menjelaskan sebisanya...."

Bukan main memang pertanyaan yang memborbardir dari Si kecil. Sofi, ibu dua anak balita, Zoe (5) dan Zach (3), mengaku takjub dengan 'todongan' Si buyung. Tak cuma sekadar menanyakan darimana muncul dirinya dan Si Adik, Zoe memburu dengan deep interview. 

"Daging gemuk yang ada dua di bawah penis ini apa sih, Ma?" (setelah Mama menjelaskan bahwa anak perempuan memiliki vagina dan anak lelaki punya penis). Atau ada lagi,"Payudara ada isinya, ya, Ma? Apa rasanya manis?" Dan masih ada pertanyaan tentang interaksi antarpria dan wanita. "Apa boleh lelaki dan perempuan berciuman?"

Sofi hanya bisa geleng-geleng kepala. Walau mengaku sudah membiasakan puteranya dengan berbagai istilah keilmuan yang menurutnya perlu, seperti antara lain : penis, vagina, atau payudara, untuk menjelaskan nama organ kelamin pria dan wanita, toh ia masih kelimpungan membuka ensiklopedia demi menjelaskan masalah seksualitas yang sesuai porsinya bagi Si kecil.

Apalagi setelah Si sulung menuturkan rencananya, setelah naik ke TK B, katanya ia mau...pacaran. "Wah, kecemasan saya berlipat ganda!" Itu baru usia dini, bagaimana ketika memasuki usia pubertas? Sapto, bapak tiga anak , mengaku tak dapat berbuat apa pun ketika suatu hari sedang menonton televisi bersama puteranya, kebetulan ada 'adegan syur'. "Suasana 'ajaib' terasa mencekam. Saya dan anak sama-sama rikuh!"

Kesungkanan berbicara tentang seks kepada anak remaja juga dirasakan Anna. "Apalagi saya ini keras sekali mendidik anak. Pergaulan mereka saya batasi, begitu pula informasi soal seks. Tabu membicarakan hal seperti itu di dalam keluarga," ujar ibu paruh baya yang punya empat anak dan mengaku sudah tradisi dari keluarganya untuk melarang berbicara yang tidak sopan.

Rupa-rupanya bukan orangtua saja yang segan untuk berbincang soal seks. Ray, siswa kelas 3 SMU mengaku lebih sreg membahas soal yang lain ketimbang masalah seks dengan orangtuanya. "Nggak ada topik untuk membuka pembicaraan seperti itu di meja makan," begitu alasannya.

Ditambah lagi, orangtua biasanya akan menjelaskan a la kadarnya, hanya 'sebatas ini' atau 'sebatas itu'. Secara naluriah, anak dianggap akan tahu dengan sendiri, nantinya. Karena itu Ray lebih banyak menggali informasi dari teman-temannya. Kelas dua SMP ia sudah mendengar cerita yang menurutnya "wow!" (kalau tidak mau dibilang 'vulgar') dari teman di sekitar rumah.

"Mereka yang nonton blue film (BF), saya yang planga-plongo dengerin ceritanya," kisahnya geli sendiri. "Dan, rasanya memang lebih asyik ngobrolin masalah seks dengan teman sebaya. Kalau dengan orang yang lebih tua,'kan ada batasannya. Kurang seru!" tawanya meledak. 

Perasaan nyaman untuk membicarakan masalah seks dengan teman juga diakui Agus, siswa kelas 3 SMU Negeri, dan adiknya yang baru di bangku SMP. "Bete kalo ngomongin seks dengan orangtua. Nggak lucu aja!"

Keduanya mengaku sudah mendapatkan informasi tentang seks sejak SD. "Sekadar tahu dari pelajaran IPA dan Biologi gitu, deh," cerita mereka, ringan. Untuk urusan lebih mendetail, Agus mendapatkannya secara tidak sengaja dari situs-situs ajaib di internet yang katanya sih, datang sendiri tidak diundangnya.

Tak berbeda dengan Elen, siswi kelas 6 SD. Katanya, dia dan teman-temannya tidak asing lagi melihat 'yang aneh-aneh' dari internet . Sebelumnya, mereka mendengar cerita dari para kakak. "Kakakku juga pernah 'ngintip' langsung di internet, kalau aku sih, belum beraniiii," lebih lanjut ia bercerita, jika sudah banyak temannya yang punya pacar, bahkan berkencan.

"Aku sendiri sudah ada yang 'nembak', cuma belum ada yang pas. Kalau ada yang sreg, mau aja...," tutur Elen yang mengaku sudah beberapa kali membaca majalah orang dewasa.

Dari jajak pendapat yang dilakukan Komunika, hanya satu dari sepuluh anak yang menerima informasi tentang seks dari orangtuanya langsung, sebelum mereka mendapatkan dari teman-temannya. Itupun, Elen yang aktif bertanya duluan. Anak perempuan usia 11 tahun ini memang lebih dekat dengan Sang mami ketimbang papinya yang jarang ngomong.

"Tetapi, masih banyaaaak yang aku tahan-tahan. Sebetulnya aku kepingin tahu lebih rinci mengenai asal muasal adik di perut Mami, menstruasi, dan berbagai perubahan tubuh yang kualami," tandas Elen yang rasa ingin tahunya tumbuh ketika ia kelas 4 SD.

Cukupkah informasi yang didapatkan dari Sang mami? "Wah, ya...nggak-lah! Aku lebih bebas ngomong dengan teman dan mendapatkan informasi dari televisi dan majalah yang kubaca." Media merupakan wadah paling mudah untuk mendapatkan informasi yang diinginkan remaja. Itu diakui Ray dan Radit, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta semester pertama di Jakarta.

Mereka mengaku beruntung mendapatkan info tentang seks dari sekolah. "Saya mendapatkan penyuluhan seks yang mendetail mengenai masalah yang memang ingin saya ketahui, misalnya bagaimana cara berinteraksi dengan lawan jenis, perubahan yang terjadi seperti 'mimpi basah', dan lain sebagainya," Ray menjelaskan keinginan tahunya timbul ketika suaranya mulai berubah dan tumbuh bulu yang lumayan lebat di tubuhnya.

Tidak semua remaja seberuntung Ray dan Radit, karena harus diakui tidak semua sekolah di negeri ini yang memberikan penyuluhan khusus secara gamblang dan mendetail kepada para murid. Padahal, menurut Sani, sebagai orangtua yang merasa was-was dengan pergaulan anak zaman sekarang, sekolah seharusnya lebih memiliki prioritas khusus terhadap masalah remaja, antara lain, ya..., masalah seks dan narkoba.

"Waktu mereka,'kan lebih banyak di sekolah dan bersama teman-teman. Apalagi orangtua sekarang memiliki kesibukan sendiri. Pulang bekerja, larut malam baru tiba di rumah," imbaunya.

Benarkah mengenai pendidikan seks ini, peran orangtua dapat digantikan oleh sekolah dan lingkungan di sekeliling ? Menolong anak-anak untuk memiliki pandangan seimbang dan alkitabiah tentang seks merupakan tugas sulit, sehingga orangtua cenderung menyerahkan saja masalah ini kepada orang-orang 'yang ahli'?

Pembelajaran tentang Seks

Subianto, orangtua tiga anak lelaki usia remaja, mengaku belum pernah mencoba berkomunikasi secara detail tentang seks kepada anak-anaknya. Tapi, sejak mereka kecil, ia sudah mengupayakan tindakan preventif seperti menyediakan televisi dan komputer di ruang publik saja di rumahnya. Alih-alih di ruang privat, seperti kamar tidur. Alasannya, lebih mudah mengontrol anak dalam mengakses informasi.

Dia menceritakan, lingkup pergaulan tempat tinggal mereka dulu, di kawasan kota, Jakarta Barat sangat berbeda dengan domisili sekarang. Aktivitas anak di lingkungan yang lebih ramai dan 'gemerlap' dengan segudang sarana fasilitas, menurutnya lebih sulit dipantau, dibandingkan dengan kawasan Tangerang yang lebih interaktif dan sehat pertumbuhan rohaninya. Sehingga anak-anaknya dimungkinkan aktif dalam lingkungan Muda-Mudi Katolik (Mudika) gereja.

"Kondisi ini melegakan saya," ia menegaskan, teladan orangtua juga sangat penting. "Saya selalu menekankan kepada mereka agar jangan pernah menyusahkan orang lain, sehingga harus berusaha menjaga prilaku demi nama baik orangtua, dan terutama diri sendiri," Subianto juga menandaskan, fondasi iman yang kokoh adalah tiang keluarga paling utama.

Putera Subianto, Radit, membenarkan pendapat ayahnya.Lingkungan rumah dan tempat gaulnya sangat kondigtif. Walau lingkungan teman di kampusnya, di Jakarta lumayan 'heboh', ia mengaku emoh terbawa arus. "Saya enjoy dengan teman-teman saya di Mudika," katanya mengaku beruntung diajak seorang seniornya untuk mendalami aktivitas menggereja.

Biarpun begitu, ia tidak menyangkal, untuk berdialog soal seks dengan orangtua, ada perasaan "tabu". "Sejak kelas satu SMP, saya tahu hal-hal yang nyeleneh dari teman-teman," senyumnya samar. Biasanya kalau diumpetin, rasa ingin tahu anak malah jadi lebih besar bahkan coba-coba.

Maka orangtua diharapkan lebih aktif membuka forum dialog tentang seks. Yang namanya orangtua,'kan pernah muda, sedangkan anak belum pernah jadi orangtua. "Apalagi anak itu selain malu, juga takut diomelin, sehingga ia lebih memilih untuk diam saja, tidak bertanya."

Pengalaman coba-coba dialami puteri sulung Anna yang akhirnya terlanjur menikah dini. Merasa terlalu dikekang orangtua yang 'kaku' dalam pendidikan seks, Karin -- panggil saja demikian, memilih melakukan pemeberontakan dengan berpacaran di luar batas. Walau ujungnya, baik Karin maupun ibunya, Anna, mengaku sangat menyesal.

"Kami mohon ampun kepada-Nya. Puji Tuhan, peristiwa yang terjadi dalam keluarga kami memberikan hikmah luar biasa. Komunikasi jadi lebih lancar, terutama dalam membicarakan hal-hal yang dulunya kami anggap tabu."

Demikian pula Sani, setelah informasi tentang seks yang diberikannya kena protes sang anak, ibu muda ini mencoba lebih terbuka."Sehari-hari saya sering ngobrol bertanya, misalnya, apa sudah naksir cewek dan punya pacar? Sembari mijitin, ngorekin kuping, atau dalam perjalanan di mobil bersama anak-anak, itu saat yang paling tepat untuk jadi 'teman curhat' mereka," ungkapnya.

Ia memilih iman sebagai dasar untuk percaya kepada anak-anaknya."Jika mereka takut akan Tuhan, saya percaya mereka tidak bakalan berbuat yang macam-macam." Ya, landasan keimanan yang kuat merupakan barometer utama bagi orangtua.

Psikolog Henny E. Wirawan menegaskan,"Orangtua harus memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap seks bahwa seks itu indah. Seks adalah karunia dan rencana-Nya bagi sepasang manusia yang bersatu dalam pernikahan kudus sehingga seks patut dinikmati dan disyukuri, bukan sekadar nafsu seksual semata."

Pola pikir orangtua berkaitan tradisi, seks tidak sepantasnya dibicarakan atau malah disembunyikan harus dihapus dari kamus mereka.Jika tidak, orangtua akan merasa rikuh sendiri. Henny menyebutkan contoh, orangtua yang menyebutkan organ kelamin anak saja, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.

"Jika sudah kena budaya malu begitu, orangtua dengan mudahnya menganggap, 'Ah, anak saya kalau sudah gede nanti tau sendiri' bisa jadi syok apabila Si anak malah salah jalan kena arus pergaulan bebas. Daripada menyesal, lebih baik orangtua berlatih di depan cermin, misalnya, agar tidak salah tingkah jika ngobrolin seks dengan anak," psikolog sekaligus dosen fakultas psikologi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu tertawa.


Berusaha menjawab pertanyaan anak soal seks di usia dini dan remaja tanpa bersikap malu atau canggung, ditulis pula oleh Margareth Bailey Jacobsen dalam bukunya What Happens when Children Grow. Sikap yang benar terhadap seks, akan tampak melalui sikap orangtua tatkala membagikan informasi tentang seks.

Berdiskusi tentang seks bukanlah sesuatu yang memalukan, jikalau Anda percaya bahwa "anak-anak adalah pemberian Allah" (Mazmur 127:3), beritahukanlah itu kepadanya. Ya, sudah kewajiban orangtua untuk mendidik anak agar memiliki sikap yang benar terhadap seks. Usahakan menjawab pertanyaan anak dengan jawaban yang membuatnya sadar bahwa tubuhnya adalah ciptaan Allah yang sakral.

Upayakan komunikasi jujur terbuka, sederhana tidak bertele-tele, dan memuaskan rasa ingin tahu, sejak usia dini. Henny mengatakan, bahwa lebih mudah sebetulnya ngobrolin seks dengan anak usia balita daripada anak remaja. Mulai dari hal simpel, perbedaan jenis kelamin anak perempuan dan lelaki, atau bagaimana cara mereka merawat tubuh. Ketika mandi,buang air kecil atau besar harus bersih, ini,'kan juga termasuk pendidikan seks yang perdana.

Bagaimana anak lelaki menghargai anak perempuan dan tubuh mereka masing-masing yang berkaitan dengan gender bahwa mereka adalah setara, itu juga merupakan landasan seks yang benar. Sehingga perempuan tidak dilecehkan dan menjadi obyek seksual. Dan bagaimana cara anak menghadapi orang asing, mengingat maraknya kasus pemerkosaan, termasuk wacana seks yang penting untuk bersegera diupayakan.

Ketika anak memasuki usia praremaja dan pubertas, orangtua wajib mulai memberikan batasan-batasan yang jelas bahwa ada yang boleh dan sebaliknya, dilarang untuk dilakukan. Pendidikan moral hati nurani yang tertanam di dalam hati mereka, membuat mereka memiliki kesadaran diri. Selain tentu saja, anak pun patut dilimpahkan kepercayaan untuk menyeleksi sendiri dalam bergaul.

Membagikan pengalaman pacaran bisa jadi bikin orangtua yang gaul di mata anak. Obyek pembicaraan menarik dan kedekatan akan membuka jalan ke hati mereka sehingga tak segan bercerita tentang apa yang dirasakan.

Pekerjaan rumah bagi orangtua di segala zaman, untuk belajar lebih terbuka dan peka terhadap trend. Soal berpacaran, 'gaya main' lingkup pergaulan dengan teman-temannya, buku, musik, atau film yang mereka gandrungi -- semua menjadi jembatan komunikasi yang perlu diupayakan (termasuk jangan 'gagap teknologi' (gaptek), mau belajar browsing internet, misalnya.

Di kalangan remaja, menurut Paul Lewis dalam bukunya 40 Ways to teach your child Values, jika dorongan seks dan dan pengaruh media serta tekanan teman-teman sebaya sangat kuat, pertahanan diri yang terbaik terhadap kelakuan-kelakuan seks yang seenaknya saja, adalah rasa harga diri yang kuat.

Anak yang masih kecil sekalipun, perlu diberdayakan oleh orangtua untuk menyediakan waktu berdiskusi bersama mereka tentang "eksistensi diri", siapa kita yang sebenarnya dan untuk apa kita ini ada. Jika anak Tk dan SD dapat diajak bercerita yang istilahnya tidak masuk di akal dan dianggapnya sebagai suatu realita, maka anak SMP  sudah mulai mencari fakta, memertanyakan segala macam yang mengarah ke proses pendewasaan dirinya.

Hanya soal kedewasaan itu mampu ditanggapi secara arif atau tidak. Dewasa itu,'kan tidak cuma kecerdasan otak (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ) yang mencakup motivasi diri, mengendalikan dorongan hati, dan segala emosi yang ada di dalam diri, termasuk dewasa soal spiritualitas, sosial kemasyarakatan, dan moralitas seksualitas. 
 
Peran guru, sekolah, rumah ibadah, bahkan negara yang menyediakan wahana dan wacana sehat tentang pendidikan seks idealnya harus saling bekerja sama. Walau porsi terbesar tetap berada di tangan orangtua. Kendali keluarga sangat jelas, sebagai 'sekolah' yang pertama dan utama, tidak bisa diwakilkan oleh instansi lain. 


Bagaimana orangtua ngobrolin seks (tanpa malu, rikuh, atau tabu), merupakan proses pembelajaran yang bukannya tidak bisa dipelajari. Ada triks-triks khusus :

  • Mencari momen tepat untuk bicara dengan menciptakan amtmosfer nyaman. Sembari guyon, atau main, sembari ngemil kacang dan nonton televisi bareng (yang kebetulan ada adegan syur-nya)  bisa jadi bincang-bincang seks yang aman. 
  •  Bedah buku bersama? Mengapa tidak? Pilihlah judul yang menarik dari kacamata Si anak, tak perlu yang serius-serius membosankan. Tentu, orangtua harus selektif memilih bacaan/film yang dibahas. Referensi akurat dapat diketahui dari mana-mana, selain harus membacanya terlebih dulu. 
  •  Jangan hanya sekadar mendapatkan informasi dari teman, masalahnya pornografi itu individual sifatnya. Hindari sikap memberi kuliah atau malah berkhotbah, lebih baik orangtua mendengarkan dulu secara aktif dan simpati, bila anak melontarkan pertanyaan gamblang. 
  •  Agar tidak vulgar memberi jawaban, sebaiknya orangtua meneliti pengetahuan dan pandangan Si anak tentang seks, baru membenahi konsep yang dimilikinya secara keliru, yang mungkin saja diperolehnya dari teman atau imajinasinya sendiri. Jangan karena tradisi, merasa canggung atau kurang pengetahuan, pertanyaan mereka diabaikan bahkan dianggap tabu.
  •  Bersikaplah jujur . Jelaskan bahwa pokok pembicaraan tentang seks sebenarnya perlu dibicarakan, walau pendidikan keluarga Anda dahulu membuat rikuh. Mempelajari dan berlatih mengucapkan nama organ-organ seks, selain memiliki pengetahuan lengkap tentang fungsinya akan banyak menolong.
  • Suasana hangat penuh kasih sayang  bersama pasangan hidup, sebagai orangtua yang saling mengasihi dapat menjadi teladan paling pas bagi anak untuk menanamkan sikap yang sehat terhadap masalah seks.
  •  Apa yang harus dilakukan jika anak gagal mengendalikan nafsu seksualnya? Ya, berusahalah dengan besar hati untuk mengampuninya. Tunjukkan pengampunan tulus yang dapat diperolehnya di dalam kasih Tuhan.  
(Komunika 03,IV, Mei-Juni 2004)
  
             
  


Pengampunan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Apakah ada yang tidak dapat dicapai oleh pengampunan?" (Vidura, tokoh bijak dalam Mahabharata).  

Refleksi:
Pagi ini, mata saya tertumbuk pada bacaan quote Vidura. Tokoh utama kebijakan dalam epik Mahabharata  begitu singkat menyuarakan tanya yang menggedor nalar, sekaligus hati. Dua kata 'tidak dapat' yang diselipkannya, bermakna kontra. Vidura atau juga lebih dikenal Widura, mau menegaskan, jika dengan pengampunan segalanya bisa terjadi.   

Yup, saya setuju. Walau tidak mudah mengampuni seseorang atau suatu masalah yang terjadi, pengampunan punya dampak sangat luas. Tidak saja bagi yang kita ampuni, imbasnya saya pikir, sangat punya manfaat bagi diri kita sendiri. Bukankah dengan pengampunan, kita terbebas dari rasa dendam yang menyakitkan? (Catatan Rabu pagi, 2932017). 

Selasa, 28 Maret 2017

10 Cara Hadapi Si Pemilih Makanan

Catatan Lepas
Tips Parenting

(Oleh Effi S Hidayat)

Si kecil pilih-pilih makanan? Jangan menyerah dulu! Coba simak cara hadapi pilih-pilihnya itu. 

Urusan makan anak kerap bikin pusing. Bagaimana cara menyiapkan makanan bergizi yang menggugah selera, sementara Si kecil sulit makan dan enggan mencicipi beragam jenis makanan yang sudah disajikan dengan susah-payah itu.

Apalagi ada kecenderungan memprihatinkan pada anak-anak di kota besar. Junk food jadi favorit mereka. Ironisnya, mereka juga anti sayur, sehingga tak jarang membuag sayuran yang ada di dalam hamburger yang mereka pesan, misalnya.

Bagaimana menghadapi hal itu? Ada beberapa upaya orangtua untuk tidak menyerah dalam mengatasi problema makan anak. Coba simak 10 cara berikut ini :

  1. Biasakan makan sehat sejak dini.
Sejak dalam kandungan orangtua harus memperhatikan dan mengupayakan kesehatan tubuh dan kecerdasan Si kecil dengan mengonsumsi berbagai makanan bergizi tinggi. Selepas ASI, orangtua dapat mulai memperkenalkan dan membiasakan anaknya beragam makanan padat.

       2. Lakukan bertahap.
Perkenalkan secara bertahap hidangan sayur dan buah yang semakin diperbanyak jenis dan jumlahnya. Seiring dengan pertumbuhannya, ia tidak akan gampang menolak aneka makanan yang disodorkan.

Usia balita merupakan usia rawan, pertumbuhan di usia dini merupakan cikal bakal kualitas anak kelak di usia remaja dan dewasa. Pengenalan bahan makanan yang bervariasi dengan gizi seimbang amat Si kecil butuhkan.

       3.Kreatif dan bervariasi.
Repotnya, menjelang usia 2 tahun, anak biasanya mulai menunjukkan 'pemberontakan' termasuk di dalam memilih makanan. Terang-terangan ia menunjukkan rasa suka dan tidak suka pada makanan tertentu. Menyajikan sayuran dalam bentuk menarik, misalnya irisan wortel dan tomat berbentuk bunga atau gambar hewan lucu pada makanan yang tersaji di piring dapat menggugah hasrat makannya.

Jangan ragu atau malas untuk mencoba resep baru di buku masakan , majalah/internet sebagai acuan. Tekstur warna-warni pelangi dan kualitas bahan olahan, dibarengi penyajian dan cara pengolahan yang pas (kukus, tumis, rebusan sayur), dijamin merupakan penangkal ampuh bagi penolakan Si kecil.

       4. Diskriminasi?
Terlanjur memberi label pada makanan tertentu sebagai makanan yang laik dikonsumsi atau sebaliknya, cenderung menjadi pemicu anak untuk ngemil berlebihan bahkan menolak makanan tersebut. Sikap pilih-pilih makanan disadari maupun tidak, terbentuk atas pola kebiasaan diskriminasi terhadap makanan di dalam keluarga.

Boleh juga melakukan 'penyamaran' bagi jenis makanan yang mengandung banyak sayuran. Sup, misalnya, agar lebih gurih taburkan parutan keju di atasnya. Atau, lumatkan aneka sayuran dengan blender lalu campur ke menu utamanya.

       5. Lihat lokasi dan waktu.
Memberi makanan sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, serta jadwal rutin waktu makan yang tepat adalah kondisi yang tidak boleh dilupakan. Boleh-boleh saja Anda berikan cemilan asal pada jam tertentu (misalnya, antara makan siang dan makan malam).

Seperti orang dewasa, untuk mengatasi rasa bosan anak, bolehlah berganti suasana dengan mengajaknya makan di restoran. Icip-icip sashimi mori, milk shakes, dan beragam sorbet jelas beda rasanya dengan nasi gudeg, pecel, atau es doger.

      6. Lakukan sambil bermain
Suasana makan yang ceria merupakan kebutuhan dasar anak balita. Jangan rusak hasrat makan mereka dengan terlalu banyak mencela, mengritik, atau bahkan memukul. Jangan pula paksa anak harus menyantap makanan yang disajikan dengan gaya otoriter menakutkan.

Bujuk Si kecil dengan manis, berikan alternatif makanan yang mengundang selera dibarengi saat bermain yang kreatif. Piring mangkuk berhiasan huruf alfabet misalnya, dengan gambar-gambar menarik dan warna cerah, bisa menjadi latar belakang cerita Anda untuk anak. Pura-pura jadi kambing atau Popeye Si pelaut yang doyan sayur bayam sebagai tokoh idola panutan Si kecil membuat suasana makan yang fun. 

      7. Minta bantuan anak.
Jangan sungkan atau malah memarahi Si kecil dengan menuduhnya 'bikin repot saja' jika ia ikut sibuk di dapur. Meminta bantuannya mencuci dan memotong sayuran sebelum dimasak, kebanggaannya pun timbul. Justru dengan merasa telah membantu ibunya menyiapkan hidangan, ia lebih tergoda untuk mencicipi dan menikmati.

     8. Jangan pamrih.
"Kalau Adik mau makan sayur ini sampai habis, nanti Mama baru beliin kamu robot-robotan," begitu biasanya orangtua membujuk anaknya makan. Menjanjikan sesuatu agar Si kecil mau makan, mungkin saja cara yang manjur, tapi untuk sementara waktu saja. Akibatnya malah berdampak buruk, lho. Anak menganggap makanan sehat sebagai 'alat tukar' jika menginginkan sesuatu.

     9. Beri teladan.
Tak ada kiat paling manjur selain memberi contoh pada anak. Makanlah aneka sayur dengan lahap di hadapannya. Anak-anak peniru ulung kebiasaan orangtuanya. Bagaimana mengharapkan mereka menggemari semua jenis makanan, jika ibu atau bapaknya rewel soal makan ?

Menyediakan dan membiasakan makan sayur secara rutin, secara tidak langsung menularkan pola makan yang baik pada anak. Jangan larang Si kecil bereksperimen dengan sambal kecap kesukaan Anda misalnya, agar mereka bersemangat. Biarkan anak dengan gaya primitif  belepotan mencocol kecap itu dengan jari tangan mereka. Hmm, nyam-nyam!

    10. Pantang menyerah.
Biarpun segala cara dan trik sudah dilakukan, ada kalanya Si kecil tetap ngotot, emoh makanan tertentu. Biasanya sih, paling sulit mengajak anak mengonsumsi sayuran bahkan ada yang menolak susu. Jika sudah mentok begitu, gantilah dengan alternatif makanan lain; buah-buahan yang disukai anak?

Pendek kata, sebagai orangtua, jangan mudah menyerah begitu saja. Apalagi dengan alasan sibuk tidak punya waktu, Anda lalu terjatuh pada jenis pilihan junk food dan makanan instan yang ditawarkan di pasaran.

Ayo, upayakan terus dengan berbagai cara. Repot lho, jika kebablasan hingga dewasa. Bisa jadi hubungan kelak dengan pasangan atau calon mertua terganggu karena sulit beradaptasi dalam soal makan. Duh, jangan sampai kejadian, deh.

(Majalah Ayahbunda No.17, 18-31 Agustus 2005).

Catatan Lepas

"Catatan Lepas", saya namakan saja begitu. Merupakan buah pemikiran saya yang tertuang dalam aneka ragam tulisan dengan berbagai topik, antara lain bedah buku, film, dan musik. Termasuk tips n triks, seperti tips parenting yang saya cantumkan di bawah ini. 


Tips Parenting
(Effi S Hidayat)

"Ayo, Sekolah, Sayang...."
Mengawali sekolah perdananya, bukan hal mudah bagi anak. Anda perlu memersiapkannya.

Sudah hampir dua minggu sekolah berjalan, namun Hans masih saja menangis. Ia menolak masuk kelas, apalagi bergabung untuk bermain dengan teman-temannya. Sebagai orang tua, Henny mengaku pusing tujuh keliling. 

Mau tidak mau, ia harus minta cuti dari kantornya, hanya untuk menemani puteranya yang baru saja masuk kelompok bermain. Segala cara ia lakukan untuk membujuk Hans sekolah. "Setiap pagi saya bilang ingin mengajaknya jalan-jalan, bukan pergi ke sekolah agar ia mau ikut. Sampai mengenakan seragam pun di kelas," cerita Henny. 

Kesulitannya berbeda dengan Vivi. Walau puterinya, Tiara memulai sekolah pertamanya langsung di TK, tidak mengikuti kelompok bermain, Vivi tidak perlu bersusah-payah membujuk. "Malah Tiara 'mengusir' saya. Katanya,'Mama pulang saja, nggak usah temenin aku di kelas'," ujar Vivi tertawa.

Tergantung Persiapan

Usia berapa anak siap bersekolah, tergantung keterlibatan Anda sebagai orangtua. Anda dituntut aktif membantu Si kecil agar ia merasa nyaman memasuki lingkungan barunya. Bagaimana ia bersosialisasi dengan teman-teman dan guru di kelas, sangat berkaitan erat dengan harga diri yang kuat dan kesadaran ia dikasihi dan diterima karena pribadi anak itu sendiri. Ini dikatakan Margareth Jacobsen, pengajar di Westmont College, California, Amerika Serikat. 

Orangtua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak prasekolah, perlu menumbuhkan pengertian dan dorongan semangat supaya Si kecil tidak takut. Kelompok bermain atau TK yang anak masuki adalah suatu 'petualangan' baru yang menyenangkan dan menggembirakan, bukan suatu yang mengerikan.

Untuk itu, orangtua perlu bekal pengetahuan yang cukup tentang sekolah mana yang cocok bagi anak-anak mereka. Tak ada salahnya berkeliling melakukan survei, wawancara dengan Kepala Sekolah, dan 'mengintip' langsung kegiatan yang bakal dijalani anak.

Sebelumnya, tentu saja, Anda harus punya beberapa strategi jitu untuk membantu anak agar ia benar-benar siap sekolah. Apa sajakah itu?
  •  Kesiapan jasmani
Ajak anak ke dokter untuk cek kondisi fisiknya, terutama penglihatan dan pendengaran adalah tindakan bijak. Seandainya Si kecil punya masalah, maka Anda sempat menolongnya jauh hari sebelum ia masuk sekolah, bukan setelah ia bersekolah.  
  • Melatih kemandirian 
Inilah momen tepat untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan sehat, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Pastikan anak bisa menolong dirinya sendiri ketika buang air besar atau kecil. Ia juga harus mampu mengenakan maupun melepaskan pakaian dan sepatunya. Anda bisa menyelipkan sapu tangan untuk membantunya mengingatkan menyeka keringat, atau ketika ia sedang terserang batuk pilek. Begitupula Si kecil perlu tahu bagaimana caranya makan sendiri.
  • Disiplin sejak dini
Bagi anak-anak kelompok bermain (usia 2-3 tahun) yang memang sedang heboh-hebohnya bereksplorasi, bisa jadi agak sulit meminta mereka duduk anteng. Walau begitu, bukan tidak mungkin, menanamkan kedisiplinan diri sejak dini. Berbekal pujian dan kesabaran, anak-anak usia ini bisa mengerti bagaimana cara duduk maupun berbaris rapi.
  • Sosialisasi dan tanggung jawab
Saling menolong dan berbagi, terutama belajar bertanggung jawab, lebih ditekankan kepada anak-anak usia TK. Bagaimana mereka menyampaikan pesan dan mengerjakan tugas adalah bagian dari pengenalan mereka terhadap pelajaran yang disampaikan guru.

Untuk menjaga diri dan barang-barang miliknya, mereka juga perlu dilatih beberapa hal dasar, seperti menyebutkan nama panjang, lengkap dengan alamat dan nomor telepon rumah termasuk kecermatan mengenali benda-benda miliknya, seperti tas sekolah, tempat makan, atau botol minumannya. Sebaiknya Anda membantu membuatkan tanda pengenal, seperti nama yang tertera pada jaket atau topinya.  

Sebagai persiapan, boleh juga Si kecil diperkenalkan dengan berbagai mainan dan permainan yang mencerdaskan, seperti puzzle, atau buku cerita dan pengenalan terhadap beberapa konsep dasar, seperti angka atau huruf. 

Keterampilan gerak dan bahasa harus berjalan seiring perkembangan sosial dan kepribadian anak sehingga ia seharusnya diberi kesempatan bereksperimen dan bergaul dengan banyak orang sebelum masuk sekolah.

Bijak bersikap

Selain tubuh sehat, sikap yang 'sehat' terhadap sekolah sama pentingnya. Jangan sekali-sekali menggunakan sekolah atau guru sebagai ancaman apabila anak nakal. Komentar seperti, "Ibu guru akan marah sama kamu di sekolah nanti!" bisa membuat Si kecil takut bersekolah.

Sebaliknya, jika Anda sesungguhnya yakin mengajarkan anak untuk menghargai sekolah dan proses belajar merupakan hadiah paling bermakna yang dapat Anda berikan, tentu saja dibarengi sikap ikhlas meninggalkan anak di bawah bimbingan guru di kelas -- kepercayaan diri Si kecil pun berkembang sesuai pertambahan usianya.

Bila ia pernah diberi tanggung jawab tertentu, bekerja sama dan bermain dengan anak-anak lain, menggunakan alat-alat dan menemukan kebanggaan dalam keberhasilannya melaksanakan suatu aktivitas, secara emosional, ia siap masuk TK.

NYALAKAN SEMANGAT BELAJAR ANAK
  • Bangun minat anak dengan membaca buku cerita bergambar, mendengarkan musik, atau menonton film edukatif bersama. Ajak berkunjung ke tempat bersejarah seperti museum, kebun bunga, atau mengikuti acara kesenian seperti panggung boneka dan konser.
  • Pilih mainan dan kegiatan yang melibatkan inisiatif pribadi. Harmonika, puzzle, magnet, kaca pembesar, kotak-kotak, paku memaku lebih merangsang kreativitas ketimbang mainan jadi dari toko. Biarkan anak bereksplorasi dengan tanah liat, kapur tulis, cat, kertas warna-warni, spidol, perekat,pita,majalah,kaleng, dan botol bekas, tali, kancing baju, bahkan... tuts komputer Anda.
  • Dorong kemampuannya berbahasa dengan permainan kata lewat sajak pendek, syair lagu, teka-teki, mengarang dongeng, atau ngobrol ngalor ngidul.  
  • Sediakan tempat belajar yang adem, tenang, cukup penerangan, dan asyik untuk belajar. Lengkapi dengan alat tulis, dan buku-buku yang mudah anak jangkau.
  • Jadilah sahabat baginya. Perlihatkan Anda siap menolong dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Kegembiraan tulus Anda dapat mendorong Si kecil bermain sembari belajar. Belajar sembari bermain.
(Majalah Ayahbunda  No.10, 12-25 Mei 2005)     
         









Kesinambungan Hidup

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

 "Pikiran adalah benih; bahasa adalah tunas; tindakan adalah buah di baliknya"(Ralph Waldo Emerson, dosen dan penyair).

Refleksi:
Manusia tidak terlepas dari ketiga hal ini : pikiran, ucapan, dan prilaku. Apa yang kita pikirkan, tercetus di dalam ucapan dan perbuatan. Esais kelahiran Boston, Amerika Serikat yang dikenal juga sebagai pemimpin gerakan transendentalisme di abad pertengahan 19, Ralph Waldo Emerson, menyoroti dengan bahasa puitisnya sebagai penyair.

Saya suka sekali dengan ungkapannya bahwa pikiran kita umpama "benih" yang disemai, lalu tumbuh menjadi "tunas" yang  tercetus dalam bahasa alias ucapan, dibarengi dengan hasil akhir : "buah" yang terlahir sebagai tindakan. Bahasa sederhananya mungkin begini,"Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai."

Paradoksnya, sebagai manusia kita cenderung tidak menyadari ketiga hal yang sungguh merupakan kesinambungan hidup  itu. Lalu, berkoar-koar menyalahkan lingkungan dan orang-orang di sekeliling. Hei,  maluuu dong,ah? *tutup muka pakai bantal (Catatan Selasa pagi, 2832017, Hari Raya Nyepi).    

Senin, 27 Maret 2017

Berani untuk Setia

(Oleh Effi S Hidayat)

Les melukis baru berjalan dua bulan, tetapi Anggi sudah mogok merengek meminta-minta kepada maminya untuk pindah les piano. Padahal baru beberapa hari lalu, dia memohon kepingin belajar tari balet. Dan, baru seumur jagung pula , Anggi mengeluh ingin berhenti ikut ekstrakurikuler (ekskul) pelajaran bahasa Mandarin. Maunya pindah ke ekskul boga saja.

Nah, bisa tebak, apa yang kemudian dilakukan Sang mami, selain mengabulkan semua keinginan puterinya tercinta? "Maklum, puteri semata wayang alias satu-satunya," begitu kilahnya. "Mumpung ada kemauan, apalagi semua fasilitas ada. Semua keinginan anak tentu saja harus didukung sepenuh jiwa dan raga kita sebagai orangtua, bukan?"

Tak berbeda dengan Dwiko. Sedari kecil, menuntut ilmu di sekolah hingga bekerja, ia selaluuu saja satu atau dua langkah lebih maju dari orang lain. Prestasinya laik diacungi jempol, semua orang tampak bangga terhadapnya, termasuk dirinya sendiri, tentu.

Ya, Dwiko sangat percaya diri. Ketika bekerja pun, ia enggan berlama-lama di satu tempat saja. Patokannya tentu saja adalah salary yang ia terima. Buat apa capek-capek bekerja kalau gajinya tidak tinggi? Maka, jadilah Dwiko 'Si kutu loncat'.

Teman-teman Dwiko sudah khatam betul jika bertemu dengannya sudah 'terbang' dari kantor yang lama. Dia selalu berpindah-pindah pekerjaan. Hitung-hitung dalam kurun waktu dua tahun saja, sudah 6, eh, 7 kantor lho, yang disinggahinya!

Begitulah. Zaman sekarang, maunya memang serba cepat. Instan. Apa-apa, wis, kesusu orang Jawa bilang. Yang lebih penting adalah "hasil", bukan "proses" yang sedang berjalan. Tampaknya sudah ketahuan, mereka yang lebih memilih sebuah proses ketimbang hasil, adalah produk 'orang-orang jadul' alias orang-orang masa lampau.

'Ngapain mikir proses? Bisa-bisa orang lain sudah sampai di bulan, sementara kita sampai bulukan, masih ngos-ngosan naik becak!'  kira-kira seperti ini 'pukul rata' komentar anak sekarang. Akibatnya mudah sekali diterka.

Sikap tidak sabaran ini berbuntut terkikisnya sebuah karakter yang nilainya kian lama kian menjadi mahal. Apalagi kalau bukan : "kesetiaan"? Jika sejak kecil sudah dididik demikian mudah beralih pindah ke lain hati, setelah remaja, beranjak dewasa, bahkan sampai tuek-pun dijamin tak akan pernah mau 'mengabdi' sedemikian lama mengantongi kamus yang judulnya "setia".

Banyak godaan dari lingkungan di sekeliling ; terpaan angin topan dan badai yang diterima dengan senang hati, ikut arus. Boro-boro mau menerjang, melawan dengan garang, kemudian ber-setia dengan pilihannya sendiri. Aih, bukan zamannya lagi deh untuk setiaaa?

Tidak heran, nilai-nilai pendamping lain yang boleh dibilang menjadi tameng kesetiaan , seperti antara lain nilai kejujuran, kepercayaan, pengabdian, lalu ikut-ikutan aus, menguap lenyap, terseret pasang gelombang, dan sirna ditelan deru ombak kehidupan yang semakin kompleks.

Tak hanya sedemikian mudahnya berpindah-pindah jurusan di sekolah, dan lompat melompat ke beragam pekerjaan bak bajing loncat, ketika sudah memilih pasangan hidup, dan berjanji untuk setia sehidup semati di hadapan pastor pun, kerap tinggal jejak slogan semata.

Angka perceraian semakin melonjak, melejit tinggi di abad ini. Dalam hitungan bulan saja, ketok palu cerai sudah diajukan ke meja hijau. Maka, saya benar-benar 'angkat topi' kepada mereka-mereka yang berani untuk tetap setia menjalani ikrarnya di dalam jalur apa pun juga.

Terus terang, memang sangat tidah mudah untuk kekeuh berpegang kepada prinsip hidup dalam jangka kurun waktu sepanjang usia. Memang, ada benarnya sih, katanya, manusia dituntut untuk selalu berubah. Toh, perubahan itu sendiri berbanding lurus dengan pertumbuhan yang menandakan bahwa sebagai makhluk cipataan-Nya, kita ini... "hidup"!

Tetapi, bukankah  perlu mengkaji ulang secara serius, perubahan apa dulu? Perubahan itu sendiri nisbi lho, adanya. Seturut pemikiran saya yang sederhana ini, tetap harus ada nilai-nilai murni yang selaiknya dipertahankan. Antara lain, ya... kesetiaan itulah.

Di dalam kategorial manajemen gereja, misalnya. Jika mereka-mereka yang sudah berikrar komit untuk menjadi pelayan-Nya, tentu saja memerlukan ketetapan hati, iman yang teguh dalam melayani sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Apa jadinya jika tidak ada kesetiaan mengabdi dengan tulus dan ikhlas? Wong, jangankan mikirin gaji alias beaya, hitung-hitungan untung dan rugi secara waktu dan tenaga saja, haram hukumnya. Jadi, memang sangat membutuhkan keberanian untuk tetap setia.

 Lihat saja deh, jalan berliku dan panjang yang ditempuh oleh para pastor dan suster. "Jalan yang benar adalah jalan yang sepi", kata seorang sufi -- mungkin itu tepat sekali.

Jika tidak begitu sulitnya memertahankan secara murni yang namanya kesetiaan ini, mana mungkin sih, misalnya seorang Romo Pandoyo, OSC yang berkarya seturut imannya, tidak sampai 'jatuh bangun' meretas jalan yang diikutinya, hingga setia sampai 30 tahun (terhitung 26 Juni 1985-2015?).

Maka, jangan pernah sekali-sekali meremehkan nilai kesetiaan. Ini merupakan satu di antara kualitas harga diri manusia yang saya pikir memiliki nilai lebih. Karena membutuhkan amat sangat, lebih dari segantang keberanian untuk tetap setia.

Jika sudah berkomitmen untuk memilih sesuatu, apa pun itu, cobalah untuk belajar berani memertahankannya hingga akhir. Jalani saja dengan sepenuh hati konsekuensi pilihan Anda. Belajar untuk menerima segala risiko dan tentu saja jangan lupa : mencintai pilihan yang sudah kita ambil tanpa tergoyahkan apa pun juga.

Niscaya, semua akan berjalan baik-baik saja. Betapun, saya percaya, setia memang butuh dan perlu, ketetapan suara hati. Dan, suara hati, di bilik jantung semua manusia pada umumnya sama ; jujur, tak mengenal kata dusta! (Komunika 03/XV, Mei-Juni 2015).     

Sumber Kerisauan

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Ayam dan anjing peliharaan setelah dilepas, tahu untuk dicari kembali. Tetapi hati manusia setelah dilepas, tidak tahu untuk ditarik kembali. Sungguh kasihan!" (Mensius, filsuf Tiongkok).

Refleksi:
Membaca quote dari Meng Zi atau kerap dikenal sebagai Mensius, filsuf Tiongkok penerus ajaran Kong Hu Cu ini, dahi saya agak berkerut, sebelum awalnya sempat tersenyum. Perumpamaan yang menarik, dibandingkan hewan peliharaan yang mudah pulang kembali, hati milik kita manusia itu rupanya amat teramat sangat bandel, ya?

Apa maksudnya 'hati yang dilepas'? Saya pikir itu adalah hati yang memiliki keinginan ke luar, alias mudah tergoda banyak maunya, tidak pernah merasa puas. Selalu membandingkan diri dengan orang lain, sehingga akhirnya menimbulkan kerisauan.  Jadi, benar sekali apa kata Mensius, sungguh kasihan hati manusia yang dilepas!

Dari banyak buku yang pernah saya baca, menarik hati kita ke dalam diri sendiri, membuat hati menjadi tenang dan damai. Masih bingung, apa maknanya?

Mungkin lebih tepatnya, begini ; kita diminta buru-buru introspeksi, bercermin ke hati nurani yang paling dalam, alias semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Niscaya, kerisauan pun bablas lenyap dibasmi kesadaran yang muncul dari dalam hati.

Tentu saja, ya, hati yang 'ditarik ke dalam' ini, bukan hati yang dilepas ke luar! Memangnya enak disamakan Mensius dengan ayam dan anjing yang katanya lebih 'beradab'? hehehe. (Catatan Senin pagi, 2732017). 


Minggu, 26 Maret 2017

Generasi Platinum pun Butuh Iman

(Oleh Effi S Hidayat)

 Apa yang salah dalam pendampingan terhadap anak-anak kita ? Sejak kecil telah dibina bersama keluarga, juga mendapat kasih sayang yang cukup, namun ternyata tidak mudah mentransfer kebaikan sekali pun kepada anak yang selalu bersama kita ; kecenderungan untuk mencari rasa aman, nyaman, dan enak sendiri sangat nampak. 

Sama seperti Yudas, sebagai murid Yesus, tentu saja ia sudah ikut setia mendengarkan pengajaran-Nya bersama dengan para murid lain. Toh, pengalaman kebersamaan Yudas dengan Yesus itu belum secara otomatis membentuk pribadi Yudas sepenuhnya. Sehingga akhirnya ia berani 'menjual' gurunya demi kepentingan sendiri.

Membaca buku kecil renungan dan refleksi, Rabu Abu, Minggu Paskah 2015 "Tiada Syukur Tanpa Peduli", yang diterbitkan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), tepatnya Rabu (1/4), berjudul "Yudas Mengkhianati Yesus", saya diserbu beribu pertanyaan menohok dalam diri sendiri.

Jujur, predikat saya sebagai orangtua, lebih klop-nya lagi sebagai seorang ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak-anak yang kini meningkat remaja, dihadapkan kepada pertanyaan reflektif semacam ini, membuat saya merenung sangat lamaaa. 

Ya, setiap masa selalu melahirkan generasi yang berbeda. Tentu tidak asing lagi mendengarkan keluh kesah orangtua bahwa anak zaman sekarang sangat bertolak belakang dengan zaman doeloe.

Misalnya nih, menurut pengakuan orangtua, "Anak zaman dahulu lebih tahan uji alias 'tahan banting'. Suka rela hidup pas-pasan dan mau berjuang keras demi mencapai hasil terbaik yang diinginkannya. Boro-boro berangkat ke sekolah diantar naik mobil pribadi, dan setiap liburan sekolah 'terbang' ke luar negeri...."

Coba bandingkan dengan anak sekarang, yang hidupnya jauh lebih enak dan mapan dengan beragam macam fasilitas, tapi kok, ya, ndilala mereka cenderung instan tidak sabaran mendapatkan yang dicapai? "Proses" bukan lagi sesuatu yang penting, melainkan "hasil" (belum lagi, kepuasan mereka yang cukup rata-rata saja, tidak maksimal sepenuh tekad perjuangan!).

Hmm, benarkah demikian? Mau tak mau saya merujuk pada masyarakat bangsa Jepang yang dikenal sangat workaholic, sehingga cenderung mengorbankan kehidupan keluarga. Anak-anak kehilangan figur ayah karena kehadiran 'kepala keluarga' yang sangat jarang berada di rumah. Mungkin karena itu, lalu berdampak pada generasi muda Jepang yang membenci 'kerja ngoyo'.

Ah, sebetulnya bukan hanya di Jepang saja, saya pikir. Kecenderungan seperti ini hampir mampir melipir ke seluruh penjuri bumi. Mereka, termasuk anak-anak kita di Indonesia yang lahir pada abad ke-21, dan disebut-sebut oleh pakar sosiologi sebagai "Generasi Platinum (XYZ) cenderung menikmati hidup secara langsung".

Segala sarana yang tumbuh pesat selaras kemajuan teknologi cenderung tak terbendung, membuat anak semakin spontan dan lantang menyuarakan persepsinya. Sejak usia balita, mereka ekspresif dan sangat berani bereksplorasi.

Tidak ada ketakutan untuk memertanyakan apa yang melintas di benak, sehingga terkesan menuntut, dengan gaya komunikasi yang mereka ciptakan sendiri. Cenderung mengenyampingkan perasaan, bahkan rasa hormat kepada orang yang jauh lebih tua dari usia mereka.

Entahlah, terkadang sikap sarkasme, menutup diri, mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa jadi semakin menjauhkan anak-anak smart ini dari keyakinan beragama. Ada banyak hal, seperti nilai-nilai di dalam sejarah bahkan ayat-ayat di Alkitab yang dipertanyakan secara kritis.

Misalnya saja, "Mengapa pada abad pertengahan, gereja dan Paus sendiri bisa jadi terpecah belah bahkan berani nekat melakukan korupsi memerebutkan uang dan kekuasaan? Tidakkah hal semacam ini dibenci oleh Tuhan, sehingga akhirnya muncul sosok pembaharu , seorang seperti Marthin Luther yang 'berani mati' mereformasi gereja?

Atau, malah ada yang sekadar berkomentar yang terkesan nyeleneh, "Kalau Tuhan itu esa, satu dan tunggal tiada tergantikan, mengapa ada begitu banyak rupa dan wajah-Nya. Terbukti dengan bertebaran di mana-mana itu yang namanya 'rumah Tuhan', dan beragam ajarannya yang terkadang kontradiksi.

Yang satu bilang, harus melepas kasut jika bertandang ke rumah-Nya, namun lainnya malah mengatakan, "Pergi bertamu ke rumah-Nya harus sopan bersepatu...." Nah!

Terjadi adanya perbedaan sikap, prilaku dan persepsi memang tidak sama pada setiap generasi. Anak-anak bertumbuh sesuai zaman dengan beragam faktor pembentuk karakter seperti kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya dalam kurun waktu tertentu.

Generasi sebelumnya, yang disebut dengan istilah baby booomers, adalah awal perdana yang melek  kenal televisi. Hingga berkembang maraknya media komunikasi massa elektonik dan internet yang disambar dengan cepat oleh generasi berikutnya, yaitu generasi Millenium.

Sikap tidak sabaran, gaya berkomunikasi yang cuek,tidak kenal aturan (jika tak ingin disebut buruk rupa!), kadang memang amat sulit dipahami. Berbanding terbalik dengan kecerdasan dan daya tangkap mereka dalam memandang dan mengenali sesuatu, terlebih dalam hal mengakses informasi yang jauuuhh melampaui anak-anak di era lampau.

Ya, ya, anak-anak zaman kini merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya, terutama orangtua dari anak itu sendiri. Namun jangan pernah lupa, mereka tetap saja terlahir dari para orangtua masing-masing yang memiliki segenap karakter dan latar belakang pendidikan, sosial dan budaya berbeda.

Ada kehendak bebas dari produksi generasi Platinum saat ini, yang tetap saja membutuhkan keseimbangan pengekangan moral dan pengendalian diri dari orang dewasa. Mungkin itu sebabnya, betapapun saya tetap saja percaya, walaupun terlahir seorang murid yang melenceng seperti Yudas, iman yang teguh adalah tetap jawaban nomor satu.

Iman merupakan tameng kukuh super tangguh, yang tak akan tergerus oleh waktu dan masa. Setidaknya, sederas apa pun badai informasi menerjang, dan hujan teknologi mengepung, cikal bakal anak-anak generasi Platinum itu sendiri tidak akan pernah terlepas dari pengaruh dan panutan orangtua.

Saya sih, percaya; selalu terbentang jalan yang lurus dan benar bagi mereka yang setia dan percaya. Yeah, itulah... iman. Buktikan saja! (Komunika 02/XV, Maret-April 2015).      

Tindakan Beriman

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat)

"Iman adalah menempatkan semua telur Anda di keranjang Tuhan, kemudian menghitung berkat Anda sebelum telurnya menetas" (Ramona C. Carrol, penulis)

Refleksi:
Telur yang dimaksud Carrol, tentu saja bukan 'telur beneran', yang menetas dari ayam betina peliharaan kita. Melainkan, perumpamaan yang berkaitan dengan harapan -- suka dan duka yang kita rasakan. Dan, pada akhirnya Carrol mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah berkat.

Ya, hanya berkat yang akhirnya harus kita hitung dengan sepenuh hati dan kepercayaan. Memercayai tanpa melihat, memercayai sekaligus meyakini hanya dengan berserah kepada-Nya, itulah...iman yang 'menghidupkan' kita untuk bertahan di segala cuaca dunia. Begitulah yang saya renungkan pagi ini. (Catatan Minggu pagi, 2632017).    

Sabtu, 25 Maret 2017

Merayakan Kehidupan

(Oleh Effi S Hidayat)

Melek di pagi hari awal tahun yang baru, biasanya hati berbunga-bunga penuh semangat bahkan mungkin benak Anda ngepul menggebu-gebu sejak akhir tahun. Penuh rencana resolusi, bla-bla-bla...sembari menyulut kembang api dan memandang pendaran sinarnya yang pecah berhamburan di langit malam, segudang doa diembuskan.

Biasanya sih, begitu bukan? Berharap tubuh menjadi lebih sehat, pekerjaan dan karir lebih cemerlang, rezeki lebih meluber, keluarga rukun dan damai, pokoknya hidup menjadi  lebih mudah dan bahagia. Demikianlah beraneka ragam keinginan manusia secara garis besarnya.

Namun di balik itu, tidak bisa disangkal pula, masih banyak dari kita yang tidak mampu move on, alias hang -- blank, diam di tempat. Maju kena, mundur kena. Merasa takut dan tu-la-lit pada bayang-bayang masa lalu yang setia menghantui.

Akibatnya tentu mudah diterka, yang lain-lain mungkin sudah berkelana ke mana-mana, ngacir sampai ke bulan menggapai bintang, eh, Si pemeluk masa lalu masih saja enggan melepas cangkangnya. Bahkan saking merasa tidak berdaya, boro-boro punya energi lebih, ia malah merasa lebih aman adem ayem tiduuur saja, melingkar bergelung bak ular raksasa anaconda yang kekenyangan usai mencaplok seekor ayam bahenol.

Hmm, padahal kalau mau ditelisik secara jujur, lebih tepatnya pikiran negatifnya sendiri-lah yang erat membelenggu, mengungkung diri. Prediksi akhirnya memang menjadi seperti ini : apatis ! Dan, resolusi berlembar-lembar itu pun bisa ditebak hanya lalu lalang di benak, sebatas keinginan tanpa pernah terwujudkan, sehingga kemudian menguap menghilang begitu saja.

Duh, sebenarnya siapa sih, orang yang tidak mau sukses dan bergairah menjalani hari-harinya ke depan? Sepuluh orang yang ditanya, sepuluh jari pasti mengacung menyetujui. Hanya masalahnya kehidupan yang dimiliki seseorang tentu saja tidak sama alias berbeda-beda.

Kalau semua jalan mulus tidak belentang-belentong bopeng, karut marut tidak karuan, tentu tak akan bermunculan para motivator yang mencoba senantiasa menggebrak semangat Anda untuk bangkit berdiri. Itu lho, sebut saja nama-nama seperti : Mario Teguh, Andri Wongso, Billy Boen -- semuanya dijamin tidak akan laku lagi jumpalitan berkoar-koar menyelipkan jutaan quotes via facebook, twitter, media sosial lainnya.

Sehingga akhirnya ada saja yang protes, "Hidup ini, 'kan tidak semudah kata-kata dan teori semata? Enak saja, yang miskin dan merana tak punya uang, saku bolong kosong melompong, merindukan pekerjaan mapan yang berkualitas, dan kekasih hati idaman yang super tulus,'kan ane, bukannya ente?"   

Nah! That is true! Tuh, die! (Orang Betawi bilang). Di sinilah akar rumput permasalahannya. Seberapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya "manusia", mampu berempati lebih kepada sesamanya?

Tidak sekadar empati malah, saya katakan saja dengan tegas ; langsung bertindak merangkul, menolong dengan tulus ikhlas tanpa melihat seseorang itu siapa (apakah dia baik atau jahat, patut ditolong atau tidak, dan seabrek label lainnya)? Di kota besar seperti Jakarta, laris manis para psikolog, psikiater dan kini marak pula profesi hipnoterapis.

Tentu saja mereka akan siap memberikan bala bantuan mencari solusi bagi permasalahan Anda. Tapi jangan lupa, jika mereka punya tarif khusus. Orang bilang,"Ada uang, problem terpecahkan". Masalahnya, tak semua orang punya duit lebih untuk berobat mental yang dijamin menguras kocek.  

Padahal, kalau saja kita sebagai pribadi masing-masing lebih mau bercermin, setiap manusia dibekali Sang Pencipta solusi tersendiri. Yakin saja pada hati nurani Anda dan Kristus juru selamat kita. Ada ayat ampuh 'kunci' dari masalah ,"Percobaan-percobaan yang kamu alami ialah percobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia" (1 Korintus 10:13). 

Dia pasti akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Nah, ada rambu-rambu berbekal keimanan Ilahi yang siap menjadi tameng paling ampuh bagi diri. Asal saja kita mau sincere, pasrah dan percaya sepenuh hati kepada-Nya, terkadang "melepaskan" itu jauh lebih meringankan batin daripada berkutat kekeuh keras kepala mai-matian "menggenggam".

Bagaimana cara paling taktis menjalani hari-hari se-ringan bulu ? Tentu saja mengobral omongan dan janji itu selalu lebih mudah daripada menjalaninya. Sebagai manusia, saya sendiri tiada terlepas dari belitan masalah, entah pekerjaan atau keluarga, dan lainnya.

Namun, saya berusaha mandiri mengatasinya, dan senantiasa belajar mengawali ragam rasa dan  emosi jiwa itu dengan mencoba untuk tetap mengucap syukur. Saya percaya betul segala yang terjadi adalah kehendak-Nya, seturut rencana-Nya, dan itu baik adanya. Maka jadilah saya mencoba setiap hari untuk... 'merayakan kehidupan'. Mulai dari bangun tidur, berkomitmen dan berdisiplin mencari-cari (lebih tepat mungkin : mengais-ngais!) apa-apaaaa saja yang mampu membuat saya mensyukuri sepanjang hari itu.

Diawali dengan hal-hal kecil yang kelihatannya remeh-temeh, namun begitu banyak sebetulnya 'permata-permata' bertebaran di sekeliling  tanpa kita sadari. Ya, tidak hanya sekadar mengucap syukur jika baru kecipratan rezeki, misalnya. Karena saya selalu percaya,"bahagia itu sederhana", kok.

Pada hari-hari bertebaran hujan seperti ini, menyesap secangkir teh atau kopi susu hangat, sembari lagi-lagi terpesona jatuh cinta pada sekuntum kuncup mawar yang merekah indah, atau mendengarkan nyanyi burung merambat di udara seiring basahnya telapak kaki terkena embun di rerumputan, bagi saya sudah merupakan berkat yang luar biasa.

Atau, sekali-sekali-lah Anda menengadah ke langit luas lepas. Ada begitu banyak karya agung Sang Pencipta. Berwarna-warni biru, putih, jingga keemasan. Perasaan pun jadi adem dan nyaman mendapati seekor naga, elang, atau anak kelinci (?) yang sedang bermain-main di angkasa raya sana. Keindahan lukisan maestro yang tiada tara!

Tatkala antre di bank atau supermarket pun, celoteh tawa Si kecil yang bercanda dengan ibunya, tepat di samping kita  sangat memungkinkan untuk menjadi pengobat jenuh. Terlebih, ketika hadir seseorang yang tidak usah-lah terlampau tampan atau cantik, melempar senyum ramahnya kepada Anda. Atau bayangkan ini: semangkuk sayur asam pedas mengepul hangat yang tiba-tiba dikirimkan seorang tetangga yang baik hati ke rumah Anda di kala hujan turun deras. Dan, seterusnya. Dan, seterusnya....

Aha, bukankah sebenarnya begitu berjibun berkat yang senantiasa kita terima setiap harinya? Saya sendiri setelah penat bekerja keluyuran seharian di luar rumah, begitu tiba di halaman depan, disambut mesra salak salam Si doggie berlarian hepi tak terkira mengibaskan ekor menyambut kepulangan saya saja... huaa, itu rasanya sudah 'surga' lho, buat saya! 

Belum lagi jika dibandingkan dengan betapa besarnya anugerah makna  keluarga bagi kita. Memiliki anak dan melahirkannya sejak berupa embrio di rahim, tumbuh membesar menjadi janin, hingga sembilan bulan dalam kandungan, adalah sebuah perayaan kehidupan lainnya. Jadi, mengapa harus mengabaikan dan menyia-nyiakannya?

Ssst, sini deh, saya bagikan  sedikit rahasia kecil saya. Biasanya nih, agar kesan memori sehari-hari yang menyenangkan itu bertahan lama, saya membiasakan diri untuk membuat semacam jurnal syukur harian. Simple saja ; sehari-hari yang menyenangkan dan membahagiakan, yang membuat saya mampu selalu bersyukur, saya pindahkan dan catat semuanya di dalam sebuah buku yang saya beri judul khusus "Jurnal Syukur".

Tidak perlu panjang lebar, singkat saja. Tetapi, paling tidak bagi saya pribadi, sekali lagi saya katakan, itu adalah semacam... perayaan kehidupan. Dengan menuliskan lalu membacanya ulang, kapan pun saya mau, beban di pikiran saya menguap hilang.

Anda boleh mencobanya sendiri. Tidak sulit, kok. Akan lain aroma dan rasanya jika Anda menuliskan kebalikannya, misalnya tentang hal-hal menjengkelkan atau menyakitkan hati. Saat membaca ulang, perasaan Anda niscaya akan menjadi tertekan, mengingat kembali masa-masa sedih, luka, dan duka.

Mirip seorang anak kecil yang diberi permen gulali dan obat yang pahit rasanya ! Nah, manakah yang akan Anda pilih? Selamat Tahun Baru 2015. Sila memulai dan mengawali Jurnal Syukur Anda yang sederhana namun spesial. Mari rayakan kehidupan! (Komunika 01/XV, Januari-Februari 2015).     

Niat dan Realita

Pijatan Quotes
(Effi S Hidayat) 

"Niat kita menciptakan realita kita"(Dr.Wayne Dyer, penulis buku dan motivator)

Refleksi:
Apa itu niat? Kekuatan dari tujuan yang ingin kita capai! Begitulah seturut pemikiran saya saat membaca quote dari penulis buku best seller kelahiran Detroit, Amerika Serikat, Dr. Wayne Dyer, yang membetot pandangan saya pada bacaan pagi ini.

Ingin menjadi apa diri kita dan apa-apa yang ingin kita kerjakan, semua tidak terlepas dari niat dan hasrat. So, benar sekali, jika sebagai manusia kita tidak memiliki niat yang kuat untuk mengerjakan atau mencapai sesuatu, bagaimana pula diri kita di mata dunia?

Hais, apa ya, yang ingin saya lakukan hari ini, dan apa saya telah menuangkan kekuatan niat di dalamnya? Namun, uff, hampir saja saya lengah. Niat saja tidak cukup, karena bukankah ada niat yang baik dan sebaliknya niat yang tidak baik? Jadi, perlu saya tambahkan ; kekuatan niat kita harus baik, jika ingin menciptakan realita yang baik. Setuju? (Catatan Sabtu, 2532017).    

Jumat, 24 Maret 2017

Meditasi Sehari-hari

(Oleh Effi S Hidayat)

Mendengar kata "meditasi" akan segera terbayang di benak ; profil seorang pertapa religius di biara-biara yang kesehariannya jauh dari ingar-bingar kebisingan, larut dalam senyap dan keheningan. Pendek kata, 'orang suci' yang tidak biasa-lah, berbeda dengan manusia pada umumnya. Terlebih jika dikaitkan dengan embel-embel kata "kristiani" di belakang kata meditasi ini : "meditasi kristiani", wah, bertambah-tambah wibawa moralitasnya! 

Padahal menurut saya, sih, tidak seseram itu. Walaupun meditasi itu sendiri jika ditilik dari etimologi katanya, yaitu : meditare (latin), bermakna sebagai kegiatan pikiran yang berfokus mengheningkan diri dalam rangka mencari solusi ketenangan batin, memperbaiki diri yang berkaitan dengan sikap atau prilaku bahkan fase-fase kehidupan.

Dan, ada berbagai cara bersemadi yang dianjurkan. Entah dengan merapal mantra atau ayat-ayat suci, dan duduk diam di suatu tempat sunyi, tenang, dalam jangka waktu tertentu. Mungkin itu sebabnya orang berbondong-bondong pergi ke negeri timur seperti India, Nepal, biara-biara di puncak pegunungan Himalaya yang jauuuuh dari peradaban dunia.

Hmm, seharusnya-kah demikian? Wong, ndak perlu jauh-jauh kok. Ada banyak tempat hening dan indah di negeri kita sendiri. Sebut saja di antaranya adalah Gedono di Salatiga, Jawa Tengah. Biara dari ordo Trappist yang bangunannya khusus dirancang oleh budayawan sekaligus rohaniwan dan arsitek, Romo Mangunwijaya ini sangat menunjang untuk hidup membiara dan melakukan kontemplasi yang super hening.

Namun sejujurnya ingin saya katakan, bahwa sesungguhnya kita tidak-lah perlu harus bersusah payah untuk pergi ke ujung dunia sekali pun hanya untuk mencari-cari ketenangan hati. Tidak butuh ongkos yang mahal dan segala tetek bengek persiapan dilakukan, seperti harus browsing informasi dan reservasi tiket, tempat penginapan segala. Cukup dengan menenangkan diri, relaksasi ; fokus pada pikiran dan setiap detik helaan napas yang keluar dari rongga dada kita.

Ya, sah-sah saja sebetulnya jika Anda kepingin mencari tempat sepi dan sunyi, lalu duduk tenang sendiri, atau secara bersama-sama komunitas religius melakukan meditasi kristiani, atau entah apa pun itu namanya. Toh, hakekatnya hanya-lah sebagai sarana penunjang yang diyakini akan semakin memperdalam aktivitas semadi atau meditasi yang Anda lakukan.

Jika kesemuanya Anda yakini baik, mengapa tidak? Hanya berdasarkan yang saya alami, rasane kok, sesungguhnya referensi meditasi yang paling manjur itu tak lain tak bukan adalah pengalaman kita sendiri. Berdasarkan stok pengalaman hidup yang kita amankan datanya di benak selama ini, selaiknya kita dapat merenungkan sedemikian rupa secara pribadi, sebelum merefleksikannya kembali ke dalam lakon hidup yang kita jalani.

Hmm, boleh,ya, jika saya sebut atau namakan saja aktivitas yang satu ini sebagai "meditasi sehari-hari"?  Mungkin itu sebabnya selain rutin melakukan saat teduh setiap pagi, cukup 5-10 menit sebelum melakukan aktivitas, saya pun melangkah ke 'luar'. Tidak selalu terpaku kepada berbagai aturan di dalam melakukan meditasi yang dikatakan secara praktik sebagaimana mestinya.

Ya, boleh dikatakan, pegangan saya hanya-lah landasan iman. Di mana kita masuk ke dalam diri, meluncur kepada kesadaran diri yang paling dalam, yaitu kesadaran hakiki seorang manusia. Demikianlah seturut pemikiran saya yang teramat sederhana.

Lalu, apa yang kemudian saya lakukan di dalam meditasi sehari-hari ini? Tak banyak metode atau teori yang saya praktikkan, karena saya lebih banyak melakukannya secara spontanitas dan alamiah sesuai dengan pola pikir, situasi dan kondisi saya pada saat itu juga. Misalnya, ketika saya melakukan kegiatan berkebun. Saat membongkar-bongkar tanah, membersihkan rumput dan tanaman liar, lalu memupukinya kembali, itu adalah saatnya saya melakukan kontemplasi!

Cukup dengan membayangkannya, serupa dengan saat saya mencoba membuang segala keresahan atau pemikiran-pemikiran kotor saya yang tidak berguna, dan mengisinya kembali dengan sebuah kesadaran baru. 'Berbicara' dengan tanaman, itu sudah merupakan charger baru yang memberikan energi berlebih dan positif. Karena bentuk dari pepohonan, udara segar, alam bebas sebenarnya merupakan healing vibration yang amat bermanfaat.

Termasuk, ketika 'bercakap-cakap' dengan hewan, alam semesta (hanya lewat desiran angin atau rintik hujan, contohnya), sebaris kalimat bermakna dalam dari sebuah buku yang kebetulan saya baca, atau lagu yang menyentuh di film musikal yang sedang saya tonton -- semua itu menjadi unsur penting yang saling mendukung dalam melakukan meditasi sehari-hari.

Tentu saja, saya tidak terlepas dari sesama manusia itu sendiri. Ketika melakukan dialog, tidak selalu lewat bahasa dan kata saja. Prilaku dan body language , berusaha saya tangkap melalui kelima panca indra yang saya miliki.

Saya berusaha menyelaraskan hati dan pikiran ; seimbang dengan daya tangkap pendengaran, penglihatan, bahkan segala bentuk bau dan rasa, yang dikembalikan ke dalam bentuk "wujud syukur" secara utuh dan penuh. Mungkin karena itu kita lebih nyaman bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman handai taulan yang memiliki 'hawa sejuk' , ya?

Tidak mudah pada awalnya memang. Karena bisa saja, saat menyetrika (saya senang menyetrika! hehe), dan kegiatan meditatif yang seiring saya lakukan, membuat saya tersengat panas secara tiba-tiba! Ah, begitulah. Sedemikian dalamnya saya 'masuk' ke dalam helaan napas yang saya embuskan spontan. Eh, apakah hal ini tidak serupa dengan ... melamun?

Oh, tidak! saya harus tegas mengatakan, sama sekali bukan day dreaming ! Lebih tepatnya, mungkin saya hanya sedikit 'terpeleset' karena maklum saja untuk melakukan kontemplasi perlu pembelajaran yang konsisten sekaligus fokus.

Sejalan dengan waktu, seperti saya, Anda kelak pasti akan mampu membedakan setelah mencoba mempraktikkannya sendiri. Toh, mencoba masuk ke dalam diri secara seutuhnya, sebenarnya sangat tidak mudah. Perlu kejujuran melepaskan semua topeng yang kita kenakan, menghadapi dengan gagah kelemahan dan kekurangan diri, alih-alih lari kepada masa lalu, lalu menyangkal diri melakukan pembenaran. Frekuensi getaran alam, bencana, perubahan cuaca, bisa jadi akan sangat memengaruhi mood kita. 

Pada akhirnya saya hanya mau bilang, berprilaku meditatif itu tidak selalu harus dengan bermeditasi. Prilaku meditatif bisa bermakna 'lebih', artinya : kontemplatif, instospektif, mawas diri, eling, waspada, sabar, dan senantiasa penuh rasa syukur.

Nah, semakin jago Anda melakoni semua unsur itu, belajar merasakan sepenuhnya bagaimana menjadi human being sejati, semakin selamat-lah bumi kita ini, termasuk segenap makhluk hidup di dalamnya. Prinsipnya, kita dapat bermeditasi kapan saja, di mana saja, bahkan tatkala sedang melakukan apa saja. Kuncinya hanya membiasakan diri fokus kepada napas dan hadir sepenuhnya, saat ini juga! (Komunika 06/XIV, November-Desember 2014).      

Kehadiran

(Oleh Effi S Hidayat)

Makhluk berbulu cokelat, bermata bening itu setia duduk anteng di depan sebuah rumah berlantai dua di mana aku selalu berlari pagi melewatinya. Ketika melihatku, biasanya ia akan menelengkan kepalanya sejenak, menyeringai lebar, memamerkan giginya seolah tersenyum sembari mengibas-ibaskan ekornya yang mungil.

Suatu kali, aku tidak melihatnya seperti biasa, dan ajaib, rasanya aku merasakan kehilangan sesuatu. Ya, walaupun Si makhluk cokelat itu jelas-jelas bukan kepunyaanku (seperti Snowy, pudel maltise-ku di rumah), namun kami memiliki kedekatan tertentu yang tak kasatmata.

Barulah ketika keesokan paginya, ia kembali nongol, dan seperti biasa menatapku dengan senyumannya yang manis serta kibasan ekornya yang lucu, entah mengapa, hatiku pun berbunga-bunga..., legaaa! Begitulah, kehadiran akan sedemikian terasa jika kita melihat sosoknya secara jelas.

Namun tak hanya sekadar fisik sebetulnya. Ada kelekatan istimewa di antara kita semua secara personal, yang terkadang tak bisa dijabarkan hanya dengan untaian kalimat semata. Seperti misalnya, hubungan antara teman bahkan sahabat dekat, dan tentu saja ... anggota keluarga!

Ya, boleh-boleh saja banyak orangtua sekarang berkilah, dengan didukung teori para pakar psikologi. Bahwa yang namanya "kehadiran" orangtua di rumah, berhubung kesibukan mereka yang luar biasa di kantor, bisa ditebus dengan segudang fasilitas yang diberikan kepada anak-anak. Sekolah yang mahal, liburan ke luar negeri, pakaian dan mainan berlabel desainer terkenal made in Paris, gadget yang super lengkap, dan sebagainya, dan sebagainya.

"Tak apa, kami cuma sempat bertemu seminggu sekali (biasanya hari Minggu, ini pun jika tak ada kesibukan lain!). Yang penting, toh, adalah waktu yang berkualitas. Satu jam-dua jam itu cukup , kok. Sekadar menyapa,"sudah belajar?" anak akan mengerti bahwa kesibukan orangtuanya di luar rumah itu demi masa depan mereka juga. Papa dan Mama cari uang yang banyaaaak  agar anak-anak bisa makan enak dan sekolah tinggi."

Duh, benarkah demikian? Sekolah di tempat bergengsi dan seabrek fasilitas gadget (BBM, skype,etc) , namun yakinkah Papa dan Mama bahwa Si kecil bisa tidur nyenyak tanpa pelukan dan ciuman yang hangat (boro-boro ibunda punya waktu untuk mendongeng?). Menyiapkan bekal untuk sarapan dan berbincang-bincang seru bersama di meja makan sembari menyantap makanan yang disiapkan sendiri dengan penuh cinta?


Aha! Tiba-tiba aku tersedak. Begitu banyak protes yang mampir di telinga, bilang bahwa penulis "catatan hati" ini nyinyir benget, sih? Jadul, kuno, ndak mau tahu perkembangan zaman, entah, ah, apa lagi? Wajar saya,'kan, orangtua zaman sekarang super sibuk. Wong, tuntutan zamannya demikian.

Teknologi demikian canggih, ada HP, internet bahkan kalau perlu CCTV yang bisa memantau perkembangan anak-anak di rumah, di mana saja. Waktu yang berkualitas itu lebih penting ketimbang... kehadiran! Hmm, aku jadi teringat Si kecil mungil berbulu cokelat yang senantiasa 'menyapa'-ku setiap pagi dengan kehadirannya.

Ia tidak berbuat apa-apa, cuma duduk-duduk, sesekali berbaring anteng di depan rumah tuannya. Namun terasa ada kedekatan yang kurasakan setiapkali melihatnya. Ya, rasanya hati ini sudah legaaa jika mataku telah menangkap kehadirannya, walau tanpa kata.

Demikian pula dengan kehadiran murid-murid di kelas. Akan terasa sekali jika Si Kevin yang ceria itu tidak masuk sekolah karena sakit, atau Si Dinda yang pemalu namun baik hati, tidak didapati sedang duduk menyimak di tempatnya seperti biasa. Ya, absensi kehadiran, bukankah demikian diperlukan?

Bukti konkret lainnya saja adalah perasaanku sebagai seorang ibu. Putera sulungku, Zoe, bersekolah di Jakarta mulai tahun ajaran 2014-2015. Waktu tempuh yang cukup jauh ke sekolah dan jadwal pelajaran yang padat, tidak memungkinnya untuk berangkat dari rumah kami di Serpong setiap harinya. Situasi dan kondisi menyebabkan Zoe pulang ke rumah tatkala weekend (itu pun jika ia tidak sedang sibuk!).

Nah, apa yang kurasakan, selain kehilangan dari kehadirannya di rumah? Jika setiap hari dengan mudah kutemui sosoknya, walau cuma duduk anteng di depan komputer, toh, aku sudah merasa nyaman. Aku bahagia jika ia rajin meludeskan makanan yang kumasak....

Kehadiran dari kata "hadir" yang berarti "ada", jika direnungkan maknanya akan sangat dalam. Kita diminta hadir secara seutuhnya, penuh sebagai seorang manusia. Bagaimana nilai suatu kehadiran akan sedemikian terasa, ya, tentu saja karena sebagai manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain, kita terkategorikan : istimewa.

Mampu untuk berpikir, berkata-kata, berbuat dan bertindak bahkan merasa. Untuk yang terakhir ; "merasa" diterkaitkan dengan perasaan kehilangan, kesepian, bukankah begitu unik korelasinya dengan yang namanya "kehadiran" ?

Tidak-lah heran, tanpa kehadiran orangtua di rumah secara utuh penuh, begitu banyak anak-anak yang merasa kesepian sehingga 'melarikan diri' kepada lingkungan di luar sana. Mereka asyik bermain games, keluyuran sana-sini dengan teman yang tidak jelas, sehingga buntut-buntutnya jatuh kepada benda terlarang seperti narkoba.

Jika sudah terlanjur begitu, siapakah yang patut dipersalahkan? Anak-anak yang nekat berani mati mencoba-coba itu, tanpa pikir panjang masa depan mereka akan hancur? Ataukah, orangtua yang kerap hanya memikirkan materi sebagai sarana satu-satunya 'mantra pembahagia' Si anak?

Pada akhirnya seturut pemikiran saya,  semua akan berpulang kepada "pilihan" pribadi masing-masing orang. Bukankah kita semua bisa memilih apa yang terbaik untuk keluarga, lingkungan, dan bahkan masyarakat luas?

Ya, sebagai manusia yang berakal budi paling tinggi, berakhlak moral luhung, kita punya hati nurani untuk melakukan suatu pilihan. Misalnya, seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) yang baru lalu, mengapa akhirnya rakyat Indonesia memilih Jokowi sebagai presiden, padahal toh, ia hanya anak seorang sopir, tukang meubel biasa, manusia dari akar rumput kebanyakan. Bukan seorang anak menteri, berpendidikan luar negeri, dan seorang taruna gagah yang piawai berkuda?

Jawabannya hanya satu, karena sang pemimpin yang paling diinginkan adalah seseorang yang dekat di hati rakyat. Seseorang yang rela hadir menyediakan waktunya sepenuhnya hanya untuk rakyat -- bukan untuk embel-embel kekuasaan, atau materi duniawi lainnya. Blusukan ke sana ke mari, tak sekadar omong besar, namun langsung bertindak nyata untuk kepentingan orang banyak.

Nah! Apalagi kesalahan yang dicari-cari hingga sampai ditenteng-tenteng ke Mahkamah Konstitusi (MK), jika kehadirannya toh, tidak perlu dipertanyakan lagi?(Komunika 04/ XIV, Juli-Agustus 2014).